
Suketi melongo saat mendengar bisikan Marwa juga tatapan gadis itu yang begitu memohon. Sementara Leo tersenyum puas di dalam hati. Dengan penuh percaya diri, Leo merasa yakin kalau Marwa akan menjadi kagum padanya saat mengetahui kalau dirinya adalah seorang CEO. Bahkan, Leo bisa menerka kalau Marwa akan menjadikan dirinya sebagai lelaki pujaan hati, seperti wanita-wanita lain yang menjadikan dirinya sebagai pria idaman.
"Emang elu belum tahu bos gue?" tanya Suketi heran. Marwa mengangguk dengan cepat. "Yakin?"
"Beneran lah, Suk. Elu 'kan bilang bos elu tuh Tuan Erlangga, lelaki tampan yang baru menjadi duda. Gue jamin pasti tuh duda masih anget," ucap Marwa belum menyadari kalau Leo sudah tersenyum ironi saat ini.
"Tunggu dulu. Gue baru inget deh. Kemarin katanya elu didatengin om-om aneh namanya siapa?" Suketi berpura-pura tidak tahu hanya untuk mengetes sahabatnya.
"Sabeni."
"Sabeni?" Alis Suketi terlihat saling bertautan meski dirinya berusaha menahan tawa. Kini, dia tahu siapa lelaki yang dimaksud oleh Marwa. Dugaannya tidak salah lagi.
"Iya, namanya Leonard Sabeni Er ... Er ... astaga aku lupa. Er siapa ya?" Marwa menepuk dagu dan berusaha mengingat-ingat.
"Erlangga!" timpal Leo yang tidak sabar melihat Marwa yang terus berusaha mengingat. Namun, gadis itu tidak kunjung ingat juga.
"Nah, itu!" sahut Marwa. Suketi tersenyum miris, sedangkan Leo tampak begitu kesal. Bagaimana Marwa bisa melupakan nama belakang yang jelas-jelas bisa diingat sangat mudah. Namun, wajah Marwa tiba-tiba menjadi muram saat dirinya menyadari sesuatu hal. Marwa pun menatap Leo dan Suketi secara bergantian dan penuh curiga.
"Jangan bilang ...." Lidah Marwa mendadak kelu. Apalagi saat melihat tatapan Leo yang teramat lekat ke arahnya. Perasaan Marwa mendadak tidak nyaman saat tatapan mereka bertemu.
"Apa?" Leo kembali tidak sabar. Ingin sekali dirinya menggendong Marwa masuk ke ruangan dan mencubit pipi gadis itu untuk meluapkan kegemasannya. Namun, Leo sadar kalau dirinya sedang berada di kantor. Jadi, Leo harus tetap jaga image.
"Jangan bilang kalau kamu adalah bos di sini?" tanya Marwa begitu menuntut jawaban.
"Menurut kamu?" Leo mengembuskan napas kasar.
__ADS_1
Arrgghhh! Kenapa gadis ini sangat menggemaskan. Leo benar-benar tidak sabar lagi.
"Maafin dia, Bos. Temen saya memang suka gitu." Suketi berpura-pura meminta maaf padahal dia hanya memberi kode kepada Marwa. Namun, sialnya Marwa belum paham karena otaknya mendadak nge-blank.
"Jadi, dia beneran bos elu, Suk?" Marwa menunjuk wajah Leo tanpa rasa takut. Suketi tidak menjawab, hanya mengangguk sembari mengedipkan sebelah matanya. Marwa yang melihat itu pun dengan susah payah menelan salivanya.
"Minta maaf, Mar." Suketi menyenggol lengan Marwa, tetapi gadis itu justru terdiam dan terus menatap Leo. "Astaga, jangan bilang kalau elu naksir sama bos gue, Mar."
"Ternyata bos elu ganteng juga, Suk. Walau nyebelin."
"Emang dia sangat nyebelin, Mar. Galak banget juga, kalau lagi ngomel udah kaya emak-emak yang enggak dibantuin cuci piring." Suketi justru tidak sadar sudah ghibah bersama Marwa tepat di depan Leo.
"Kebanyakan cowok tajir gitu. Apalagi ganteng. Beuhh!! Sombongnya minta ampun bukan minta duit lagi."
"Asal jangan minta kelon aja. Kecuali kalau udah halal." Suketi terkikik dengan ucapannya sendiri.
Suketi dan Marwa yang baru saja tersadar langsung menunduk dalam. Namun, lengan mereka saling menyenggol satu sama lain. Mereka saling berbisik untuk menyalahkan satu sama lain. Bagaimana bisa mereka tidak menyadari kalau Leo masih berada di dekat mereka.
"Sudah ngobrolnya?" tanya Leo penuh penekanan.
"Ma-maaf, Bos." Suketi terbata. Dia takut setelah ini akan mendapat hukuman karena sudah selancang itu. Apalagi kalau hukuman potong gaji, kalau benar itu maka Suketi hanya bisa pasrah karena kerja ikhlas tanpa dibayar.
"Gajimu mau kupotong berapa persen, Catarina!" tanya Leo keras.
"Ja-jangan potong gaji saya, Bos," sahut Suketi cepat dan gugup.
__ADS_1
"Panggilan elu di sini keren amat, Suk. Catarina. " Marwa berbisik. Suketi yang barusan merasa takut pun kini memutar bola mata malas, sedangkan Leo hampir saja menggigit bibir—ralat, pipi—Marwa untuk meluapkan rasa gemasnya.
"Kalian berdua bersiaplah menerima hukuman!" Suara tegas Leo membuat Marwa dan Suketi kembali saling menyenggol.
"Kalau boleh nawar, hukumannya jangan berat-berat, Bos." Suketi memberanikan diri.
"Nah, iya. Cukup beban hidup gue aja yang berat," timpal Marwa.
"Seberat—"
"Lemak di tubuh Othor," sela Marwa.
"Jangan lancang lu, Mar. Ntar Othor dendam bisa aja lu dibikin ngenes," timpal Suketi.
"Astaga ...." Leo mengusap wajah kasar, sedangkan Suketi sudah menonyor kepala sahabatnya saking jengkelnya. "Baru kali ini kita bertemu seperti ini, tetapi kalian sudah membuatku hampir gila."
"Alhamdulillah." Suketi dan Marwa berkata bersamaan.
"What! Kalian malah mengucap syukur?" Suara Leo meninggi. Sungguh, Leo kesabarannya benar-benar diuji saat ini.
"Kan baru hampir gila, Bos. Belum gila beneran." Suketi menjawab santai, tetapi mampu membuat bola mata Leo membulat penuh.
"Kalian ini benar-benar!"
"Cantik, imut, dan menggemaskan, seperti Othor." Suketi dan Marwa terbahak, sedangkan Leo hanya menggaruk kepala secara kasar. Dia tidak tahu lagi harus menanggapi seperti apa.
__ADS_1
Ya Tuhan. Lebih baik aku berkutat dengan pekerjaan daripada dengan gadis seperti mereka ini.