Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
49


__ADS_3

Marwa duduk di tempat tidur sembari bersedekap. Bibirnya sudah maju beberapa centi seperti bebek. Bahkan, tatapannya sangat tidak bersahabat ke arah Leo. Melihat tingkah istrinya tersebut, bukannya takut atau bagaimana, Leo justru merasa gemas dan ingin sekali meng-ahh istrinya.  


"Kenapa kamu cemberut gitu?" tanya Leo. Berusaha mendekati Marwa, tetapi wanita itu langsung menyingkir dengan cepat. 


"Tidak papa." Marwa menjawab singkat. Memalingkan wajah seperti anak kecil yang sedang merajuk. 


"Aku hanya bertanya hal apa yang membuatmu sampai tertawa keras. Apa itu salah? Kenapa kamu jadi marah padaku?" Leo kembali hendak mendekat, tetapi lagi-lagi Marwa pergi dengan cepat. 


"Jangan dekat denganku! Aku tidak mau dekat denganmu. Parfummu buat aku mual!" usir Marwa. Menutup mulut saat merasakan mual. 


Kening Leo mengerut dalam. Merasa heran saat Marwa mengatakan mual dengan parfum miliknya. Bukankah wanita itu biasanya sangat menyukai itu. 


"Lalu aku harus bagaimana? Apa kamu tidak mau memelukku?" Leo merentangkan tangan dan berharap Marwa akan berlari menghambur padanya. Namun, ternyata tidak. Leo justru memeluk angin. Dengan perlahan dia pun menurunkan tangannya kembali. Merasa kecewa. 


"Kamu yakin tidak mau memelukku?" tanya Leo lagi untuk memastikan. Marwa tidak menyahut. Hanya menatap Leo dari atas sampai bawah tanpa bergerak satu centi pun. "Baiklah. Kalau begitu aku pergi saja." 


Leo berbalik dan menuju ke kamar mandi. Berharap Marwa akan mengejar, tetapi lagi-lagi dia harus merasakan kecewa karena semua tidak sesuai dengan harapannya. Marwa benar-benar seperti manekin yang hanya berdiri di tempat. 

__ADS_1


Dengan cepat Leo pun membersihkan diri. Mandi secara asal yang terpenting tubuhnya tidak lagi lengket karena keringat. Beberapa kali Leo menatap ke arah pintu berharap sang istri akan membuka dan ikut mandi bersamanya. Lalu mereka saling membantu menggosok punggung dan ....


Dan stop! Jangan sampai berpikir terlalu jauh dan mengajak otak untuk traveling. 


Hahaha. Ketawa jahat. 


Hampir lima belas menit, Leo pun menyudahi itu dan segera keluar dari kamar mandi. Dia tidak lagi melihat Marwa berdiri di samping tempat tidur. Akan tetapi, wanita itu sudah tidur telentang dengan kaki terbuka lebar. Dengan susah payah Leo menelan ludah ketika melihat pemandangan di depannya. 


"Kamu mau menggodaku?" tanya Leo. Mendekati sang istri dan anehnya sekarang Marwa tidak lagi menjauh. Wanita itu justru mengendus tubuh Leo. 


"Wangi banget. Bikin pengen," gumam Marwa, dan Leo masih bisa mendengarnya dengan baik.


"Ti-tidak." Marwa menggeleng cepat. Namun, Leo dengan cepat menangkup wajah wanita itu dan menghujami dengan banyak ciuman. Marwa pun tidak lagi menolak dan justru pasrah saat Leo menjamahnya. Memberikan sentuhan lembut yang membuat dirinya begitu terbuai. 


Jangan tanya apa yang terjadi selanjutnya. 


Tentu saja pertumpahan cairan kenikmatan. 

__ADS_1


Berapa ronde? 


Ish! Kepo, deh. Hahaha


Malam Jum'at mah sunah rosul pastinya. 


***


Seusai percintaan panas itu terjadi, Leo memeluk istrinya sangat erat bahkan tanpa sadar mengusap perut Marwa yang masih sangat datar. 


"Kapan ya ada janin yang tumbuh di sini," gumam Leo. Terus memberi sentuhan lembut dan Marwa merasa nyaman karenanya. 


"Berdoa saja. Semoga saja segera terlaksana. Kalau seandainya aku tidak hamil, apakah kamu akan menjauh dan bahkan mencerai—"


Ucapan Marwa tertahan saat Leo sudah membungkam mulutnya dan memberi lum*tan. Leo sengaja melakukan itu agar Marwa tidak lagi berbicara macam-macam. 


"Serahkan saja sama Yang Maha Kuasa. Aku yakin tidak lama lagi kita akan menimang seorang buah hati." Leo menatap Marwa penuh cinta. Membuat senyum Marwa mengembang sempurna. 

__ADS_1


"Bersiaplah kita akan melakukan  ronde selanjutnya," celetuk Leo.


"Ya Tuhan ... kamu seperti kuda." Marwa hanya bisa memutar bola mata malas. Soal ranjang, suaminya memang jagoan. Tidak diragukan lagi.


__ADS_2