Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
42


__ADS_3

Marwa mengerutkan kening saat membaca pesan dari Zaenab yang mengatakan kalau dirinya diundang pada pesta ulang tahun Anjas. Yang membuat Marwa terheran adalah dari mana Zaenab mengenal Anjas. Ataukah mungkin ketika berada di mall kala itu. Kalau memang iya, lantas kenapa Zaenab terasa sangat dekat dengan lelaki itu.


Namun, Marwa berusaha untuk tidak terlalu peduli. Dia pun membalas kapan dan di mana acara akan dilangsungkan. Marwa sebenarnya merasa enggan, tapi dia juga tidak mungkin menolak karena Zaenab mengatakan kalau seluruh anggota Genk Ternak Duda diundang dalam acara tersebut.


"Seenggaknya gue ada temen di sana," gumam Marwa. Menyimpan kembali ponsel ke atas nakas lalu berusaha untuk bisa tidur siang. Dia harus menyiapkan tenaga untuk meminta izin kepada suaminya.


Marwa merasa sangat yakin kalau Leo tidak akan semudah itu memberikan izin kepada dirinya untuk pergi. Apalagi acara tersebut digelar malam hari dan berada di sebuah klub malam pula. Marwa sama sekali tidak menaruh curiga apa pun karena bukan hanya dirinya yang berada di sana nantinya.


***


Marwa baru saja melakukan percintaan panas dan masih rebahan santai di atas dada bidang suaminya yang basah karena peluh. Leo pun dengan penuh sayangnya menciumi puncak kepala Marwa. Sungguh, dia sangat menyayangi wanita itu.


"Mas, aku ingin bicara sama kamu." Marwa mulai berbicara meskipun masih merasa ragu.

__ADS_1


Kalau laki gue kagak ngizinin gimana? Kalau dia marah sama gue gimana. Bisa tersiksa gue kagak diajak menikmati surga dunia lagi. Eh! Otak gue, astaga. Moga aja laki gue kagak nanya macem-macem.


"Katakan saja." Leo makin mengeratkan pelukannya.


"Em, besok malam aku mau datang ke acara pesta ulang tahun temanku."


"Di mana? Sama siapa?" sela Leo cepat. Marwa pun mendes*hkan napas ke udara secara kasar karena suaminya itu sangat tidak sabaran.


"Baiklah. Kalau begitu. Aku akan ikut," kata Leo. Marwa langsung mendongak dan menatap dagu suaminya. "Kenapa?"


Marwa menggeleng lemah. "Tidak ada yang membawa suami di sana," ujarnya lirih karena takut Leo akan marah.


"Ya sudah. Anggap saja aku pengawalmu," kata Leo lagi.

__ADS_1


"Ish! Tidak ada yang membawa pengawal juga. Aku ingin menghabiskan waktu dengan temanku. Sekali saja. Plisss." Marwa begitu memohon.


Leo mengembuskan napas kasar dan pada akhirnya mengiyakan permintaan Marwa. Leo tidak ingin berdebat dan membuat wanita itu merasa tidak nyaman meskipun nantinya dia akan mengikuti secara diam-diam. Batin Leo merasa tidak tenang saat mengetahui kalau ada orang yang sedang berusaha mencari informasi tentang Marwa. Sungguh, dia menaruh rasa curiga.


***


Marwa datang ke rumah kontrakan dengan diantar sopir karena Leo baru saja menghubungi dirinya kalau sedang ada lembur. Kemungkinan lelaki itu akan pulang sekitar jam dua belas malam. Membuat Marwa merasa sangat bebas. Ketika sampai di rumah kontrakan, Marwa langsung menyuruh sopir tersebut untuk pergi karena tempat acara tidak jauh dari sana dan mereka akan pergi menggunakan sepeda motor.


"Tumben laki lu kagak ikut, Mar?" tanya Suketi.


"Katanya lembur," sahut Marwa santai tanpa peduli pada tatapan heran Suketi. Yang dia tahu tidak ada lemburan malam ini. Atau hanya bosnya saja yang lembur. Suketi hanya bergumam dalam hati karena Zaenab sudah menariknya terlebih dahulu untuk segera berangkat.


Mereka bertujuh tampak kebingungan saat sudah sampai di depan klub malam. Ini adalah pertama kali mereka datang ke tempat itu. Banyak pasang mata yang menatap heran ke arah personil GTD tersebut. Selain penampilan mereka yang tidak cocok untuk berada di sana. Juga mereka yang celingukan seperti maling yang sedang melihat situasi hendak melancarkan aksinya.

__ADS_1


__ADS_2