
"Santai, Sis. Kami tidak melakukan apa-apa." Zaenab berusaha terlihat santai. Padahal dia ingin sekali tertawa keras melihat wajah Angel yang lebih jelek dari ondel-ondel.
"Bohong!" Angel geram sendiri. "Kalau kalian tidak melakukan apa-apa, kenapa aku diikat? Kalian mau menyanderaku?" tukasnya.
"Kagak. Kamu diikat biar kagak kabur aja. 'Kan bahaya, tuh, orang yang mengidap gangguan jiwa harus keluyuran." Juminten menjawab tanpa merasa bersalah kalau ucapannya itu sangat ngawur.
"What! Kamu bilang apa?" Mata Angel melotot bahkan seperti hendak lepas dari tempatnya. " Berani sekali kamu mengataiku gila. Dasar gadis miskin!" hinanya.
"Aishh! Miskin harta kagak papa asal jangan miskin akhlak aja," timpal Suketi.
Angel pun menendang udara saking kesalnya. Dia kalah jika berbicara melawan mereka. Gigi Angel saling bergemerutuk karena ingin sekali merem*s wajah Juminten dan lain, tetapi hal itu tidak bisa dilakukan karena tangannya masih diikat kuat.
"Lepaskan aku!" perintah Angel. Tidak sabar. "Kalau sampai kalian tidak mau melepaskan ikatan ini maka jangan salahkan aku kalau setelah ini kalian terkena masalah," ancamnya.
Anggota GTD pun segera melepaskan ikatan tersebut bukan karena mereka takut kepada ular kasur, eh! Ulat bulu yang kegatelan itu. Namun, mereka sudah cukup puas mengerjainya dan tidak ingin terlalu berlebihan karena tidak mau ada hal yang tidak diinginkan nantinya.
Angel pun tersenyum senang saat ikatan itu sudah terlepas. Merasa puas karena yakin kalau mereka sangat takut padanya. Padahal, Angel hanya memberi ancaman biasa dan hanya main-main.
__ADS_1
"Dasar mental tempe," hina Angel. Dia mengambil paperbag yang tergeletak di samping kursi dan bersiap hendak pergi. Anggota GTD itu pun hanya diam mengamati gerak-gerik wanita tersebut. Tidak ada yang mencegah maupun menolak.
Dengan gaya angkuh, Angel melengang melewati mereka begitu saja. Namun, ketika baru sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti saat Zaenab memanggil. Bukan tanpa alasan, gadis itu baru mengingat kalau sedari tadi belum mengambil foto Angel.
"Ada apa lagi! Jangan bikin masalah!" omel Angel tidak terima.
"Tunggu dulu. Tadi ada temenku yang minta dikenalin sama cewek cantik. Kayaknya kamu ini cocok, deh. Udah cantik, tinggi, putih, semok, kaya sapi mau dikorban," kata Zaenab.
"Kamu—"
"Ikutlah."
Angel tidak bisa berbuat apa-apa ketika keenam gadis tersebut berlari mendekatinya bahkan Angel sampai terjebak di tengah. Zaenab mengangkat ponsel untuk mencari posisi yang pas, sedangkan Angel sibuk menyingkirkan gadis-gadis itu agar tidak terlalu menempel padanya.
"Hadap sini, Nona. Dari tadi wajahmu tidak kelihatan," perintah Zaenab.
Angel pun mendongak. Namun, mulutnya terbuka lebar ketika melihat wajahnya yang sepertinya sudah tidak mulus lagi. Dia hendak merebut ponsel Zaenab, tetapi dengan cepat gadis itu menyingkir.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan pada wajahku? Kenapa aku merasa ada yang aneh." Angel bertanya kesal dan dia makin merasa kesal ketika anggota GTD tersebut hanya mengendikkan bahu.
Dengan langkah tidak sabar, Angel segera mencari cermin untuk melihat wajahnya sendiri.
"Ya Tuhan! Kenapa ini!" teriak Angel sebelum akhirnya pingsan lagi. Dia begitu syok ketika melihat wajahnya sendiri.
"Yaelah, pingsan lagi." Martu mendes*h kasar.
"Biarin aja. Ntar juga sadar sendiri."
***
Leo terkejut saat mendengar tawa Marwa dari kamar yang begitu menggelegar sampai terdengar keluar. Dengan cepat dia membuka pintu dan mendekati istrinya yang sedang gelimpangan di kasur. Marwa masih sibuk tertawa sampai tidak menyadari suaminya saat ini sudah berada di dekatnya.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Leo. Mengejutkan Marwa hingga gadis itu mengerang karena ponsel yang dipegangnya jatuh mengenai kening. "Ya Tuhan ... ada saja kamu ini." Leo justru terkekeh saat melihat apa yang menimpa istrinya.
__ADS_1