
"Eh, Mar. Cowok cakep yang kemarin jadi pahlawan kesorean itu siapa?" tanya Juminten ingin tahu. Jujur, dia merasa sangat penasaran dengan hubungan Marwa dan Anjas.
"Siapa, sih? Anjas?" Marwa balik bertanya. Juminten langsung mengangguk mengiyakan. "Dia senior di tempat gue kerja."
"Oh, pantesan." Juminten duduk dengan mengangkat satu kaki di kursi makan. "Menurut penglihatan mata batin gue, Mar. Tuh cowok naksir sama elu."
"Pret! Lu kalau ngomong jangan asal, deh, Jum. Ingat, gue ini sekarang udah bukan gadis lagi, tapi bini orang," timpal Marwa.
"Yee, jangan salah, Mar. Justru sekarang yang dicari tuh kaya gitu. Perawan emang menawan, janda pasti menggoda, dan istri orang itu lebih menantang. Hahah emm." Juminten yang tertawa keras langsung terdiam saat Marwa sudah memasukkan sendok ke dalam mulut sahabatnya.
"Mulut laknat lu kalau kagak direm bisa bablas sampai mana-mana, Jum."
Juminten tidak peduli pada ucapan Marwa. Dia segera menenggak air putih untuk mendorong makanan yang seperti tersangkut di tenggorokan.
"Gila, kalau gue mati karena seret gini gimana, Mar."
"Kalau mati tinggal kubur aja, Jum. Enggak gimana-gimana juga." Marwa melipat bibir untuk menahan tawa ketika melihat kekesalan memenuhi wajah sahabatnya.
"Serah elu, deh."
***
__ADS_1
"Apa kamu sudah tahu siapa sebenarnya lelaki itu? Kenapa aku sangat curiga dengan dia?" Leo duduk bersandar sembari mengusap dagu. Menatap lelaki paruh baya yang saat ini sedang berdiri di depan meja kerja miliknya.
"Dia sepupu Nona Angel, Tuan."
"Sepupu Angel?" Leo duduk tegak. Kening lelaki itu terlihat mengerut dalam hingga membuat alisnya saling bertautan. Lelaki paruh baya itu hanya mengangguk cepat. "Kenapa aku tidak tahu. Bahkan, selama aku menikah dengan Angel, aku belum pernah melihatnya."
"Karena hubungan mereka tidak terlalu dekat. Bahkan, sangat jauh dan seperti musuh," terangnya. Leo pun mengangguk paham.
"Kalau begitu, kamu harus menjaga istriku dengan sangat baik. Jangan sampai lengah sedikit pun. Aku tidak ingin ada hal buruk menimpa istriku apalagi sampai membahayakan nyawanya," perintah Leo.
Setelahnya, dia menyuruh lelaki itu agar segera keluar dari ruangan. Leo memberi pijatan lembut di kepala sembari mengambil ponsel untuk menghubungi istrinya.
"Briel. Kamu kenapa?" tanya Leo cemas. Dia memindahkan panggilan tersebut menjadi panggilan video karena ingin melihat keadaan Marwa.
"Aku lemas sekali," keluh Marwa. Wajahnya tampak pucat. Makin menambah kekhawatiran Leo.
"Hei, kenapa wajahmu pucat sekali?"
"Aku mual gegara—"
"Marwa sedang hamil kayanya." Juminten menyela ucapan Marwa.
__ADS_1
Dalam hitungan detik panggilan itu pun terputus begitu saja. Leo melangkah cepat meninggalkan ruangannya. Beruntung, saat itu tidak ada rapat yang mendesak sehingga Leo bisa pergi begitu saja.
Selama dalam perjalanan Leo merasa khawatir dan juga tidak sabar. Entah mengapa, bayangan Marwa yang sedang ngidam begitu terputar dalam pikiran. Leo sangat berharap memang ada benihnya yang tumbuh di rahim wanita itu.
Tidak butuh waktu lama, Leo sudah berhenti di depan kontrakan. Lelaki itu mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Dia bergegas masuk ke rumah kontrakan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Briel. Kamu di mana?" panggil Leo setengah berteriak. Ketika mendengar jawaban Marwa dari arah dapur, Leo pun bergegas ke sana.
"Kamu kenapa?" Leo menutup hidung saat mencium bau aneh dari dalam sana.
"Keluarlah, jangan sampai kamu mual sepertiku." Marwa mengusir, tetapi Leo tetap berada di sana meskipun kepalanya mulai terasa pusing karena bau aneh tersebut.
"Hei, bukankah wajar kalau wanita hamil itu merasakan mual-mual?"
"Siapa yang hamil?" tanya Marwa bingung.
"Kamu. Memang siapa lagi?" Leo mulai ketus. "Kamu mual sampai sepucat itu, bukankah tandanya kamu hamil?"
"Astaga. Aku bukan hamil, tapi mual karena bau bangkai tikus di sini." Marwa kembali mual saat Juminten sudah keluar dari belakang lemari sambil membawa bangkai tikus. Bukan hanya Marwa, tetapi Leo juga ikut merasakan mual yang sangat hebat.
"Yaelah, kalau berdua hamil barengan." Juminten berbicara santai. Dia tidak merasakan mual karena sudah memasang pewangi ruangan di dekat hidungnya.
__ADS_1