
Margaretha akhir-akhir ini sering uring-uringan karena terlalu bosan di rumah. Leo sangat sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan dia sama sekali tidak bisa pergi karena Leo tidak memberikan izin. Marwa bahkan sampai merasa dirinya seperti burung dalam sangkar emas.
Namun, tidak untuk hari ini. Senyum Marwa sejak pagi sudah terlihat mengembang saat Leo memberinya izin untuk menemui para sahabatnya di kontrakan. Walaupun Marwa harus merayunya dengan susah payah. Bahkan, Leo sampai mengantar Marwa ke kontrakan sebelum berangkat ke kantor.
"Ingat, jangan pergi sebelum aku menjemputmu," perintah Leo ketika dia akan berangkat ke kantor lagi. Marwa pun langsung mengiyakan tanpa banyak berpikir karena dia tidak ingin jika Leo berubah pikiran dan dia akan diseret pulang saat itu juga.
"Eedddaaannnn!!!!"
Marwa mengembuskan napas kasar saat mendengar suara teriakan Zaenab dari dalam rumah. Meskipun dia belum melihat wujud Zaenab, tetapi dari suara cemprengnya, Marwa sudah bisa sangat mengenali itu.
"Astaga, Mar. Gue kangen banget sama elu." Zaenab memeluk Marwa sangat erat untuk melepaskan rasa rindu yang begitu menggelora. Ciee!! Sok puitis, lu! Menggelora? Lu pikir stadion.
"Gue juga kangen sama elu, Zae." Marwa membalas pelukan tersebut.
"Gimana, Mar? Lu udah hamil?" Zaenab menatap perut Marwa yang masih ramping dan singset.
"Belum, Zae. Doain ya." Marwa pun masuk ke rumah bersama Zaenab. Dia langsung disambut oleh yang lain karena memang mereka sedang libur kerja kecuali Suketi yang tetap harus berangkat.
Gelakan tawa terdengar sangat jelas di rumah kontrakan itu. Mereka saling berbagi cerita dan sering menggoda Marwa perihal urusan ranjang. Terutama Juminten yang paling gencar di antara yang lainnya hingga membuat Marwa malu sendiri. Jika dulu tanpa rasa malu Marwa bercerita soal begituan, tetapi tidak untuk sekarang. Marwa terkadang merasa malu sendiri.
__ADS_1
Setelah bosan terus berada di kontrakan, Marwa pun mengajak para sahabatnya pergi ke mall untuk shoping dan jajan. Bahkan dengan antusiasnya, Marwa bilang yang akan membayari dengan uangnya. Uang milik Leo lebih tepatnya. Marwa pun makin bersorak kegirangan saat Leo menyetujui permintaan Marwa meskipun dia harus memberi nasehat panjang lebar terlebih dahulu.
"Eh, ini sepatu bagus banget." Juminten hendak mengambil sebuah wedges yang begitu menggoda. Namun, dia terkejut saat seseorang mengambilnya dengan cepat. Juminten pun menoleh dan langsung mengerutkan kening saat merasa tidak asing dengan wanita yang sedang memegang wedges tadi.
Gue kaya pernah lihat ini cewek, tapi di mana ya?
Juminten terus berusaha mengingat dan selang beberapa saat dia mendengkus kasar saat menyadari kalau wanita itu adalah wanita yang saat itu bertengkar dengan Leo di restoran. Marwa yang baru mendekat dan menyadari bahwa itu adalah mantan istri Leo pun langsung mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Marwa benar-benar tidak menyangka jika akhirnya dia dipertemukan dengan wanita itu. Padahal Marwa merasa sangat enggan.
"Gadis miskin seperti kalian tidak pantas belanja di mall seperti ini. Kalian lebih pantas belanja di pasar yang becek, dengan barang murahan pastinya," hina wanita yang bernama Angel tersebut.
"Apa hak kamu berbicara seperti itu? Siapa pun boleh belanja di sini asal bukan hutang." Juminten membalas dengan berani. Dia berkacak pinggang dan membalas tatapan Angel tak kalah sengit. Semetara Marwa hanya diam karena suasana hatinya mendadak buruk.
"Siapa lu!" Telunjuk Zaenab berada tepat di depan wajah Angel bahkan seperti hendak mencolok mata wanita itu. Angel pun sedikit memundurkan tubuhnya karena dia merasa agak ngeri dengan Zaenab yang tampak ganas.
"Dia bilang, orang seperti kita kagak pantes beli di sini, Zae." Juminten mengadu dan berusaha memanasi Zaenab agar Angel makin merasa takut.
"Aku hanya bicara fakta," timpal Angel. Nada bicaranya tidak seketus tadi.
"Kamu bilang fakta? Emang ada patokannya orang yang boleh masuk ke wilayah ini itu harus yang terlihat cantik, kaya, dan seperti kamu ini?" Zaenab masih terus menunjuk wajah Angel. Jika saja tidak ada satpam di sana, sudah pasti Zaenab akan benar-benar mencolok mata Angel.
__ADS_1
"Dasar! Sudah miskin, belagu pula," hina Angel masih berusaha terlihat berani dan menyingkirkan telunjuk Zaenab dari depan wajahnya.
"Memangnya setahu apa kalau aku ini miskin?"
"Bukankah kamu ini memang miskin. Aku yakin kamu tidak punya uang sekarang," tukas Angel. Zaenab yang barusan berani pun kini mulai menciut. Untuk saat ini dirinya memang tidak memiliki uang karena belum gajian. Melihat perubahan raut wajah Zaenab pun membuat Angel tersenyum penuh kemenangan.
"Kenapa kamu tidak jawab? Kamu memang tidak punya uang, 'kan?" Angel berusaha memojokkan Zaenab. Apalagi saat ini mereka sudah menjadi pusat perhatian.
"Mar—" Zaenab memberi kode pada Marwa, tetapi sahabatnya itu justru menggeleng. Membuat Zaenab menelan ludahnya susah payah.
"Dompet gue ternyata ketinggalan, Zae." Marwa berbicara lirih dan nyaris tidak terdengar, sedangkan Angel tergelak keras hingga semakin mengundang perhatian.
"Dasar wanita-wanita miskin!" cemooh Angel. Marwa dan para sahabatnya pun hanya bisa diam menduduk. Begitu juga dengan Zaenab yang sudah mengumpati Angel di dalam hatinya.
"Wanita miskin seperti kalian hanya mengotori tempat ini."
"Siapa yang kamu sebut sebagai wanita miskin?"
Perhatian mereka teralihkan pada seorang lelaki yang baru saja bergabung dan berdiri berhadapan dengan Angel. Lelaki itu tampak geram dan melayangkan tatapan tajam ke arah Angel.
__ADS_1
"Anjas," gumam Marwa. Dia terkejut dengan kedatangan Anjas yang begitu tiba-tiba.