
Mendengar ucapan Zaenab, para anggota GTD yang lain pun tidak terima. Mereka mendekati Anjas dan mengelilingi lelaki itu. Anjas bergidik ngeri saat dirinya menyadari kalau saat ini sudah dikepung. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain pasrah.
"Gue pulang dulu." Marwa berpamitan hendak pergi karena tubuhnya mulai menunjukkan reaksi. Namun, Zaenab melarang dan menahan lengan wanita itu. "Zae! Gue harus pulang sekarang!"
Rasa tidak nyaman yang dirasakan Marwa membuat wanita itu tidak sadar sudah membentak sahabatnya. Zaenab sama sekali tidak merasa sakit hati karena dia sudah sangat paham.
Pintu ruangan kembali terbuka. Marwa tersentak saat melihat Leo masuk dengan langkah lebar. Raut wajahnya terlihat penuh dengan emosi dan itu sangat menakutkan bagi Marwa.
"Ke-kenapa kamu di sini?" tanya Marwa terbata. Leo tidak menjawab, hanya menatapnya sangat tajam.
"Om, bawa istri lu ini, deh. Dia sedang dalam pengaruh obat perangsang. Jadi, lu bisa manfaatin itu buat kasih hukuman ke dia," suruh Zaenab santai.
"Gila lu, Zae! Sama sahabat sendiri kaya gitu. Gue kagak nyangka kalau lu itu sahabat yang kejam!" Marwa marah. Dia merasa Zaenab sudah sangat keterlaluan dengan berbicara seperti itu. Sungguh, Marwa merasa kecewa.
"Gue lebih milih lu dihajar puluhan ronde sama suami lu. Bahkan, sampai lu kagak bisa jalan. Itu lebih baik daripada lu cuma bermain sekali dengan lelaki yang tidak jelas dan tidak memiliki ikatan apa pun sama lu." Zaenab melepaskan cekalan tangannya lalu pergi meninggalkan Marwa.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, hati Marwa terasa berdenyut. Apalagi sikap Zaenab yang mendadak cuek. Padahal gadis itu sudah berusaha membantunya. Marwa hendak menyusul Zaenab, tetapi Leo sudah terlebih dahulu menarik tangan wanita itu.
"Marwa marah sama lu?" tanya Juminten saat Zaenab sudah ikut bergabung bersama yang lain.
"Kagak. Biarin aja. Ntar juga balikan." Zaenab menatap Anjas yang masih rebahan di atas lantai sembari memegang harta berharganya. Dia pun berjongkok dan tersenyum sinis ke arah Anjas.
"Apa telurmu tidak ada yang pecah?" tanya Zaenab disertai seringai.
"Sialan kamu! Aku akan kasih pembalasan untukmu, lihat saja!" bentak Anjas. Dia berusaha bangkit. Bibirnya terlihat meringis saat merasakan nyeri.
"Zae, yakin lu berani lawan dia?" bisik Suketi. Merasa ragu karena yang dia tahu, Zaenab tidak memiliki ilmu bela diri. Zaenab hanya punya ilmu menghilang ketika sedang dikejar tukang tagih utang. Eh!
"Berani lah! Gue bisa bikin dia babak belur tanpa gue sentuh." Zaenab berbicara dengan menyombongkan diri.
"Yang bener aja lu, Zae. Jangan songong." Martu mulai kesal dengan sahabatnya yang main-main.
__ADS_1
Zaenab tidak menjawab, hanya menaik-turunkan alis dan tersenyum senang saat melihat dua orang bertubuh kekar masuk ke ruangan itu. Zaenab pun menyuruh mereka untuk memukuli Anjas untuk memberinya pelajaran.
"Cukup!" suruh Zaenab. Dua orang itu pun berhenti memukul dan membawa Anjas pergi dari sana untuk mendapatkan perawatan. "Bener 'kan yang gue bilang? Gue bisa bikin dia babak belur tanpa gue sentuh."
Suketi menonyor kepala sahabatnya sangat kencang hingga hampir terjungkal. Dia melakukan itu untuk meluapkan kekesalan.
"Gila lu, Zae! Anak orang itu." Suketi menggeleng cepat.
"Yang bilang anak monyet siapa?" Zaenab berbicara santai.
"Lu tuh anak monyet! Eh, lu bukan anak monyet, tapi lu monyet dewasa!" umpat Suketi kesal. Dia berjalan pergi meninggalkan Zaenab dan yang lain.
"Oe! Suk! Kalau gue monyet, lu juga monyet, dong!" Ucapan Zaenab menghentikan langkah Suketi. "Ingat, Suk! Sesama monyet, tidak boleh saling memonyetkan dan kita harus berperikemonyetan."
"Sialan lu, Zae! Emang ******!"
__ADS_1