
Marwa terdiam saat melihat seorang wanita paruh baya, tetapi parasnya masih sangat cantik. Rambutnya disanggul seperti orang jaman dulu dan kulit tubuhnya putih bersih. Sungguh, Marwa terpesona pada kecantikan wanita yang hampir seumuran ibunya.
"Mama," panggil Leo bermalasan. Dia sudah bersiap akan mendapat omelan dari sang mama setelah ini. Benar saja, Leo sedikit mengangkat tubuhnya saat wanita paruh baya itu menarik telinganya ke atas. Bahkan, wanita itu tidak peduli pada rintihan Leo yang kesakitan. Marwa yang melihat pemandangan itu pun tak kuasa menahan tawa.
"Jangan ketawa atau aku akan menikahimu saat ini juga!" ancam Leo, mendelik ke arah Marwa hingga membuat tawa gadis itu meredam seketika.
"Tunggu dulu." Vinny melepaskan tangannya dari telinga sang putra lalu menatap Marwa dan Leo secara bergantian. "Leo, katakan pada mama, apakah gadis ini calon istrimu?" Vinny memusatkan pandangannya ke arah Marwa.
Astaga, tatapan mamanya Om Duda serem amat, yak. Jangan-jangan kalau Om Duda bilang iya, terus wanita itu bakal nolak dan ngusir aku. Ohh, seperti film ku menangis ini, mah.
"Ehem!"
Vinny berdeham dan membuat pikiran Marwa seketika buyar. Gadis itu tampak sangat gugup, sedangkan Leo hanya mendes*hkan napasnya berkali-kali.
"Kenapa tidak jawab?" Vinny melontarkan pertanyaan yang penuh penekanan. Merasa sebal karena tidak mendapati jawaban sama sekali.
"Iya, Ma. Dia Brielle yang aku ceritakan." Leo menjawab santai tanpa peduli kepada Marwa yang tampak terkejut. Bagaimana tidak, Leo menjawab tanpa merasa bersalah ataupun khawatir sama sekali.
"Ssuutt! Ssuuttt!" Marwa berdesis untuk memanggil Leo diam-diam. Leo pun segera menoleh ke arah Marwa. "Ngapain kamu jawab seperti itu. Kalau kita dinikahkan saat ini juga, gimana?"
__ADS_1
"Biarkan saja. Memang itu tujuanku." Leo menjawab tenang. Tersenyum seolah tanpa dosa.
"Ehem! Mama bukan obat nyamuk di sini." Vinny menginterupsi obrolan mereka.
Daripada kebanyakan basa-basi, Vinny pun mengajak Marwa untuk segera masuk. Marwa makin terpukau saat kakinya baru saja menginjak ruang tamu.
Gila! Mewah banget. Sofa ini bahkan lebih empuk dari kasur gue di rumah.
Marwa yang baru duduk pun mengusap lembut sofa itu. Lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Marwa benar-benar terpukau dan tidak menyangka kalau ternyata Leo sangatlah kaya.
Gila, ya! Berasa sempurna banget si Om Duda. Udah cakep, gagah, tajir, duda pula. Aihh! Kalau gue nikah sama dia bisa jadi ratu, dong. Apa pun yang gue mau bakal terlaksana.
"Siapa namamu?" tanya Vinny, menyadarkan Marwa kalau dirinya tidaklah sendiri di ruangan itu sekarang. Marwa menatap Vinny dan Leo bergantian.
"Markonah Brielle Eden, Nyonya." Marwa menjawab gugup.
"Bagus sekali namamu," ucap Vinny. Marwa hanya diam dan tidak tahu apakah itu sebuah pujian atau bukan. Sangat meragukan baginya.
"Terima kasih, Nyonya."
__ADS_1
"Jadi, apa kamu sudah siap untuk menikah dengan Leo?" Pertanyaan Vinny sontak membuat kedua mata Marwa terbuka lebar. Bahkan, mulutnya pun ikut terbuka.
Marwa yakin, siapa pun yang ada dalam posisinya seperti saat ini pasti akan ikut melongo. Bayangkan saja!
Gue kagak mau bayangin, Mar. Mendingan mengalami jadi lebih bisa tahu rasanya, wkwkwk.
Asem lu!
Batin Marwa seolah perang sendiri. Antara kubu merah melawan kubu buru. Siapa yang menang? Othor lah, wkwkwk. Dah, kembali ke laptop!
"Nyonya, kenapa Anda bertanya seperti itu? Memangnya Anda setuju kalau saya menikah dengan putra Anda?" Marwa balik bertanya. Merasa ragu sendiri.
"Apa pun keputusan yang diambil putraku maka aku akan menuruti selama itu baik untuknya." Vinny menjawab yakin.
"Tapi, Nyonya. Kenapa Anda seyakin itu? Padahal ini adalah pertemuan pertama kita." Marwa menaruh curiga.
"Ya, aku yakin kalau Leo tidak akan memilih jodoh yang salah. Bagiku terserah pilihan dia, yang terpenting dia bisa memberiku cucu." Ucapan Vinny seketika membuat Marwa bungkam seketika. Seperti ultimatum untuknya padahal dirinya belum menyandang gelar Nyonya Leonard Sabeni Erlangga.
Ciee Nyonya Sabeni. Uhuyy!! Ada yang ngarep, nih.
__ADS_1