
"Suk, elu yang bener aja!" Marwa berbicara dengan nada tinggi saat sudah menghabiskan segelas air putih untuk meredakan tenggorokan yang terasa memanas. Tidak peduli lagi pada Zaenab yang sudah meledeknya.
"Gue beneran, Mar. Kapan sih gue bohong sama elu?" Suketi melangkah keluar dengan tergesa. Sementara Marwa dan Zaenab mengikut di belakang karena penasaran dan ingin tahu.
"Gimana ceritanya si Leo bisa tahu gue mulai kerja?" tanya Marwa curiga. Suketi mendadak gugup. Dia khawatir Marwa akan mengetahui sesuatu hal. Dengan cepat, Suketi membuka pintu sebelum Marwa makin melontarkan banyak pertanyaan.
"Bos," sapa Suketi mendekati Leo yang sedang berdiri dengan gaya gagah di samping mobil. Marwa dan Zaenab berhenti di ambang pintu dan menatap lelaki tampan itu. Bahkan, Marwa sampai membuka mulut lebar saking tidak percayanya.
"Awas, iler elu, Mar." Zaenab mengusap wajah Marwa untuk menyadarkan gadis itu.
"Ish!" dengkus Marwa, mengulangi usapan tangan Zaenab di wajahnya.
"Kamu sudah siap?" tanya Leo kepada Suketi, tetapi ekor matanya melirik Marwa hingga membuat Marwa salah tingkah sendiri saat menyadari lirikan mata Leo yang menarik hati.
"Sudah dong, Bos. Mar, elu udah siap 'kan? Jadi sekarang elu berangkat sama kami." Suketi memberi perintah, tetapi Marwa menggeleng cepat.
"Ogah! Gue mending berangkat sendiri," tolak Marwa cepat.
"Yakin elu mau berangkat sendiri? Berangkat pakai apa?" tanya Suketi setengah meledek.
"Motorlah! Emang pakai apa lagi?" sahut Marwa ketus. Dia merasa kesal dan yakin kalau ini adalah ide Suketi.
"Emang elu mau berangkat pakai motor yang bannya bocor gitu?" Suketi meledek. Marwa pun mendekati motornya yang masih berada di samping rumah. Bola mata Marwa melebar saat melihat ban motornya kempes, bukan cuma satu, tetapi kedua ban itu sekaligus.
"Bagaimana bisa?" gumam Marwa tidak percaya. Belum juga gadis itu berbalik, Suketi sudah menarik tangan Marwa dan mengajak masuk ke mobil Leo.
__ADS_1
"Suk! Gue enggak mau!" Marwa hendak keluar, tetapi dengan sigap Leo mengunci semua pintu. Marwa duduk bersandar dengan tangan bersidekap saat menyadari dirinya sudah tidak bisa lagi keluar dari mobil tersebut.
"Elu beneran jahat sama gue, Suk!" Marwa ingin sekali meninju wajah sahabatnya yang saat ini sedang duduk di kursi penumpang. Sementara dirinya duduk di depan, tepat di samping Leo.
"Catarina tidak salah. Aku memang menyuruh dia melakukan ini," bela Leo. Marwa melirik Suketi tajam, tetapi yang dilirik hanya sibuk bermain ponsel tanpa rasa bersalah sedikit pun. Marwa tidak tahu kalau Suketi diam-diam sedang merekam percakapan mereka. Suketi berharap ada pembicaraan penting yang nantinya akan menjadi perbincangan heboh di kontrakan.
"Catarina ... Catarina. Nama dia itu mesis Ceres bukan Catarina!" timpal Marwa. Nada bicaranya terdengar jutek, dan Leo sama sekali tidak terganggu dengan hal itu.
"Emang nama gue Catarina, Mar," ucap Suketi. Marwa hanya diam karena dirinya sudah terlalu malas berdebat.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita ke intinya saja. Aku tidak mau lagi berbasa-basi. Bagaimana penawaranku yang kemarin? Apa jawabanmu?" tanya Leo, menatap Marwa sangat lekat.
"Penawaran apa?" Marwa berpura-pura lupa. "Lebih baik sekarang kamu jalankan mobilnya sebelum aku terlambat di hari pertama kerja," perintah Marwa, tetapi Leo tidak peduli akan hal itu.
"Jangan dekat-dekat!" Marwa mendorong tubuh Leo sekuat tenaga. Namun, lelaki itu hanya bergeser sedikit saja. Tenaganya masih kalah.
"Lebih baik kamu bersiap-siap saja karena minggu depan aku akan melamarmu," ucap Leo tegas.
Marwa tersentak dan menatap Leo penuh dengan ketidakpercayaan.
"Kamu yang benar saja! Aku bahkan belum memberi keputusan apa pun!" tolak Marwa sewot. Tidak habis pikir dengan kemauan Leo tersebut.
"Catarina, kapan orang tua Brielle sampai di sini?" tanya Leo santai. Marwa makin terkejut saat mendengar itu.
"Empat hari lagi, Bos." Suketi berusaha menjawab tenang. Suketi sebenarnya merasa tidak tega dengan sahabatnya, tetapi dia juga terpaksa melakukan itu karena Leo memberi ancaman yang tidak main-main. Selain itu, Suketi juga merasa yakin melakukan ini karena Suketi tahu kalau Leo benar-benar sudah jatuh cinta dengan Marwa, dan berharap bosnya itu bisa mencintai sahabatnya dengan tulus.
__ADS_1
"Orang tua siapa?" tanya Marwa masih belum percaya. Mungkinkah Brielle yang disebut adalah dirinya? Tapi, yang namanya Brielle bukan hanya dirinya.
"Biar aku perjelas saja karena kebetulan mereka juga sudah setuju. Yang sedang dalam perjalanan ke sini adalah papa dan mamanya Markonah Brielle Eden," ucap Leo.l disertai senyuman licik.
Kedua mata Marwa melebar sempurna saat mendengar jawaban Leo. Lalu menepuk pipi berharap ini bukanlah mimpi. Namun, saat dia merasa sakit ketika mencubit pipinya sendiri, Marwa pun tersadar kalau dirinya sedang di alam nyata sekarang.
"Katakan kalau ini bukan mimpi, Suk." Marwa menoleh dan menatap Suketi yang sedang tersenyum.
"Lu emang kagak mimpi, Mar. Ini nyata." Suketi menunjukkan senyum seolah tanpa dosa.
"Ya Tuhan." Marwa menyandarkan tubuhnya dan masih merasa syok. "Apa yang kamu lakukan dan katakan? Kenapa mereka bisa setuju?" tanya Marwa penasaran.
"Itu rahasia." Leo menjawab santai. Marwa pun hanya diam karena tak mampu lagi berkata-kata.
Gue beneran spechless! Kalau orang tua gue udah setuju ya udah. Terima nasib aja kalau gini. Keputusan mereka juga kagak bisa diganggu gugat.
Marwa pun hanya bisa pasrah dan berdoa untuk dirinya sendiri.
πππ
Hallo guys, selamat pagi.
Terima kasih yang sudah mampir ke sini. Oh iya, Othor cuma mau ngasih tahu kalau novel ini adalah novel komedi yang penuh candaan. Jadi, buat kalian yang serius dan tidak suka, bisa berhenti baca tanpa meninggalkan komentar yang buruk ya π karena Othor manusia biasa yang juga punya perasaan π
Makasih atas pengertiannya, guys π
__ADS_1