
Di hari pertama bekerja, Marwa sama sekali tidak bisa berkonsentrasi karena teringat dengan ucapan Leo barusan. Ucapan yang begitu menghantui pikirannya. Entah mengapa, pikiran gadis itu mendadak kalut.
Masa iya gue sama Om Duda beneran bakalan nikah? Apa kata dunia?
Batin Marwa heboh sendiri. Bayangan hidup berumah tangga dengan Leo begitu mengusik pikirannya.
Ahh sial! Kenapa pikiran gue makin jauh aja.
Marwa pun mencoba mengalihkan perhatiannya agar tidak selalu terbayang wajah Leo. Memang, dia belum mencintai Leo, tetapi bayangkan saja, siapa sih yang tidak mau menikah dengan lelaki tampan dan juga mapan. Sudah jelas masa depan cerah.
Duda berpengalaman pula. Eh, ada apa dengan duda? Yang jelas bukan ada cinta di matamu. Aish! Pikiran lu kejauhan, Mar!
"Kenapa kamu melamun? Ini jam kerja bukan jam bengong!"
Marwa tersentak saat mendengar suara dari arah belakang. Dia berbalik dan melihat seorang lelaki memakai seragam yang sama dengannya. Wajahnya tampan dan kulit putih bersih seperti orang China. Namun, tatapannya begitu tajam dan mematikan. Marwa pun segera menunduk dalam untuk menghindari tatapan lelaki itu. Sebelum dia jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.
"Baru pertama bekerja sudah seperti ini? Bagaimana kalau seterusnya? Mau jadi seperti apa?" bentaknya.
"Seperti anu. Eh!" Marwa menepuk bibirnya sendiri karena telah lancang menimpali pertanyaan itu. Bukan pertanyaan, tetapi lebih tepatnya sebuah omelan.
"Ada apa, sih, Njas?" Seorang lelaki yang tak kalah tampan dari lelaki tadi, ikut menimbrung bersama mereka. Membuat Marwa makin merasa gugup. Ya, meskipun dalam hati dia merasa seperti seorang putri yang dikelilingi dua pangeran tampan. Lebay amat lu, Mar!
__ADS_1
"Lihatlah karyawan baru ini, sangat tidak becus!" ucap lelaki pertama yang bernama Anjas. Marwa mengusap dada saat mendengar perkataan yang lebih seperti umpatan itu. Ucapan Anjas sungguh pedas seperti boncabe level dewa.
"Namanya saja karyawan baru, pasti butuh pelatihan dan kesabaran untuk mengajari. Dulu pun kamu gitu," timpal lelaki satunya lagi. Membuat Anjas kalah telak.
"Bener banget, tuh." Margaretha menunjukkan jempol tanda setuju dengan ucapan itu. Anjas yang mendengar itu hanya mendengkus kasar. Merasa kesal dengan sahabat yang juga merupakan partner kerjanya.
"Sudah, lebih baik kamu kembali bekerja." Anjas memberi perintah sembari berlalu meninggalkan mereka. Marwa yang melihat itu pun menggeleng cepat.
"Sabar ya kalau Anjas jutek sama kamu. Dia memang gitu orangnya kalau belum terlalu kenal." Lelaki itu pun ikut pergi meninggalkan Marwa untuk menyusul Anjas.
"Ganteng, sih, tapi jutek!" Marwa menggerutu lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
***
"Huh! Semua gara-gara duda sialan!" Marwa menendang udara untuk meluapkan kekesalan. Namun, dia mematung saat sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Mobil hitam mengkilap yang sangat tidak asing baginya.
"Kayaknya gue kenal mobil ini," gumam Marwa berusaha mengingat-ingat. "Astaga, Om Duda ternyata."
Marwa terkejut saat pintu kaca mobil tiba-tiba terbuka dan tampaklah Leo sedang duduk di belakang setir kemudi. Memakai kacamata hitam dan baju kantor. Aura kegagahan lelaki itu sangatlah jelas.
Ahhh ... pesonanya membuat Marwa meleyot rasanya. Gadis itu sampai melongo sesaat.
__ADS_1
"Eh, Monyet!" Marwa latah saat mendengar suara klakson. Membuat jantung gadis itu berdebar kencang karena terkejut.
"Siapa yang monyet?" tanya Leo kesal.
"Kamu lah, siapa lagi?" Marwa menjawab santai dan seolah tidak takut. Rasa kesal pada lelaki itu seketika membuat Marwa menantang padanya.
Leo pun tidak banyak bicara. Dia turun dari mobil dan menyuruh Marwa untuk segera masuk. Marwa tidak menolak sama sekali dan menurut duduk di kursi belakang sopir.
"Kupikir kamu akan berteriak meminta tolong atau menuduhku sebagai seorang penculik," ucap Leo. Kembali duduk di tempat semula.
"Untuk apa aku berteriak? Aku memang sangat membutuhkan tumpangan," jawab Marwa santai. Leo yang mendengar itu pun melongo sesaat.
"Jadi?" Leo menatap Marwa dari kaca kecil depan.
"Jadi, lajukan mobilnya sekarang. Aku ingin segera sampai rumah." Dengan santainya Marwa duduk bersandar dan melipat kedua tangan di depan dada. Sementara Leo, mendengkus kasar.
"Aku bukan sopirmu kalau kamu ingat," sindir Leo.
"Aku memang tidak mengatakan kamu adalah sopirku. Tapi kalau kamu merasa gitu ya baguslah. Aku berasa jadi orang kaya sekarang. Haha." Marwa tergelak sendiri.
"Oh, astaga. Apa gadis itu gila?" gumam Leo. Melajukan mobil tersebut sebelum dirinya makin merasa kesal.
__ADS_1
Rasain lu, Duda Ganteng! Gue kerjain. Lumayan lah, gue bisa leha-leha dan pastinya tidak mengeluarkan uang sepeser pun agar sampai di rumah.
Marwa tersenyum licik.