Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
21


__ADS_3

Marwa tersenyum bahagia dan merasa telah menang karena sudah membuat Leo kesal. Namun, dia tidak mengetahui kalau ternyata Leo pun sama liciknya. Lelaki itu dengan santai melajukan mobilnya ke rumah. Sementara Marwa yang barusan sedang duduk bersandar pun langsung menegakkan tubuhnya. Memindai tempat yang sedang dilewatinya.


"Ini mau ke mana?" tanya Marwa heran. Merasa asing dengan pemandangan di sekitar.


"Bertemu dengan calon mertuamu." Leo menjawab santai, sedangkan Marwa melongo saat mendengarnya.


"Maksud kamu?" Marwa masih menoleh ke luar jendela. "Aku belum punya calon mertua asal kamu tahu."


"Ya, tapi nanti kamu juga akan tahu sendiri." Jawaban Leo itu membuat Marwa secara refleks menendang belakang kursi yang diduduki oleh Leo.


Emang sialan, nih, Om Duda! Coba aja kalau berani kerjain gue. Bakalan gue bawa ke kamar terus gue aja uh-ah. Oh, astaga. Kenapa pikiran gue jauh banget. Yang ada ntar gue yang rugi.


Marwa menggerutu. Mengumpati dirinya sendiri yang sekarang menjadi sangat mesum seperti Juminten. Marwa berusaha kembali mengajak pikirannya ke dunia nyata dan dia makin merasa heran saat mobil Leo masuk gerbang yang menjulang tinggi dan tampaklah sebuah rumah yang sangat mewah bahkan seperti istana.


Leo mengintip dari kaca kecil lalu tersenyum tipis saat melihat raut kebingungan dari wajah Marwa. Sangat menggemaskan untuk lelaki itu. Saat mobil Leo sudah berhenti tepat di depan pintu utama, lelaki itu pun turun lalu membuka pintu belakang untuk Marwa.

__ADS_1


"Keluarlah," perintah Leo. Marwa yang masih bingung seperti orang oon pun hanya menurut dan turun dari mobil tersebut.


"Ini rumah siapa?" tanya Marwa pada akhirnya karena tak kuasa menahan rasa penasaran.


"Kamu yakin ingin tahu ini rumah siapa?" tanya Leo. Marwa hanya menanggapi dengan anggukan kepala yang cepat. Leo memajukan wajahnya dan secara refleks Marwa memundurkan tubuhnya untuk menghindar. Namun, Leo dengan jahilnya meraih pinggang Marwa agar gadis itu tidak bisa pergi. Marwa pun merasa sangat gugup karenanya.


"Jangan dekat-dekat." Marwa sedikit mendorong tubuh Leo agar menjauh, tetapi percuma. Leo justru makin mendekatkan wajahnya bahkan nyaris bersentuhan.


"Kalau kamu ingin tahu, ini adalah rumahku dan sebentar lagi akan menjadi rumah kita. Tempat tinggal kita membina bahtera rumah tangga."


Astaga.


"Arrgghh! Sakit. Bisakah kamu tidak memukul di tempat ini?" Leo memegangi adik kecilnya yang terasa nyeri. Marwa yang merasa bersalah pun hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Ma-maafkan aku." Marwa menunduk saat menyadari tatapan Leo yang sangat tajam dan seolah hendak mengulitinya hidup-hidup.

__ADS_1


"Dua kali kamu memukul adik kecilku! Bagaimana kalau adik kecilku tidak bisa bangun? Kamu mau bertanggung jawab!" omel Leo kesal.


"Nanti aku bantu bangunkan." Marwa menjawab santai. Namun, mampu membuat Leo tertegun.


"Kamu tahu caranya?" tanya Leo penuh selidik.


"Ya, aku bisa memakai tangan atau bermain karaoke," jawab Marwa santai.


"What!" Leo mendelik saat mendengar jawaban Marwa. Sementara Marwa yang baru menyadari satu hal pun langsung menutup mulut karena menyadari dirinya telah salah bicara.


Marwa merasa takut saat melihat tatapan Leo yang penuh kecurigaan. Bahkan, lelaki itu langsung mendorong Marwa hingga mentok bersandar mobil. Leo pun menghimpitnya hingga membuat Marwa sangat gugup karena hangat napas Leo menerpa pipi. Dia tidak mampu berkutik lagi karena tubuhnya telah terkunci oleh Leo.


"Ja-Jangan—"


"Katakan padaku bagaimana kamu bisa tahu hal seperti itu? Apa kamu sering melakukannya?" Leo menatap Marwa tajam membuat gadis itu seolah lumpuh dan tak mampu membuka suara. Leo yang merasa gemas pun memilih memajukan lagi wajahnya hingga hanya berjarak dua centi saja.

__ADS_1


"Leonard Sabeni Erlangga!"


"Om Duda dipanggil, tuh." Marwa mendorong tubuh Leo agar menjauh dan dirinya bisa melepaskan diri. Leo pun hanya diam dan menatap ke arah pintu utama menunggu sang pemilik suara tadi muncul dari balik pintu.


__ADS_2