
Leo menatap Marwa heran karena sejak pembicaraan dengan Vinny tadi, raut wajah Marwa mendadak muram. Bahkan, gadis itu hanya tersenyum saat berhadapan dengan Vinny saja dan ketika dalam perjalanan pulang pun, Marwa masih tampak lesu dan tidak bersemangat sama sekali.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang." Marwa berbicara lesu. Membuka pintu mobil dan hendak keluar dari sana. Namun, Leo dengan segera mencegahnya. Menahan lengan Marwa agar gadis itu tidak keluar dari mobil terlebih dahulu. "Apalagi, sih? Aku capek. Pengen segera istirahat."
"Kenapa raut wajahmu jadi jelek seperti ini? Apa aku atau mamaku ada salah?" Tanya Leo. Perasaannya tidak enak sendiri. Marwa menggeleng cepat lalu menyingkirkan tangan Leo.
"Apa kamu tidak ingin mencari wanita lain untuk dijadikan istri? Jangan aku. Lagi pula, kita belum sama-sama cinta." Marwa berbicara lirih dan tidak berani menatap Leo sama sekali.
"Memangnya kenapa? Aku sudah meminta restu kepada orang tuamu dan aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri dengan membatalkan pernikahan kita." Leo berbicara tegas dan seolah tidak terbantahkan.
"Aku takut enggak bisa ngasih cucu ke mama kamu," ujar Marwa. Membuat Leo melongo sesaat lalu tergelak keras setelahnya.
"Ish! Kenapa kamu ketawa, sih!" Marwa yang merasa gemas pun segera memukul lengan Leo tidak peduli meski lelaki itu sudah mengaduh. "Jangan nyebelin, Sabeni!"
"Heh! Berani sekali kamu memanggilku apa. Habisnya kamu ini lucu. Kita belum menikah, tapi kamu sudah mikirin cucu. Apa kamu sudah tidak sabar ingin segera bercinta denganku, hm?" Leo menggoda Marwa dengan memajukan tubuhnya. Marwa pun terdiam saat merasakan jantungnya berdebar kencang karena gerakan Leo yang tiba-tiba.
"Ja-jangan dekat-dekat." Marwa berusaha mendorong dada Leo, tapi percuma. Leo justru makin memundurkan tubuhnya untuk menghindar.
"Aku yakin kamu bisa memberi cucu untuk mamaku. Kalau kamu ragu, bagaimana kalau kita cicil dari sekarang." Leo tersenyum licik, sedangkan Marwa mencebik kesal.
"Kamu gila! Aduh!" Marwa mengaduh saat dirinya tiba-tiba terjatuh dari mobil karena pintu yang tidak ditutup. Sementara Leo melongo sesaat sebelum akhirnya membantu menarik tangan Marwa agar bangun.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu terjatuh?" Leo melipat bibir untuk menahan tawa agar tidak meledak. Apalagi saat melihat bibir Marwa yang sudah maju dan terus menggerutu.
"Kamu tanya bagaimana aku bisa terjatuh? Ingat, kamu yang berusaha mendekatiku. Makanya jangan maju-maju." Marwa bersidekap kesal.
"Baiklah. Aku mengaku salah dan aku minta maaf." Leo secara refleks mencium pipi Marwa hingga membuat gadis itu mematung seketika. Leo yang menyadari itu pun ikut terdiam.
"Kamu berani sekali cium aku!" omel Marwa. Mendelik ke arah Leo, tetapi itu sama sekali tidak membuat Leo takut.
"Kenapa? Kurang? Mau nambah lagi?" tanya Leo menggoda.
Marwa berkacak pinggang, "Iyalah. Harusnya jangan cuma pipi, bibir juga iri. Pengen disentuh," seloroh Marwa. Namun, gadis itu segera keluar dari mobil saat melihat Leo yang masih melongo karena tidak percaya dengan ucapan Marwa.
"Aku bercanda! Jangan dipikirin nanti tambah tua. Makasih tumpangannya." Marwa berteriak sembari masuk ke kontrakan sebelum Leo mengejar. Marwa takut kalau sampai Leo bisa menangkap dirinya, lelaki itu akan meraup bibir dan saling beradu dengannya.
"Woy, Mar! Iler lu ngences."
Marwa tersentak saat mendengar suara cempreng Zaenab. Dia pun refleks mengusap iler yang memang menetes dari ujung bibirnya. Lalu tersenyum sendiri karena merasa telah menjadi orang bodoh.
"Yah, emang beneran edan lu, Mar. Senyum sendiri kek gitu." Zaenab duduk di kursi dengan santai. Marwa pun ikut duduk di samping sahabatnya.
"Lu kalau ngomong selalu aja gitu, Zae. Bikin tensi darah gue naik." Marwa mendecakkan lidah, sedangkan Zaenab yang gantian tersenyum seolah tak berdosa.
__ADS_1
"Gue 'kan emang ngomong sejujurnya, Mar. Ngapain lu ketawa-tawa sendiri. Kaya habis dicium Om Duda aja," tukas Zaenab. Marwa pun membisu dan menatap sahabatnya dengan terkejut.
"Kok lu tahu gue habis dicium Om Duda. Lu ngintip, Zae?" Marwa menunjuk wajah Zaenab.
"Heh! Gue cuma nebak. Jadi, lu beneran habis dicium Om Duda. Astaga, Mar. Lu ... ah, gue spechless!" Zaenab terus menggeleng karena tidak percaya dengan sahabatnya.
"Cuma cium pipi, Zae. Gue aja kagak tahu soalnya si Leo ciumnya tiba-tiba." Marwa duduk bersandar dan menatap ke langit ruangan. Lalu mendes*h kasar.
"Lu kenapa, Mar? Habis dicium Om Duda bukannya seneng malah galau gitu." Zaenab berusaha menelisik wajah sahabatnya.
"Zae, gue mau ngomong sama lu, tapi jangan kaget, ya."
"Lu mau ngomong apa, sih, Mar? Jangan bikin gue takut." Zaenab merasa sangat penasaran.
"Gue 'kan cuma bilang, jangan kaget bukan takut. Lebay amat lu!" Marwa mendengkus saat Zaenab sudah menonyor kepalanya.
"Udah ngomong, jangan kebanyakan basa-basi. Kelamaan. Ya, meskipun yang lama itu enak," protes Zaenab tidak sabar diiringi kekehan.
Marwa menghirup napasnya dalam-dalam, "Zae, bentar lagi gue mau nikah sama Om Duda."
"Apa!" teriak Zaenab kencang bahkan seperti memecahkan gendang telinga Marwa saat itu juga. "Lu mau nikah sama Om Duda, Mar!"
__ADS_1
"Apa! Si Edan mau nikah!"
Marwa memijat pelipisnya saat mendengar teriakan dari kamar para sahabatnya, disusul mereka yang keluar dan langsung bergabung bersama.