
"Astaga!! Edann!" pekik Zaenab ketika pulang bekerja, dia melihat Marwa sedang duduk di ruang tamu rumah kontrakan. Bukan kedatangan Marwa yang membuat Zaenab terheran. Akan tetapi, beberapa jenis makanan yang tersaji hingga memenuhi meja tersebut.
Siomay, mie ayam, bakso kuah, bakso beranak, bakso kembar, batagor, dan masih banyak lagi. Satu lagi yang tidak ketinggalan. Seblak!
"Jangan teriak, sih, Zae! Lu bikin telinga gue budeg!" protes Marwa. Kembali sibuk memakan bakso berkuah merah yang begitu menggugah selera.
"Lu kesambet setan apa, Mar? Kenapa bawa makanan sebanyak ini? Lu kelaparan apa kerasukan?" Zaenab duduk di samping Marwa lalu mengambil sebungkus batagor dan hendak menggigit ujung plastik untuk membukanya. Namun, Zaenab terkejut dengan gerakan Marwa yang tiba-tiba merebutnya.
"Ini punya gue!" Marwa menyembunyikan jajanan tersebut di belakang tubuhnya. "Ini semua punya gue, jadi jangan mengambilnya," ucapnya ketus.
"Terus? Buat apa lu bawa makanan sebanyak ini kalau cuma buat pamer? Mendingan lu kagak usah ke sini, deh." Zaenab kesal. Dia beranjak bangun dan hendak meninggalkan Marwa. Namun, langkahnya terhenti ketika Marwa memanggil lagi dan memberikan jajanan yang direbutnya tadi.
__ADS_1
"Makanlah. Gue cuma bercanda." Marwa cengengesan. Zaenab mengembuskan napas kasar lalu kembali duduk di tempat semula.
Mereka berdua pun mengobrol banyak hal. Zaenab juga bercerita bagaimana anggota GTD mengerjai Angel. Bahkan, hal itu sampai membuat Marwa tertawa terpingkal-pingkal. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya akan secerdik itu.
"Kalian beneran luar biasa." Marwa tampak begitu semringah. "Bentar, gue lupa. Gue kirim fotonya dulu ke suami."
"Cieee, suami. Hahaha gue geli banget denger gitu, Mar." Zaenab bergidik ngeri, sedangkan Marwa memutar bola mata malas. "Eh, laki lu kagak ngelakuin apa gitu buat ngasih pelajaran ke mantan istrinya. Si Ular itu 'kan udah punya niat jahat sama lu."
"Yaelah, kenapa gue ngerasa jadi obat nyamuk, ya." Zaenab duduk bersandar dan ikut sibuk bermain ponsel.
"Lihat, Zae. Suami gue udah ngirim Angel dan Anjas ke tempat yang sangat terpencil bahkan tidak ada jaringan internet di sana. Gue yakin mereka berdua bakalan kapok." Marwa menunjukkan chatnya bersama Leo.
__ADS_1
Senyum Zaenab pun terlihat mengembang sempurna. Merasa puas karena ternyata Leo ikut bertindak memberi pelajaran kepada dua manusia sialan tersebut. Ketika mereka kembali sibuk dengan ponsel masing-masing. Zaenab terkejut ketika Marwa berlari cepat ke kamar mandi dan bahkan memuntahkan semua makanan yang barusan ditelannya.
"Lu kenapa, Mar?" tanya Zaenab. Memijat tengkuk Marwa dengan lembut.
"Kagak tahu, apa gue kebanyakan makan, ya," gumam Marwa. Setelah membersihkan bekas tadi, Marwa pun berjalan lemas kembali ke depan.
"Bisa jadi. Makanya kalau makan, tuh, harus tahu aturan. Jangan karena doyan langsung diembat gitu aja. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik." Zaenab memberi nasehat.
"Baiklah. Lebih baik sekarang kamu juga diam. Karena terus berbicara secara berlebihan juga bisa membuat kepalaku makin pusing, Zae." Marwa memijat pelipis untuk mengurangi rasa pusing yang begitu mendera.
"Baiklah, Nona Muda. Gue bikinin teh panas." Zaenab beranjak bangun, sedangkan Marwa hanya diam saja.
__ADS_1
"Ada apa dengan tubuh gue? Kenapa akhir-akhir ini sering sekali merasakan mual. Apa gue masuk angin kali, ya. Awas aja, Om Duda! Gara-gara dia ngajak begadang mulu, gue jadi masuk angin gini."