Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
24


__ADS_3

Marwa hanya bisa menggeleng saat mereka memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Apalagi Suketi yang paling bersemangat dan wajah gadis itu terlihat sangat semringah. Bagaimana tidak, pernikahan Leo dan Marwa pasti akan menjadi hal baik untuknya.


"Gue seneng kalau akhirnya lu beneran nikah sama Bos Leo, Mar." Suketi tersenyum bahagia.


"Happy banget lu, Suk. Lihat gue menderita," timpal Marwa. Merasa sedikit kesal dengan sahabatnya karena semua ini juga tidak lepas dari campur tangan sahabatnya itu.


"Mar, gue jamin lu bakalan bahagia. Bos Leo itu baik, cuma kadang galak aja. Lagian, menurut gue kalian ini serasi. Cocoklah kalau berjodoh." Suketi sama sekali tidak memudarkan senyumnya dan itu membuat Marwa makin merasa kesal.


"Serah lu, Suk! Gue udah keburu kesel sama lu." Marwa bersidekap dan berpura-pura agar terlihat sedang sangat marah saat ini. Ya, walaupun dirinya memang kesal, tapi apa boleh buat. Dia tidak mungkin marahan dengan sahabatnya.


"Jangan kesel lah, Mar. Bentar lagi 'kan lu jadi Nyonya Muda Leo." Juleha menaik-turunkan kedua alisnya, ikut menggoda Marwa.


"Lu bocil, diem!" Marwa menunjuk wajah Juleha yang saat ini sedang duduk di depannya.


"Yaelah, Markonah galak amat." Juleha memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Marwa yang menajam ke arahnya.


"Sensi amat kek lagi hamil, Mar." Juminten berbicara asal ikut menambahi agar Marwa makin kesal. Tatapan tajam Marwa pun beralih ke Juminten yang sedang terkekeh.


"Apa jangan-jangan lu lagi hamil, Mar?" tanya Zaenab penuh selidik.


"Iya, Mar. Jangan-jangan lu yang kemarin habis anu sama Om Duda, sekarang hamil lagi?" Juminten justru ikut-ikutan membuat hati Marwa makin merasa panas dan emosinya naik saat itu juga.


"Kalian kalau ngomong, sekali aja jangan asal nyablak! Bukankah gue udah bilang kalau masih perawan. Mana ada perawan hamil!" omel Marwa. Kesabarannya benar-benar diuji jika sedang berkumpul bersama seperti ini.


"Banyak, Mar. Status perawan, tapi udah hamil. Bahkan udah punya anak juga," timpal Juleha.

__ADS_1


"Kalian pikir gue salah satu di antara mereka?" Marwa menatap sahabatnya satu persatu.


"Kali aja, Mar," sahut mereka kompak. Tubuh Marwa serasa lemas saat itu juga.


"Ya Tuhan, sabarkan aku karena tinggal bersama mereka. Jangan sampai gue edan di sini."


"Lah, 'kan emang nama lu Edan, Mar." Mereka menimpali lagi. Marwa pun hanya mengelus dada karena tidak tahu lagi harus berbicara apa di depan para sahabatnya.


***


Hari demi hari dilalui Marwa dengan perasaan tidak tenang. Dia merasa Leo selalu ada di sekitar dan mengawasi dirinya. Padahal itu hanyalah perasaan Marwa saja. Bahkan, hal itu sampai membuat Marwa berkali-kali dimarahi oleh Anjas yang galaknya seperti anjing herder. Marwa yang awalnya kaget pun kini sudah terbiasa dengan omelan Anjas karena sudah seperti makanan sehari-hari untuknya.


Hari ini Marwa merasa tubuhnya sangat lelah. Bahkan, dia melajukan motornya dengan pelan karena tidak mau terjadi hal buruk kalau dirinya mengebut. Ingat, dia belum nikah apalagi kawin.


Ben aku semangat berjuang.


Ojo nuruti gengsimu


jelas-jelas aku ndak mampu.


Marwa bernyanyi selama dalam perjalanan agar tidak merasa kesepian. Bibirnya terus berdendang asal. Namun, saat sudah sampai di halaman kontrakan, Marwa langsung terdiam saat melihat dua orang yang tidak asing sedang duduk di teras. Marwa pun segera menghentikan motornya dan berlari mendekati mereka.


"Bapak! Ibu!"


Marwa langsung memeluk mereka erat. Melepaskan segala rasa rindu yang telah menyiksa karena hampir setengah tahun Marwa tidak bertemu orang tuanya. Kedua orang tua Marwa pun membalas pelukan itu tak kalah erat.

__ADS_1


"Mar kangen banget sama kalian." Marwa tanpa malu menciumi wajah mereka secara bergantian. Lalu mengajak masuk dan mengobrol di dalam rumah.


Banyak sekali hal yang mereka obrolkan. Marwa mendapat banyak sekali pertanyaan dari kedua orang tuanya. Mulai dari tempat tinggal sampai pekerjaan. Marwa pun menjawabnya dengan sangat antusias.


"Oh iya, siapa yang ngajak kalian ke sini?" tanya Marwa penasaran.


"Rina," jawab Nur, ibunya Marwa.


"Rina? Rina siapa?" Marwa mengerutkan keningnya dalam karena merasa tidak mengenal nama itu.


"Loh, katanya dia sahabat kamu yang bekerja di tempat calon suami kamu itu," ucap Nur.


"Suketi?" tanya Marwa lagi, tetapi Nur langsung menggeleng cepat.


"Bukan. Namanya Rina. Cat ... Cat ...Catrina." Senyum Nur mengembang saat berhasil mengingat nama Suketi.


"Yaelah, Bu. Iya, Namanya memang Catarina bukan Catrina. Catarina Suketi Ceres. Lalu dia bilang sedang ke mana sekarang?" Marwa memindai seluruh ruangan dan tidak sekalipun melihat keberadaan sahabatnya.


"Lagi pergi jemput Tuan Leo dan ibunya." Baskoro, ayah Marwa, yang menjawab.


"Mereka mau ke sini?" Marwa menuntut jawaban. Kedua orang itu pun mengangguk cepat.


"Iya, untuk membahas hari pernikahan kamu dan Tuan Leo." Nur menjawab santai.


"Astaga." Marwa mendes*hkan napas secara kasar saat melihat betapa santainya sang ibu memberi jawaban itu.

__ADS_1


__ADS_2