
Arsenio Gandhi Erlangga.
Nama yang Leo sematkan untuk putra pertamanya. Tentu saja nama itu mengandung doa yang baik semoga kelak putranya bisa menjadi anak yang berbakti dan pribadi yang kukuh.
Kelahiran Gandhi begitu disambut oleh kedua keluarga. Mereka bergantian menimang bayi lucu tersebut. Bayi gembul yang lahir dengan berat 3,8 gram. Begitu juga dengan anggota GTD. Mereka hanya bisa berlagak mengajak bercanda karena belum berani menggendong bayi imut tersebut. Masih khawatir dan belum punya pengalaman sebelumnya.
"Anak lu lucu amat ya, Mar. Gue jadi kagak sabar pengen punya juga." Suketi menatap lekat wajah Gandhi. Bayi mungil yang saat ini sedang tertidur.
"Makanya nikah terus bikin," timpal Marwa.
"Nantilah. Jodoh aja gue belum punya." Suketi menyentuh pipi Gandhi dan mengusapnya dengan lembut. "Lu bilangin, deh, ke Bos Leo. Carikan gue sugar Daddy dong. Rekan kerja Bos Leo 'kan banyak, tuh."
"Ya, mana gue tahu, Suk. Yang harusnya lebih tahu 'kan elu. Emang lu mau sugar Daddy yang seperti apa?" tanya Marwa.
"Yang sekali genjot dikasih satu milyar. Aduh!" Suketi mengaduh saat tonyoran tangan Zaenab tiba-tiba mendarat di kepalanya. "Sakit, Zae."
"Rasain. Habisnya elu halu banget. Mana ada sugar Daddy yang mau ngasih satu milyar cuma buat sekali genjot. Kalau ada gue juga mau kali jadi genjotannya," celetuk Zaenab. Kali ini kepalanya yang mendapat tonyoran dari Juminten hingga membuat Suketi tergelak keras.
"Rasain, Zae. Karma dibayar lunas!" ledek Suketi, sedangkan Zaenab hanya melirik sinis. Sementara Juminten justru tersenyum seolah tanpa dosa.
"Eh, Mar. Gue penasaran. Selama nifas, laki lu main solo apa jajan di luar? Pasti 'kan gatel kagak dapat sentuhan," kata Juminten. Membuat mereka semua memutar bola mata malas.
"Jangan kumat, deh, Jum. Mulut dan otak lu itu kagak pernah jauh dari itu." Sumiatun yang sejak tadi hanya diam pun mulai membuka suara.
__ADS_1
"Heh! Kagak papa kali. Kagak dilarang juga sama pemerintah. Kecuali kalau praktek sebelum sah, itu baru dilarang sama agama." Juminten membela diri. Membuat para sahabatnya makin mencebik kesal.
Keseruan di sana pun terjeda ketika Gandhi menangis kencang bahkan sampai membuat Marwa begitu kewalahan. Bayi gembul itu baru bisa diam ketika Leo menggendongnya.
"Berarti emang dia anak Om Duda, Mar. Kagak diragukan lagi." Martu bergumam.
"Asem! Emang kalau bukan anak suami gue, anak siapa lagi!" Marwa mulai naik darah.
"Anak elu, lah! Masa anak gue!" balas anggota GTD. Tak kalah seru dan begitu kompak hingga membuat siapa pun di rumah itu tergelak keras.
***
Tanpa terasa sudah empat puluh hari usia Gadhi. Itu artinya sudah selesai pula masa nifas Marwa. Hal yang paling ditunggu-tunggu oleh Leo. Lelaki itu sudah mempersiapkan semuanya. Persiapan tempur di atas ranjang termasuk sarung adik kandungnya karena Marwa belum melakukan KB.
"Ehem! Kamu sudah siap?" tanya Leo. Mengejutkan Marwa yang sedang duduk melamun di atas ranjang.
"Eh." Marwa tidak bisa berkata-kata ketika Leo sudah mulai menjamah. Menyentuh dengan penuh kelembutan dan terus menghujami banyak ciuman hingga membuat Marwa menjadi terbuai dan tanpa sadar sudah digenjot oleh suaminya.
Sakit. Marwa bahkan sampai mengerang ketika senjata Leo memaksa masuk. Rasanya seperti sedang melakukan malam pertama. Ketika dirasa tubuh Marwa mulai menerima. Leo pun memompa perlahan dan lalu kencang.
Oee oee
Suara tangisan bayi membuat Marwa meminta berhenti, tetapi Leo tidak menuruti karena dia sudah berada di ujung dan sedikit lagi akan keluar.
__ADS_1
"Mas, Gadhi nangis." Marwa mulai kesal karena tidak tega mendengar tangisan Gandhi.
Leo tidak menyahut. Hanya lenguhan panjang yang terdengar dan Leo membenamkan adik kecilnya sedalam-dalamnya. Setelah itu mereka pun ambruk bersamaan. Marwa segera mendekati Gandhi dan menyusui bayi mungil itu.
Hampir dua puluh menit, Marwa bernapas lega ketika Gadhi sudah kembali tidur. Leo pun kembali menghujami wajah Marwa dengan banyak ciuman.
"Aku mencintaimu," ucap Leo. Disertai senyum bahagia. Marwa pun segera membalasnya.
"Aku juga mencintaimu. Sangat."
Dua orang itu pun berpelukan erat. Saling menyalurkan rasa sayang dan cinta.
Inilah puncak kebahagiaan mereka. Kebahagiaan yang terasa begitu sempurna dan semoga selalu diberi kekuatan kala badai menghadang.
"Aku baru menyadari ternyata memilikimu adalah pelengkap dari semua kebahagiaanku."
_Leonard Sabeni Erlangga_
"Terima kasih sudah bersedia menjadi pendamping hidupku dan menerima aku apa adanya."
_Markonah Brielle Eden_
•Tamat•
__ADS_1