Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
44


__ADS_3

"Zaenab! Astaga. Lu dari mana? Kemana aja lu?" tanya Juminten saat Zaenab baru saja masuk ke ruangan dan langsung bergabung dengan para sahabatnya.


Zaenab tidak langsung menjawab. Dia terlebih dahulu memindai seluruh penjuru ruangan. Hanya ada sahabatnya di sana. Ketika hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Zaenab pun mengurungkan jawabannya. Dia terus menatap Anjas yang sedang berjalan masuk bersama dengan dua orang pelayan yang membawa minuman dan juga kue ulang tahun.


Mereka pun bersorak kegirangan dan tidak sabar ingin segera menikmati kue paling enak. Mengapa paling enak? Karena gratis. Jika harus membayar sudah pasti mereka akan menganggap kue tersebut rasanya biasa saja dan sama seperti kue yang lainnya.


Anjas sama sekali tidak melihat kalau Zaenab sudah melayangkan tatapan curiga ke arahnya. Lelaki itu tetap bersikap biasa saja. Anjas pun menyuruh mereka untuk menikmati minuman yang sudah disediakan sebelum memulai acar tiup lilin karena lelaki itu bilang masih menunggu temannya yang lain.


Namun, ketika Marwa hendak menenggak minumannya, Zaenab sudah terlebih dahulu mendorong gelas tersebut hingga jatuh berhamburan. Raut wajah Zaenab terlihat gugup saat seluruh pasang mata mengarah padanya.


"Maafkan gue, Mar. Gue kagak sengaja." Zaenab berbicara lirih. Menunduk dalam dan hatinya merasa khawatir jika para sahabatnya akan salah paham padanya.


"Kamu yakin tidak sengaja? Dari gerakan tanganmu, itu bukanlah hal yang tidak disengaja." Anjas menggerutukkan gigi untuk menahan kekesalan. Ingin sekali dia mencekik Zaenab karena sudah mengagalkan rencananya, tetapi Anjas tidak ingin yang lain curiga.

__ADS_1


"Aku memang tidak sengaja. Mar, lu minum punya gue aja kalau gitu. Gue kagak minum kagak apa-apa. Ini sebagai bukti permintaan maaf gue." Zaenab menyerahkan gelas yang dipegangnya kepada Marwa.


"Kagak usah, Zae. Lagian, gue enggak haus." Marwa menolak, tetapi Zaenab tetap memaksa.


"Biar dia minum punyaku saja. Minumlah." Anjas menyerahkan minuman miliknya. Bukan hanya memberikan saja, tetapi Anjas juga membantu Marwa untuk meminum itu. Marwa hendak menolak. Namun, tangan Anjas lebih cepat dari gadis itu.


Zaenab berteriak melarang, tetapi Marwa sudah lebih dulu menelan minuman tersebut.


Sialan! Gue harus gerak cepat!


"Enak juga. Agak pahit dikit." Marwa menolak saat Anjas hendak memberinya lagi.


"Zaenab!" teriak mereka saat melihat Zaenab sudah mendorong tubuh Anjas hingga menempel tembok. Bahkan, tangan Zaenab sudah mengunci tubuh Anjas hingga lelaki itu tidak bisa berkutik.

__ADS_1


"Lepaskan sialan!" umpat Anjas. Dia hendak maju menangkap Zaenab, tetapi tendangan Zaenab sudah terlebih dahulu mendarat di selangkang*n Anjas.


"Aargghhh!! Sial!" Anjas mengerang kesakitan.


"Upss! Maaf. Aku tidak sengaja. Semoga saja telurmu tidak ada yang pecah dan sosis jumbo milikmu tidak penyok," ucap Zaenab. Tergelak keras saat melihat Anjas yang terus saja kesakitan.


"Zae! Lu gila! Apa yang lu lakuin!" bentak Marwa. Sangat tidak menyangka saat melihat Zaenab bisa berbuat seperti itu.


"Gue cuma nolongin lu, Mar. Asal lu tahu, dia itu punya niat jahat sama lu." Zaenab menunjuk Anjas yang masih berguling kesakitan. Tendangan Zaenab benar-benar seperti akan menghancurkan kehidupan Anjas.


"Maksud lu?" tanya Marwa bingung.


"Dia ngasih obat perangsang di minuman lu yang gue senggol tadi. Sepertinya dia juga masukin ke minumannya sendiri yang udah diminum lu barusan." Zaenab berbicara santai.

__ADS_1


Sementara Marwa membulatkan mata penuh. Pantas saja setelah minum tadi, dia merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Rasanya panas dan ingin sekali mendapat sentuhan. Namun, Marwa masih berusaha untuk menahan.


__ADS_2