Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
46


__ADS_3

"Kamu kenapa?" tanya Leo saat sudah berada di kamar. Dia merasa heran ketika melihat Marwa yang terus saja menggeliat seperti cacing kepanasan.


"Tubuhku rasanya gerah sekali." Marwa bahkan tanpa malu membuka baju yang dikenakan hingga menyisakan dalaman saja.


Leo menjadi terbengong saat melihatnya. Namun, dia kembali teringat dengan ucapan Zaenab jika Marwa sedang dalam pengaruh obat perangsang. Senyum licik Leo pun tampak dari sebelah sudut bibirnya.


"Baiklah. Sepertinya aku akan memberi hukuman padamu dengan memanfaatkan situasi ini." Leo mulai menyentuh Marwa. Wanita itu pun merasakan sensasi yang berbeda. Dia sangat tidak sabar disentuh bahkan digenjot oleh suaminya.


Marwa merasa sentuhan Leo terlalu lembut hingga akhirnya dia yang mengambil alih. Menjamah, mencium, mengelus. Pokoknya semuanya yang membuat Leo ikut terbawa arus. Sampai akhirnya kedua orang itu sama-sama beradu kekuatan siapa yang paling bisa memuaskan dan sampai puncak terlebih dahulu.


Setengah jam berlalu, kedua orang itu pun tidur terlentang dengan bermandikan peluh. Napasnya tersengal karena terlalu lama menanjak hingga akhirnya sampai pada puncak. Leo menciumi seluruh wajah Marwa. Merasa sangat senang kepada istrinya yang sangat agresif. Ternyata, mode pasrah itu terkadang enak juga. Batin lelaki itu.


Tiba-tiba tangan Leo terkepal erat. Membayangkan jika seandainya Marwa benar-benar jatuh ke pelukan Anjas dan melakukan hubungan ini dengan lelaki itu. Mungkin bisa saja Leo akan menduda untuk yang kedua kalinya. Namun, beruntung ada sahabat Marwa yang bisa membantu. Setelah ini mungkin Leo akan memberi apresiasi kepada mereka. Mencarikan duda—misalnya.


"Sepertinya aku harus memberimu sedikit pelajaran karena sudah berani berkencan dengan lelaki lain di belakangku." Leo mengusap wajah istrinya yang sedang tertidur lelap. Dia mencium kening wanita itu sangat lama lalu setelahnya ikut memejamkan mata. Menyusul Marwa ke alam mimpi.


Siapa tau nanti di mimpi bisa bercumbu lagi, ya, 'kan?

__ADS_1


Jangan harap.


Hahaha. Ketawa jahat.


***


Di rumah kontrakan Geng Ternak Duda. Para personil geng itu sedang duduk di depan televisi. Menonton acara ku menangis yang membuat mereka kadang geregetan kadang ikut nyanyi tidak jelas. Terkadang, ada yang saling menonyor kepala sahabatnya saat melihat adegan yang sangat menggemaskan hingga rasanya ingin merem*s-rem*s tangan.


"Gue mah kalau dapat mertua kaya gitu. Mending udah, deh. Nyari lagi mertua yang sayang," celetuk Juminten. Mengambil kacang atom dari toples yang dipegang Suketi. Namun, dengan jahilnya dia justru menyentuh buah dada Suketi.


"Salah ambil, Suk. Maaf. Gue pikir itu juga kacang atom," timpal Juminten.


"Mata lu!" Suketi terus menggerutu.


"Nah, pelakornya datang tuh." Zaenab menunjuk layar lalu mengambil sandal hendak dilemparkan ke televisi. Namun, langsung ditahan oleh sahabatnya.


"Jangan mulai kesurupan, Zae," protes Juleha.

__ADS_1


"Gedeg banget gue kau ada pelakor gitu. Pengen gue uleni jadiin donat tanpa gula biar kagak ada manis-manisnya." Zaenab duduk bersandar dan mengambil pisang ambon di dekatnya. Menonton televisi saja sudah membuatnya naik darah. Apalagi jika menghadapi secara langsung.


Zaenab tiba-tiba terdiam saat teringat sesuatu. Dia bahkan saling memukul kepalan tangannya hingga membuat para sahabatnya terheran.


"Lu kenapa, Zae?" tanya Suketi.


"Gue baru inget kalau ada pelakor di antara Marwa sama Om Duda. Kayaknya kita mesti kasih dia pelajaran, deh," sahut Zaenab.


"Pelajaran apa? Biologi? Reproduksi?" Suketi bertanya menggoda. Namun, dia langsung terdiam saat Zaenab sudah memasukkan pisang yang baru dikupasnya ke mulut Suketi hingga membuatnya tersedak.


"Kurang ajar! Emang gila lu, Zae!" Suketi meradang. Sungguh sahabatnya ini memang tidak punya akhlak. Bukannya meminta maaf atau merasa bersalah, Zaenab justru tergelak keras.


"Dah, biar lu terbiasa kalau udah nikah nanti, Suk. Kagak kaget kalau disodorin pisang coklat berurat dan berbulu lebat yang tentunya lebih gede dari pisang ini," seloroh Zaenab.


"Astaga. ZAENAB!!"


Suara pekikan personil GTD itu menggema di ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2