
"Ya Tuhan, Mar. Cowok ganteng itu siapa lagi?" bisik Zaenab yang merasa penasaran dengan Anjas. Marwa tidak menjawab, hanya mengedipkan mata untuk memberi kode pada Zaenab agar diam.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur urusanku!" Angel melipat kedua tangan di depan dada dan menatap sengit ke arah Anjas. Mengibarkan bendera perang kepadanya.
Anjas tersenyum sinis saat melihat apa yang dilakukan Angel. "Tentu saja aku akan ikut campur karena kamu sudah berani menghina temanku."
"Teman?" Angel mengulangi ucapan Anjas, sedangkan Marwa dan yang lain menatap bingung kepada lelaki itu. Apalagi Marwa karena selama ini hubungan mereka tidaklah dekat bahkan terkesan seperti musuh.
"Ya, Markonah Brielle Eden adalah temanku. Jadi, kalau kamu menghina dia maka aku akan membelanya," kata Anjas penuh ketegasan. Angel pun menjadi kesal sendiri.
"Uhh, so sweet." Juminten menaruh tangan di kedua pipi dan menatap kagum ke arah Anjas. "Ish!"
"Enggak usah lebay!" protes Marwa. Mengusap kasar wajah sahabatnya.
"Apaan, sih, Mar. Emang so sweet 'kan cowok kaya gitu. Bikin meleleh," ujar Juminten mengusap wajahnya secara perlahan. Seolah menghilangkan bekas usapan Marwa barusan.
"Dah, kalian diem, deh. Mendingan kita lihat pertarungan sengit antara mereka. Aku dukung yang cowok, kalian mau dukung ya mana?" Zaenab terlihat sangat antusias seperti sedang taruhan.
__ADS_1
"Yee! Gila lu, Zae!" Marwa dan Juminten menonyor kepala Zaenab bersamaan. Tanpa peduli pada cebikan sahabatnya. Zaenab menunjukkan rentetan gigi putihnya dan tersenyum seolah tanpa dosa.
"Dasar cewek-cewek kampungan!" hina Angel. Namun, dia melengos saat Anjas lagi-lagi menatap tajam padanya. Meskipun bibir Anjas terlihat tersenyum simpul.
"Pergi dari sini atau aku tidak akan segan-segan—"
"Sialan!" umpat Angel kesal. Dia berjalan pergi dengan gaya angkuhnya. Zaenab pun sampai menirukan gaya berjalan Angel yang seperti seekor enthok dengan pantat menjulang tinggi.
"Es Teller! Gila lu, kalau dia balik bisa kena omelan lagi kita." Juminten memegang perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa melihat tingkah sahabatnya.
"Habisnya dia nyebelin. Eh, ngomong-ngomong, makasih, ya, Mas Ganteng. Kamu sudah membantu kita. Sebagai gantinya, kita akan menraktir kamu."
"Dari elu lah, Mar. 'Kan sekarang lu yang jadi orang kaya. Masa iya nraktir makan yang enggak sampai habis lima ratus ribu aja lu kagak sanggup." Zaenab menjawab santai seolah tanpa beban.
"Lu kayaknya belum pikun, deh, Zae. Gue ini udah bilang kalau dompetnya ketinggalan di kontrakan." Marwa mendecakkan lidahnya merasa kesal dengan sahabatnya. Marwa bisa merasakan kalau Zaenab sedang berusaha mencari gara-gara dengannya.
"Ya udah, kalau gitu biar dibayarin Mas Ganteng ini dulu. Anggap aja utang, ntar sampai rumah lu ganti, Mar." Zaenab memberi saran paling sesat.
__ADS_1
"Olivia Zaenab Esteller! Es Doger! Es cincau! Es dawet ketan! Es apalagi ya ...." Marwa menghentikan ucapannya untuk berpikir keras.
"Es dah! Gitu aja pusing. Es oke wae, Mas. Es oke wae. Aku rapopo, aku rapopo, aku rapopo," sambung Zaenab sembari bernyanyi. Juminten tergelak keras, sedangkan Marwa hampir saja mencekik sahabatnya saking gemasnya. Sementara Anjas tersenyum lebar saat melihat interaksi yang abstrak dari mereka.
"Jangan senyum, Mas. Nanti kalau aku tergoda bisa bahaya," kata Zaenab. Menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Anjas yang saat ini sudah menggeleng tidak percaya.
"Zae, jangan jadi cewek murahan," protes Marwa tidak terima.
"Gue kagak murahan, tapi diobral seribu tiga kali sentuhan."
"Astaga. Mulut lu beneran laknat, Zae. Sama diri sendiri aja—"
"Om Duda!" teriak Zaenab tiba-tiba. Membuat Marwa menghentikan ucapannya saat itu juga. Dia mengikuti arah pandang Zaenab dan terkejut saat melihat lelaki berpakaian rapi yang sedang melangkah tegas ke arahnya. Marwa tampak gugup apalagi saat melihat sorot mata Leo yang begitu tajam seolah hendak mengulitinya hidup-hidup.
"Mati gue. Setelah ini pasti kena hukuman," gumam Marwa takut saat Leo makin mendekat ke arahnya. Mengikis jarak di antara mereka dengan langkah lebarnya.
"Rasakan! Bersiaplah untuk bermain sepuluh ronde, Mar." Juminten menertawakan sahabatnya tanpa peduli pada lirikan Marwa yang sangat mematikan.
__ADS_1
"Gue jamin setelah ini apem lu bakalan bengkak, Mar. Bukan apem lagi, tapi jadi bolu mekar," imbuh Zaenab cekikikan.
"Emang kalian ini benar-benar laknat!" Marwa mendengkus kasar melihat sahabatnya yang menertawakan dirinya.