
"Jum, mulut elu sekali aja jangan ngomong yang menjurus ke sana. Otak gue tercemar!" Suketi kesal sendiri, sedangkan Juminten justru tersenyum seolah tanpa dosa.
"Lagian, seru kalau bahas gituan ya walaupun belum pernah tahu rasanya main kuda-kudaan gitu. Yang katanya enak dan bikin nagih." Juminten ikut mengambil kacang dari dalam toples. "Mar, kalau saran gue, mendingan elu terima aja tuh si duda, bosnya Suketi. Lumayan. Lu bisa makan gratis. Jalan-jalan gratis. Ya pokoknya serba gratis. Lu 'kan tahu kalau yang gratis itu pasti enak, Mar."
"Gue bunuh lu lama-lama, Jum! Mulut sama otak elu mah kagak pernah beres!" cebik Marwa. Bahkan, dia melempar sebuah kacang atom tepat di wajah Juminten hingga membuat Juminten mengaduh karena kacang itu mengenai keningnya.
"Sakit, Mar!"
"Rasain! Gitu aja ngeluh sakit, padahal lebih sakit malam pertama," timpal Marwa, masih kesal dengan sahabatnya.
"Bukan cuma malam pertama, tapi malam kedua, ketiga, keempat bahkan setahun kalau gituan mulu juga sakit, bisa bengkak anunya!" Juminten asal bicara.
"Astaga, beneran mulut sama otak lu udah kebanyakan kotoran jadi gitu, tuh. Harus dicuci bersih. Andai ada tempat laundry buat otak dan mulut manusia, langsung gue bawa ke sana elu, Jum," ujar Suketi ikutan kesel seperti Marwa.
"Woi! Astaga! Kalian cuma bertiga, tapi udah kaya orang sepasar! Mulut kalian lebar banget sampai gue enggak bisa tidur!" omel Zaenab. Mendudukkan bokongnya di samping Suketi lalu menguap lebar.
"Tutupin, Oe! Elu tuh manusia bukan sapi. Jadi, kalau nguap gitu tutupin! Ntar kalau ada lalat masuk mulut elu, kasihan tuh. Pasti tuh lalat langsung pingsan," cibir Suketi. Dia melipat bibir untuk menahan tawa.
"Elu kalau ngomong sekate-kate, Suk! Awas aja kalau sampai elu butuh apa-apa minta bantuan sama gue. Kagak bakalan gue bantuin!" ancam Zaenab berpura-pura marah. Suketi memegang kedua lengan Zaenab supaya gadis itu tidak pergi.
__ADS_1
"Jangan, Zae. Gue tuh enggak mau kalau sampai elu marah sama gue." Wajah Suketi tampak memelas. Zaenab pun gantian menahan tawa saat melihat raut wajah sahabatnya.
"Deketin gue sama Bang Cakra, nanti kalau elu butuh apa, gue ladenin!"
"Edan lu, Zae!" Suketi menonyor tubuh Zaenab sampai jatuh terjengkang dari sofa.
"Catarina Suketi Ceres! Oe, Mesis! Kurang ajar amat lu!" Zaenab bangkit berdiri dan berkacak pinggang. Tatapannya ke arah Suketi tampak menajam.
Marwa dan Juminten yang melihat mereka, hanya bisa menggeleng. Sungguh, itu bukan lagi pemandangan yang mengejutkan di mana ada Suketi dan Zaenab maka di situlah pertempuran dimulai.
Zaenab bersiap mendekati Suketi, tetapi dengan gesit Suketi bangkit dan menghindar. Namun, Zaenab seolah tidak gentar dan terus mengejar Suketi. Akhirnya, dua gadis itu saling kejar-kejaran di ruang tamu. Tidak peduli pada mulut Marwa dan Juminten yang sudah mengomel karena terganggu.
"U-udah, Zae. Gue ... capek!" Suketi menghempaskan tubuhnya di sofa dan mengatur napasnya yang tersengal.
"Kalian berdua sadar enggak sih, kalau udah ngalahin bocah TK!" cibir Juminten.
"Bener! Kejar-kejaran kaya polisi lagi ngejar maling," imbuh Marwa.
"Maling kolor!" Marwa dan Juminten berucap bersamaan lalu tergelak keras.
__ADS_1
"Suketi, noh! Maling kolor." Zaenab mendorong bahu Suketi cukup kasar.
"Mulut elu, Zae. Pengen gue sumpal pakai ..."
"Terong!" Juminten justru menambahkan dengan santai.
"Beneran otak si Juminten udah minta di rukyah kayaknya. Enggak jauh-jauh sama itu mulu!" Marwa menggeleng tidak percaya. Sungguh, di kontrakan itu selalu saja ada hal menggemaskan karena kelakuan mereka yang benar-benar ajaib.
"Zae, kalau elu sama Bang Cakra, emang elu enggak takut? Badan keker gitu, otot menonjol sana-sini, bisa-bisa pas malam pertama elu langsung pingsan!" ejek Suketi.
Zaenab dengan gemas memukul bahu Suketi dengan sekuat tenaga hingga meninggalkan rasa panas di sana. Bahkan, Suketi sampai mengerang kesakitan.
"Olivia Zaenab Esteller! Sakit astaga!"
"Halah, gitu doang sakit, Suk. Leeemmmahh!!"
"Yah, ngeledek! Lu kagak tahu rasanya, sih, Zae! Lihat aja, kalau kesabaran gue udah habis, lu bukan lagi Esteller, tapi bakalan gue ganti elu jadi Esdoger!" teriak Suketi, jarinya menunjuk tepat di depan wajah Zaenab.
"Astaghfirullah robbal baroya, Astaghfirullah minal khotoya." Suara sholawat dari kamar Sumiatun berhasil membuat Suketi dan Zaenab sama-sama membungkam mulut dan beristighfar, sedangkan Marwa dan Juminten hanya mengusap dada melihat tingkah kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Nah gitu, kalian harus banyak istighfar biar setan dalam diri kalian kabur," ucap Marwa setengah meledek.
"Diem lu, Mar!" Suketi dan Zaenab menjawab serempak.