Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
39


__ADS_3

Marwa dan Leo tidur saling berpelukan di bawah selimut. Tubuh kedua orang itu masih lengket karena peluh seusai bercinta. Dengan begitu manjanya Marwa tiduran di atas dada bidang suaminya. 


Mimpi apa gue, punya laki badan keker. Enak buat rebahan kaya gini.


"Kamu lelah?" tanya Leo lembut. Mendaratkan ciuman di puncak kepala Marwa. 


"Tidak, hanya sedikit lelah." 


"Kalau begitu sekarang kita lakukan ronde ketiga." Leo tampak bersemangat. Namun, setelahnya dia mengaduh karena Marwa sudah memukul dadanya cukup kencang. "Sakit." 


"Jangan menyebalkan. Aku tidak mau kalau kita overdosis dalam bercinta," cebik Marwa. Suaminya benar-benar seperti tidak punya rasa lelah dan terus menerus meminta nambah. 


"Aku bercanda." Leo mengecup puncak kepala Marwa lagi dan memeluk wanita itu sangat erat. "Sekarang tidurlah." 


Kedua orang itu pun sama-sama memejamkan mata dan berusaha agar bisa tertidur lelap. Beristirahat dari rasa lelah. Namun, mata Leo terbuka lebar saat dia mengingat sesuatu. 


"Briell," panggil Leo. Sedikit menggoyangkan tubuh Marwa untuk membangunkan wanita itu. 


"Hmm." Marwa membuka mata dengan bermalasan. 


Awas aja kalau minta nambah lagi maka aku akan sangat marah meskipun akhirnya pasrah. 


Marwa membatin. 


"Ada apa?" Marwa sedikit mendongak dan menatap suaminya. 


"Katakan padaku kenapa kamu bisa bersama dengan lelaki lain. Siapa namanya aku lupa." 

__ADS_1


"Anjas?" tanya Marwa santai. Tidak menyadari kalau hati suaminya sudah sangat memanas. 


"Jangan menyebut namanya. Aku sangat membenci kamu memanggil nama lelaki lain!" omel Leo. 


"Yaelah, bucin sekali. Tadi kamu tanya siapa namanya, giliran aku jawab bilangnya jangan menyebut nama lelaki lain. Terus gimana? Aku harus ngejawab dengan nulis di kertas gitu?" Marwa merasa sedikit kesal, sedangkan Leo bungkam karena omongan Marwa ada benarnya juga. Dia terlalu bucin kepada wanita itu. 


"Ah, sudahlah. Jadi, ini gini. Aku tidak ingin kamu dekat dengan lelaki mana pun apalagi si Anjasmara itu." 


"Eh, kamu tahu nama panjangnya dia? Aku malah tidak tahu kalau namanya Anjasmara," timpal Marwa. Tidak menyadari kalau suaminya sudah memasang wajah malas. 


"Aku ngarang," ucap Leo. 


"Oh, aku pikir sungguhan." Marwa menimpali dengan santai. 


"Ya Tuhan, kenapa ada manusia yang sangat menggemaskan seperti kamu, Briel." Leo menghujami banyak ciuman di seluruh wajah Marwa. Lalu turun ke leher dan selanjutnya buah dada yang masih ranum. Sungguh, Leo sudah kecanduan akan hal itu.


"Tentu saja melanjutkan ronde selanjutnya. Aku tidak menerima penolakan." 


Marwa hanya bisa mendes*h pasrah ketika Leo sudah melahap cochochip miliknya. Menyesapnya dengan sangat rakus. 


Ronde ketiga dimulai ....


Teng! Teng! Teng! 


***


"Mar! Oe! Lu datang!" Juminten tampak antusias saat melihat kedatangan Marwa. 

__ADS_1


Wanita itu baru saja turun dari mobil suaminya. Bahkan, Juminten merasa iri saat melihat Marwa dikecup oleh Leo sebelum lelaki itu kembali masuk ke mobil. 


"Duhai senangnya pengantin baru." Juminten bernyanyi untuk menggoda Marwa. 


"Apaan, sih, lu!" Marwa menonyor kepala sahabatnya cukup kencang. 


"Yaelah, jahat amat lu, Mar." Juminten berjalan mengekor Marwa lalu duduk bersama di ruang tamu. 


"Sepi amat. Yang lain pada ke mana?" tanya Marwa saat tidak melihat siapa pun di sana kecuali Juminten. 


"Kerja lah, emangnya lu. Pengangguran!" ledek Juminten. 


"Ye, biar pengangguran gini, tapi gue punya banyak duit, loh, Jum."


"Ya ampun, sombong amat lu, Mar. Lagak lu punya banyak duit, kemarin mau nraktir aja alesan dompet ketinggalan," sindir Juminten. Marwa hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya. 


"Dompet gue emang ketinggalan." Marwa berjalan masuk kamar dan mengambil dompet yang masih tergeletak di atas meja. Lalu menunjukkan kepada Juminten. 


"Astaga, Mar. Dompet buluk gitu masih lu pakai aja." Juminten menggeleng. Melihat dompet lama milik Marwa yang sudah sangat kusam. 


"Eh, jangan salah. Biar pun buluk gini, yang penting isinya banyak." Marwa berbicara angkuh.


"Coba gue lihat." Juminten mendekat dan hendak melihat isi dompet tersebut. 


"Banyak, 'kan?"


"Astaga. Banyak, sih, banyak. Tapi kalau cuma lembaran dua ribuan gini juga sama aja. Banyak lembarannya doang nominalnya dikit," cebik Juminten. Marwa hanya tertawa senang melihat raut kekesalan di wajah sahabatnya. 

__ADS_1


__ADS_2