
"Apa kamu sudah merencanakan semuanya?" tukas Marwa saat dirinya hanya duduk berdua bersama Leo di teras rumah setelah acara pertemuan itu selesai. Marwa merasa kesal, bagaimana tidak, dirinya Minggu depan akan menjalankan sebuah acara sakral. Sebuah pernikahan yang sah di mata hukum ataupun agama dan Marwa tidak punya alasan sedikit pun untuk menolak.
"Memangnya kenapa? Apa kamu tidak suka menyandang gelar sebagai nona muda. Setelah kita menikah nanti, kamu tidak perlu lagi bekerja. Cukup melayaniku di ranjang." Leo tersenyum senang, dan Margaretha sangat membenci senyuman itu meskipun dalam hati dia mengaguminya.
Yaelah, Mar. Gengsi lu segede sus* Mpok Saodah.
Padahal 'kan sus* Mpok Saodah lebih kecil daripada punya Mpok Jamilah.
Astaga. Stop! Kenapa pada bahas sus*?
"Ehem!"
Leo berdeham saat melihat Margaretha menggeleng berkali-kali untuk mengusir pikirannya yang terkadang aneh dan sesat tentunya.
"Apa, sih? Aham-Ehem," cebik Marwa.
"Aku mau pulang sekarang. Besok saat nikah, kamu tinggal siapkan diri saja. Soal gaun dan segalanya sudah aku urus." Leo bangkit berdiri diikuti Marwa. Langkah Leo pun terlihat tegas menuju ke mobil yang terparkir di halaman kontrakan.
"Heh! Aku harus bersiap diri bagaimana lagi memangnya?" tanya Marwa. Berkacak pinggang tepat di depan Leo. Marwa berusaha memberanikan diri, tetapi saat Leo memajukan wajahnya, Marwa langsung terlihat sangat gugup.
"Siapkan dirimu untuk malam pertama karena aku tidak akan pernah menundanya," bisik Leo tepat di telinga Marwa hingga membuat tubuh gadis itu meremang seketika.
Glek!
Begitulah kira-kira bunyinya saat Marwa menelan ludahnya susah payah. Apalagi saat melihat Leo yang menjilati bibirnya sendiri. Seperti seorang wanita yang sedang menggoda pria hidung belang.
Begitu seksi dan sangat menggoda.
__ADS_1
Asem! Otak gue!
Marwa benar-benar merutuki dirinya sendiri. Leo pun kembali tersenyum sebelum akhirnya masuk ke mobil dan melajukannya begitu saja tanpa peduli pada Marwa yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Mar! Oe!"
Tubuh Marwa terjengkit karena terkejut saat mendengar teriakan Suketi tepat di telinganya hingga membuat berdenging. Bahkan setelah ini Marwa harus memeriksakan telinganya ke dokter THT. Jangan sampai dia menjadi gadis budek saat menikah nanti. Ciee ... nikah, cie.
"Lu jangan teriak bisa kagak, Suk! Gue bisa budek karena suara cempreng lu!" Marwa menonyor kepala Suketi untuk meluapkan kekesalannya.
"Yaelah, Markonah. Galak amat. Gue 'kan baik hati cuma mau nyadarin lu sebelum kesambet setan tong-tong," ucap Suketi membela diri.
"Setan tong-tong apaan? Emang kagak jelas lu, Suk." Marwa berjalan menghentak masuk kembali ke rumah tanpa peduli pada teriakan Suketi yang meminta ditunggu. Marwa pun duduk bersama kedua orang tuanya lagi, lalu mengobrol sebentar sebelum akhirnya masuk ke kamar untuk beristirahat.
***
Semenjak acara lamaran itu, Marwa menjadi seperti orang linglung saat menjalani hari-harinya. Otaknya sering sekali nge-blank. Bahkan, dirinya hampir saja dipecat karena menurut Anjas, pekerjaannya tidak pernah becus. Marwa yang awalnya hanya diam saat dimarahi, tetapi sekarang dirinya sedikit demi sedikit sudah berani melawan.
"Kenapa kamu sangat sombong? Bukankah di sini kita sama-sama karyawan?" Marwa mendelik. Bola matanya seolah hendak lepas dari tempatnya. Bukannya takut, Anjas justru diam-diam merasa gemas.
"Ya, tapi kita berbeda. Aku senior dan kamu junior." Sebelah sudut bibir Anjas tertarik sebelah. Tersenyum meledek ke arah Marwa yang langsung diam saat itu juga.
"Sudahlah. Lebih baik aku kembali bekerja." Marwa mengambil kain lap lalu berjalan meninggalkan Anjas begitu saja.
Marwa sudah lelah seharian bekerja dan sangat ingin segera beristirahat. Sementara karyawan di sana hanya boleh pulang saat semua sudah rapi kembali. Meskipun tenaganya seolah sudah terkuras habis, tetapi Marwa tetap berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Marwa tersenyum senang saat dirinya sudah selesai berbenah dan baru keluar dari tempatnya bekerja. Namun, baru saja keluar dari pintu, langkah Marwa tertahan saat melihat mobil hitam yang baru saja berhenti tepat di depannya. Bukan hanya Marwa, beberapa karyawan yang baru keluar pun ikut terkagum melihat mobil mewah tersebut.
__ADS_1
Tanpa diberi tahu, Marwa sudah tahu siapa pemilik mobil tersebut. Marwa mengambil ancang-ancang dan bersiap untuk kabur, tetapi belum juga berlari, langkah Marwa tertahan saat pintu mobil itu terbuka. Lalu Leo keluar dengan gaya gagahnya. Memakai kacamata hitam, jas lengkap dan tangan yang dimasukkan ke dalam saku.
"Kamu mau ke mana, Nona Muda?" tanya Leo, tersenyum licik. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu mobil.
"Ish! Untuk apa kamu datang ke sini?" Marwa mendengkus kasar. Merasa tidak nyaman karena kedatangan Leo mampu mencuri perhatian.
"Kamu tanya untuk apa aku ada di sini?" Leo memajukan tubuhnya dan secara refleks Marwa hendak kabur. "Tentu saja untuk menjemput calon istriku."
"Arggh." Marwa terkejut saat Leo tiba-tiba menarik tubuhnya hingga menempel erat pada tubuh lelaki itu. Bahkan, jarak mereka sangatlah dekat. Marwa terdiam sesaat, mengagumi ketampanan Leo yang bisa dia lihat dari jarak sedekat ini.
"Aku tahu kalau kamu kagum pada ketampananku." Leo mengecup pipi Marwa tanpa izin.
Hal itu sontak membuat Marwa tersadar dan langsung melerai pelukan tersebut. Marwa mengusap bekas kecupan itu, sedangkan Leo tersenyum puas.
Satu kosong. Batin Leo senang.
"Kamu kurang ajar sekali!" Marwa yang merasa kesal pun memukul dada Leo, tetapi itu tidak berpengaruh untuk Leo sama sekali.
"Belajarlah untuk terbiasa dengan ini. Karena tiga hari lagi, aku akan memberimu kecupan setiap hari. Jadi, lebih baik sekarang kamu masuk mobil dan aku akan mengantarmu pulang." Leo menarik pelan tangan Marwa lalu menyuruhnya masuk dan duduk di kursi penumpang. Marwa tidak bisa berkutik lagi. Dia hanya duduk bersidekap dan menatap gerak-gerik Leo.
"Jangan cemberut gitu atau aku tidak akan segan-segan mel*mat bibir manismu."
"Oh, astaga! Sabeni! Kenapa mulutmu mesum sekali," teriak Marwa kesal, tetapi Leo hanya tersenyum tipis lalu melajukan mobilnya begitu saja. Tidak peduli pada orang-orang yang sejak tadi mengamatinya. Termasuk seorang karyawan senior yang menatap kepergian mobil tersebut dengan tatapan yang susah dijelaskan.
Siapakah lelaki itu? Apa hubungannya dengan Brielle? Kenapa mereka terlihat sangat dekat?
"Njas! Kenapa ngelamun?" Wawan, sahabat Anjas, mengagetkan lelaki itu.
__ADS_1
"Tidak papa." Anjas berjalan menuju ke parkiran begitu saja. Meninggalkan Wawan padahal mereka sudah berjanji akan pulang bersama.
"Woi! Tungguin!" Wawan menendang udara untuk meluapkan kekesalannya.