Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
15


__ADS_3

Kepercayaan diri Marwa benar-benar tinggi. Gadis itu melangkah begitu saja tanpa peduli pada tatapan heran orang-orang kepadanya. Meskipun banyak dari mereka yang merasa aneh dengan penampilan Marwa, tetapi gadis yang berpura-pura culun itu justru tetap bersikap biasa saja. Seolah tidak ada yang salah dengan penampilannya itu.


Marwa menatap jam magnet yang melingkar di pergelangan tangan. Jam seharga dua puluh lima ribu yang sudah lama menemano gadis itu. Dengkusan kasar terlihat keluar saat dirinya belum melihat keberadaan lelaki yang mengajaknya bertemu.


"Harusnya gue datang telat-telatan aja. Biar si duda itu nungguin gue ampe lumutan. Kenapa gue bodoh banget," gerutu Marwa. Mengumpati dirinya sendiri.


Marwa menghempaskan tubuhnya secara kasar di kursi panjang yang berada di taman kota. Memindai area taman yang cukup ramai karena banyak orang yang menghabiskan waktu berakhir pekan bersama teman ataupun orang terdekat mereka.


"Gue bakal seneng kalau di sini bareng sama personil Genk Ternak Duda. Pasti enak tuh, makan cilok punya Mamang itu." Marwa berbicara sendiri seraya menunjuk penjual cilok yang ramai pembeli. Ahh ... air liur serasa menetes saat bayangan bulatan-bulatan kecil dikasih saus sambal menggoda lidah.


Merasa tidak tahan dengan godaan anak-anak yang memakan cilok yang ditusuk menggunakan tusuk sate, Marwa pun bangkit berdiri dan bersiap hendak membeli cilok itu. Perutnya juga merasa sangat lapar karena saking terburunya datang ke taman, dia sampai melupakan sarapan. Namun, baru saja satu langkah berjalan, gerakan kaki Marwa terhenti saat seseorang mencekal tangannya dari arah belakang. Marwa mematung. Jantungnya berdebar karena khawatir orang tersebut adalah orang jahat.


Yaelah, Mar! Tinggal noleh aja ke belakang. Ngapain takut? Lebay amat, lu!

__ADS_1


"Kamu mau ke mana?" tanya orang itu. Marwa terdiam saat merasa tidak asing dengan suara lelaki itu. Marwa berusaha mengingat-ingat. Namun, sayang sekali saat ini ingatannya sedang buruk. Akhirnya, dia memilih berbalik untuk melihat lebih jelas siapa orang itu.


Bola mata gadis itu melebar saat melihat Leo sedang berdiri tegak. Menatap sembari tersenyum miring ke arahnya. Ya, meskipun dalam hati Marwa mengagumi ketampanan lelaki itu. Dia tidak akan munafik. Ketika melihat pria tampan, dirinya akan terpesona meskipun pria itu sangatlah menyebalkan.


"Kupikir kamu tidak datang." Marwa berbicara gugup sembari berusaha melepaskan cekalan tangan Leo. Namun, cekalan itu justru terasa mengerat.


"Aku pasti datang. Aku bukanlah seorang yang ingkar pada janji yang kubuat sendiri," ucap Leo tegas.


"Baguslah kalau begitu. Sekarang tolong lepaskan tanganmu. Kamu membuatku sakit," suruh Marwa. Leo pun segera menurunkan tangannya dan menyuruh Marwa untuk kembali duduk di kursi tadi. Walaupun bibirnya mengerucut, tetapi Marwa tetap menuruti perintah Leo. Duduk di samping lelaki itu sembari menjaga jarak.


Senyum Marwa merekah. Gadis itu yakin kalau saat ini Leo pasti sudah sangat ilfeel dengannya. Maklum saja, sebagai seorang pengusaha, sudah pasti banyak wanita cantik di sekitar lelaki itu. Bukan hanya cantik, tetapi juga seksi. Wanita-wanita yang merupakan karyawan kantor, yang setiap hari berpakaian rapi, dengan rok seatas lutut dan kemeja yang dua kancing atas terbuka hingga menampilkan belahan buah pepaya.


Marwa justru bergidik ngeri saat terbayang hal itu. Membayangkan dirinya berpenampilan seperti itu. Marwa menoleh, dan menatap Leo yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang susah dijelaskan.

__ADS_1


"Aku tahu kamu pasti malu 'kan bertemu dengan wanita sepertiku? Maka lebih baik kamu sekarang pergilah." Marwa membenarkan kacamata yang hampir melorot.


"Siapa bilang aku malu berkencan dengan gadis sepertimu. Aku justru sangat suka karena selama ini aku sudah bosan berada di antara gadis-gadis cantik dan seksi," ucap Leo disertai gelakan tawa.


"What! Apa kamu sudah gila?" pekik Marwa tidak percaya. Matanya mendelik tajam mendengar ucapan Leo.


"Ya, aku memang sudah gila. Gila karena tertarik pada gadis aneh sepertimu." Leo terkekeh dan itu mampu membuat Marwa makin terpesona meskipun dia membantah.


Jalan takdir apa lagi yang harus aku lalui. Mungkinkah Mas Duda ini jodohku.


Marwa merasa pasrah. Dia sudah berusaha membuat Leo merasa ilfil ataupun risih kepadanya. Namun, rencana yang Margaretha susun matang-matang justru semua gagal. Realita tak sesuai angan. Leo justru makin tertarik pada pesona Marwa karena merasa gadis itu sungguh unik.


Marwa sungguh merasa sangat kesal. Andai dia boleh meminta, dia ingin melihat Leo bertelanjang dada dan menunjukkan perut sixpack-nya, pasti itu bisa membuat jiwa Marwa meronta-ronta.

__ADS_1


Astaga, otak gue kotor amat ya.


__ADS_2