
"Mau makan gue,ada makanan gak?" sembari melangkah ke arah dapur sang tamu yang tidak tau diri itu berkata, siapa lagi yang berani berbicara dan bebas keluar masuk mansion Atmaja selain Damian? hanya Damian seorang yang berhak,tidak tau ke depan nya apakah populasi manusia seperti Damian akan bertambah.
"Liat sendiri aja sih,biasa nya juga Lo gak tau diri langsung nyelonong dan bertingkah kayak yang punya rumah"sinis Devano,sungguh Devano heran melihat tingkah sahabat nya itu,kenapa dia sangat sangat tumbenan bertanya,apakah sahabat nya itu ketempelan?.
Selepas kepergian Damian ke dapur , Devano kembali sibuk dengan tab yang di tangan nya,untuk memeriksa email yang masuk dari Damian sekretaris sekaligus sahabat nya itu.
Memang kegiatan mereka tidak jauh dari kata kerja,kerja dan kerja,baik di manapun dan kapan pun waktu itu sangat berharga bagi mereka yang disiplin dan sangat menghargai setiap detik waktu,begitu pun dengan Devano dan Damian.
Tidak berselang lama, terdengar suara mobil yang sangat dikenal oleh pendengaran Devano,ya mobil itu mobil yang digunakan supir suruhan nya untuk menjemput asisten baru nya siapa lagi kalau bukan Stefani Putri.
Bangkit dari duduk nya , Devano melangkah ke arah pintu utama untuk membukakan pintu, seketika dia tidak bergeming melihat gadis yang berdiri di depan nya yang hendak membuka pintu atau mengetuk nya? Devano tidak peduli dengan itu.
Dia tidak bisa mengalihkan penglihatan nya dari gadis yang di depan nya,sungguh satu kata "cantik" batin Devano.
Rok putih yang di atas lutut sedikit,baju crop ungu dibalut kardigan yang sedana,rambut sebahu yang di gerai jangan lupakan poni tipis tipis ala Fani,jika biasa nya Fani mengikat setengah rambut nya dimulai dari poni hingga memperlihatkan jidat paripurna nya,maka kali ini dia menggeraikan rambut nya,sungguh Fani terlihat imut dimata Devano saat ini. Sebenarnya Fani tidak sengaja, tapi agar waktu nya tidak mepet maka dia menggeraikan rambut nya.
Sekering mata mereka bersitatap, saling menikmati ciptaan sang mahakuasa yang sangat indah di hadapan mereka masing masing.
Devano maupun Fani tidak bisa mengalihkan tatapan mereka dari mahkluk di hadapan mereka masing masing,seakan ada magnet yang menarik perhatian mereka agar saling memandang.
Saat Damian ingin kembali duduk bergabung di ruang tengah dengan Devano,dia melihat pemandangan yang sangat - sangat langkah,dia memperhatikan dua sejoli yang sedang saling menikmati pemandangan di depan mereka masing - masing.
Damian sengaja bersandar di dinding dekat dengan mereka untuk menikmati pemandangan langkah itu, jarang-jarang dia bisa melihat sahabat berkedok bos nya itu menatap seorang perempuan dengan intens seperti saat ini.
Dia memberi waktu bebera menit untuk mereka saling menatap,namun ternyata mereka cukup hebat dalam hal ini,sehingga dia memutuskan untuk melangkah ke arah dua sejoli itu,jika tidak di akhiri maka dia yakini sampai habis tujuh purnama pun sesi pandang memandang itu tak akan berakhir.
"Ehkhem" sengaja memang Damian berdehem agar kedua nya mengakhiri kegiatan saling menatap itu.
__ADS_1
" Ck" Damian berdecak mengutuki kebodohan nya sendiri,bukan kah pemandangan ini langkah,harus nya dia membiarkan nya saja,atau harus nya dia mengabadikan nya dengan memfoto nya tadi tapi ya sudah lah,toh kedua nya sudah sadar bahkan gelagapan karena salting atau gugup bahkan kedua nya mungkin.
Mendengar deheman yang entah darimana kedua nya memutuskan tatapan mereka,salting dan gugup itulah yang mungkin bisa terlihat dari gelagat kedua nya,Devano yang melirik garang ke arah orang yang mengganggunya,dan Fani yang mengalihkan tatapan nya ke mana pun yang pasti tidak menatap ke depan.
"Masuk" satu kata namun jelas keluar dari bibir Devano,sedangkan yang di suruh masuk hanya mengekor di belakang bak anak ayam dengan induk nya.
Mereka melangkah masuk ke arah ruang tengah jangan lupakan tatapan membunuh yang dia layangkan ke arah Damian yang seenak jidat mengganggu nya, dan yang di tatap dengan santai meminum kopi yang di bawa nya dari dapur tadi.
"Ada yang bisa menjelaskan?!" Damian yang tidak mengerti dengan situasi sekarang bertanya dengan sebelah alis yang terangkat.
Damian Menatap kedua nya dengan tatapan yang membutuhkan jawaban atas pertanyaan nya tadi.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan yang pasti,mulai hari ini dia akan menjadi asisten pribadi gue" melihat kearah Damian dengan melipat tangan di dada sembari bersandar di sofa Devano menjawab.
"Dan tinggal di sini?" Devano bisa melihat tatapan heran dari sahabat nya itu,tapi apa yang bisa dia buat dia sendiri pun bingung dengan tindakan nya ini,namun nasi sudah menjadi bubur,dia hanya bisa mengikuti alur nya saja.
Jangan tanyakan reaksi Devano,sekarang dia juga bingung namun dalam hal yang berbeda kenapa Damian sahabat nya itu harus heran,wajar bukan Fani tinggal di sini nama nya juga asisten pribadi ingat PRIBADI yang artinya segala kebutuhan pribadi Devano Fani yang menyiapkan,dia hanya membuat waktu fani tidak terbuang sia-sia dengan bolak balik ke rumah nya dan mension nya.
Jadi apa yang harus di heran kan?
"Ya ,agar lebih memudah kan saja,tidak membuang-buang waktu dengan dia bolak balik kerumah nya dan kesini" sungguh haruskah Devano menjawab pertanyaan yang tidak penting itu,namun dia harus tetap menjawab nya.
"Tap-"
"Lo gak usah banyak tanya"
Belum sempat Damian menyelesaikan kalimatnya nya, Devano manusia yang suka semena-mena nya itu sudah memotong nya terlebih dahulu,dengan tatapan adalan nya kalau tidak tatapan membunuh, dingin ya datar.Terserah kalian mau pilih yang mana.
__ADS_1
"Kamar kamu ada di lantai dua pintu bercat warnah putih di samping pintu warna coklat" terang Devano memberi tahukan letak kamar Fani berada.
"Iya pak,kalau begitu saya ke kamar duku untuk menyusun barang barang saya" berdiri dari duduk nya Fani melangkah dengan menggeret kopernya yang besar dan cukup berat itu menuju kamar yang di beritahukan oleh Devano.
"Ck menyusahkan" Devano mengambil alih koper dari tangan Fani,dan melangkahkan ke kamar Fani.
Kening Fani mengerut ,dia bingung ada apa dengan manusia bunglon itu, tiba-tiba baik,berat lagi berubah seperti perempuan kalau pms mood-tan.
Tidak mungkin bukan kalau bos nya itu juga mengalami db? sangat tidak mungkin sih,tapi apa yang tidak mungkin,semua nya bisa mungkin terjadi jika sudah di kehendaki oleh sang pencipta.
Mereka melangkah dengan Devano sebagai pemimpin,dan Fani seperti biasa hanya mengekor di belakang,mereka hanya diam tidak bersuara lantaran bingung harus membahas apa dan 4W +1H lain nya .
"Ini kamar kamu, setalah selesai menyusun barang ,kamu turun , paham?!"
Fani meringis dalam hati, apakah bos nya itu tidak bisa berbicara lembut ,tanpa nada mengintimidasi?.
"Iya pak" Fani masuk ke dalam kamar yang mulai sekarang akan menjadi kamar nya,tanpa menunggu respon dari manusia arogan itu,masa bodoh jika dia akan mengeluarkan tanduk nya.
Sungguh Devano mengangkat jempol nya melihat tingkah laku gadis yang satu itu,tidak memiliki rasa takut ke pada nya,dan tidak menghiraukan nya yang jelas jelas masih berdiri di depan pintu.
Kesal melihat tingkah laku gadis yang tidak memiliki sopan santun ke pada nya, Devano turun ke lantai bawah untuk menemui sahabat nya itu,siapa tau ada hal penting yang akan di sampai, jikalau pun tidak ada,tidak ada salahnya kan dia mengobrol dengan manusia yang satu itu.
**Halo pren semoga suka ,jangan lupa kasih vote komen yang mendukung dan kritikan serta saran ya prend.
kalau ada typo aku minta maaf dan kalau ceritanya agak gaje aku juga minta maaf ,see you the next chapter,sok Inggris kali aku haha.
thanks all ,lope you 😇🤗🤗
__ADS_1
semoga kalian suka ya,thanks all 🤗