Kesayangan Tuan Muda Dingin

Kesayangan Tuan Muda Dingin
Bab 45


__ADS_3

Devano diam menatap Fani dengan tatapan tajam nya,saat ini laki laki itu tengah menahan emosinya agar tidak meledak,dan menyakiti hati maupun fisik gadis itu.


Dia sebenarnya ingin sekali meluapkan emosinya,entah kepada apapun namun dia tidak ingin membuat gadis itu takut kepada nya hingga memilih menghindar atau bahkan menjauhinya.


"K-kamu gak papa?"melihat tatapan Devano sebenarnya dia enggan bukan lebih tepatnya dia takut bertanya kepada laki-laki itu,tapi walaupun begitu dia mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya.


Setelah mengumpulkan keberanian nya untuk bertanya akhirnya fani mengeluarkan suaranya juga,dia menanyakan itu karena tidak mungkin kan dia bertanya "kapan kamu sampai?"atau "sudah lama sampai nya?"


Jelas jelas dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu,namun masih menanyakan itu?,benar benar bodoh jika dia melakukan itu.


Namun sangat disayangkan,laki laki itu masih tetap diam,namun matanya tidak!,karena tatapan itu semakin tajam saja,jika tatapan itu bisa menebas kepala orang,Fani yakin sudah dari tadi kepalanya akan lepas dari lehernya.


Devano menatap gadis itu semakin nyalang,laki laki itu semakin tidak habis pikir apakah gadis itu tidak tau kesalahan nya?,atau gadis itu hanya berpura-pura tidak tau?, emosi laki-laki itu semakin tidak terkontrol hingga dia memecahkan dan membanting semua benda yang ada di sekitarnya untuk melampiaskan amarahnya.


Brak bruk brak bruk


Fani menutup matanya,dia berfikir ternyata hanya mulut laki laki dingin dan arogan itu saja yang diam,tapi tidak dengan tangan nya yang saat ini membanting semua benda yang ada di sekitar nya .


Banyak pertanyaan yang ada di kepala Fani saat ini,kenapa laki-laki itu tiba-tiba pulang tanpa memberitahunya?,kenapa juga laki laki itu yang emosi?,apakah ada kesalahan yang dia lakukan tanpa dia sadari?,hingga laki laki yg ada di hadapannya itu emosi?,jika iya tidak bisakah dia memberi tahunya,dan menyelesaikan masalah itu dengan kepala dingin?.


Memikirkan nya semakin membuat kepala Fani sakit saja!.


Jika saja saat ini Fani memiliki kekuatan untuk menghilang ,sudah dari tadi dia akan menghilang dari tempat ini sejauh mungkin,jika bisa dia akan menghilang ke planet saturnus saja rasanya saking takutnya dia saat ini,bahkan kaki gadis itu tidak berhenti untuk gemetar sedari tadi.


Tarik nafas buang,tarik nafas buang itulah yang dia lakukan untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang,bukan karena jatuh cinta atau tengah gugup tapi dia takut melihat sosok laki-laki itu saat ini.


Setelah dia rasa rasa takutnya berkurang sedikit,perlu kalian catat sedikit!.Gadis itu melangkahkan kakinya ke arah Devano, walaupun saat ini dia setengah mati ketakutan namun dia tidak bisa membiarkan laki laki itu melukai dirinya sendiri tanpa dia sadari atau sebaliknya bukan?.

__ADS_1


Fani memegang lengan laki laki itu pelan, nyaris tidak terasa saking pelan nya "p-please, Dave b-berhenti!" pinta Fani lembut dan pelan,gadis itu memberikan diri menatap mata elang itu dengan tatapan lembut dan menenangkan.


Damian yang mendengar suara lembut Fani serta tatapan menenangkan gadis itu,membuat emosinya mereda.


Fani tersenyum kearahnya seolah berkata, semuanya baik-baik saja,dengan lembut Fani menarik Devano kedalam pelukan nya, Devano hanya diam dan membiarkan gadis itu menarik tubuhnya dan melakukan sesuka hatinya.


Fani mengusap punggung lebar Devano dengan lembut"Kalau ada masalah itu cerita Dave,jangan kayak gini--aku takut,!"cicit nya di akhir kalimat dengan pelan namun masih bisa didengar oleh Devano.


Apa tadi katanya,kalau ada masalah?,tidak sadar kah gadis itu jika masalah nya adalah dia?


Jika saja gadis itu tidak memeluk nya dengan hangat ,serta suara nya yang terdengar gemetaran,mungkin sekarang emosinya kembali mencuat,dan dia akan cosplay menjadi petinju bebas lagi.


Tidak mendapat balasan atasan pelukannya, Fani mendongak menatap Devano dengan posisi yang masih memeluk laki laki itu,butuh beberapa detik untuk bisa melihat wajah laki-laki itu yang akhirnya menundukkan kepalanya.


Devano sebenarnya sudah tidak marah lagi,hanya saja jika mengingat laki laki yang mengantar Fani tadi membuatnya kesal setengah mampus.


Devano menundukkan kepalanya,dan bisa melihat gadisnya itu yang tersenyum kepadanya, melihat senyum manis dan tulus gadis itu membuatnya menyesal marah marah tadi.


Fani mengangkat tangan kanannya dan menangkup wajah Devano dengan sebelah tangan nya itu,serta mengusap wajah itu dengan lembut,sedangkan tangan kirinya masih setia berada di pinggang laki laki itu.


"Kalau ada masalah tuh cerita,jangan kayak gini!,aku pasti dengerin kok"Devano menatap manik Fani dengan tatapan lembut nya, tidak seperti tadi saat laki laki itu, cosplay menjadi reog yang kerasukan roh gila,sangat menyeramkan!.


"Orang masalahnya kamu kok!"Ucap Devano ketus,Fani mengerutkan keningnya bingung,apa tadi katanya masalah nya dia?,maksud nya gimana?,tidak bisakah laki-laki dingin itu menjelaskan dengan sejelas-jelasnya?.


"Kok jadi aku?"dengan menurunkan tangan nya dari wajah Devano dia bertanya,pegal juga guys,udah Devano tinggi nya kayak tiang listrik sedangkan tinggi Fani jauh di bawah nya kan bikin tangan pegel.


"Emang kamu kok"ucap Devano sambil memeluk gadis nya itu dengan erat,dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Fani,menghirup aroma tubuh gadis itu yang sudah dua minggu ini dia rindukan.

__ADS_1


Fani sesak nafas dibuat pelukan oleh Devano, bagaimana tidak laki laki itu memeluk nya sangat erat,udah meluknya erat, leher nya juga di endus endus,ck menyebalkan,ingin sekali gadis itu melakukan aksi unjuk rasa namun mengingat keadaan yang tidak pas membuat nya mengurungkan niatnya.


"Siapa?"Fani bingung dengan pertanyaan laki-laki itu,siapa? maksud nya siapa?aduh dia bingung sendiri, bisakah penyakit dingin laki laki itu tidak kumat saat ini?.


"Kemana?"tidak mendapat jawaban dari pertanyaan nya sebelumnya, Devano kembali bertanya dengan pertanyaan yang berbeda.


Fani hanya bisa mengumpat didalam hatinya saja,tadi siapa? sekarang kemana?,maksud nya apa coba?,apakah maksudnya siapa itu dirinya?, jadi maksud pertanyaan Devano itu dirinya kemana gitu?,atau ada yang lain?.


Devano memundurkan kepala nya,agar bisa melihat wajah gadis itu,benar saja dugaan nya ,melihat ekspresi gadis itu membuatnya yakin jika gadis itu tengah bingung saat ini makanya tidak menjawab pertanyaan tadi.


Devano mengangkat tubuh Fani, dan menggendongnya ala bayi koala,Fani yang digendong seperti itu hanya bisa diam seperti biasa,percuma melakukan perlawanan dia tidak akan menang apalagi untuk kali ini.


Devano melangkahkan kakinya kekamar nya,dilantai atas dengan Fani yang ada di gendongan nya, laki-laki itu terlihat tidak mengalami kesusahan sama sekali.


ceklek


Devano membuka pintu kamarnya dan menutup nya dengan kaki kanan nya, tanpa membalikkan badannya.


Mendudukkan dirinya disofa yang ada di kamarnya dengan Fani yang masih berada di posisi yang sama."kenapa tidak di rumah?,dan siapa laki laki tadi?"Akhirnya pertanyaan laki-laki itu jelas juga ,tidak seperti sebelumnya singkat,padat dan tidak jelas.


Fani menatap wajah laki-laki itu,jadi Devano emosi hanya karena itu?,bukan nya kegeeran atau bagaimana hanya saja itu yang bisa dia simpulkan.


"Oh,kamu emosi karena itu?"ck bukan itu pertanyaan yang ingin dia tanyakan,tapi kenapa mulutnya malah menanyakan itu?tapi sudahlah nasi sudah menjadi bubur,dia tidak bisa melakukan apapun lagi,mudah mudahan saja laki laki itu tidak kembali emosi hanya karena pertanyaan itu batin nya.


Devano yang mendengar nya hanya menganggukkan kepalanya,karena memang iya bukan walaupun tidak sepenuhnya tapi tetap saja.


Hy semua terimakasih sudah membaca,jangan lupa like, komen dan klik ❤️ ya 😇

__ADS_1


Mampir juga ke karya aku yang masih baru pecah telor 🤣🤣🤣, khusus untuk yang suka transmigrasi transmigrasi dan cerita anak sekolah SMA an bolehlah mampir.


Semoga suka ya,dan hati hati saat membaca karena masih banyak typo yang bertebaran,yang pastinya tidak disengaja.


__ADS_2