
Keesokan harinya setelah melalui drama kehidupan,Fani juga Fira bersiap -siap untuk berangkat ke kantor.Keduanya berbarengan keluar dari kamar mereka masing masing,hingga membuat mereka turun berbarengan menapaki setiap anak tangga.
"Gue udah cantik belum?"Tanya Fira dengan mengibaskan rambut nya ke wajah Fani,yang membuat gadis itu berenggut kesal, hingga ingin menjambak rambut sahabatnya itu sampai botak.
"Iya,udah mirip tarzan!"jawab nya dengan memutar bola matanya malas.Entah kebahagiaan apa yang tengah melanda sahabatnya itu hingga bisa bertingkah laku seperti sekarang.
Sedangkan Fira yang mendengarnya, menoleh kearah fani, dia melihat ekspresi Fani yang?? entahlah,apakah salah jika dirinya bertanya tentang penampilan nya?,tidak bukan?,tapi baiklah biarkan saja macan betina itu mengeluarkan ekspresinya sesuka hati.
"Ck,apakah salah jika gue bertanya tentang penampilan gue?, siapa tau aja kan masih ada yang kurang rapi,makanya gue bertanya ",gak salah kan ya batin Fira.
"Gak salah !,yang salah itu gaya lo yang mirip orang utan saat bertanya,pake segala ngibasin rambut lagi"Fani masih merasa kesal dengan sabahat nya itu,kenapa coba harus ke wajah nya rambut dia dikibasin,kan gatal dan membuat sakit mata.
***
Papi Arkan yang mendengar langkah kaki juga suara perdebatan,sudah tau siapa tersangka nya tanpa harus repot-repot untuk mendongakkan kepalanya melihat ,sudah pasti itu Fira putri nya juga Fani sahabat putri nya.
Mengenai Fani,dia sudah lama mengenal gadis itu karena, bodyguard yang dia perintahkan untuk menjaga dan mengawasi putri memberikan informasi tentang Fani yang bersahabat dengan putrinya.
Bahkan papi Arkan juga tau bagaimana perlakuan keluarga Fani terhadap putrinya,dan pada saat itu juga Arkan ingin dekat dengan gadis itu,namun selalu saja ada halangan,namun tidak masalah karena dia sudah bisa dekat dengan gadis itu, walaupun baru beberapa hari ini mereka kenal dia sudah menganggap Fani sebagai putri nya.
"Apakah kalian tidak takut telat untuk bekerja,jika kalian asik bertengkar seperti anak kecil?"papi Arkan tidak habis pikir melihat kedua anak gadis nya itu,jika yang satu nya waras maka yang satunya lagi akan setengah waras hampir gila mungkin, dan begitu juga sebaliknya,tidak pernah ada yang namanya sama sama waras,tapi untung juga sih hingga mereka tidak sama sama gila.
__ADS_1
Kedua gadis itu berhenti adu bacot,saat mendengar suara kepala suku,mereka melangkah dengan tatapan permusuhan yang mereka tujukan satu sama lain, mungkin sebentar lagi akan mengeluarkan laser dari dalam mata masing-masing yang mampu mencabik-cabik tubuh mereka masing masing.
"Tumben om- eh maksudnya papi belum berangkat?"Tanya Fani terbata sekaligus masih canggung kepada papi Arkan setelah dirinya duduk dan mengambil sarapan untuk dirinya sendiri,Fira sudah besar bukan?jadi sudah bisa mengambil makanan nya sendiri,hingga dirinya tidak perlu repot melayani sahabat nya itu makan.
Papi Arkan yang mendengar nada suara Fani yang terbata dan canggung hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Padahal dia sudah mengatakan kepada sahabat putri nya itu,untuk tidak perlu merasa tidak enak atau lain sebagainya,karena dia sudah lama mengenal gadis itu walaupun masih baru bertemu secara langsung.
"Selow dong fan!,biasain aja biar nanti kalau papi aku udah nikah sama mama Winda tidak canggung lagi"ujar Fani yang membuat kedua lawan bicara nya itu melongo bingung mau merespon bagiamana.
Papi Arkan yang mendengar ucapan putrinya itu hanya bisa geleng-geleng kepala, tidak tau harus mengatakan apa lagi.
Fani hanya bisa tersenyum paksa saja,dia juga sama bingungnya dengan papi Arkan entah respon apa yang harus mereka keluarkan.
Namun untuk berpikiran sejauh yang Fira pikirkan, tidak pernah terlintas dalam benaknya sedikitpun.
"Jangan dengerin Fira Pi,emang anak nya agak rada rada sinting tapi kalau papi mau sih yah gas lah ,iya gak Ra?"Fani menatap Fira dengan tatapan meminta bantuan dan diangguki oleh sahabatnya itu, namun dia bingung dengan ucapan sahabatnya itu apakah dia tengah bercanda atau serius,tapi menurut pendapat nya setelah mengamati sepertinya Fira serius mengatakan itu.
Jika kalian bertanya tentang ucapan Fani sendiri tadi,maka jawaban nya adalah seratus persen hanya candaan saja.
"Kalian lanjutin makan kalian ,biar tidak telat!" ucap papi Arkan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Papi Arkan menatap kedua nya dengan tatapan yang sulit untuk kedua gadis itu artikan,bahkan Fira sendiri bingung melihat tatapan itu namun dia bisa merasakan kegundahan ada di bola mata papi nya.
Entah karena apa dia sendiri tidak tau namun sebisa mungkin,dia tidak pernah lagi untuk meninggalkan papi nya itu sendirian lagi.
"Apa kalian tidak mau bekerja di perusahaan papi saja?"ucap Arkan disela sela sarapan pagi mereka.
Mendengar hal itu membuat keduanya menghentikan sejenak kegiatan mereka untuk menyuapkan makanan kedalam mulut mereka masing masing.
Fani melanjutkan kegiatannya untuk memasukkan sesuap demi sesuap nasi kedalam mulut nya,bukan nya tidak sopan hanya saja dia merasa tidak berhak menjawab pertanyaan dari laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.
Dia akan mengikuti Fira saja,jika gadis itu akan bekerja di perusahaan papi Arkan ,dia akan ikut jika memang diizinkan.Fani memiringkan kepalanya untuk menatap Fira yang ada disampingnya,dia akan melihat apa yang akan menjadi keputusan Fira.
"Kasih Fira waktu untuk memikirkan nya ya Pi,Fira masih harus memastikan keputusan Fira tepat atau tidak!" pinta gadis itu kepada sang papi,karena dia tidak mau lagi membantah sang papi kecuali tentang perjodohan itu.
Itu pun jika dia bekerja di perusahaan milik papi nya ,dia akan menyeret Fani untuk ikut bersama,dia juga ingin memberikan waktu untuk papi nya istirahat dari segala kegiatan yanga ada di kantor dan akan berakibat kepada kesehatan nya.
Mendengar apa yang baru saja putrinya itu ucapkan ,membuat senyum papi Arkan terukir di bibir nya,tidak masalah untuk waktu yang diminta oleh putri nya bahkan untuk beberapa hari kedepan pun,dia akan memberikan nya,karena dia yakin putri nya itu akan memenuhi keinginannya.
Akhirnya mereka selesai sarapan dan melangkahkan kaki keluar dari rumah,"Kalian hati hati dan,jangan ngebut !!' nasehat sekaligus perintah itu hanya di angguki oleh keduanya.
Setelah itu papi Arkan masuk dalam mobil yang sudah disiapkan oleh supirnya,begitu juga dengan kedua gadis itu yang naik keatas motor matic yang akan di supiri oleh Fira karena Fani malas membawa kendaraan kemanapun,sekalipun dia tau mengendarai roda dua dan empat.
__ADS_1
Fani teringat akan Devano,namun dia akan menghubungimu laki laki itu nanti saat makan siang.
Hai semua, terimakasih 😇 sudah membaca,jangan lupa like,tekan favorit juga komentar dan saran nya ya,agar aku bisa memperbaiki kesalahan ku di kemudian hari