
Fani tengah rebahan di kasur kamarnya , mengambil handphone nya dan melihat notif yang banyak dari sahabat nya,berbagai umpatan dan segala jenis binatang bisa dia absen didalam pesan yang di kirimkan oleh sahabat nya.
Seketika dia menepuk kening nya dan tersadar telah lupa mengabari sahabat nya itu bahwa dia tidak bisa datang dan menghabiskan weekend bersama.
Dia menghubungi no sahabat nya untuk meminta maaf dan memberi kabar bahwa dia tidak bisa datang,tapi sayang no sahabat nya itu tidak bisa di hubungi,"tidak biasanya "gerutu Fani sambil mencoba kembali menghubungi no Fira dan hasil nya tetap sama.
Perasaan Fani tiba - tiba gundah dan tidak tenang mengingat sahabat nya itu tidak pernah seperti ini,segala pikiran buruk hinggap dikepala nya , entah apa yang terjadi dengan Fira hingga no nya saja tidak bisa di hubungi.
Fani segera mengganti bajunya,dia akan menyusul ke cafe tempat yang mereka biasa datangi untuk menghabiskan waktu di akhir pekan seperti ini.
Sebelum dia berangkat dia kekamar Devano terlebih dahulu untuk melihat keadaan nya, ceklek pintu kamar Devano terbuka,untung saja sang pemilik kamar tidak terganggu dengan kehadiran nya.
Fani meletakkan tangannya diatas kening Devano "Untunglah demam nya sudah turun"ucap Fani pelan,sambil memperbaiki selimut Devano.
Fani melangkah keluar dari kamar dan turun kebawah,dia mengendarai mobil Devano karena dia memang tidak memiliki kendaraan sendiri,karena dia lebih suka diantar atau dijemput oleh Fira atau tidak Axel adik nya,jadi buat apa memiliki kendaraan sendiri kalau sudah ada supir yang selalu stand by disampingnya untuk mengantar nya kemana pun dan menjemput nya dari mana saja.
Tapi kadang dia ingin memiliki kendaraan sendiri agar tidak kesulitan seperti sekarang, untung mobil Devano ada jadi dia tidak perlu repot-repot untuk mencari atau memesan ojek,atau lebih parah nya dia harus berjalan ke halte yang jarak nya cukup jauh dari rumah Devano.
***
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh ditambah lagi dengan kemacetan yang selalu membuat orang-orang kesal , akhirnya Fani sampai di tempat yang menjadi tujuan nya.
Dia masuk ke dalam dan mencari keberadaan Fira,dia melihat dari sudut ke sudut tapi nihil sahabat nya itu tidak ada di sini,Fani melakukan hal yang sama sebanyak tiga kali guna memastikan penglihatan nya tapi hasil yang dia dapat sama seperti sebelumnya,sahabat nya itu tidak ada di cafe ini.
Fani duduk di salah satu kursi ,dia mengambil handphone nya dan menghubungi no Fira tapi tetap juga tidak bisa dihubungi,no gadis itu tidak aktif dan membuat nya semakin frustasi,ada apa dengan sahabat nya itu?,atau kah dia marah,tapi semarah - marah nya sahabat nya itu tidak pernah hal seperti ini terjadi.
Fani terduduk lemas, memikirkan hal apa yang terjadi dengan Fira, mudah-mudahan saja sahabat nya itu tidak kenapa - napa.
Tidak ingin membuang -buang waktu nya lagi Fani segera keluar dari cafe menuju mobil Devano dia akan pergi ke kosan sahabat nya itu,siapa tahu Fira disana bukan?.
Dia melajukan mobil Devano dengan kecepatan tinggi persetan dengan orang orang yang mengumpati nya ,hal itu tidak penting sekarang,yang paling penting sekarang adalah dia segera samping di kosan Fira.
Tidak sia-sia dia cosplay jadi pembalap liar karena sekarang dia sudah sampai di kosan Fira,Fani keluar dari dalam mobil nya menuju kosan Fira dia menggedor pintu kamar itu tanpa perasaan,bahkan kaki nya juga ikut andil menggedor pintu itu agar sang pemilik kamar segera membukakan pintunya.
Namun sayang pintu kamar nya tidak terbuka dan membuat nya semakin khawatir,dia melihat kesekitar kosan Fira siapa tau ada orang yang bisa dia tanyakan,dia melihat tetangga sebelah kamar Fira yang hendak masuk ke kamar nya "Maaf mengganggu waktunya mba,apa mba melihat yang punya Kamar ini?" tanya Fani kepada orang yang tidak dia kenal itu.
__ADS_1
"Oh tadi dia keluar mba,kebetulan tadi kita barengnya keluar sampai depan, tapi saya tidak tahu tujuan Fira kemana" jawab orang Fani tanya menjelaskan.
"Sudah lama mba?"
"Sekitar 2jam-an mba kalau gak salah"
"Kalau begitu makasih ya mba atas waktunya" ucap Fani yang dibalas dengan anggukan serta senyum manis oleh orang tadi sambil masuk kedalam kamar nya.
Fani segera keluar entah lah sekarang dia bingung mau melakukan apa,dia khawatir dan merasa bersalah tidak memberi kabar kepada sahabat nya itu.
"Apa jangan-jangan dia balik ke rumah papi nya ya?,kan bisa jadi trus gimana dong cara gue mastiin nya,alamat rumah Fira aja gue gak tau no telp rumahnya juga gue gak tau,bodoh banget sih gue"Monolog Fani mengutuki kebodohan nya,lalu sekarang apa yang akan dia lakukan untuk memastikan keberadaan sahabatnya itu.
Fani melangkahkan kaki nya menuju mobil Devano dan mengendarai nya entah kemana sekarang tujuan nya,dia tidak tau yang pasti jalan aja dulu soal kesasar atau enggak itu urusan belakangan.
Sekarang Fani ada di taman yang dia tidak tau nama tempatnya apa tapi yang jelas untuk jalan pulang nanti dia ingat jadi masih aman.
Dia melihat kesekitaran taman,tidak terlalu sepi dan tidak terlalu ramai,dia mengarahkannya pandangannya mencari kursi yang bisa dia duduki.
Saat menemukan nya dia melihat ada seorang perempuan duduk melamun,dia menajamkan penglihatannya untuk memastikan apa benar yang dia lihat itu adalah sahabat atau tidak,walau orang itu membelakangi nya dia bisa kenal orang itu adalah Fira.
Fani melangkah menuju orang itu dia duduk dan melihat kesamping nya ,dan yah dia Fira,Fani langsung memeluknya Fira dari samping dan menggoyangkan badan mereka ke kiri dan kanan saking senang nya bisa menemukan sabahat nya itu.
"Lo ngapain sih nyet disini,gue khawatir tau gak sama lo ,di telfon gak bisa ,chat gak di bales,gue juga capek tau muter-muterin Jakarta buat nyari lo,gue ke kosan lo, lo nya gak ada,tau tau nya disini,lo kenapa sih kalau ada masalah tuh cerita jangan ngilang dong kayang jelangkung " ujar Fani panjang lebar dengan sekali tarikan nafas.
"Gue diculik anj*ng sama suruhan papi gue,mana handphone gue ditahan lagi,gue disini juga karena gue kabur tuh dari rumah" ucap Fira dengan kesal sambil memonyongkan bibirnya.
"Hahaha lo diculik?,pasti gara gara perjodohan lagi kan?" tebak Fira yang diangguki oleh Fira.
Fani menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan melirik Fira yang tengah melamun entah memikirkan apa.
"Saran gue ya sebagai sabahat yang baik hati, tidak sombong,rajin menabung dan imut kiyowo begini tuh,lo coba aja dulu, kecuali yang dijodohin sama lo tuh om om yang udah keriput baru deh lo tolak"
Fira hanya diam dan tidak menjawab Fani "apa lo suka sama seseorang?" tanya Fani yang melihat Fira terdiam tanpa berniat menjawab nya.
"Gak lah bodoh,lo kan selalu bareng sama gue masa lo gak tau, kecuali akhir -akhir ini sih,kan lo sibuk sama ayang bos lo" sindir Fira mengingat waktu yang mereka habiskan akhiri akhir ini tidak sebanyak yang dulu.
__ADS_1
"Hehehehe,kan lo tau itu pekerjaan gue- lagian alasan lo menolak perjodohan ini apa sih" tanya Fani karena dia tidak tau alasan sahabatnya ini menolak perjodohan yang dilakukan papinya.
"Gue belum pernah cerita ya sama lo tentang kedua orang tua gue?" tanya Fira dan Fani hanya menggeleng saja memang mereka sudah lama menjadi sahabat namun batasan nya tetap ada bukan?, setiap orang memiliki privasi yang hanya cukup diri sendiri yang tau.
"Dulu mami sama papi itu di jodohin,karena mereka anak yang berbakti apalagi mami,jadi mereka mau menerima perjodohan itu,mereka menikah tanpa ada nya cinta yang menjadi pengikat mereka,cinta akan tumbuh karena terbiasa dan seiringnya waktu yang dilewati bersama,memang benar sih ,cinta itu akhirnya tumbuh diantara mereka dan gue pun lahir kedunia ini sebagai bukti cinta mereka,namun saat gue berumur 5thn dan umur pernikahan mereka 6thn ,orang dari masalalu papi datang dan orang itu cinta pertama papi,lo tau sendirilah katanya cinta pertama itu takkan mudah bisa dilupakan dan yah papi menjalin hubungan dengan perempuan itu diam diam dan akhirnya mami tau hingga membuat mereka sering bertengkar,dan papi secara terang-terangan membawa perempuan itu kerumah dan dengan tidak punya hati perempuan itu meminta izin sama mami untuk menjadi madu mami,mami tidak mau dan mami selalu terpukul saat itu mengingat rumah tangga yang mereka jalani bersama diambang kehancuran,hingga tidak lama setelah itu mami jatuh sakit hingga dia meninggalkan gue sama papi,memang sih papi akhirnya sadar tapi itu semua sudah terlambat " terang Fira dengan suara bergetar.
"Gue udah ikhlas kok gak usah lo liatin gue dengan tatapan menjijikkan lo itu " ucap nya saat Fira melihat Fani menatap nya dengan tatapan iba dan entah lah hanya Fani yang tau namun yang jelas Fira tidak suka ditatap dengan tatapan seperti itu.
"Dan itu kenapa gue sedari dulu menolak perjodohan yang dilakukan papi" lanjut Fira.
"Baiklah,gue tidak akan memaksa sih,lakuin aja yang menurut lo terbaik buat lo dan gue akan mendukungnya" Lalu mereka berdua tersenyum bersama .
***
Hari sudah malam dan jam sudah menunjukkan pukul 19.30 , Devano sudah sedari tadi terbangun dan mencari keberadaan gadisnya,bahkan dia rela menahan pusing yang dikepala nya untuk turun ke bawah mencari sosok Fani.
Dia menahan lapar yang menyerang perut nya, ternyata tidur adalah pekerjaan yang paling cepat membuat lapar pikir Devano,bagaimana tidak dia hanya tidur mulai dari siang sampai tadi Jam 6sore namun dirinya bisa lapar,bahkan saat dia melakukan aktivitas dan bekerja rasa lapar tidak terlalu dia rasa namun sekarang malah sebaliknya.
Fani yang baru sampai didepan rumah Devano langsung mangsung kedalam rumah karena gadis itu yakin Devano sudah terbangun dari tidur nya.
Ceklek
saja dia masuk dan menutup pintu ,dia sudah mendapat pelukan siapa lagi yang berani memeluknya jika bukan Devano simanusia arogan.
"Dari mana sih yang,dari tadi dicariin juga " ucap Devano yang masih tetap memeluk Fani dan menelusup kan kepala nya keceruk leher Fani,hingga gadis itu merasa geli karena terpaan nafas hangat laki laki itu terasa di kulitnya.
"Mana gak kasih kabar lagi kalau mau keluar" lanjut laki laki itu lagi mengeluarkan kekesalannya karena gadis yang ada di dekapan nya ini membuat nya khawatir.
"Maaf Dave tadi lupa hehe" kekeh Fani sambil mengelus kepala Devano dengan lembut yang membuat sang empu menutup matanya menikmati sentuhan lembut itu.
"Udah gih istirahat lagi,masih pusing kan,aku mau mandi dulu habis itu masak" suruh Fani karena dia bisa merasakan kening dan leher Devano yang masih hangat , Devano yang mendengar nya hanya menganggukkan kepalanya saja.
Setelah itu Devano melangkah keruang keluarga yang ada lebih dekat dengan dapur ,dia akan menunggu Fani disana, sedangkan Fani dia melangkah menuju kamar nya untuk membersihkan dirinya sebelum turun kebawah untuk memasak lebih tepatnya dia akan memanaskan makanan yang tadi pagi dia masak,agar makanan itu tidak terbuang.
**Terimakasih semua ,sudah mampir dan membaca cerita ini,semoga suka,dan jangan lupa vote, komentar dan sarannya ya**.
__ADS_1
Bacanya yang teliti ya soalnya banyak typo yang akan membuat bingung dan aku minta maaf untuk itu.
Sekali lagi terimakasih,TYM😇😇😇