
Setelah melewati perdebatan yang cukup sengit, Fani memasak ala kadar saja,sudah di bilang jika Fani dipaksa memasak maka hasil nya akan diluar ekspektasi tapi masih tetap enak kok santai, Fani menyusun makanan yang dia masak ,hanya opor ayam dan jahir goreng itu saja karena dia sedang tidak mood memasak banyak hari ini.
Mereka makan bersama dalam keheningan,tidak ada yang membuka suara,sibuk dengan pikirannya masing-masing,selesai makan Fani membereskan meja makan dan mencuci piring serta peralatan dapur yang dia gunakan tadi dan Devano hanya diam memperhatikan Fani yang sepertinya menikmati apa yang dia kerjakan.
Fani melangkah ke arah Devano setelah selesai dengan kegiatannya,dia akan izin hari ini untuk ke rumah nya mumpung hari ini hari Minggu dan masih siang hari .
"Apa?" tanya Devano ,karena gadis yang di depan nya ini hanya diam,tidak duduk dan tidak juga mengeluarkan suara nya .
"Saya mau izin tuan untuk ke rumah saya ,nanti saya akan pulang lagi kok,serius" dengan menatap tepat di manik Devano,Fani berbicara.
"Tidak" tolak Devano,ngapain gadis ini izin lagi ke rumah nya,bahkan belum genap dua hari ini dia di sini tapi sudah ingin pulang?,apa dia tidak nyaman di sini,ah ternyata gadis ini perempuan manja rupanya yang tidak bisa jauh dari orang tua dan rumah nya.
Baiklah karena Devano saat ini berbaik hati maka,dia akan membantu gadis manja ini untuk mandiri,dan langkah pertama adalah melarang dia ke rumah nya ,niat yang baik bukan.
"Tapi kenapa,apa saya tidak boleh ke rumah saya untuk bertemu dengan keluarga saya?" tanya Fani dengan nada emosi.
"Ya tetap tidak bisa,kamu belum genap satu hari di sini namun sudah ingin ke rumah lagi,apa lagi besok besok nya " menatap Fani yang masih tetap setia berdiri apa kaki dia tidak pegal.
Menyeret kursi kebelakang sedikit untuk memberi nya ruang agar bisa duduk Fani berkata sambil bersedekap dada.
"Pokok nya saya mau pulang" apa Devano pikir dia akan mau menurutinya,jangan harap karena itu tidak akan pernah terjadi kecuali ada ancaman dari manusia kembaran hiena itu sih.
"Silahkan jika kamu ingin menanggung resiko dari sikap kamu yang tidak bisa di atur" apa gadis ini pikir dia bisa kalah berdebat dari Devano haha lelucon apa itu,dan jangan harapkan Devano akan menyetujui keputusan perempuan itu untuk keluar tanpa izin nya karena itu tidak akan pernah terjadi.
"Dasar manusia bab*,kurang aj*r ,menyebalkan" gerutu Fani yang tanpa dia sadari terucap langsung dari bibir nya.
Melihat tatapan Devano yang lebih dingin dari biasa nya membuat nyali Fani menciut,'apa ini kenapa dia semakin mirip dengan hiena' gerutu Fani dalam hati ,sadar dengan ucapkan yang di ucapkan membuat Fani mengutuki diri nya sendiri kenapa dia bisa keceplosan seperti ini? dasar bodoh.
Tidak ingin membuat nya jadi santapan empuk untuk manusia kembaran hiena itu siapa lagi kalau bukan Devano,Fani mengambil ancang ancang untuk lari ke kamar,1,2,3 dan yup "brak" suara kursi terjatuh akibat tindakan Fani yang terburu - buru kabur untuk menyelamatkan nyawa nya sendiri.
"Maaf saya pak ,saya tidak sengaja mengatakan itu,apa lagi membuat bapak sakit hati,sekali lagi maaf kan saya" Fani berbicara dari tangga dan membungkukkan kan badan ke arah Devano,dan lanjut berlari ke arah kamar nya.
"Brak" suara pintu yang di tutup dengan keras itu sukses membuat Devano terkejut.
"Dasar gadis nakal" dengan menyunggingkan senyum tipis nya yang setipis kertas ini.
Sebenarnya Devano tidak marah,dia tidak tau mengapa tapi yang pasti dia tidak merasa sakit hati dengan ucapan gadis itu,dia menatap Fani dengan tatapan tajam nya karena ingin menikmati ekspresi ketakutan gadis itu yang terlihat menggemaskan dimata nya.
Devano menggeleng-gelengkan kepala nya mengusir pikiran nya tentang gadis itu,apa tadi kata nya ,menggemaskan ,haha sangat lucu ,menggemaskan dari mana nya coba.
Tidak ingin memikirkan hal yang tidak jelas dan membuang buang waktu saja, Devano berdiri membereskan kursi yang terjatuh akibat ulah gadis barbar tadi,dan melangkah pergi ke alam kolam renang yang berada di sisi kiri mansion ini,mungkin dia akan olahraga sebentar.
Fani di kamar uring-uringan,dia sungguh bosan berada di kamar ini,namun jika keluar maka dia akan di terkam hiena yang sedang emosi itu,hiena yang dia maksud adalah Devano manusia arogan itu.
"Ting" notifikasi dari handphone nya membuyarkan lamunan Fani,yang entah sedang memikirkan apa, ternyata notif dari besty nya toh,Fani membuka handphone nya dan bertukar pesan dengan Fira .
__ADS_1
"Gue otw ke rumah Lo yah,Lo di rumah kan?"
12.30
"Ya ,tapi nggak di rumah mama,di rumah baru gue"
12.30
"Lo Jan ngadi-ngadi ogeb,kapan Lo punya rumah baru,sarap otak lo๐"
12.31
"Gak percaya ya udah,masa bodoh gue๐"
12.31
"Dih ๐,iyain nanti nanges๐คช"
12.31
"Gue share lock ya babi lo harus datang,jangan pingsan tapi ๐"
12.32
12.32
" Malah centang biru,sok banget sih Fani ajng ini" Gerutu Fira di kos nya setelah melihat pesan nya hanya di read.
"Tapi apa benar dia punya rumah baru,masa iya tapi kapan,perasaan dia gak pernah beli rumah deh apalagi cerita soal rumah baru nggak pernah juga"
"Mungin sih mama Winda yang beliin "
"Tapi kapan? "
"Nanti deh ,gue interogasi si Fani kembaran cicak itu"
Kayaknya Fira sudah mulai gila setelah mendengar Fani punya rumah baru, berbicara sendiri dan di jawab sendiri oleh nya.
Kembali lagi dengan Fani,setelah selesai bertukar pesan dengan Fani,dia turun ke bawah untuk memberitahukan kepada sang pemilik rumah bahwa dia akan kedatangan tamu hari ini.
Keluar dari kamar dan menuruni tangga Fani mencari sosok kembaran hiena itu,dia mana dia apa dia pergi ke keluar,jika iya maka Fani akan bahagia,tapi kenapa dia tidak memberi tahukan bahwa dia keluar?,bukan apa apa hanya saja, itu tidak masalah yang besar bukan,tapi sebagai manusia kita harus selalu sadar diri,memang nya siapa dia sehingga Devano harus memberi tahukan kepada nya jika dia keluar.
" Bodoh amat lah,dia mau dimana dan ngapain,itu bukan urusan gue" melangkah dari ruang tamu ingin ke teras menunggu sahabat nya yang akan datang.
Belum sempat melangkah suara kembaran hiena itu menghentikan langkah nya.
__ADS_1
***
Devano yang sedang berenang melihat keberadaan Fani,yang sepertinya sedang mencari sesuatu., dikarenakan kaca yang menjadi penyekat antara kolam renang dan ruang tamu dan ruang santai sehingga Devano dapat melihat Fani yang celingak-celinguk entah mencari apa.
" Apa yang sedang di lakukan gadis bodoh itu?"tanya Devano entah kepada siapa.
Devano akhir nya naik dari kolam renang dengan melilitkan handuk di pinggang nya,dia melangkah ke arah Fani.
"Buat kan saya teh,gula nya dikit aja" bukan itu yang ingin dia katakan kepada gadis itu,dia ingin menanyakan dia sedang mencari apa karena gadis itu terlihat sangat kebingungan,namun yang keluar dari bibir nya malah yang lain,hadeh.
Refleks Fani memutar badan nya,untuk melihat manusia satu itu,darimana saja dia,untuk mendapatkan izin saja harus sesusah ini,dasar.
Sumpah serapah yang ingin dia keluarkan kepada manusia arogan itu,harus dia telan lagi melihat pemandangan yang tersuguh di depan nya.
Itu kah yang dinamakan roti sobek,atau abs atau perut kotak - kotak atau sejenis nya,pikir Fani tanpa mengalihkan pandangan nya dari perut Devano.
Bagaimana para kaum hawa tidak mabuk kepayang jika di suguhkan dengan pemandangan seperti ini,dan yang pasti tidak akan ada yang menolak itu namun tetap saja kita sebagai perempuan harus menjunjung tinggi harga diri kita bukan.
Jadi jika bukan suami kita yang menyuguhkan pemandangan seperti itu,kita tidak bisa melewati batas.
Fani menggelengkan kepalanya mengusir pikiran nya yang ingin menyentuh perut kotak - kotak itu,ada 6 nyaris 8,omaigat melihat itu membuat Fani ingin mengubur diri nya agar tidak membuat hal yang nekat.
Devano yang melihat ekspresi Fani awal nya bingung namun melihat tatapan Fani yang menatap perut nya membuat ide jahil muncul di otak nya,memang siapa sih perempuan yang bisa menolak pesona perut kotak-kotak seperti perut nya itu.
Devano melangkah ke arah Fani,sedang kan Fani hanya diam tidak bisa fokus sehingga tidak sadar Devano sudah di hadapan nya,memegang tangan nya dan mengarahkan tangan nya ke perut nya.
Awal niat jahil Devano tidak sampai sejauh ini cukup hanya diam dan mendekat saja,tapi melihat Fani yang hanya diam jadi ide kegilaan nya naik 1 tingkat ke level atas.
"keras " satu kata yang ada di benak Fani untuk perut kotak-kotak milik Devano,Fani masih tidak sadar atas apa yang terjadi tangan nya yang masih di perut bos nya itu,serta bos nya yang masih dengan santai nya menikmati ekspresi Fani.
Tapi Fani langsung menjauhkan tangan nya setelah berhasil menekan otot perut milik Devano yang keras itu dan kesadaran berhasil menguasai Fani kembali.
"Maaf pak,saya lancang ,serius saya tidak sengaja beneran deh" bukan nya nya menjawab Devano mengalihkan pandangannya melihat ke arah dua sejoli yang memperlihatkan mereka.
yang satu dengan senyum yang menurut Devano sangat menyebalkan dan satu nya dengan ekspresi yang terkejut.
Melihat Devano yang mengalihkan pandangannya ke arah lain,membuat Fani juga melihat ke arah itu dan
DEG.
**Halo pren semoga suka ,jangan lupa kasih vote komen yang mendukung dan kritikan serta saran ya prend.
kalau ada typo aku minta maaf dan kalau ceritanya agak gaje dan juga agak gak nyambung aku minta maaf soal nya ini pengalaman pertama aku buat nulis jadi masih banyak kekurangan nya apalagi dalam menggunakan tanda baca,mohon pengertiannya ya ,see you the next chapter,sok Inggris kali aku haha.
semoga kalian suka ya,thanks all lop yu ๐ค
__ADS_1