
Devano masih tidak melepas pangutan nya dari bibir Fani,dia masih tetap setia mencumbu bibir gadis itu,merasa tidak mendapat balasan dari ciumannya,dia menggigit bibir bawah Fani ,dan benar saja bibir gadis itu terbuka"sshh" ringis Fani ditengah kegiatan yang dilakukan oleh Devano karena bibir nya yang sakit.
Devano mengobrak abrik mulut Fani,lidah nya tidak tinggal diam,dia mengabsen setiap gigi gadis itu,Fani yang merasakan sesak karena akan kehabisan nafas memukul dada Devano.
Devano melepaskan pangutannya,dia mengusap lembut bibir gadis itu dengan jari jempol nya untuk membersihkan sisa saliva nya yang masih tersisa sehingga membuat bibir gadisnya itu basah.
Fani yang tersadar dengan apa yang terjadi memukul Devano dengan. brutal, berani - berani nya manusia arogan itu mengambil first kis nya.
"Dasar laki-laki brengsek,bajingan ,tidak punya otak,berani - berani nya lo mengambil first kiss gue anjing" ujar Fani sambil terus memukul Devano yang membuat laki laki itu meringis karena memang pukulan yang di berikan oleh gadis itu tidak main-main.
Namun saat dia mendengar ucapan Fani tentang ini adalah ciuman pertama nya membuat rasa sakit akibat pukulan gadis itu seketika lenyap digantikan dengan rasa senang,'senang nya dalam hati,menjadi yang pertama dan terakhir tentunya' batin nya.
karena rasa bahagia yang ada di hati nya membuat dia jadi lemah gemulai,jika saat ciuman yang tidak mempunyai tulang adalah Fani maka sekarang yang menjadi jelly adalah Devano,laki laki itu mundur seirama pukulan Fani di dada nya dan lengan nya,hingga pinggang nya menabrak sisi meja,sakit sekali epribadeh.
"sshhh sakit nya ya ampun" ringis nya sambil memegang pinggang nya yang terhantam sisi meja,membuat kegiatan Fani terhenti.
"Mati kau, rasain,maka nya jadi manusia itu pakai otak kalau mau ngelakuin sesuatu,dapat karma kan" bukan nya merasa prihatin dengan Devano Fani malah merasa senang ya senang karena ternyata alam dan semesta mendukung nya untuk memberi pelajaran kepada laki laki arogan dan dingin yang ada di hadapan nya ini.
Fani berbalik ke arah pintu ,untuk keluar dari ruang kerja Devano,"Turun kebawah makan,kalau nggak turun juga gak masalah sih,mau lo makan apa enggak,mau lo sakit apa enggak,mau lo mati juga gak masalah,jadi terserah lo" sebelum Fani keluar dia mengeluarkan kata kata pedas itu kepada Devano sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.
Fani turun ke bawah untuk mengambil minum ,siapa tau bisa meredakan emosi nya yang sudah di ubun-ubun,dia memikirkan kata -kata nya tadi,dia tidak sengaja mengatakan itu tapi karena pikiran nya yang memang mumet dan pusing apalagi mengingat perlakuan Devano tadi apakah Devano pikir dia sama dengan perempuan diluaran sana yang rela di perlakukan seperti wanita murahan hanya karena dia seorang Devano?.
Tidak ingin rasa kesal dan rasa bersalah nya semakin menguar dia naik kembali ke atas untuk kembali ke kamar nya ,dia akan tidur masa bodoh dengan laki laki itu mau makan atau tidak.
***
Malam telah digantikan oleh pagi yang cerah mungkin,dan matahari yang berhasil masuk melalui sela sela jendela kamar berhasil membangunkan Fani.
Dia melihat kejam weker yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya pukul 7.00 untung hari ini weekend dan kantor nya libur jika tidak,maka bisa dipastikan dia akan telat karena masih banyak lagi kegiatan yang akan dia lakukan sebelum berangkat kerja.
Dia melangkah ke kamar mandi mencuci muka dan sikat gigi ,setelah nya dia melangkah turun kebawah untuk memasak dan bersih - bersih.
Setelah beberapa jam dia berkutat dengan masakan nya,"Akhirnya beres" ucap nya sambil menghidangkan makanan yang telah dia masak di atas meja makan.
Dia mencari keberadaan Devano, apakah laki-laki itu masih belum bangun?,bisa saja sih mengingat hari ini dia libur mungkin laki laki itu akan menghabiskan waktunya untuk istirahat.
Dan Fani pun memutuskan untuk membersihkan rumah ini terlebih dahulu,baru dia akan membangun laki laki itu jika masih belum bangun.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup banyak untuk membersihkan rumah dimulai dari menyapu, mengepel, mencuci baju dan juga piring serta membereskan dapur bekas dia memasak tadi ,dia pun naik ke kamarnya dia akan mandi terlebih dahulu,baru akan memanggil Devano untuk makan mengingat sekarang sudah pukul 10.00 tapi laki laki itu belum menunjukkan batang hidungnya sedari tadi.
Fani telah selesai mandi dan hanya menggunakan kaos oversize serta hotpants,toh juga gak kemana-mana pikir nya,tidak ingin membuang -buang waktu lagi karena sedari tadi pikiran nya tidak fokus dia memikirkan Devano,yah kata kata yang dia lontarkan semalam membuat nya semakin merasa bersalah kepada laki laki itu,ditambah saat sebelum tidur dia mencek handphone nya dan melihat serentetan pesan dari Devano, perhatian dan kekhawatiran laki laki itu bisa dia lihat dari pesan yang dikirimkan nya.
Akhir nya dia pun membiarkan rambut tergerai dan masih basah karena dia tidak ingin membuang -buang waktu untuk mengeringkan rambutnya dengan hayr drayer (benar gak sih penulisan nya?).
__ADS_1
Dia melangkah ke arah kamar Devano yang ada di samping kamar nya ,tanpa mengetuk pintu dia langsung membuka nya ,tidak ada "kemana dia? " tanya Fani entah kepada siapa.
'mungkin di ruang kerja nya' batin Fani dan melangkah ke pojok kamar ,dia membuka pintu penghubung antara kamar dan ruang kerja Devano,dia masuk dan yah orang yang dia cari ada di sana,terbaring di sofa yang hanya bisa menampung separuh tubuhnya.
"Dave" panggil Fani yang tidak di respon oleh pemilik nama itu.
Fani melangkah maju dan mendekat dia melihat wajah Devano yang pucat ,apakah laki-laki arogan itu sakit? ,Fani mengangkat tangan nya dan mengarahkan nya ke kening Devano,dia bisa merasakan tubuh Devano yang sangat panas,mungkin demam tinggi tapi kenapa bisa?.
Semalam saat Fani telah keluar dan meninggalkan kata kata yang membuat hati Devano sangat sakit , laki laki itu tak beranjak dari sana.
Dia menghabiskan waktu nya di balkon ruang kerja nya,rasa sesak saat ditinggalkan kedua orang tua nya kembali terlintas di dalam pikirannya seperti film yang di putar ulang.
Saat dia bahagia dengan keluarga nya yang tiba -tiba meninggalkan nya karena kecelakaan yang mereka alami,juga dengan cinta yang pernah dia jalin dulu hancur begitu saja saat gadis yang dulu pernah ada di dalam hati nya yang ternyata hanya memanfaatkan dia saja serta penghianatan yang di lakukan. oleh gadis itu dulu,semua berputar kembali di dalam memori nya ,dan sekarang Fani gadis itu,Devano tidak pernah menyangka gadis itu akan melukai hati seperti sekarang memang dia akui dia yang salah namun dia melakukan itu karena kecemburuan dia rasakan menghantam ulu hati nya.
Memikirkan semua hal itu membuat nya terjaga hingga pukul 05.00 pagi yang dia lakukan semalaman adalah melamun dan diam saja di temani angin malam yang dingin,dan mungkin itu yang membuat badan nya tidak fit hari ini
***
Fani sekarang sangat khawatir dengan keadaan Devano,dia merasa bersalah atas apa dia lakukan semalam mungkin Devano melakukan hal seperti semalam mungkin ada alasan nya bukan?,tapi seenak hati Fani mengeluarkan kata kata pedas nya terhadap laki-laki itu.
Fani menyentuh pipi Devano dia menepuk pipi laki laki itu untuk membangunkan nya "Dave bangun,pindah ke kasur ayok, tidur disofa membuat badan mu pegal nanti" ujar Fani sambil menggoyangkan badan Devano pelan.
Devano yang merasa terusik membuka mata nya ,hal pertama yang dia lihat adalah wajah cantik Fani yang kentara dengan kekhawatiran.
Devano yang merasakan usapan lembut di kening nya tersenyum tipis sifat grafisnya yang perhatian dan lembut telah kembali.
Devano hanya menurut saat Fani membantu nya bangun dan memapah nya kekasur king size nya, untung jarak ruang kerja dengan kamar nya hanya dipisahkan oleh pintu penghubung saja.
"Tidur gih,bentar ya aku ambil handuk sama baskom dulu buat ngompres kamu" ujar Fani sambil memperbaiki selimut Devano,Devano hanya menganggukkan kepalanya saja ,karena memang kepala nya sangat pusing dan semua badan nya terasa sakit.
Tidak berselang lama Fani kembali ke kamar Devano sambil membawa baskom berisi air serta handuk kecil.
Fani duduk di pinggir kasur dia memasukkan handuk kecil yang ditangan nya kedalam baskom dan memerasnya setelah itu dia letakkan dia atas kening Devano.
"Dave ,aku minta maaf soal kata kata aku yang semalam,aku mengatakan nya karena ulah kamu juga sih main nyosor anak gadis orang sembarangan" Devano yang mendengarnya membuka mata nya dan melihat Fani yang juga tengah menatap nya.
"Aku juga minta maaf, aku melakukan itu karena cemburu tau,aku telfon kamu tapi gak di angkat ,chat juga gak di bales,tau tau nya pulang diboncengin laki laki lain,udah gitu kamu tertawa lepas di depan nya" jelas Devano panjang lebar mengutarakan isi hati nya,yah dia memilih jujur daripada merasa sakit karena kehilangan Fani, kalaupun Fani sudah memiliki kekasih dia akan merebut Fani dari laki laki itu apapun cara nya.
Devano membuang jauh jauh ego nya dan memilih jujur terhadap diri nya sendiri kalau dia memang sudah jatuh kedalam pesona seorang Stefani Putri,dan saat menjalin hubungan dengan gadis yang di masa lalu nya dulu rasa nya tidak seperti yang dia rasakan dengan Fani,atau mungkin karena sifat tulus Fani ,Devano tidak tau yang jelas rasa ini lebih besar dari yang dulu.
Karena memang pipi Devano yang merah akibat demam jadi rasa malu saat mengungkapkan perasaan nya tadi tidak terlalu kentara,jika saja dia tidak demam bisa dipastikan wajah nya akan sangat terlihat merah karena jujur mengakui kalau dia cemburu dengan laki laki yang mengantar Fani pulang semalam adalah hal yang sangat memalukan bagi nya.
"Haha kamu cemburu?" tanya Fani dengan tawa yang tidak bisa dia tahan,serta debaran jantung nya yang tidak bisa dia kontrol.
__ADS_1
Devano kembali mengangguk dan bingung juga kenapa gadis yang tengah dia tatap ini tertawa apakah ada yang lucu pikir nya.
"Hahahaha, lagian kenapa juga kamu harus cemburu?" tawa Fani makin keras juga bingung kenapa Devano harus cemburu mereka tidak ada hubungan khusus yang membuat mereka harus saling cemburu satu sama lain.
"Karena aku cinta sama kamu ni "menatap tepat di manik Fani Devano mengungkapkan perasaan nya.
"Ni?,oh kamu cerita lagi belajar buat nembak cewek ya?" jujur rasa senang ada di hati Fani dia kira Devano mengatakan itu kepada nya ternyata tidak?
Dan ni? siapa perempuan itu pikir Fani karena selama ini dia tidak pernah mendengar nama itu.
"Dasar cewek gak peka" ketus Devano,dia sudah berusaha untuk memberanikan diri nya untuk mengungkapkan perasaan nya kepada Fani tapi yang dilakukan gadis itu sekarang membuat nya ingin mengubur diri nya .
"Dasar cowok gak jelas" ketus Fani tidak mau kalah.
"Ni itu ya kamu lah,nama kamu Stefani Putri kan,ya udah ni itu ani nama spesial dari aku kayak kamu manggil aku Dave aku juga punya panggilan spesial untuk kamu yang spesial yaitu Ani" jelas Devano panjang kali lebar kali tinggi dan tidak lupa ditaburi dengan kealaian dan kelebaian menurut fani.
'Bentar,bentar ,bentar jadi cerita nya sekarang Devano menembak gue gitu?' batin fani yang masih bingung dengan yang terjadi,maklum lah dia belum pernah merasakan hal yang seperti ini jadi dari semalam hal- hal yang baru pertama kali dia rasakan mampu membuat seperti orang linglung,bingung harus bagaimana dan melakukan apa.
"Siapa?" tanya Devano kembali sangat tidak jelas entah ada apa dengan siapa Fani tidak tau.
"Maksud nya?"bingung Fani
"Yang ngantar kamu" ketus Devano,sungguh dia heran kenapa dengan gadis ini dari semalam sampai sekarang hanya menampilkan raut wajah bingung.
"Oh yang semalam itu adik aku kandung,jadi gak usah cemburu oke" jelas Fani sambil mengompres kening Devano ulang.
" Iya kah,jadi aku gimana - maksud nya sekarang kita ,itu" bingung Devano mau mengatakan apa.
"Status kita sekarang,itu maksud mu?" tanya Fani memastikan.
"ya" jawab singkat Devano.
"Menurut mu?"
"Pacaran " dengan yakin Devano menjawab Fani
"Hmm" Fani hanya berdehem saja,untuk menolak dia tidak mau karena dia juga merasa berdebar di dekat Devano namun untuk mengatakan dia juga sudah cinta masih abu abu,jadi dia akan memastikannya perasaannya nya dulu jika pun rasa cinta itu belum hadir Fani yakin cepat atau lambat rasa itu akan hadir dan dia harap itu secepatnya.
Devano yang mendengar nya walau hanya deheman saja ,merasa bahagia dan refleks menarik Fani hingga jatuh di atas dada nya dia memeluk Fani dengan erat.
**Thanks semua udah mampir😘,jangan lupa vote, dukungan nya serta saran dan komentar yang membangun ya
untuk typo dan ketidak jelasan ceritanya aku minta maaf ,sekali lagi terimakasih dan tetap jaga kesehatan ya 😇**
__ADS_1