Kesayangan Tuan Muda Dingin

Kesayangan Tuan Muda Dingin
Bab 39


__ADS_3

Fira merasa heran melihat tingkah laku sahabat nya itu sedari tadi, tidak bisakah sahabatnya itu bersikap biasa-biasa saja?,haruskah seperti cacing kepanasan?.


"Ehh safari jawab lah!" paksa Fani sambil mengubah nama cantik sahabatnya,apakah tampang Fira terlihat seperti kebun binatang dimata Fani?,sehingga dia sesuka hati mengubah nama nya itu?


Sudah memaksa tidak bisa juga kah tangan nya itu diam?,haruskah juga ikut heboh menggoyang tubuhnya layaknya pohon yang digoyang untuk mendapatkan buahnya?.


"Please deh lo diam!,dari tadi gue pusing liat tingkah lo!" sumpah demi apa,Fira setengah mampus menahan kekesalan terhadap gadis yang ada di hadapannya ini,jika dia tidak memiliki peri persahabatan mungkin dia akan melempar Fani ke selat India.


"Makanya jawab dulu!" heboh Fani lagi sambil mengguncang badan Fira ,tidak mau berhenti sebelum kekepoan nya itu mendapat jawaban.


"Gak tau gue mau jawab apa,puas lo?!" jangan salahkan dia jika mengatakan itu dengan nada membentak,salah siapa yang memaksa nya?.


Dan,memang dia tidak sepenuhnya berbohong,dia memang tidak tau mau menjawab apa,jika dia bilang calon pacar , sepertinya tidak,karena yang sedang dekat nya saat ini seperti tidak memiliki rasa apa pun terhadap nya.


Namun jika dibilang calon pdkt an nya juga salah ,karena sudah gebetan kan?,apakah itu masih calon?,ahhh Fira pusing sendiri serius.


"Dih,waras lo?,lo gak tau? kan yang ngejalanin itu lo sendiri "sebenarnya Fani ingin memaksa sahabatnya itu,agar mau menerima perjodohan yang papi Arkan buat,terlebih saat melihat raut wajah papi Arkan saat Fira menolak mentah-mentah perjodohan itu.


Fira hanya diam,karena memang dia tidak tau harus mengatakan apa.Dari pada salah menjawab dan menjadi boomerang untuk nya,lebih baik dia diam saja bukan?.


"Dari pada lo bingung sendiri seperti ini,gue kasih saran sama lo,lo coba aja dulu Ra untuk nerima perjodohan yang dibuat papi Arkan"tidak ada salahnya Fani mencoba untuk memberikan saran kepada Fira ,agar mau menerima perjodohan itu.


Kita tidak akan tau hasilnya jika kita tidak mencoba nya kan?.


Fira diam, sebenarnya dia juga memikirkan hal ini sudah lama,namun jika dia menerima perjodohan ini,lantas kenapa sebelum -sebelumnya dia membuat drama penolakan,hingga minggat dari rumah?.


"Ck,lo mending diam deh,pikirin pak bos ayang lo aja,nanti di embat pelakor di negara tetangga sana tau rasa lo!"


Fira mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka,hingga hanya itu saja yang terlintas di otaknya.

__ADS_1


Siapa yang tidak bosan? sedari tadi pembahasan mereka tidak jauh jauh,dari kehidupan Fira,terkhusus perjodohan, perjodohan dan perjodohan,apakah tidak ada tema lain untuk bahan gosip mereka?.


Seperti kisah cinta Fani dan pak bos Devano misalnya.


Fani yang mendengar nya,hanya diam saja , ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Fira sahabat luknut nya itu,namun sebisanya dia akan bersikap biasanya saja.


"Kalau dia kepincut sama pelakor disana,ya berarti gue sama dia gak jodoh!, simpel kan?"iya simpel memang yang membuat segala sesuatunya ribet itu diri kita sendiri,namun beda di mulut beda di hati,itu lah cewek.


Siapa yang terima jika orang yang dia cintai direbut orang lain?,jangan manusia,monyet saja bisa marah jika yang dia cintai direbut monyet lain.


"Iya deh iya,tapi btw kalian udah baikan?" memang dia tidak tau,apakah kedua manusia itu sudah baikan atau masih marahan seperti kemarin kemarin.


"Udah baikan!" ucap nya simpel namun membuat emosi orang yang mendengar nya.


Singkat,padat dan diucapkan dengan nada kesal,siapa yang tidak emosi mendengar nya coba?.


"Kalian marahan waktu itu karena apa sih?"jiwa kepo Fira mulai naik kepermukaan,yang membuat Fani menatap malas kearah nya.


Jika seperti ini,mau tidak mau dia harus menceritakan nya,dari pada nanti telinga nya berdeging mendengar rengekan sahabatnya itu.


"Jadi lo percaya gitu aja?" Fira tidak habis pikir mendengar cerita Fani,masa iya seorang Devano kehilangan handphone nya,baiklah itu bisa terjadi namun dia bisa membeli ponsel baru bukan?.


Terus tadi katanya apa?, Devano tidak tau no Fani hingga dia tidak bisa menghubungi nya, seperti nya Devano tengah melawak pikir Fira,terus apa guna Damian yang stand by di samping nya 24 jam?.


Fani seketika bingung mau menjawab apa,sepenuh nya dia memang tidak percaya karena alasan Devano itu terlalu tidak meyakinkan dan seperti ada yang dia sembunyikan.


"Ya mau gimana lagi?,bukan nya kunci keberhasilan suatu hubungan itu adalah kepercayaan?"jawaban yang the best bukan?,mulut Fani memang mengatakan itu tanpa keraguan,namun jika kita bisa melihat isi hatinya apakah sesuai dengan apa yang mulutnya ucapkan?.


Fira mengangguk-anggukkan kepalanya,mengiyakan ucapan sahabatnya itu,memang benar yang di ucapkan oleh Fani,namun kejujuran dan keterbukaan dari satu sama lain juga perlu bukan?,tidak cukup hanya kepercayaan karena jika salah satu diantara mereka sudah mulai berani berbohong.

__ADS_1


Maka kebohongan kebohongan selanjutnya juga tidak bisa di elakkan.


"Dan lo seratus persen percaya?"Fira menatap tepat bola mata sahabatnya,bukan nya berniat menjadi kompor atau profokasi diantara mereka.


Hanya saja dia tidak mau melihat sahabat nya itu,menelan kekecewaan,jika hatinya ragu,dia dan Devano bisa membicarakan itu baik baik bukan?.


Untuk mencegah hal hal yang membuat hubungan keduanya renggang,hingga berakhir.


"Ck,makan siang aja ayok,menggibah dan berpikir juga butuh tenaga! "dari pada dia semakin over thinking kepada Devano lebih baik,dia mengalihkan pembicaraan mereka saja, terutama pikiran nya saat ini.


Karena Fira memiliki kepekaan yang tinggi sesekali,dan untung nya kepekaan nya hadir di saat yang tepat hingga dia mengiyakan ajakan Fani saja.


"Tapi lo gak papa kan?" tanya nya sambil menggandeng Fani melangkah keluar dari ruangan mereka menuju kantin kantor untuk makan siang.


"Gue baik kok,santai saja!"memang dia saat ini baik baik saja,hanya saja pikiran nya saat ini terganggu sedikit.


"Kalau ada yang mau Lo ceritain gue siap kok jadi pendengar yang baik"


"Tau gue mah,gak usah lo ingetin lagi" tanpa sahabatnya itu perjelas,dia sudah tau bahwa Fira bisa menjadi tempat curhat yang tepat walaupun kadang membuat emosi juga.


"Lo pesan apa?,mumpung gue baik"tanya Fira sambil berdiri sedangkan Fani sudah duduk cantik.


Gadis itu mendongak menatap Fira"samain aja"singkat, padat,dan jelas serta mudah di pahami oleh Fira.


Fira mengangguk dan berjalan ke arah meja pantry untuk memesan makanan mereka.


Makasih ya udah mampir dan membaca cerita ini,semoga suka jangan lupa like komen yang mendukung serta tekan ❤️ya,untuk typo yang bertebaran aku minta maaf


see you next chapter guys😇

__ADS_1


__ADS_2