
"Ya mau bagaimana lagi no,hati nggak bisa dipaksakan,untuk saat ini gue memang masih belum bisa buka hati itu saja" no atau vano adalah nama panggilan nya.
"Setidak nya coba dulu buat buka hati lo,kalau memang gak cocok ya udah gak usah di lanjutin " wah tidak sadar kah dirimu wahai Devano.
"Ck ,kalau cuma ngomong ayam pun bisa,lo gampang bilang kayak gitu tapi buat ngelakuin apa yang lo bilang,lo sendiri aja gak bisa kan?" dengan memicingkan mata nya Damian menatap ke arah Devano.
Yakin dia Devano manusia keras kepala itu tidak bisa melakukan nya seperti yang di ucapkan barusan,kalau cuman ngomong doang mah siapa pun pasti bisa.
"Kita beda,lo masih ada orang tua yang harus lo banggain,bahagiain,lo turutin terlebih tante,lo gak kasihan?"
Damian diam memikirkan usul Devano,bukan cuman sekali dua kali dia datang ke rumah Devano lebih tepat nya kabur ke rumah Devano jika orang tua nya sudah membicarakan perjodohan.
Apakah kedua orang tua nya itu,tidak bisa mengerti diri nya?,dia bisa mencari jodoh nya sendiri hanya saja ini masih bukan waktu nya,lagian umur dia juga masih muda 27 tahun belum tua tua banget bukan?
"Gue usahain deh,tapi cuman sekali saja kalau memang perempuan yang di jodohkan dengan gue tidak sesuai dengan selera gue atau lebih tepat nya gue gak ngerasa nyaman saat di dekat nya gue gak mau" jawab Damian setelah memikirkan usulan Devano serta melarat ucapan nya di akhir kalimat,karena dia juga bingung dengan kriteria perempuan untuk dia jadikan pendamping atau hanya sebatas kekasih saja.
Dan Damian manusia arogan,dingin serta gelar lain nya itu hanya menatap Damian datar.
Setelah itu mereka diam sejenak sibuk dengan pikiran masing-masing,hingga pembicaraan berikut nya berlanjut lagi, mulai dari hal yang penting hingga hal yang tidak penting sama sekali.
Seperti saat ini setelah diam beberapa detik muncul pertanyaan di otak Damian "Apa yang lo lakuin sama Fani tadi?" dengan nada menggoda Damian bertanya.
"Tidak ngapain -ngapain ,memang kenapa ?" mengalihkan pandangan nya dari handphone yang dia pegang,dia menatap Damian.
"Gak usah malu pak bos buat jujur,cerita aja atau lo udah mulai buka hati kayak saran lo tadi?"
"Ck,intinya hal yang terjadi tadi tidak seperti yang lo pikirkan" sungguh Devano tengah mati-matian menahan rasa gejolak yang tiba tiba muncul di dada nya ,hanya mengingat momen tadi yang dia lakukan dengan Fani ,gadis ceroboh itu,tanpa dia sadari mampu menyunggingkan senyum tipis di bibir nya .
Damian yang melihat senyum tipis sahabat nya itu merasa senang ,karena setelah sekian lama dia bisa melihat senyum tulus sahabat nya itu,jika selama ini senyum yang di tunjukkan oleh sahabat nya itu adalah senyum terpaksa,walau bukan ke semua orang namun senyum kali ini berbeda
__ADS_1
"Kenapa senyum - senyum seperti itu,apa tebakan gue benar?"Damian berkata dengan senyum yang sangat menyebalkan di mata Devano.
Devano mengutuki diri nya sendiri yang dia sendiri pun tidak tau apa terjadi dengan tubuhnya yang selalu bertolak belakang dengan pikirannya.
"Yang jelas lo tidak usah pikirin yang enggak - enggak" kata Devano karena dia sudah bisa tebak pikiran sahabat nya ini.
"Emang menurut lo, gue mikirin apa?" menyeruput teh nya tinggal sedikit lagi Damian bertanya,jika memang yang dia pikirkan itu benar tidak ada yang marah juga kan,jadi kenapa sahabat nya ini harus menutupi nya,atau kah sahabat nya ini masih tidak tau dengan yang dia rasakan,dia harus cepat - cepat menyadarkan nya sebelum terlambat.
***
Suasana di kamar fani juga tidak kalah jauh seperti suasana di ruang tamu,karena mereka juga tengah meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
"jelasin " tegas Fira sekali lagi.
"inget gak waktu pertama kali CEO kita datang ke kantor?" tanya Fira yang dibalas anggukan oleh Fira.
"Masih ada yang kurang jelas?" pertanyaan yang keluar dari bibir Fani sudah seperti guru yang tengah menjelaskan pelajaran dan menanyakan sudah jelas atau belum,guna untuk menjelaskan kembali yang masih belum di pahami oleh murid nya.
back to topic
"Jadi maksud lo tadi pegang- pegang otot perut nya itu apa jika bukan karena lo sama dia ada hubungan spesial,gak mungkin kan lo berani sentuh sentuh dia tanpa ada hubungan yang jelas" cerocos Fira karena dari semua yang di jelaskan oleh Fani ,hal itu masih mengganjal di hati nya.
Fani yang di beri pertanyaan atau pun pernyataan oleh Fira bingung,dia pun tidak tau menyikapi hal yang tadi terjadi.
Jika dia menyalahkan Devano jelas tidak,karena dia juga ikut andil dengan hal itu,bahkan dia sempat menekan otot perut laki-laki itu dan mengelus nya,memikirkan hal itu membuat wajah nya memerah tanpa dia sadari.
"Tuh kan muka lo aja sampai merah gitu,pasti ke inget hal yang tadi kan?" tebak Fira dan yang tanpa Fani sadari dia membalas nya dengan anggukan.
Fira yang melihat Fani mengangguk kan kepala nya heboh sendiri, kayang,salto dan guling-guling di lantai pun sudah dia lakukan.
__ADS_1
Melihat tingkah heboh Fira Fani tersadar dengan yang dia lakukan,ingin menjelaskan nya seperti nya sudah terlambat dan pasti sahabat nya itu bukan nya mendengarkannya nya,tapi akan semakin menggodanya.
"Lo bisa diem gak sih ha" dengan melemparkan bantal ke arah Fira yang sekarang tengah cosplay jadi monyet,bagaimana tidak Fira menggerak-gerakkan badan nya seperti monyet jangan lupakan suara monyet yang dia tiru juga,kata nya biar lebih perfect.
Mendapat lemparan bantal dari Fani membuat aksi nya berhenti,dia mengerucutkan bibirnya dan menatap Fani penuh dendam,seketika dia tersenyum dan",bug" tepat sasaran bantal yang dia lempar kembali ke arah Fani tepat sasaran.
Tidak ingin kalah Fani juga melempar bantal ke arah Fira dan tidak bisa di elakkan lagi perang bantal pun terjadi di kamar gadis itu.
Sampai kedua nya berhentilah karena merasa lelah dengan kegiatan yang mereka lakukan .
Fira ikut terlentang di kasur empuk milik Fani,dia menatap ke arah sahabat nya itu yang sedana memejamkan mata nya dan mengatur nafas nya agar tidak terengah-engah akibat kecapean dengan aksi mereka yang tidak jelas
"Lagian kalau lo suka juga sama pak bos gak ada yang marah juga kok,kan kalian sama sama tidak punya pasangan " ujar Fira memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka.
Diam beberapa saat Fani membuka mata nya menatap plafon kamar nya serta berkata"gue gak suka kok sama dia, tenang aja"
"Serius Lo,pak bos ganteng kok,kayak nya dia baik juga,cuman tampang nya saja yang dingin-dingin tapi hot gitu" Fira menyampingkan badan nya dan menatap ke arah Fani dengan senyum nya.
huft "semerdeka lo" membuang nafas kasar fani menyimpali ucapan sahabat nya itu,apa tadi kata nya , dingin-dingin hot,dan baik sahabat nya itu tidak tau saja kalau manusia arogan itu adalah manusia yang paling menyebalkan dan pemaksa.
" Serius gue mah,tapi masih butuh waktu sih kayak nya biar lo bisa suka atau sadar mungkin dengan perasaan lo,tatapan pak bos sama lo juga beda dengan tatapan dia saat menatap orang lain bahkan saat menatap Damian juga beda" jelas Fira tentang pengamatan nya ,walau masih baru melihat dia sudah bisa merasakan itu,tapi sayang manusia yang mengalami hal itu tidak menyadari nya.
"Lagian ya lo masih enak bisa memilih dan bebas menjalin hubungan dengan siapapun,tidak seperti gue" tanpa menunggu respon dari Fani, Fira melanjutkan omongan nya,dan tanpa mereka sadari ada orang lain yang mendengar obrolan mereka dari luar kamar.
**Halo pren semoga kalian semua suka ya ,jangan lupa kasih vote komen yang mendukung dan kritikan serta saran ya .
kalau ada typo aku minta maaf dan kalau ceritanya agak gaje dan juga agak gak nyambung aku minta maaf soal nya ini pengalaman pertama aku buat nulis jadi masih banyak kekurangan nya apalagi dalam menggunakan tanda baca,mohon pengertiannya ya ,see you the next chapter,sok Inggris kali aku haha.
semoga kalian suka ya,thanks all lop yu 🤗
__ADS_1