
Sudah dua hari semenjak keberangkatan Devano,laki laki itu dan Fani tidak ada lagi bertukar kabar,terakhir kali mereka saling mengabari pada saat Devano sudah sampai di Singapura lebih tepatnya saat mereka tengah melakukan vicall.
Bukan sih ,lebih tepatnya Devano yang tidak bisa di hubungi,entah karena apa alasannya Fani tidak tau,"Dia kemana sih?!,sampai gak bisa di hubungi begini?"gerutu Fani saat dia mencoba untuk menghubungi Devano lebih dulu.
Baiklah kalau percobaan pertama gagal tidak apa -apa,dia akan mencoba lagi.
Gadis itu mencoba menghubungi kembali,namun hasilnya nihil tetap saja ponsel Devano tidak aktif.
"Awas aja!,jika dia menghubungi gue,gak bakal gue angkat" Fani meletakkan ponselnya ke atas meja kerja nya dan kembali mencek pekerjaan nya apakah sudah benar benar beres atau tidak.
Fani melihat kedepan nya dimana meja Fira berhadapan langsung dengan mejanya,"Kenapa lo senyum -senyum sendiri kayak orang gila?" sindir Fani saat dia melihat sahabatnya itu sedari tadi tersenyum tidak jelas,entah karena apa.
Karena mereka masih satu meja,hanya komputer yang menjadi penyekat antara mereka berdua,meja di ruangan mereka itu berbetuk bundar yang ditempati oleh empat orang satu meja,dan penyekat nya hanya lah komputer yang ada di hadapan mereka masing masing.
Jadi memudahkan mereka untuk bergosip ria tanpa harus mengeluarkan suara yang kencang hingga mengangguk yang lain.
Fira mendongakkan kepalanya,serta memicingkan matanya kearah Fani yang tengah berbicara kepadanya dengan nada kesal?"Suka suka gue lah,kenapa situ yang sewot?".
Fani ingin sekali mencakar wajah Fira,bagaimana tidak raut wajah gadis itu saat menjawab nya seperti kambing yang ingin di sembelih.
"Dih,gue gak sewot ya,gue cuman nanya you know nanya?" Fani kembali mengeluarkan suaranya,tanpa mengalihkan perhatian nya dari layar komputer yang ada di depan nya.
Dia tidak ingin melihat wajah Fira yang sangat menyebalkan menurut gadis itu,padahal Fira hanya tersenyum seperti senyum nya yang biasa,memang Fani saja yang sensian seperti masker.
"Iri bilang kawan!!" sama hal dengan Fani,Fira juga tidak mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang ada di genggaman nya,biasa fokus membalas chat dari orang yang mungkin akan jodohnya,kalian doakan saja,agar gadis itu tidak di ghosting.
"Gue?,iri sama lo?, hellow gak sudi tau gak"Fira melihat kearah manusia yang tengah berkicau itu,jika bukan sahabat nya sudah sedari tadi dia menyembelih manusia itu,karena dia sahabat yang baik imut, pengertian dan rajin beribadah maka dia mengurungkan niatnya untuk melemparkan gadis itu ke planet mars.
"Gii? iri simi li hilliw gik sidi tii gik,bacot tau gak"ujar Fira menirukan apa yang fani ucapakan.
Fira tersenyum geli melihat raut wajah Fani yang kian murung,entah apa sebabnya sahabatnya itu mengeluarkan taring nya sedari tadi padahal bukan tanggal tamu bulanan sahabat nya itu sekarang untuk datang berkunjung,alias belum saat nya gadis itu datang bulan.
Fira tau karena dia sempat melihat tanggal yang ada di layar ponselnya,karena kebetulan jadwal menstruasi mereka beda tiga hari jadi gadis itu sudah hapal dengan tgl dapetnya Fani,juga kebiasaan kebiasaan sahabat nya itu jika lagi datang bulan.
"Kenapa sih lo semakin menyebalkan?"fani kembali berkicau mengeluarkan suara,namun kali ini dia menatap lawan bicara nya, layak nya macan yang siap menerkam habis mangsanya.
Fira sungguh merasa jengkel,kenapa jadi dirinya yang disalahkan?,tidak sadarkan sahabatnya itu jika dia yang sedari tadi mengibarkan bendera perang?,tapi baiklah dia akan dengan sabar menghadapi gadis itu.
Fira menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang dia lembut -lembutkan,agar emosinya yang sudah di ubun-ubun kembali mereda.
__ADS_1
"Selow dong bunda,kalau ada masalah ,sini cerita jangan kaya tarzan yang baru lepas dari sangkarnya"ucap Fira nyeleneh,bukan nya apa ya,dia hanya berniat menghibur sahabatnya itu,walaupun presentasi keberhasilannya 0,0000000%,maklum karena dia bukan komedian yang bisa membuat para readers tertawa,skip kita balik ke topik awal.
"Ck,lo tau gak sih?-"
"Mana gue tau,orang lo belum ngasih tau!"
belum selesai dia mengucapkan kalimat nya ,sudah lebih dulu di potong oleh manusia yang tidak punya akhlak yang ada di depannya,dan yang lebih menyebalkan gadis itu menyela nya dengan sangat santai catat! santai.
"Makanya dengar dulu babi!, bagaimana gue mau ngasih tau kalau lo udah nyela begini?!" sarkas Fani mengeluarkan taring nya lebih panjang lagi,membuat nyali Fira menciut seketika,serius demi apapun jika Fani sudah mengeluarkan taring panjang nya akan lebih seram dari hiena kembaran Devano.
"Maaf kanjeng ratu ampuni hamba ini,silahkan kanjeng mami lanjutkan!"fani melihat kerandoman sahabatnya itu dengan tatapan datar.
Jika biasanya mereka akan saling membalas dengan kerandoman itu dengan kerandoman lainnya hingga membuat mereka tertawa layaknya orang gila,hingga membuat orang orang yang disekitar mereka, menatap dengan tatapan heran ,namun kali ini berbeda.Karena mood Fani hari ini sangat tidak baik,
"Tau gak sih?,si Dave gak bisa di hubungi ,udah dua hari "ucapnya menggebu-gebu disertai dengan nada emosi.
Fira menatap sahabatnya itu dengan tatapan heran,dan tanda tanya?,siapa si Dave? pikirnya karena sejauh dia mengenal Fani tidak pernah ada kenalan atau orang di sekitar gadis itu yang bernama Dave.
Tidak ingin membuat spekulasi sendiri, akhirnya dia memilih bertanya langsung kepada yang bersangkutan "Dave?,siapa si Dave?"
"Dave?,ya si Devano lah ,jadi maksud lo siapa lagi ?!"jelas Fani yang seketika membuat sahabatnya itu heboh sendiri.
Fani hanya menganggukkan kepalanya,tidak berniat mengeluarkan suaranya .
Fira kembali heboh hingga dia pindah,duduk di samping Fani yang sibuk dengan bekal nya.
Untung di ruangan ini cuman mereka berdua karena yang lain nya tengah makan siang, berhubung keduanya membawa bekal dari rumah jadi mereka tidak perlu ke kantin untuk makan.
Jika tidak,maka bisa di pastikan akan ada berita hot yang akan segera menyebar di perusahaan ini hingga keluar tentang dirinya dan Devano,ingin dia melakban mulut sahabatnya itu namun apalah daya dirinya tidak tega epribadeh.
"Wah wah wah,udah sejauh mana ni bu bos hubungan kalian?, kayak nya gue ketinggalan banyak nih"tanya Fira penasaran dengan hubungan sahabatnya itu dan Devano CEO mereka.
Fani menatap Fira dengan tatapan yang entah lah, namun yang di tatap biasa biasa saja karena memang sudah terbiasa.
Jika Fira melamar jadi reporter sepertinya akan dengan mudah diterima dan akan mudah juga bagi gadis itu untuk menyesuaikan diri seperti nya,karena saat ini Fira sudah persis seperti reporter,banyak tanya dan sangat kepo.
"Nanti lebih jelasnya gue kasih tau,yang terpenting sekarang si Devano gak bisa gue hubungi tau gak" jawab nya dengan kesal sambil memasukkan sendok yang berisikan makanan kedalam mulutnya,karena marah'juga membutuhkan tenaga.
"Siapa tau dia sibuk,baru juga dua hario udah kangen aja"goda Fira kepada sahabat nya itu.
__ADS_1
***
Sedangkan orang yang tengah dibicarakan oleh kedua gadis itu,tengah meninjau langsung pembangunan hotel yang ada di bawa tanggungjawab perusahaan nya.
"Apakah ada kendala yang kalian alami selain dana yang kurang?!" tanya Devano kepada orang yang dia percayakan untuk bertanggung jawab terhadap pembangunan itu.
"Tidak ada pak Devano,semua nya aman!"jawab Richard orang yang di percayakan oleh Devano dengan yakin.
"Baiklah kalau begitu,jika ada kendala yang kalian alami selama proses pembangunan berjalan,kamu bisa menghubungi Damian langsung!" ucap Devano dengan tegas.
"Baik pak,akan saya laksanakan !"
Keduanya melangkah menjauh dari area pembangunan di iringi dengan pembicaraan mengenai seputar pembangunan yang tengah Devano tinjau.
"Dan saya harapkan, pembangunan akan selesai sebelum target waktu yang di tentukan dengan hasil yang maksimal dan memuaskan!" kembali kalimat tegas itu terdengar dari mulut Devano,membuat Richard hanya mampu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Baik pak,akan kami usahakan"akhirnya Richard menjawab dengan yakin,dan akan dia usahakan semaksimal mungkin,dia tidak mau membantah bos nya itu apalagi sampai mengecewakan nya,karena dia tau sebringas apa bos nya itu,dan satu yang paling dia tanamkan di benak nya adalah bosnya itu tidak suka dengan kegagalan.
Karena dia bekerja dengan Devano bukan hanya sekali dua kali,namun mereka sudah bekerjasama cukup lama hingga dia sudah mengenal Devano bagaimana.
Setelah pembicaraan itu berakhir, Devano masuk kedalam mobil nya dimana Damian sudah menunggu sedari tadi,atas perintah bosnya itu.
"Bagaimana?,apa lo sudah mendapat no Fani?"tanya Devano setelah dia sudah berada di dalam mobil.
"Gak"jawabnya sok cuek yang mampu membuat Devano naik pitam,namun sebelum tanduknya keluar suara Damian sudah lebih dulu terdengar "Maaf ya pak bos,nanti lagi deh gue usahain,lagian sih bisa-bisanya lo gak tau ponsel lo dimana".
Sebenarnya dia sudah mendapat no Fani hanya saja dia ingin mengerjai bos sekaligus sahabat nya itu,jarang jarang kan dia memiliki kesempatan untuk menjahili manusia arogan yang disamping nya itu.
"Gue gak butuh ceramah lo,yang pasti besok lo gak kasih no Fani,tau kan lo konsekuensinya apa?" Devano menutup matanya dan menyandarkan punggungnya kekursi mobil.
Alasan dirinya tidak menghubungi Fani ataupun sebaliknya tidak bisa di hubungi oleh gadisnya itu adalah karena dia kehilangan ponselnya.
Bisa saja dirinya yang mencari no Fani,bukan hal sulit baginya namun,dia hanya tidak ingin membagi fokusnya dulu,tidak sadarkah laki laki itu bahwa sedari awal fokusnya sudah terbagi.
Hy guys, apa kalian menunggu cerita ini up?,aku harap jawaban kalian Iya 😉
Terima kasih sudah mampir dan meluangkan waktu untuk membaca cerita ini, mudah mudahan kalian suka,dan maaf untuk typo yang masih banyak bertebaran,jadi hati hati saat membaca karena mungkin berpengaruh,bukan mungkin lagi sih,memang berpengaruh
jangan lupa untuk vote dan klik favorit ya , sekali lagi terimakasih semuanya 😇😇😇
__ADS_1