Kesayangan Tuan Muda Dingin

Kesayangan Tuan Muda Dingin
Bab 26


__ADS_3

"Dari mana saja kamu baru pulang jam segini ha?!",tanya seorang pria paruh baya dengan tegas,melihat putri semata wayangnya pulang malam.


"Taman" jawab gadis itu singkat,apakah papi nya ini tidak tahu kalau putri cantik nya ini sudah kelelahan,walaupun hanya duduk yang dia lakukan namun hal itu juga menguras tenaga bukan, namun sampai dirumah bukanya di suruh istirahat ini malah dimarahi.


Padahal jam baru menunjukkan pukul 10.00 kecuali udah tengah malam dan dia tidak izin baru dimarahi pikir gadis itu.


"Oh,gak kabur lagi?, papi kira tadi kamu kabur" gadis itu hanya mendengus kesal mendengar ucapan papi nya bukankah tadi papi nya sok-sokan marah ,namun sekarang kenapa ucapannya seakan-akan menyindir nya? memang dia tersindir sih mendengar nya.


"Ck,papi mah gitu" gerutu gadis itu dengan bibir yang dimanyunkan ,merasa kesal kepada sang papi, sambil melangkah ke arah sofa dimana sang pemilik rumah duduk ,dia mendudukkan dirinya di sofa didepan sang papi.


"Memang benar kan yang papi bilang"


"Iya pi,Ira minta maaf deh ,janji gak kabur lagi" ucap gadis itu sambil melangkah kearah papi nya dan memeluk nya dengan erat dia merasa bersalah telah meninggalkan papi nya sendirian di mansion walaupun dia tau banyak maid dan bodyguard namun papi nya pasti merasa kesepian ,gadis itu adalah Fira.


Ira adalah nama panggilan dari kedua orangtuanya saat dia kecil dulu hingga sekarang,dan hanya orang -orang terdekatnya saja yang memanggil nya Ira kecuali si Fani yang minus akhlak sahabat nya itu lebih cenderung memanggil nya safari memang tidak punya otak sih.


Papi Arkan yang mendengar penuturan putri nya merasa senang, walaupun dia bisa yakini bahwa putri nya belum bisa menerima perjodohan yang dia rencanakan bersama almarhumah istrinya dengan sahabat mereka semasa SMA dulu hingga sekarang.


"Gak yakin papi" canda papi Arkan


"serius deh pi--eh enggak deh tiga rius deh iya tiga rius lebih pun bolehlah " yakin Fira karena dia sudah berniat tidak akan meninggalkan papi nya lagi sendirian.


Fira sudah memikirkan hal ini seharian,setelah Fani tadi mengantar nya kerumah Fira gadis itu tidak langsung pulang,dia mampir ke taman yang dekat dengan rumah nya, mendengar saran serta nasehat sahabatnya tadi membuat dia berpikir ulang,dan dia juga tidak ingin meninggalkan papi nya lagi sendiri di mansion,karena bisa dia lihat raut wajah papi nya yang menyiratkan kerinduan yang mungkin tidak bisa dia lisankan.


Memang semenjak papi nya Arkan Aditama mengatakan dia dijodohkan dengan anak teman nya dua tahun sebelumnya dia jarang di mansion papinya dan sudah satu tahun lebih semenjak papi nya mengatakan perihal perjodohan itu dia lebih memilih tinggal sendiri di kosan sederhana.


Bukannya tidak mampu tinggal di apartemen,bahkan dia memiliki apartemen yang dulu milik mami semasa hidupnya,namun karena mami nya sudah berpulang jadi apartemen itu menjadi hak miliknya, Tetapi dia hanya ingin melatih dirinya agar lebih mandiri lagi, bahkan ajakan mama Winda yang meminta nya untuk tinggal dirumah mereka Fira tolak dengan halus karena memang dia sedang melatih dirinya untuk bisa menjadi gadis mandiri seperti Fani sahabatnya.

__ADS_1


Dan semenjak dia meninggalkan mansion papi nya dia tidak pernah menanyakan kabar ataupun datang menjenguk papi nya itu,padahal dia tau papinya itu selalu melindungi dan menjaganya dari jauh dan hal itu membuat nya merasa bersalah telah menjadi anak yang durhaka, padahal dia dulu sudah berjanji kepada maminya untuk tidak meninggalkan papi nya apapun yang terjadi,tapi apa yang dia lakukan,dia tidak menepati janji itu namun dia akan memperbaiki nya sebelum penyesalan dan rasa bersalah nya semakin besar.


"Ya udah kamu istirahat,kamu udah makan atau belum?" tanya papi Arkan"udah pih, yasudah aku istirahat dulu,good night Pi"ucap Fira setelah mengecup pipi papi nya ,"good night putri cantiknya papi "balas papi Arkan dan mencium kening putri nya singkat.


Fira melangkahkan kaki nya kelantai tiga dimana kamarnya berada,karena dia sudah sangat merasa lelah dengan kegiatan yang dia lakukan seharian ini.


Selesai membersihkan dirinya,Fira merebahkan dirinya di kasur empuknya yang sudah lama tidak dia tempati,dia mengambil handphone nya yang tadi di serahkan papi Arkan saat dia dilantai bawah tadi.


Dia membuka handphone nya dan melihat banyak panggilan serta chat dari Fani sahabatnya dan dia merasa senang akan hal itu,kapan lagi coba dia membuat sahabatnya itu frustasi seperti tadi karena yang biasanya frustasi dan merasa sangat khawatir itu adalah dirinya saat Fani tidak ada kabar,tapi sekarang sebaliknya dan itu hal yang harus dia apresiasi.


Merasa sangat lelah Fira memejamkan matanya dan tidak lama dia sudah menjelajah alam mimpinya, tidak jadi memainkan handphone nya yang membuat benda itu tergeletak diatas kasurnya begitu saja.


***


Disisi lain yaitu rumah Devano,Fani tengah membujuk bayi besarnya,yah gelar itu telah debut semenjak Fani tau bahwa Devano manusia arogan dan dingin itu ternyata bisa bersikap manja layaknya bayi bahkan melebihi bayi mungkin.


"Udah dong Dave ngambeknya,kan aku tadi udah jelasin kalau aku pergi bareng Fira" bujuk Fani sambil mengelus lengan Devano agar laki laki menyebalkan itu berhenti bertingkah seperti bayi dan mau memakan masakan yang sudah dimasak Fani,juga agar laki laki itu bisa meminum obatnya supaya bisa lebih fit dan sehat keesokannya.


Devano hanya diam tidak mengeluarkan suara nya,karena masih marah sama gadis itu karena telah meninggalkan nya sendiri dan tanpa memberikan kabar yang membuat khawatir dan takut ditinggalkan oleh gadis itu.


"Dave udah dong,makan yah aku suapin deh" Devano tidak mengeluarkan suara sama seperti sebelumnya namun mulut laki laki itu terbuka guna menerima suapan dari gadisnya.


Fani yang melihat Devano membuka mulut tanpa mengeluarkan suara langsung mengerti,gadis itu mengarah kan sendok makan yang sudah berisi nasi dan lauknya kearah mulut Devano.


Fani pun ikut makan dari piring yang sama, karena gadis itu tidak ingin merepotkan dirinya dengan dua piring yang harus bergantian dia sendokkan untuk mereka berdua bergantian.


Devano tidak keberatan akan hal itu bahkan dia merasa senang, melihat gadisnya melakukan hal seperti itu walau sederhana namun itu sangat membuat nya bahagia.

__ADS_1


Fani membereskan meja makan dan mencuci piring bekas mereka tadi makan, Devano duduk dengan santai sambil melihat Fani yang terlihat serius dengan yang dia kerjakan, Devano tidak ingin mengganggu walaupun dia sebenarnya ingin,karena dia masih marah dan kesal apalagi tadi gadisnya itu sengaja melarutkan obat yang ingin dia minum dengan air putih hingga membuat aksi modus nya gagal,ck mengingat itu membuat Devano semakin kesal.


"Tidur yok"ajak Fani kepada Devano setelah dia selesai dengan kegiatan tadi.


Devano berdiri dan mengikuti langkah Fani melewati setiap anak tangga untuk menuju kamar mereka,Fani membuka pintu kamarnya,saat ingin menutup nya dia terkejut melihat Devano yang ikut masuk "ngapain Dave kan kamar kamu disebelah" tanya Fani heran.


"Mau tidur disini" ucapnya singkat dan langsung merebahkan dirinya di kasur Fani,baiklah Fani akan membiarkan Devano tidur dikamar nya namun tidak dengan satu ranjang,biarkan saja Devano yang dikasur dan dia akan tidur di sofa.


Fani melangkah ke arah lemari nya guna mengambil selimut untuk dia gunakan, Devano yang sedari tadi melihat gerak gerik Fani merenggut kesal dia sudah tau maksud gadis itu, Devano langsung berdiri melangkah ke arah pintu "gak usah ambil selimut nya ,aku gak jadi tidur disini, padahal cuman tidur gak lebih kok" ucap Devano setelahnya dia keluar.


Fani yang mendengar nya terdiam dan merasa bersalah, entahlah dia tidak tau mengapa setiap tidak menuruti atau tidak sengaja membuat hati laki laki itu tersinggung dia akan merasa bersalah,Fani menggelengkan kepalanya dia berjalan ke arah Kasurnya dan merebahkan badannya,dia menutup matanya mencoba untuk bersikap masa bodoh dengan Devano,namun sudah hampir tiga puluh menit namun tidak berhasil juga, akhirnya Fani berdiri melangkah keluar kamar menuju kamar Devano yang ada di samping kamar nya.


Tok...tok... tok


Gadis itu mengetuk pintu kamar Devano namun tidak ada sahutan dari dalam,Fani mencobanya tiga kali namun hasilnya sama akhirnya Fani memutuskan untuk membuka pintu itu dan yup terbuka ternyata Devano tidak mengunci kamar nya,Fani masuk dan melihat Devano sudah tidur.


"Udah tidur belum sih?" tanya Fani entah kepada siapa,tidak ingin membuang-buang waktu Fani merangkak naik ke kasur Devano dia merebahkan tubuhnya,Fani memiringkan badannya ke arah Devano sejenak dia menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang ada di depan nya,satu kata yang ada di benak Fani, perfect.


Entah dorongan darimana Fani langsung memeluk tubuh kekar Devano,yang kebetulan juga menghadap kearah nya, gadis itu mencari posisi nyaman setelahnya tidak beberapa menit deru nafas teratur terdengar dari bibir itu.


Devano yang belum tertidur karena terusik saat gadis yang sekarang mendekap nya mengetuk pintu kamar nya tersenyum bahagia,dia tau gadisnya itu akan datang ke kamar karena tidak tega mungkin atas penolakan nya tadi dan ternyata feeling dia benar,gadisnya itu datang ke kamarnya dan sekarang memeluk dirinya, Devano tidak tinggal diam,dia menelusupkan salah satu tangannya diantara kepala Fani ,dan tangan lainya berada di pinggang gadis itu, Devano memeluk Fani dan setelah nya dia menyusul Fani kealam mimpi.


Derrt... derrt...derrt


Devano yang mendengar suara handphone berbunyi membuat nya yang nyaris terlelap kembali membuka matanya dengan terpaksa,dia meraih handphone nya dengan sebelah tangan tanpa berniat melihat sang penelefon laki laki itu menonaktifkan handphone nya nya dan melanjutkan tidurnya.


Hallo semuanya terimakasih sudah mampir dan membaca,jangan lupa like komen dan saran nya juga dukungan lainnya ya hehe 😇.

__ADS_1


Mungkin cerita nya agak gaje atau gimana aku minta maaf dan kedepan nya akan lebih di perbaiki lagi.


See you next chapter semua , sekali lagi terima kasih,TYM😇😇😇


__ADS_2