Kesayangan Tuan Muda Dingin

Kesayangan Tuan Muda Dingin
Bab 20


__ADS_3

" FANI DASI AKU YANG WARNA NAVY MANA??" suara menggelegar Devano terdengar sampai ke dapur hingga membuat Fani yang sedang memasak terkejut.


"Anjing lah,kurang ajar Devano babi,berasa jadi istri gue" gumam Fani sambil mengumpati tingkah Devano sebelum dia menjawab dengan berteriak,"ADA TADI DI ATAS BAJU KAMU"malas dia jika harus naik turun tangga lagi.


"Uhuk,,,uhuk,,, uhuk,kalau gini tiap hari bisa bisu gue kehabisan suara" ujar Fani sambil menepuk -nepuk dada nya yang sakit.


"GAK ADA FAN,CEPETAN BANTU CARI AKU ADA MEETING BENTAR LAGI,NANTI TELAT"teriakan Devano kembali terdengar hingga dapur yang membuat Fani kembali mengutuki laki-laki itu.


Tidak ingin merusak gendang telinga nya yang akan membuat nya tuli,maka Fani bergegas meninggalkan meja makan setelah dia selesai menghidangkan masakan nya di atas meja.


Menapaki setiap anak tangga hingga sampai di depan kamar Devano dia langsung membuka pintu kamar itu,dan terlihat lah penampilan Devano yang jauh dari kata sudah rapi,baju dia yang belum di kancing satupun ,rambut yang masih basah,jangan bilang laki-laki yang di depan nya ini baru siap- siap,jangan lupakan kamar nya yang berantakan seperti kapal pecah.


"Ya ampun Dave dari tadi ngapain aja,sampai baju pun belum rapi ,rambut basah juga berantakan,juga tadi dasi nya aku taruh di atas baju kok bisa hilang" cerocos Fani sambil mencari dasi yang ingin dipakai oleh Devano.


"INI APA HA!,kalau kamu cari nya pakai mulut sampai babi bertelur pun gak akan dapat "kesal Fani sambil mengangkat dasi yang di tangan nya ke arah wajah Devano.


Jujur sekarang Devano bingung mau melakukan apa,mau siap-siap dari mana dulu dia tidak tau.Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya entah kenapa setelah selesai mengerjakan pekerjaan nya dan tidur pukul 03.00 membuat dia ngantuk dan sekarang masih jam 5.45 gadis yang didepan nya ini sudah berkicau sedaritadi mulai dari membangunkan nya hingga saat ini,apa bibir gadis itu tidak pegal pikirnya.


Melihat Devano yang seperti linglung tidak tau harus melakukan apa,membuat dia menahan tawa bukannya apa,hanya saja terlihat lucu di mata nya,memang sih saat melakukan sesuatu itu dengan sangat terburu-buru membuat kita bingung sendiri bahkan ingin menangis saja,bukan nya cepat malah makin lambat dan hasilnya akan sangat jauh dari kata baik.


Fani melangkah ,mendekat ke arah devano hingga posisi mereka saat ini berhadapan,Fani mengancingkan baju Devano satu persatu hingga selesai,"sekarang masukkan blus nya!"Devano yang mendengar nya hanya diam dan menurut saja,Fani mengambil dasi yang dia dapat dari bawah handuk yang yang tergeletak di kasur,entah kenapa mata elang Devano tidak bisa melihat dan menemukan dasi itu.


Fani memasang kan dasi itu ke leher Devano ,karena tunggi mereka berbeda agak sedikit jauh membuat Fani harus berjinjit itupun tidak membuat tinggi mereka sama tapi pas lah untuk dia memasang kan dasi itu,melihat hal itu membuat Devano sedikit menunduk agar lebih mudah untuk Fani memasangkan dasi nya,saat ini posisi kedua nya sangat dekat,hingga hembusan nafas kedua nya saling terasa di wajah mereka masing-masing.


Devano bisa melihat wajah Fani dari dekat,sangat cantik pikir nya,raut wajah Fani yang dengan serius memasangkan dasi nya sangat menggemaskan di mata nya, 'huft...' Devano yang gemas dengan wajah Fani membuat nya tidak tahan untuk menggigit wajah chubby fanj,tapi berhubung dia masih waras dia hanya meniup nya saja,yang membuat Fani refleks memejamkan mata nya.


"CK" Fani berdecak kesal sambil memukul lengan Devano,yang membuat nya meringis bukan karena sakit,tapi kalian tau sendirilah.


"Duduk!" suruh fani sambil menunjuk kasur yang paling dekat dengan mereka,Devano menurut, dia duduk dan melihat Fani yang mengambil handuk dari atas kasur dan mengeringkan rambut nya,urusan selanjut nya untuk menyisir dan jajaran nya itu urusan Devano.


"Dah,sekarang turun kebawah terus sarapan habis itu ke kantor"dengan memasangkan jas Devano Fani berucap.


"Gak sempat fan,aku udah telat tadi Damian bilang klien nya udah nunggu" jelas Devano,karena memang itu ada nya,mereka berjalan beriringan ke bawah dengan Fani yang memegang tas kerja Devano.

__ADS_1


"Udah gih,berangkat sana nanti aku bawain sarapan" ujar Fani sambil menyerahkan tas nya ketangan sang pemilik.


"kita gak berangkat bareng?" tanya Devano.


"Enggak,aku bareng Fira dia udah di jalan kok" jelas Fani dengan senyum manis di bibir nya.


"Ya udah aku duluan kalau gitu" ucap nya melangkah ke arah pintu utama tapi sebelum nya dia mengusap lembut pucuk kepala Fani yang membuat gadis itu membisu,dan jantung nya berdegup kencang," dasar devanjing gerutu nya sambil menyiapkan bekal untuk bos arogan nya itu.


Tidak berselang lama suara klakson yang berulang kali berbunyi terdengar dan bisa dia tebak itu adalah ulah Fira sahabat nya,dia melangkah kearah pintu utama dan yap tebakan nya benar dia bisa melihat sabahat laknat nya itu sedang menyengir tanpa dosa.


"Udah gih,naik gak usah ngebacot entar aja pending dulu bun,kita berangkat dulu entar telat loh gak liat ini udah jam berapa " cerocos nya menghentikan Fani yang ingin mengeluarkan jurus bacotan nya.


Dan,benar saja sahabat nya itu diam dan bergegas naik ke motor nya,Fani pun menyalakan motor nya dan membawa nya untuk bergabung dengan kendaraan lain di jalan besar.


***


Memang waktu berjalan begitu cepat dan sangat tidak terasa,Fani sudah satu bulan tinggal bersama devano ,tapi bukan di mansion utama melainkan rumah minimalis berlantai tiga.


Dan sesekali ke mansion utama untuk mencek keadaan mansion itu, seperti biasa sebelum pindah mereka melalui perdebatan yang panjang dulu dan hasil nya tetap sama yang memenangkan perdebatan itu adalah Devano simanusia arogan,dan pemaksa.


Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di perjalanan Devano sudah sampai di parkiran khusus kantor nya,senyum nya tidak pernah luntur saat mengingat perhatian Fani tadi pagi mulai mengancingkan rambut nya hingga dia berangkat ke kantor semua yang dilakukan gadis itu tidak pernah luput dari perhatian nya,bahkan ocehan gadis itu sangat merdu di telinga nya,sudah gila memang.


Dia ingin mengikat gadis itu dengan status yang jelas sebenarnya,namun rasa takut akan ditinggalkan oleh gadis itu suatu saat membuat dia mengurungkan niat nya karena menurut hal itu akan sangat menyakitkan daripada ditinggalkan dengan tidak memiliki status.


Hingga dia sampai diruangan nya senyum nya tak pernah luntur,hingga karyawan dan staf yang melihat nya merasa heran,karena CEO mereka itu tidak pernah tersenyum seperti itu,bahkan membalas sapaan mereka saja bos mereka itu ogah-ogahan.


Damian masuk keruangan Devano ,dan dia dapat melihat bos sekaligus sahabat nya itu senyum-senyum sendiri seperti orang yang ketempelan atau lebih ke orang kurang waras sih lebih tepat nya.


"Pak bos kayak nya bahagia benar dah"sindir Damian yang melihat Devano tudak sadar akan kedatangan nya.


Devano menoleh mencari suara yang terdengar di telinga nya dan melihat Damian sudah ada didepannya.


"Udah gue bilang kalau masuk ke ruangan gue itu ketuk pintu dulu" peringat Devano untuk kesekian kali nya.

__ADS_1


"Gue dari tadi udah ngetuk pintu nya ya,lo nya aja yang budeg gak dengar karena asik ngelamun lagi mikirin fani kan?" tebak Damian benar tapi di sangkal oleh Devano.


"Jujur aja sih ,kita udah lama berteman,jadi gue gak bisa lo bohongin,tapi kalau memang lo suka sama dia lo ikat dia dong dengan status yang jelas,entar di embat orang nangis,kalau alasan lo takut ditinggal klise bro lagian juga kayak nya Fani orang nya tulus ,dan mau sampai kapan lo kayak gini gak berani melawan rasa takut di hati lo?" cerca damian panjang kali lebar kali tinggi.


Sebelum Devano menjawab Damian sudah kembali memotong "Gak usah lo jawab , lo diam aja renungi dulu baik nya gimana ,sekarang kita meeting dulu,klien nya udah nungguin dari tadi,bisa bisa orang itu lumutan ,haha"canda Damian di akhir kalimat nya.


Mereka pun melangkah dan masuk ke ruang meeting dan memulai rapat.


***


Setelah selesai meeting dengan klien mereka Devano dan Damian kembali keruangan mereka masing-masing.


Devano melangkah masuk dan duduk di kursi kebesaran nya,tidak berselang lama suara ketukan pintu terdengar, tok tok tok,"Masuk" suruh Devano dan pintu terbuka dia bisa melihat Fani masuk sambil membawa paper bag,dia bisa tau itu bekal karena mengingat ucapan gadis itu tadi pagi.


Fani masuk langsung menuju sofa yang ada di ruangan itu dan mengeluarkan bekal yang dia bawa dan menyusun nya dimeja yang ada di depan nya.


"Meeting nya gimana tadi, lancar?"Tanya Fani melihat ke arah Devano yang sudah duduk di samping nya.


"Iya lancar" jawab nya seadanya serta senyum yang terukir di bibir nya,sungguh senyum itu sangat tidak baik untuk kesehatan jantung Fani.


"Nih makan" sambil menyerahkan bekal yang sudah dia siapkan ke arah Devano.


"Suapin"mengarahkan mulut nya yang terbuka ke arah Fani,jika sudah begini pasti gadis itu tidak akan mampu menolak nya lagi.


Suapan demi suapan dia berikan ke Devano hingga makanan yang dia bawa habis tak tersisa, kadang fani bingung dengan status mereka ini sebenarnya apa,jika hanya sebagai bos dan bawahan ini sudah sangat jauh melenceng tapi jika dibilang sepasang kekasih itu lebih tidak mungkin lagi,tapi jika dilihat dengan mata maka bisa di bilang iya.


Kalau di tanya bagaimana perasaan nya dia akan menjawab kalau jantung nya akan berdetak dua kali cepat jika berdekatan dengan Devano dan rasa nyaman akan dia rasakan bersamaan juga.


Akh tapi dia bisa apa? yang bisa dia lakukan adalah mengikuti alur nya saja,jika dia yang akan mengutarakan isi hatinya terlebih dulu dia takut akan dua hal yang pertama dia takut perasaan nya bertepuk sebelah tangan dan yang kedua laki laki ini memang menerima nya namun akan berperilaku semena - mena dengan nya,karena disini seolah-olah dia yang berjuang untuk mendapatkan hati laki-laki itu.


Melihat gadis didepannya ini yang melamun seperti memikirkan sesuatu membuat senyum Devano pudar ,apakah ada hal yang mengganggu pikiran Fani pikir nya.


" Kamu kenapa?" tanya nya lembut sambil memegang bahu gadis itu agar tersadar.

__ADS_1


"Ha kenapa kenapa,aku?," bingung nya memastikan ucapan devano tadi apa mengarah ke padanya"aku gak papa kok,yaudah aku keluar dulu,semangat pak bos" selesai menyusun tempat bekal yang dia bawa dia berdiri dan keluar tanpa mempedulikan Devano yang ingin mengeluarkan suara.


Devano hanya bisa menghela nafas melihat kepergian gadis itu, tapi yang pasti gadis itu pasti memikirkan sesuatu yang dia tidak bisa tebak apa itu.


__ADS_2