
" Baiklah, aku akan pergi dari rumah mu untuk sore hari ini tapi besok aku akan kembali lagi ke rumah mu untuk mengunjungi mu di rumah mu yang sederhana dan hangat ini. " Kata Luis nada sabar menghadapi Marinka Florentina.
" Iya, ya..Nah, cepatlah kau pergi dari rumah ku. " Kata Marinka Florentina dengan tangannya itu memberi syarat untuk Luis pergi dari rumahnya dengan cepat.
Luis pun pergi dari rumah kontrakan tempat tinggal Marinka tanpa ada beban sedikitpun. Ia merasa cukup puas hati karena Ia sudah tahu nama , alamat rumah dan nomor HP gadis cantik pemikat hatinya itu.
" Dia sudah pergi..! " Kata Marinka Florentina menghela napas lega.
" Marinka, laki-laki itu siapa kamu ? " Tanya pria muda yang tinggal di rumah kontrakan sebelah rumah kontrakan Marinka Florentina.
" Bukan urusan mu. " Jawab Marinka Florentina nada judes kepada tetangganya.
" Ehh, eg urusanku juga karena kamu di titipkan oleh Tante Ramona kepada ku sebelum beliau pergi bekerja ke luar negeri sebagai TKW. " Kata cowok tetangganya dengan nada suaranya amat berhak terhadap segala urusan tentang hidup Marinka Florentina.
" Umm, tapi kan ? Kamu gak usah terlalu ikut campur urusan pribadi ku, Derby." Kata Marinka Florentina nada judes kepada Derby nama pria muda tetangganya seraya menutup pintu rumah kontrakan nya.
" Wah, ada saingan untuk mu, Der. " Kata salah satu dari tetangganya yang lainnya dengan nada sinis.
" Trus aku harus bilang ' Wow' begitu untuk aku rayain kemunculan saingan ku dalam meraih cinta Marinka Florentina?" Tanya Derby dengan nada judes kepada tetangga yang lebih bawel lagi.
******
Wulandari setiap satu jam sekali melihat hpnya untuk memastikan bahwa ia akan mendapatkan balasan WA atau telepon nya dari Edmundo pria pujaan hatinya yang sedang bekerja di luar negeri yakni di negara Perancis di ruang kerjanya di kantor pusat perusahaan Star Leon.
" Hemm, sesibuk itu kah kamu, Edmundo? " Tanya Wulandari menatap foto cowok ganteng di layar HP nya.
Dan, hpnya itu berbunyi nada WA masuk yang membuatnya berharap kalau WA nya dapat balasan dari Edmundo tetapi WA itu datang dari teman baiknya yang bernama Linda Christanty.
__ADS_1
" Hai, Wulan. Cepatlah kamu turun ke bawah dan temui aku Linda Christanty temanmu..! Sekarang juga..! " Suara pesan dari temannya itu.
" Umm.. " Gumam Wulandari manyun sebelum Ia menemui temannya di lobi kantor nya.
Linda Christanty menyambut kedatangan Wulan dengan senyuman ceria sambil merangkul gadis cantik sahabatnya itu lalu menggandeng tangan Wulan untuk di bawa ke sebuah kafetaria yang berada di seberang kantor nya.
" Ada apa sih , Lin ? Kok tumben kamu datang ke kantor ku di jam siang hari gini?" Tanya Wulan begitu tiba di bangku kafetaria kepada Linda Christanty.
"Aku mau berikan kartu undangan pesta alumni kampus kita yang akan jatuh pada akhir pekan ini kepada mu. " Jawab Linda Christanty dengan senyum cerah kepada Wulandari.
Wulandari menerima kartu undangan tersebut dengan setengah hati namun dengan sopan. Ia membuka dan membaca surat undangan alumni kampusnya yang Ia dapatkan dari Linda teman baiknya.
" Kau harus datang di hari itu karena kamu akan berjumpa dengan banyak teman -teman kampus kita dahulu yang sudah lama sekali tidak kita jumpai seperti Maudy, Eleonora dan Camila yang jadi teman-teman satu geng kita di kampus kita dahulu di Nanyang Universitas, Singapore. " Kata Linda Christanty dengan nada antusiasme yang tinggi untuk mengajak temannya untuk datang ke acara mantan kampus mereka.
" Berarti aku harus pergi ke Singapura untuk akhir pekan ini?" Tanya Wulandari dengan nada enggan untuk menerima undangan tersebut dari temannya.
" Baiklah, Linda. " Kata Wulandari akhirnya mau juga untuk mengikuti acara tersebut.
******
Sore hari yang berangin menerpa wajah Gino dan Hendro yang berjalan dengan gontai untuk mengungkapkan perasaan lelah mereka yang berkeliaran di Jakarta Selatan untuk mencari pekerjaan yang cocok dengan mereka.
" Kita belum dapat pekerjaan hari ini, Gin. " Kata Hendro yang menunjukkan kantong celananya sudah tak ada uang receh lagi kepada Gino.
" Iya, besok pagi kita usaha lagi dengan malam hari ini sehabis makan malam kita buka laptop untuk cari pekerjaan di daerah lain. " Jawab Gino tetap optimis untuk mendapatkan pekerjaan di kota Jakarta.
" Ya, tapi kita harus cari makan dahulu deh untuk isi perut kita yang seharian ini belum ketemu yang namanya nasi padang. " Kata Hendro nada merana kepada Gino seraya mengelus -elus perut berlemak nya itu.
__ADS_1
" Kau ini uang kita tinggal dua ratus ribu rupiah tapi kau minta di belikan makan malam nasi padang yang mahal. " Kata Gino menatap sebal kepada Hendro tetapi tidak pernah ada rasa tega hati untuk membiarkan sahabatnya kelaparan.
Gino pun tetap membelikan Hendro makan nasi padang di dekat lampu merah sebelum mereka berjalan pulang ke rumah sewa mereka yang ada tulisan ' Aku Cinta Uang Daripada Wanita Dan Pria'.
" Siapakah yang menulis nama seperti itu di depan rumah sewa kita ?" Tanya Luis yang telah di lihat oleh mereka berdua dengan kedua jemari tangan pria itu berada dipinggang.
" Yang jelas bukan kami karena kami baru pulang dari cari kerjaan yang sampai saat ini belum juga kami temukan. " Jawab Gino.
" Kami dapatnya nasi padang lima bungkus untuk kita berlima di rumah sewa kita, " Timpal Hendro menunjukkan bungkusan isi lima bungkus nasi padang di depan hidung Luis.
" Ahh...! " Luis menghembuskan napasnya di depan pintu masuk rumah sewa.
" Tara..! " Seru Rosie dan Jelly serta gadis lain di rumah sewa menyambut mereka di depan pintu masuk.
" Kaget aku! " Kata Hendro memegangi dadanya yang gempal.
" Kalian bawa pulang apakah di bungkusan di tangan kalian ?" Tanya Jelly tertawa riang tanpa beban di hadapan mereka.
" Dia itu siapa? Kenapa kalian bawa masuk orang asing ke rumah kita dengan sembarangan saja ?" Tegur Luis masam.
" Oh, dia teman kami yang baru datang ke kota ini dan namanya Bella atau Isabella. " Jawab Rosie ramai.
" Ahh.. Lalu dimana Ia akan tidur setelah kamar di rumah ini sudah penuh semua?" Tanya Gino menjitak kepala kedua orang gadis itu dengan gemas.
"Di kamar ku lah, " Jawab Jelly yang tangannya akan merebut bungkusan plastik di tangannya Hendro.
" Bayar dulu kalau Ia mau tinggal di rumah sewa kita ini..! " Kata Hendro yang menunjuk ke papan nama rumah sewa mereka yang sesuai dengan ucapan nya itu kepada Jelly yang diam seketika itu juga.
__ADS_1
Bersambung!