
Marinka melihat kedatangan Wulandari Kakak kembarnya dari balik punggung Luis yang di rangkul dengan kedua lengannya dan di cium mesra olehnya di halaman depan mansion Leon untuk mengantarkan kekasihnya pulang. Dan, Ia tak sengaja melihat sorotan mata pedih dari sepasang mata Wulandari yang terlihat dengan jelas olehnya.
" Wulan, lihatlah adikmu itu dengan jelas berapa ia berani sekali bermesraan dengan pacarnya di rumahmu sendiri seakan-akan ia tidak memiliki rasa hormat kepadamu sebagai Kakaknya dan pemilik mansion Leon. " Kata Erwin dengan nada pelan kepada Wulandari seraya mencibir ke arah Marinka di depan sepasang mata mereka.
" Erwin, kau jangan bicara seperti itu mengenai Marinka adikku yang hanya ingin menunjukkan kebahagiaan yang dimilikinya kepada kita yang menjadi saudari dan teman baiknya. " Kata Wulandari dengan halus mencela ucapan Erwin terhadap adiknya.
Luis membalikkan badannya dengan tepat sekali dan berhadapan dengan Wulandari dan Erwin dengan ekspresi wajahnya datar sekali namun ia tetap menyapa keduanya dengan ramah.
"Kalian sudah datang untuk menyusun rencana yang ingin kalian bahas dengan pacarku yang cantik ini? " Luis dengan senyuman manisnya kepada Wulandari dan Erwin.
" Iya, Luis. Kami telah datang untuk menyusun rencana kami dengan Wulan. " Jawab Wulan kepada Luis dengan senyumnya sehingga hati Luis bagaikan di tusuk belati ya jam tak terlihat.
Luis pun melewati mereka untuk meningkatkan Mansion Leon secepatnya agar dirinya tak terlalu lama merasakan sakit pada hatinya yang di sebabkan oleh senyuman manis Wulandari yang mengingatkan dirinya tentang peristiwa yang telah terjadi di antara dirinya dan Marinka pada kemarin malam di mansion Leon.
" Nona, apakah anda kedatangan dua orang tamu yang mengunjungi rumah anda? " Tanya Bibi Erna yang mendatangi Marinka di teras dan melihat kedatangan Wulandari dan Erwin yang menaiki tangga menuju ke teras mansion Leon.
" Iya, Bi. Mereka adalah dua orang sahabatku yang bernama Marinka Florentina dan Erwin. " Jawab Marinka yang memperkenalkan Wulan dan Erwin kepada Bibi Erna.
"Wah, selamat pagi dan selamat datang untuk Nona Marinka dan tuan muda Erwin. Mari anda berdua masuk ke dalam...! " Sapa Bibi Erna dengan nada sopan kepada Wulandari dan Erwin tanpa melihat airmata kesedihan di sepasang mata Wulandari yang merasakan rindu yang mendalam terhadap pengasuh nya itu.
" Ah, iya Bibi Erna terimakasih. " Jawab Erwin mewakili Wulandari yang di rangkul Marinka dengan cepat lalu di ajak masuk ke ruang tamu oleh adik kembar gadis manis itu.
Bibi Erna segera memanggil para pelayan untuk menyuguhkan hidangan tamu untuk kedua orang tamu dari Nona Wulandari nya yang tersayang baginya.
__ADS_1
******
Rumah sewa ' Aku cinta uang bukan cinta pria dan wanita' , Jakarta.
Pintu gerbang terbuka untuk Luis yang berjalan masuk dengan wajahnya lesu sekali dan duduk di kursi depan pintu kayu sampai Ia tak sadar kalau Gino memanggilnya dari dalam ruang TV.
" Luis, apakah kamu baru saja pulang dari kerja semalaman? " Tanya Gino yang menghampiri Luis seraya memberikan segelas kopi kepada Luis.
" Iya, semalam aku lembur, makasih ya buat kopi yang enak banget ini. " Jawab Luis tersenyum kepada Gino seraya meneguk kopinya.
" Kalau begitu sehabis minum kopi sebaiknya kamu bantu kami untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga sebagai pengganti kami yang pagi ini harus berangkat kerja cepat-cepat. " Kata Gino yang menepuk-nepuk bahunya kepada Luis yang menganggukkan kepalanya saja untuk sahabatnya itu.
" Gino, ayo cepat kita harus berangkat kerja sekarang juga! " Teriak Hendro dan teman -temannya yang lainnya yang berjalan dengan tergesa-gesa dari dalam rumah ke arah pintu gerbang.
Luis menghela napas dalam-dalam untuk dirinya bisa menghilangkan rasa sedih di hatinya itu lalu menyibukkan dirinya dengan membersihkan seluruh ruangan di rumah yang di mulai dari menyapu lantai, mengepel lantai, cuci piring dan lap -lap jendela, kursi dan sebagainya.
" Astaga cucian menumpuk banget nih. " Kata Luis yang melihat keranjang cucian baju kotor di dekat mesin cuci di samping kamar mandi.
" Hai, Luis tumben banget kamu mau mencuci pakaian semua. " Kata Isabella gadis cantik yang tinggal bersama dengannya dan teman-teman nya. Ia menoleh kebelakang dan melihat teman satu kostan nya itu duduk santai di sofa panjang di depan TV sambil memegangi semangkuk mie instan goreng.
Bella, kamu tak kerja hari ini? " Tanya Luis yang menatap gadis cantik yang sedang sibuk makan mie instan goreng.
"Tidak, aku hari ini libur kerja gantian dengan rekan kerjaku di toko sepatu." Jawab Isabella dengan apaadanya, lalu bertanya kepada Luis dengan menengok dari TV kepada Luis. "Kenapa emangnya??
__ADS_1
"Bagus sekali karena aku mau pergi tidur yang dan urusan untuk mencuci pakaian ini aku serahkan kepada mu yang mengerjakannya. " Jawab Luis dengan senyumannya kepada Isabella sebelum kabur ke lantai atas sebelum di teriakin Isabella dari lantai bawah.
" Luisssss..! Dasar kamu yaaaa...! " Suara gadis itu menggelegar di seluruh rumah.
Luis membaringkan tubuhnya di ranjangnya lalu memejamkan sepasang matanya dan tertidur pulas sekali di sepanjang hari itu sehingga ia tak mengetahui bahwa teman-teman nya telah pulang kerja dan menemukannya masih tidur di ranjangnya.
" Astaga, Ia sudah tidur seharian penuh masih juga belum bangun. " Kata Romi Fernandez kakaknya yang menyentuh dahinya dan terkejut dengan suhu tubuhnya.
" Dia sakit demam. " Kata Romi Fernandez yang cepat meminta Hendro bawakan alat pengukur suhu tubuh yang terdapat di dalam kotak p3k di dapur untuk mengukur suhu tubuh Luis.
" Astaga, tiga puluh sembilan derajat celcius. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit terdekat." Kata Hendro dan yang lainnya dengan nada cemas kepada Romi Fernandez.
" Iya, cepatlah kamu siapkan mobil di luar rumah dan untuk yang lain tolong siapkan pakaiannya untuk di bawa ke rumah sakit. " Kata Romi Fernandez dengan nada mendesak kepada Hendro dan yang lainnya.
" Iya, Romi...! " Sahut teman-teman nya dengan cepat, lalu mereka bergegas menuju ke rumah sakit untuk menyembuhkan Luis.
Di rumah sakit, Luis mendapatkan perawatan yang terbaik oleh Dokter yang menyatakan bahwa Luis menderita sakit demam berdarah sehingga Luis harus di rawat inap selama lima hari.
******
Rumah kontrakan, Jakarta Barat.
Pada pagi hari yang sama, Lorenza mengunjungi rumah kontrakan yang di tempati oleh Kakak dan adik angkatnya yang bernama Reza dan Ammar setelah rumah yang pernah di tempati oleh Nenek Zubaidah telah di tempati oleh orang lain usai mereka tak bisa membayar biaya kontrakan rumah.
__ADS_1
Bersambung!