Kesetiaan Cinta

Kesetiaan Cinta
Melodi Kenangan.


__ADS_3

Ingatan di masa lalu terngiang-ngiang dalam diri Dokter Andre yang terkenang dengan jelas di benaknya mengenai Tuan Leon dan Ramona serta Nyonya muda Reinawati di klinik Dokter Johan di daerah Sukabumi.


"Aku hanya bisa mendoakan agar Ramona bisa hidup bahagia dengan anak-anaknya. Itu saja untuk sekarang ini. " Kata Dokter Andre yang menghela napas dalam-dalam lalu berjalan ke kamar.


Marinka Florentina memandang kosong langit malam melalui jendela kamarnya. Ia belum bisa tidur karena Ia memikirkan hari esok, dimana ia akan memulai misinya di rumah besar Kakak kembarnya itu.


" Rinka, kenapa kamu masih belum tidur?" Tanya Wulandari Putri Leon saudarinya itu yang datang ke kamarnya.


" Aku sudah tidur tadi namun aku sekarang tak bisa tidur lagi. " Jawab Marinka Florentina yang berjalan ke ranjang dan duduk di tepi ranjangnya.


" Kenapa?" Tanya Wulandari Putri Leon yang ikut duduk di tepi ranjang di sampingnya.


"Nggak ada apa -apa, aku cuma pengen bilang aku mau bawa adikku ke rumah mu esok pagi. " Jawab Marinka Florentina dengan senyumnya kepada Wulandari Putri Leon.


" Adik? Apakah kamu mempunyai adik lain selain Lorenza?" Tanya Wulandari Putri Leon menoleh kepada saudari kembarnya.


" Ya, lihatlah itu adalah adikku. " Jawab Marinka Florentina yang menunjuk ke arah kotak musik putar yang memiliki cahaya lampu yang terang benderang di samping ranjangnya kepada Wulandari Putri Leon.


" Wah, cantik sekali adikmu ini. Siapakah nama adik mu itu? " Wulandari Putri Leon tersnyum pada Marinka Florentina.


" Adik Rinka. " Jawab Marinka Florentina yang memeluk mainan itu dengan kasih sayang.


" Wah, adikmu cantik sekali seperti kamu kakak nya. " Puji Wulandari Putri Leon dengan kasih sayang terhadap Marinka Florentina.


" Ya, kau juga cantik Kak Wulan. " Ucap Marinka Florentina membalas senyuman Wulandari Putri Leon yang berlinang airmata menahan rasa haru di panggil Kakak oleh Marinka Florentina salah satu dari dua adik kembarnya itu.

__ADS_1


" Rinka..! "


Wulandari Putri Leon merangkul Marinka dengan erat dengan menangis bahagia.


" Kak Wulandari, kamu jangan menangis lagi ya? Kita'kan sudah berkumpul bersama lagi. " Kata Marinka Florentina yang memeluk Wulandari Putri Leon sambil berbaring bersama-sama di ranjang.


Pagi harinya, mereka berdua terbangun dengan senyuman cerah di tempat tidur yang sama. Lalu mereka juga menghabiskan waktu untuk mandi bersama-sama juga untuk menjalin keakraban sesama saudari kembar.


Di saat mereka berdua datang ke ruang makan. Mereka menemukan Luis Fernando sudah datang ke rumah mereka dan duduk bersama dengan Mama mereka dan teman-teman mereka di ruang makan.


"Selamat pagi semua..! " Sapa keduanya dengan ceria kepada semua orang yang mereka kasihi.


"Wah, selamat pagi juga untuk kalian berdua yang sepertinya sedang gembira sekali di pagi hari ini. " Jawab Ramona yang menyambut putri -putrinya dengan senyuman kasih.


" Ya, Ma. Kami sedang bahagia karena kami hari ini akan memulai misi kami untuk balas dendam terhadap Edmundo si bajingan tua tak tahu diri. " Kata keduanya dengan senyuman cerah dan juga semangat kepada Ramona dan teman -teman mereka.


" Lorenza...!!"


" Hai...! "


" Halo! "


Mereka bertiga saling menyapa satu sama lain sampai semua orang di ruang makan terpesona dengan senyuman cantik mereka bertiga yang semuanya mirip sekali meskipun Wulandari Putri Leon kini mempunyai wajah yang berbeda dengan kedua gadis lainnya.


" Anak -anakku, mari kita duduk dan sarapan pagi bersama-sama. " Kata Ramona dengan senyuman bahagia kepada anak-anaknya yang segera menghampiri dirinya dan memeluknya dengan penuh cinta.

__ADS_1


" Mama, kami sayang kepada Mama..! " Kata ketiganya yang kini saling menyuapi sarapan pagi dengan tawa yang meramaikan rumahnya Ramona.


Ramona memejamkan sepasang matanya usai Ia membayangkan hari itu di benaknya ketika ia melihat Marinka Florentina dan Wulandari Putri Leon saling berpelukan dan akhirnya tidur di ranjang yang sama.


" Ahh, di benakku selalu membayangkan betapa indahnya jika kami selalu bersama-sama seperti sekarang ini sampai aku mengkhayal akan di sini terdapat kehadiran Lorenza juga. " Batin Ramona yang bersedih hati.


Ramona melewati pintu kamar tidur Marinka Florentina dan berjalan kembali ke kamarnya. Ia di kejutkan dengan suara alat musik saxophone di pekarangan rumahnya. Ia pun merasa tertarik untuk mengetahui siapa orang yang memainkan alat musik itu di depan rumahnya.


" Tuan Leon??? " Pikir Ramona saat ia membuka gorden di ruang tamunya. Ia melihat siluet tubuh pria yang menjadi ayah kandung dari ketiga orang putrinya itu.


Namun, usai Ia perhatikan saksama ternyata orang itu bukanlah Tuan Leon melainkan Dokter Yudi teman dari dokter Andre yang sedang asyik meniup saxophone dengan mengalunkan melodi yang pernah menjadi kenangan indah di masa lalu Ramona.


" Ramona, aku mengharapkan kamu untuk bisa mengandung dan melahirkan seorang anak untukku karena itu aku membeli rahim mu itu. " Kata Tuan Leon pada waktu itu kepada Ramona.


" Ya, aku juga mau membiayai pengobatan ayah ku yang membuat aku mau menjual rahim aku untuk mu. Jadi, silakan kamu ikuti saran dari dokter Johan yang akan memberikan anjuran program bayi untuk ku. " Kata Ramona yang juga ingin mendapatkan uang yang banyak untuk ia bisa membiayai pengobatan ayahnya.


" Marilah kamu ikuti aku ke ruangan dokter Johan. " Kata Tuan Leon mengajaknya ke ruang dokter Johan. Tetapi, ruangan itu sepi sekali dan Ia terpaku pada tatapan mata sendu Tuan Leon yang membelenggu dirinya, Ia pun melupakan metode bayi tabung yang di sarankan oleh Dokter Johan kepadanya.


Tuan Leon membelenggu dirinya lalu menaruh dirinya di atas ranjang di ruang kerja dokter Johan dan terjadilah hubungan intim di antara dirinya dan Tuan Leon.


Kenangan lain muncul di benaknya ketika ia tahu dirinya telah hamil anak Tuan Leon setelah hari itu. Ia pun segera menemui Tuan Leon di depan gereja tua di dekat klinik Dokter Johan. Di sana, Tuan Leon memberinya ciuman mesra yang amat dirindukan olehnya itu.


" Kau telah jatuh cinta kepada aku, Tuan Leon. Namun, kamu enggan mengungkapkannya karena kamu tidak mau menyakiti istri sah mu di rumahmu. " Kata Ramona kepada Tuan Leon di hari yang lain di waktu mudanya.


" Aku kecewa dengan Reinawati yang ternyata bukan wanita baik-baik yang selama ini aku kenal dan dia telah menyerahkan dirinya kepada pria lain sebelum ia menikah dengan aku yang katanya di cintainya itu, dan hal ini membuat aku kehilangan rasa cinta yang aku miliki kepada dirinya. " Kata Tuan Leon dengan dahinya yang halus itu berkerut menahan kepedihan hatinya yang terlihat oleh Ramona.

__ADS_1


Bersambung!


__ADS_2