
Jelly dengan rahang mengeras telah maju dan memukul papan nama dan alamat rumah sewa yang sedang di perebutkan olehnya dan Rosie dengan ketiga orang pemuda kampung yang amat menyebalkan baginya itu.
Plang!
" Diam kalian semua dan lihat sendiri saja alamat rumah ini benar atau salah dengan kertas bau mu itu, gendut! " Kata Rosie mendelik marah kepada Hendro yang memaksanya untuk memegang kertas yang sudah kotor dengan noda saus dan semacamnya.
Luis yang ingin maju untuk mendamaikan semua orang itu tak sengaja melihat ke pintu gerbang rumah sewa yang telah ambruk oleh pukulan kasar Jelly telah terbelalak.
" Kita batalkan saja untuk menyewa rumah Pak Nasar.. " Kata Luis menarik kedua temannya.
" Lho kenapa emangnya?" Tanya Hendro dan Gino heran kepada Luis.
"Lihat sendiri saja " Jawab Luis dengan dagunya memberi kode untuk kedua temannya melihat pintu gerbang rumah sewa dan keduanya kaget seketika itu juga.
" Aha, ya.. Kita cari saja rumah sewa yang lain. " Kata kedua temannya mengerti sekali maksud hatinya itu.
Mereka bertiga sudah akan melangkah pergi dari depan rumah sewa itu namun mereka telah di hadang oleh Jelly dan Rosie yang rupanya telah melihat pintu gerbang rumah sewa telah rusak.
" Tunggu! Kalian tak bisa pergi begitu saja usai kalian telah membuat aku marah dan memukul pintu gerbang rumah sewa itu hingga ambruk! Jadi, kesalahan ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab kalian," Kata Jelly dengan nada menuntut kepada ketiga cowok itu
" Tak bisa begitu dong! Kau yang telah merusak nya bukan kami maka tanggung jawab kamu dan teman mu itu, " Kata Luis dengan nada yang membela keadilan di pihaknya kepada Jelly dan Rosie.
" Iyaa.. " Jawab Rosie gugup dengan ketegasan di wajah tampan Luis akan kebenaran tentang pintu gerbang rumah sewa yang betul-betul telah di rusak secara tak sengaja oleh Jelly.
__ADS_1
" Hei, Rosie. Kau membela siapa ? Aku teman mu loh bukan mereka?" Tanya Jelly menegur teman nya itu.
Hendro dan Gino tertawa keras mendengar kedua orang gadis itu kini bertentangan karena kata -kata tegas dan wajah tampan Luis yang mempesona kedua gadis itu.
"Aku tak membela siapa-siapa, aku hanya melihat kenyataannya bahwa kamu yang telah merusak pintu gerbang rumah sewa itu dengan tenaga mu yang seperti kerbau membajak sawah di kampung kita. " Jawab Rosie gugup membela dirinya dari teguran sahabatnya sendiri yang melototi nya.
" Hahaha mereka saling bertengkar karena kamu terlalu tampan Luis " Kata Hendro dengan tawa renyahnya.
"Iya, tuh mereka jadi musuh secara mendadak..! " Timpal Gino tertawa-tawa sampai menangis sendiri.
"Aneh sekali mereka itu.. " Kata pria tua yang menggeleng-geleng kepala mengamati mereka.
" Hei, Nasar! Siapakah yang telah membantuku untuk membongkar paksa pintu gerbang rumah ku yang ingin aku ganti dengan pintu gerbang yang baru? " Terdengar seorang pria tua lain yang menanyakan tentang pintu gerbang rumah nya kepada pria tua yang berdiri di samping kiri rumahnya.
"Eh, aku tak tahu tentang siapa yang membantu mu membongkar paksa gerbang rumah mu, Eko. Tapi, aku tahu siapa yang ingin menyewa rumah kita dengan harga murah. " Jawab Pak Nasar yang secara tak langsung telah menyinggung mereka.
" Aha siapakah orangnya?Apakah mereka lima orang muda rese itu?" Tanya Pak Eko dengan melihat ke arah Luis, Hendro, Gino, Jelly dan Rosie yang memasang wajah selugu mungkin.
"Bukan kami! " Jawab kelima nya serentak.
" Siapa lagi jika bukan mereka? Bukankah tadi kita sudah mendengarkan perdebatan mereka tentang rumah sewa kita ?" Tanya Pak Nasar dengan senyuman yang mematikan kepada Luis dan yang lainnya.
" Ah, ya betul sekali kata Nasar. " Jawab Pak Eko yang melalui tatapannya membuat kelima orang muda itu menundukkan kepala mereka dengan perasaan jengah dan malu.
__ADS_1
Lalu,mereka berlima di panggil untuk masuk ke rumah di sebelah rumah yang gerbangnya sudah ambruk itu untuk di minta penjelasan mengenai keinginan mereka untuk menyewa rumah sewa yang mereka inginkan namun sesuai dengan harga di kantong mereka.
" Siapa di antara kalian yang mempunyai kerabat dekat dengan istriku di tegal? " Tanya Pak Nasar dengan memandang kelima nya yang duduk di sofa panjang berdampingan.
" Aku, Paman. " Jawab Luis dengan nada sopan dan hormat kepada Pak Nasar.
" Namamu Luis Fernando? " Tanya Pak Nasar kepada Luis.
" Iya, Paman Nasar. " Jawab Luis jujur.
" Hmm, aku pernah mendengar bahwa kamu ini lulusan universitas terbaik di luar negeri di bidang hukum. Apakah itu benar informasi yang kudapatkan dari istriku di Tegal? " Tanya Pak Nasar kepada Luis dengan nada menyelidiki.
" Iya, itu benar apa adanya Paman. Tapi, Aku kini cuma seorang pengangguran desa yang ingin merantau ke Ibukota Jakarta untuk masa depan ku yang kuinginkan, " Jawab Luis dengan nada sopan dan jujur kepada Pak Nasar.
" Kalau begitu aku ingin kamu membuat suatu pernyataan resmi terkait sewa rumah yang kau inginkan dan rumah itu telah rusak pintu gerbang nya secara tak sengaja oleh teman mu yang baik hati pula membantu Pak Eko yang ingin sekali mengganti pintu gerbang rumahnya dengan yang baru? Aku ingin kamu bicara tentang harga sewa rumah yang pantas untuk keadilan di kedua pihak yaitu di pihak kamu dan kawan- kawan mu dengan pihak Pak Eko dan Aku yang menjadi calo nya, " Kata Pak Nasar dengan nada menyiratkan pembagian jatah tentang sewa - menyewa rumah milik Pak Eko rupanya kepada Luis.
" Aku bisa memberikan penawaran harga sewa -menyewa rumah sewa yang kata istrimu di Tegal adalah rumah kalian namun kenyataannya adalah rumah itu milik Pak Eko. Maka, kamu juga bisa di tuntut dengan tindakan penipuan tentang kepemilikan rumah orang lain? Jadi, jika kamu ingin mencari damai dengan kami? Kau harus membiarkan kami membayar biaya sewa rumah Pak Eko dengan harga lebih murah dari harga sewa sebelumnya. " Kata Luis dengan cerdas sekali sehingga baik Pak Nasar maupun Pak Eko tak dapat membantahnya.
" Baiklah, harga sewa rumah senilai tiga puluh juta rupiah selama lima tahun. Gimana kau mau atau tidak? " Tanya Pak Nasar membuka harga sewa rumah kepada Luis.
" Emmm.. Tiga puluh juta rupiah sudah termasuk biaya perbaikan, listrik, gas, dan wifi di rumah sewa yang kami sewa itu ataukah masih belum tercakup semua itu untuk kami? " Tanya balik Luis dengan cerdas dan di puji oleh teman -teman nya yang duduk berdampingan dengan nya.
Bersambung..!!
__ADS_1