Kesetiaan Cinta

Kesetiaan Cinta
Gelora Kalbu..


__ADS_3

Di petang hari yang masih berwarna oranye di sebuah kawasan ibukota Jakarta terlihatlah Lorenza yang berjalan dengan santai sambil mengayun -ayunkan tas selempang nya di atas jembatan penyeberangan. Gadis ini baru saja pulang dari kerjanya dan Ia ingin sekali pergi ke rumah Ibu Ramona untuk sekali lagi menyamar sebagai Marinka Florentina putti wanita tua yang hilang itu.


Tetapi, sebuah dering dari hape nya membuat niatnya itu tertunda bahkan batal karena gadis itu berbalik arah dengan berlarian cepat dengan menuruni tangga jembatan penyeberangan , lalu ia menyetop mobil angkutan umum di depannya.


" Semoga nenek Zubaidah baik-baik saja. Oh, Tuhan aku sangat mencemaskan nenek yang sudah baik sekali kepada ku. " Batin Lorenza.


Setelah Lorenza turun dari mobil angkutan umum segera lari ke rumah sakit untuk melihat kondisi nenek Zubaidah yang ia dapatkan kabarnya dari Ammar adiknya yang menelepon dirinya.


" Ammar, gimana kondisi Nenek Zubaidah? " Tanya Lorenza kepada Ammar yang menunggu di luar ruangan UGD.


" Nenek, nenek.. Kakak Zaza, nenek sudah tiada. " Jawab Ammar yang menangis kepada Lorenza.


" Ahh..! "


Lorenza menangis sambil memeluk adiknya sambil menunggu jenazah neneknya di rapikan oleh pihak rumah sakit sebelum di bawa ke rumah duka.


" Kita harus menghubungi Kakak Reza mengenai nenek. " Kata Lorenza yang merogoh saku celananya untuk mengambil hapenya lalu gadis ini menelepon kakaknya yang sedang bekerja di perusahaan Star Leon.


Drrrrt!


Reza yang sedang mengerjakan laporan di layar laptop kerjanya menoleh ke samping laptop dan melihat hapenya berdering lalu di angkatnya dan menerima panggilan telepon dari Lorenza.


" Ya, Zaza. Kenapa kamu menelepon kakak Reza sambil menangis kayak gitu? " Tanya Reza dengan nada cemas kepada adiknya.

__ADS_1


" Karena nenek Zubaidah telah meninggal dunia karena serangan jantung dadakan dan sekarang jenazahnya di semayamkan di rumah duka yang jaraknya cukup dekat dengan rumah sakit. " Jawab Lorenza kepada Reza sambil menangis begitu sedih sekali.


Reza tampak shock sekali lalu pemuda ini cepat -cepat merapikan barangnya dan pergi ke ruang HRD untuk meminta izin kepada pimpinan HRD nya.


" Pak, saya mau minta izin untuk pulang cepat ke rumah karena saya ada urusan pribadi yang amat mendesak sekali. " Kata Reza dengan nada tergesa-gesa kepada pimpinan HRD nya.


" Reza, memangnya ada urusan pribadi apakah yang membuat kamu harus meninggalkan kerja mu yang sangat banyak dan penting untuk rapat yang akan datang di kantor cabang di kota Medan yang pernah Pak Edmundo beritahukan kepada mu beberapa hari lalu? " Tanya pimpinan HRD nya dengan sikap wibawa kepada Reza.


" Nenek saya meninggal dunia, Pak. " Jawab Reza kepada pimpinan HRD nya sambil menahan tangisan yang ingin keluar dari dada nya.


" Oh, Reza. Urusan pribadi mu bisa di tunda sampai kamu selesaikan pekerjaanmu sesuai jam kantor. Pokoknya hari ini tak ada izin untuk mu atau kamu akan aku potong gaji mu bahkan aku akan memecat mu. " Kata pimpinan HRD nya dengan nada galak sekali kepada Reza.


" Tapi, Pak? "


" Tak ada tapi -tapi! Sana, kamu kembalilah ke meja kerja mu dan uruslah pekerjaanmu dengan benar. " Kata pimpinan HRD nya yang tak pernah memperdulikan kesedihan di hati Reza.


Reza di depan lift bertemu dengan seseorang yang berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke ruangan utama general manager perusahaan Star Leon.


" Wanita itu sama sombongnya dengan HRD di perusahaan Star Leon ini..! " Batin Reza.


Reza melangkah masuk ke dalam lift lalu pria ini melupakan pertemuannya yang sekian kalinya dengan Linda Christanty yang seringkali datang ke kantor pusat perusahaan Star Leon untuk temui general manager.


Linda Christanty membuka pintu kantor tempat kerja Edmundo lalu menutup pintunya dengan rapat serta menonaktifkan jaringan CCTV di kantor itu untuk dirinya bisa berbicara dengan Edmundo dengan bebas.

__ADS_1


"Linda, ada apa kamu datang ke kantorku pada siang hari ini? " Tanya Edmundo mengangkat tatapannya matanya dari laptop kepada Linda Christanty.


" Aku hamil. " Jawab Linda Christanty yang telah memperlihatkan hasil USG nya kepada Edmundo yang tetap datar wajahnya itu.


"Terus kamu mau apa? " Tanya Edmundo dengan nada ringan dan tak perduli kepada kekasihnya itu.


" Ya, aku mau kamu bertanggungjawab dengan kamu menikahi aku, Edmundo. " Jawab Linda Christanty dengan nada keras kepada Edmundo.


" Aku tak mau menikah denganmu. " Kata Edmundo dengan nada sarkastis kepada Linda Christanty.


"Kenapa? Kenapa kamu seperti orang lain sih? ' Tanya Linda Christanty dengan wajahnya begitu terluka dengan kekasihnya yang menolak untuk bertanggungjawab atas kehamilannya itu.


" Karena aku masih ingin mengejar mimpi aku untuk menjadi pemilik perusahaan Star Leon yang sampai detik ini masih menjadi milik si gadis menyebalkan Wulandari Putri Leon ya? Meskipun dia sudah mati dan menjadi mayat yang di cabik -cabik oleh sekumpulan buaya liar dan ganas bersama dengan karyawannya yang bodoh seperti Anthony Leong. " Jawab Edmundo yang berjalan keluar dari balik meja kerjanya dan pindah duduk di sofa.


" Kau ingin aku bagaimana untuk kamu bisa memiliki aset Wulandari Putri Leon yang sampai detik ini belum aku dapatkan? Karena aku tak tahu dimana asetnya di simpan? " Tanya Linda Christanty dengan hatinya kacau balau kepada Edmundo.


" Hmm, carilah sampai ketemu dan satu lagi aku mau kamu dapatkan berkas pembelian kantor pusat perusahaan Moonlight Sonata yang pernah di bahas di rapat pertama kali Wulandari Putri Leon menjadi pengganti Papanya menjadi presdir di perusahaan Star Leon agar aku bisa menyakinkan para pemegang saham di rapat yang akan datang di kantor cabang di kota Medan. " Jawab Edmundo yang menarik Linda Christanty untuk duduk di pangkuannya.


" A.. Aku harus mencarinya di mansion Tuan besar Leon. " Kata Linda Christanty yang harus memahami keinginan kekasihnya yang sangat ambisi kekuasaan itu.


" Ya, kau pergilah dan kalau perlu kamu harus mengobrak-abrik seluruh mansion itu yang kini tak ada pemiliknya dan penjaganya. " Kata Edmundo yang mulutnya telah menyelusuri daun telinga Linda Christanty.


" Baiklah, Edmundo. Asalkan kamu mau menikah dengan aku untuk bertanggungjawab atas bayi yang sedang aku kandung ini, maka aku akan melakukan apa saja yang kamu mau aku lakukan demi kebahagiaan dirimu dan kepuasan kamu. " Kata Linda Christanty yang jemarinya di hisap bibir Edmundo.

__ADS_1


" Ya, aku akan menikah dengan mu tapi setelah aku mendapatkan semua yang aku inginkan dari seluruh kekayaan keluarga Leon. " Kata Edmundo yang tersenyum dan tatapannya yang penuh keserakahan kepada Linda Christanty.


Bersambung!


__ADS_2