Kesetiaan Cinta

Kesetiaan Cinta
Kepedihan Wulandari Putri Leon..


__ADS_3

Lorenza memijat pundak neneknya yang sedang berbaring di kursi santai di teras rumah mereka yang sederhana sekali sambil sesekali Lorenza menengok ke pintu gerbang untuk memastikan bahwa adiknya akan pulang ke rumah mereka usai bekerja sebagai penjual koran keliling.


" Nek, jam berapa biasanya Ammar pulang dari tempat kerjanya di daerah pondok labu? " Tanya Lorenza kepada neneknya sambil memijat bahu kanan dan kiri neneknya.


" Biasanya sih Ammar pulang jam segini ya tapi kok kenapa dia belum pulang juga dari kerjanya di toko koran. " Jawab neneknya dari sepasang mata terpejam sampai terbuka untuk melihat ke pintu gerbang rumahnya.


Lalu, pintu gerbang pun terbuka dan masuklah seorang pemuda usia sembilan belas tahun yang mengendarai sepeda masuk ke halaman rumah dan memarkirkan sepeda di teras rumah sebelum melangkahkan kedua kakinya yang memakai sandal ke beranda.


" Hai, Nenek dan Kak Zaza Aku sudah pulang nih ke rumah..! " Sapa Ammar yang menyalami nenek dan kakak perempuannya.


" Hmm, kok jam segini kamu baru pulang dari tempat kerjamu? Memangnya kamu tadi ada jam kerja tambahan atau lembur di toko koran? " Tanya Lorenza kepada Ammar adiknya yang kini duduk di bale atau kursi yang terbuat dari kayu anyaman untuk menghadapi Nenek dan Kakak perempuannya di beranda rumah.


" Iya, Kakak Zaza tadi di tempat kerja Aku ada sedikit pekerjaan tambahan dari bos Aku yang membuat Aku pulang agak telat gak seperti biasanya. " Jawab Ammar adiknya yang tangan kanannya menerima segelas air putih yang di sodorkan oleh Kakak laki-laki mereka yang baru keluar dari ruangan dalam rumah.


" ini kau minum air putih dahulu untuk hilangin dahaga mu, Ammar. " Kata Reza kakak laki-laki mereka yang menghampiri nenek mereka untuk pamitan kepada nenek mereka sebelum Reza berangkat kerja.


" Hati -hati Rez di tempat kerjamu ya dan jangan lupa untuk memulai dengan berdoa dahulu sebelum kamu kerja supaya segala yang kamu kerjakan selalu di berkati oleh Tuhan dan jadi berkah untuk mu dan kita semua di rumah ini. " Kata Nenek mereka yang selalu memberikan doa dan semangat untuk mereka.


" Ya, nek terimakasih untuk doa dan dorongan semangat yang nenek berikan untuk Reza. " Kata Reza kepada nenek sebelum berjalan ke teras untuk naik ke sepeda motornya yang di parkir di sebelah sepedanya Ammar.


Lorenza juga pamit kepada nenek mereka untuk pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam untuk nenek, Ammar dan dirinya makan di rumah mereka yang sederhana itu.

__ADS_1


Di Pulau Belitung Timur.


Wulandari Putri Leon tersadar dari koma nya dan Ia terkejut menemukan dirinya berada di tempat asing dan tak pernah di kenalnya sama sekali serta Ia juga tak pernah mengenal orang-orang yang berada di rumah gubuk itu.


" Aku berada di mana ini? Kalian siapakah?" Tanya Wulandari Putri Leon dengan gugup kepada seorang pria paruh baya dan seorang pemuda tampan yang duduk di kursi di depan ranjang.


" Kau sudah sadar? Baguslah, kalau begitu kami berdua adalah penolongmu dan mengobati luka -luka yang berada di sekitar tubuh mu itu yang di sebabkan dari kecelakaan helikopter yang kau tumpangi telah meledak di udara di dekat tepi sungai hutan bagian selatan pulau Belitung Timur. " Jawab pemuda yang terlihat baik hati kepada Wulandari Putri Leon.


" Ahhhh...?!" Wulandari Putri Leon shock sekali mendengar penjelasan dari pemuda ini dan Ia pun teringat tentang kecelakaan helikopter yang di tumpangi olehnya dan Anthony Leong teman kerjanya.


" Anthony Leong bagaimana dengan dia? Apa kalian juga menyelamatkannya juga seperti kalian menyelamatkan Aku? " Tanya Wulandari Putri Leon kepada kedua orang pria itu dengan nada panik dan mengkhawatirkan keselamatan Anthony Leong.


" Ya, Tuhan.. Kasihan sekali nasibmu Anthony Leong kau meninggal dunia begitu menyedihkan karena aku! Aku .. Aku yang telah kamu tolong dengan nyawa mu dan semua ini telah di sebabkan oleh orang yang ingin membunuh Aku dan merebut perusahaan ku..! Huhuhu..!" Kata Wulandari Putri Leon yang menangis begitu sedih sekali.


" Namamu siapa dan dimana kamu tinggal? " Tanya pemuda ini dengan nada ramah kepada Wulandari Putri Leon.


" Namaku Wulandari Putri Leon dan Aku tinggal di ibukota Jakarta. " Jawab Wulandari Putri Leon di antara isak tangisnya.


" Bukan! Namamu bukan Wulandari Putri Leon tetapi Tia Ivanka dan kamu adalah putriku...! " Kata pria paruh baya yang mengejutkan hati Wulandari Putri Leon dengan suaranya yang menyeramkan sekali.


" Apaaa? Aku bukan putrimu! Aku Wulandari Putri Leon..! " Kata Wulandari Putri Leon dengan nada membantah ucapan pria paruh baya itu.

__ADS_1


Pria paruh baya itu mengambil sebuah bingkai foto seorang gadis yang di tunjukan olehnya kepada Wulandari Putri Leon yang semakin kaget sekali dengan foto putrinya pria paruh baya itu.


" Lihat ini adalah kamu yang baru saja lulus SMA beberapa hari lalu..! Dan, ini foto mu di hari ulang tahun mu yang ke tujuh belas tahun..! Kamu ini adalah putrinya Billy Joey..! " Kata pria paruh baya itu yang memeluk Wulandari Putri Leon dengan begitu kencang.


" Paman Billy tolong tenangkanlah dirimu dulu karena adik Tia Ivanka baru saja siuman..! Lihat dia kebingungan oleh kata -kata mu..!" Kata Erwin nama pria muda yang cepat menolong Wulandari Putri Leon dari Pak Billy Joey yang mengalami gangguan jiwa pasca kehilangan putrinya sendiri di ruang operasi nya sendiri di klinik nya yang ilegal.


Erwin menarik Pak Billy Joey dari Wulandari Putri Leon yang langsung kabur dari rumah gubuk itu tanpa melihat arah yang benar untuk dirinya bisa melarikan diri dari orang tua yang sakit jiwa itu.


" Nona Wulandari Putri Leon jangan kamu lari ke sana..! Di sana sarang buaya..! " Teriak Erwin cepat mengejarnya lalu menarik pinggangnya dengan tepat waktu sebelum Ia masuk ke sarang buaya.


"Ahhhhhhh..! " Pekik Wulandari Putri Leon yang langsung pingsan kembali melihat dirinya nyaris di terkam buaya jika tak segera di selamatkan oleh Erwin.


Erwin membawanya ke jalan yang benar yaitu ke sebuah perahu untuk mengantarkannya ke tepi pantai dari pulau lain di pulau Belitung Timur yang lokasinya dekat dengan bandara pulau Belitung Timur.


" Kau sekarang sudah aman karena kamu berada di kota dan lihatlah ada patung Dewi Kuan Im dan bandara serta hotel yang nyaman untuk mu dan ini uang tunai untuk kamu bisa pakai pulang ke rumah mu di Jakarta. " Kata Erwin yang telah memberikannya uang tunai sebesar dua juta rupiah untuk uang perjalanannya pulang ke Jakarta.


" Erwin, terimakasih banyak atas pertolongan mu untuk ku tapi apakah kamu bisa menemani aku untuk pulang ke rumah ku di Jakarta. Karena aku tak punya siapa-siapa lagi di sana selain Bibi Erna ku..! " Kata Wulandari Putri Leon yang meminta bantuan kepada Erwin Wijaya sambil menangis.


" Hmmmm, baiklah.. Nona Wulandari Putri Leon Aku akan membantu mu..! Tapi, tolong kamu jangan menangis lagi ya? " Erwin Wijaya pada akhirnya menyetujui untuk membantu Wulandari Putri Leon.


Bersambung!

__ADS_1


__ADS_2