
Satu persatu mereka mendapatkan giliran untuk wawancara kerja di pabrik gula namun mereka semua mendapatkan informasi akan di kabari oleh pihak pabrik gula pada tiga hari kemudian melalui wa mereka.
" Huum bagaimana dong nasib kita yang sampai detik ini belum juga mendapatkan pekerjaan di kota Jakarta?" Tanya Hendro muram durja usai mereka keluar dari pabrik gula.
" Ah, sabar sajalah.. Kita pasti bisa kok dapatkan pekerjaan di Jakarta. " Kata Jelly yang selalu optimistis tinggi meskipun berulang-ulang kali Ia tak dapat pekerjaan juga.
" Ahh, yang penting kita pergi makan siang dulu yuk ?" Ajak Gino melihat ke arah tukang siomay keliling di jalanan.
" Ayolah, kita makan siomay sajalah. " Kata Jelly menarik kawan-kawan nya untuk mengikuti Gino dan Hendro menuju ke tukang siomay keliling di depan jalan.
Selagi mereka sedang makan siomay keliling di depan jalan. Mereka tak sengaja melihat ada seorang pria muda sedang membagikan kertas kepada setiap orang di jalan. Gino menyenggol sikut Hendro untuk mengambil kertas dari pria muda yang melewati mereka untuk membagi kertas kepada pejalan kaki di sekitar.
" Perusahan Star Leon mau mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran di hotel mewah di dearah Jakarta Selatan dan mereka memerlukan tenaga kerja tambahan untuk menjadi pelayan part-time satu hari penuh dengan gaji di atas umr loh..! " Kata Jelly merampas kertas tersebut dari Hendro lalu membacanya dengan antusias.
"Waduh ini rejeki nomplok banget untuk kita..! " Seru Isabella tersenyum memikirkan uang yang banyak di genggaman tangannya sambil makan siomay dengan sekali suapan saja ke mulutnya.
" Iya, kita bisa memberitahukan informasi ini pada Luis juga agar Ia mau ikutan juga untuk jadi pelayan part-time di pesta ulang tahun putrinya Tuan Besar Leon. " Kata Hendro yang tetap ingat dengan Luis sahabat nya yang lain.
" Betul sekali ucapan mu itu. Yuk, kita pulang dan kasih kertas ini kepada Luis secepatnya. " Kata Rosie semangat juga memikirkan uang gajian di perusahaan Star Leon.
__ADS_1
Sementara itu, Luis sedang menemani Marinka duduk di bangku taman di daerah lain sambil makan siang berupa bakso malang keliling dan minum es teh manis.
" Kau gak usah takut lagi mulai sekarang karena aku akan selalu menjaga mu dari marabahaya yang mengancam mu, Marinka. Aku yakin kamu gadis baik-baik yang tak mungkin melakukan hal yang melanggar hukum dan etika sebagai gadis yang berpendidikan tinggi di Jakarta jika aku lihat dari ijazah sarjana mu dari surat lamaran pekerjaan mu tadi di perusahaan plastik. " Kata Luis dengan nada begitu tulus mempercayai Marinka.
"Kau jangan menilai ku dengan sebaik itu, Luis. Aku ini tak sebaik yang kamu duga loh.Karena aku pernah hampir bekerja di klub malam untuk biaya pengobatan Kakek ku yang di rawat jalan di rumah sakit Dharmais dan sekarang ada di rumah jompo untuk mengurangi biaya hidup ku dan Mamaku yang bekerja di luar negeri sebagai seorang TKW. " Kata Marinka dengan jujur sekali menceritakan riwayat nya kepada Luis.
" Ouh, lalu dimanakah rumah jompo Kakekmu tinggal, Rinka?" Tanya Luis merasa iba kepada Marinka.
" Di rumah jompo bunga Anggrek. " Jawab Marinka menghapus air matanya dengan ujung lengan baju kerjanya.
" Jangan pake baju mu. Ini pakailah saputangan ku saja. " Kata Luis memberikan sapu tangannya kepada Marinka.
" Terima kasih. " Kata Marinka dengan tangisan yang amat keras sekali di hadapan Luis yang cepat membantunya menghapus air matanya dengan saputangan milik Luis.
Sore hari itu, Luis mengantarkan Marinka pulang ke rumah kontrakan gadis itu lalu melihat isi dari dalam rumah kontrakan gadisnya itu. Ia meraih jemari Marinka untuk di taruh di dadanya yang bidang dan kekar sambil menatap lembut sekali Marinka.
"Rinka, Aku Luis Fernando yang akan menjaga mu dan membiayai segala kebutuhan mu ya jadi kamu tak perlu khawatir dan susah payah lagi untuk mencari pekerjaan untuk biaya hidup mu dan Kakek mu. " Kata Luis mendekatkan dirinya kepada Marinka yang tahu maksud pria itu yang mendekatkan diri kepadanya.
" Ah, Luis. Aku mau pergi istirahat nih." Kata Marinka dengan cepat menghindar dari Luis yang menghela napas dalam-dalam karena Luis gagal mencium bibir Marinka yang manis.
__ADS_1
" Ahmm, baiklah. Kau istirahatlah. Aku pulang ya..Sampai jumpa besok pagi aku akan datang ke rumah mu. " Kata Luis yang tersenyum untuk menyembunyikan perasaan sedikit jengah juga karena Ia tak sabar untuk mencium bibir manis gadis cantik di hadapannya itu.
" Iya, Luis. Sampai jumpa besok pagi. " Kata Marinka melambaikan tangannya kepada Luis yang melangkah keluar dari rumahnya.
" Marinka..! " Seruan galak dari pemilik rumah kontrakan setelah Luis meninggalkan rumah kontrakan tempat tinggal Marinka.
" Ibu Minarsih ada apa ya ? " Tanya Marinka yang terperanjat kaget lihat pemilik rumah kontrakan nya datang ke rumah.
" Ada apa ?Katamu! Aku mau kamu Marinka bayar tunggakan kontrakan mu yang belum kamu bayar selama dua bulan terakhir ini dan sekarang ini aku mau kamu bayar untuk kamu bisa tinggal di kontrakan ku. " Jawab Pemilik rumah kontrakan dengan nada galak kepada Marinka.
" Tapi, aku hanya punya uang untuk bayar satu bulan saja. " Kata Marinka yang mengeluarkan dompetnya yang ada uang tunai lima ratus ribu rupiah di hadapan pemilik rumah kontrakan nya yang langsung merampas dompetnya.
" Cuma segini yang kamu punya? Ahh..! Tak bisa lagi kamu menempati rumah kontrakan ku. Hari ini juga kamu kemasi barang -barangmu dan keluar dari rumah kontrakan ku. " Kata pemilik rumah kontrakan yang mengusir Marinka dari rumah kontrakan saat itu juga usai Marinka tak bisa membayar biaya kontrakannya yang sudah dua bulan belum di bayarnya itu.
" Aku harus pergi kemana setelah Aku tak ada lagi tempat tinggal. " Pikir Marinka menenteng koper nya keluar dari rumah kontrakan nya.
Marinka memutuskan untuk pergi ke rumah jompo bunga Anggrek tempat Kakeknya di rawat untuk sementara waktu sampai Mama nya itu pulang dari luar negeri dan mengeluarkan Kakek nya dari rumah jompo itu.
" Kakek, Rinka datang. " Kata Marinka menemui Kakek nya yang memandangi nya dengan polos seperti anak kecil saja.
__ADS_1
" Rinka, kamu sudah datang jenguk Kakekmu. " Kata Kakeknya menyambutnya dengan senyum selembut hati yang sangat di rindukan dan juga memberikan kekuatan untuk Marinka bisa tegar dalam menghadapi kehidupan yang keras di Jakarta.
Bersambung!