
Marinka yang baru saja di pecat dari pekerjaan yang di sukainya itu tak pernah mengira bahwa dirinya akan di culik oleh seorang pria muda yang pernah di lihatnya di hotel dekat lokasi tempat kerjanya yang lama.
" Wulan, kamu masih hidup dan bisa kembali ke Jakarta dengan selamat?! " Edmundo menculik Marinka yang di kira adalah Wulandari.
" Kau gila ya? Aku bukan Wulandari..! Aku ini Marinka Florentina..!" Teriak Marinka di dalam gudang.
" Kau bicara apa pun kepada aku..? Aku sama sekali tidak pernah mempercayai setiap kata yang keluar dari mulutmu..! " Kata Edmundo yang menarik rambut Marinka dengan kasar.
Marinka menahan pedih di kulit kepalanya yang di sebabkan rambutnya di jambak oleh Edmundo dengan kasar. Ia menatap Edmundo dengan berani sekali sampai Edmundo menamparnya berulang kali.
Plak!
" Wanita sombong yang menganggap dirinya yang paling berkuasa di atas kaum pria tetapi kau sekarang ini berada di tanganku.. Aku akan membuat mu tahu bahwa laki-laki harus di hormati oleh wanita..! " Kata Edmundo yang menarik Marinka dan melemparkan gadis itu di sebuah ruangan yang sangat gelap.
" Jangan..! Kau jangan pernah menyentuh aku..! Aku bukan Wulandari..! Akhhhhh...! Tolong aku..! Aaahhh...!!! Sakitttt..!!! "
Marinka menjerit-jerit karena gadis ini telah di siksa oleh Edmundo yang mempunyai rasa benci dan penuh dendam kepada Wulandari Putri Leon itu menumpahkan kebenciannya kepada gadis itu.
" Salahkan saja Papa mu si Tuan Leon itu yang sudah menghancurkan reputasi ayah ku hingga kami mengalami kebangkrutan yang sangat menyedihkan bahkan Ibu ku meninggal dunia di penjara karena siapa?! Ahhh..! Karena ulah dari Papa mu yang sok berkuasa itu..! Sekarang aku akan membuat pembalasan setimpal kepada mu putrinya..! "
Edmundo menggantung Marinka di rantai besi dengan tubuh gadis itu terkoyak-koyak karena tamparan dan tendangan yang dilakukan oleh pria ini kepada Marinka.
" Aku bukan Wulandari..! Aku jika aku Wulandari Putri Leon.. Maka, aku akan membunuhmu juga karena aku mempunyai perasaan bahwa kamu mempunyai darah psikopat gila dari Ayah mu yang tak sudi aku kenal..! " Kata Marinka dengan senyuman dingin kepada Edmundo.
" Apakah kamu ingin mati? " Tanya Edmundo dengan senyuman bengis kepada Marinka.
" Aku tidak pernah takut mati..! Aku justru amat kasihan kepada mu yang merupakan seorang pria pecundang yang beraninya kepada wanita seperti ku..! " Jawab Marinka yang meludahi Edmundo dengan semburan darah dari mulutnya yang terluka.
__ADS_1
" Hmmm.. Aku tak akan membunuhmu dengan mudah..! Aku akan menjualmu kepada mucikari dengan harga fantasis tentunya karena kamu cantik dan tubuh mu mengagumkan..!" Kata Edmundo dengan senyuman bengis kepada Marinka.
Marinka menatap pria di depannya itu dengan hatinya memikirkan Luis kekasihnya yang di harapkan olehnya akan menyelamatkannya dari Edmundo yang sadis.
" Luis, dimana kamu? Aku harap kamu dapat datang ke sini untuk menyelamatkan Aku dari pria sadis itu..! " Batin Marinka.
Edmundo mengurung Marinka di gudang kosong di pedalaman di luar kota Jakarta agar tak ada seorang pun yang dapat menemukan gadis yang di bencinya itu.
Namun, di malam yang amat larut pintu gudang terbuka untuk seorang pria yang memakai topi dan masker hitam yang datang dengan bawa tongkat besi yang memukuli para anak buahnya.
Bagh!
Bugh!
Bagh!
Bugh!
" Kurang ajar! Dia kabur membawa tawanan ku..! " Geram Edmundo.
Pria ini memandang lembut Marinka yang masih pingsan karena luka -luka di seluruh wajah dan tubuh Marinka seraya menyentuh dahi gadis ini dengan kasih sayang.
" Wulan, kau harus bertahan hidup untuk kamu bisa balas dendam kepada orang itu yang sudah membuat mu kehilangan ayahmu di hari ulang tahun mu.. Dan, orang itu juga ingin mengambil prusahaan mu..! " Kata pria ini yang memeluk Marinka.
" Mama..! Rinka... Sakit..! Auw..! Luis...! Bantu aku hajar orang gila itu..! "
Marinka berkali-kali bicara seperti itu sampai Ia menghembuskan napasnya yang terakhir di pelukan pria ini yang terkejut dengan nama lain dari seorang Wulandari Putri Leon.
__ADS_1
" Marinka? Namamu Marinka? " Tanya pria ini yang mengguncang-guncang Marinka untuk gadis malang ini tetap hidup.
" Dia kembaran Wulandari Putri Leon yang kita cari selama ini sesuai yang di perintahkan oleh Dokter Johan kepada kita..! " Kata seseorang lain yang bicara kepada pria itu.
" Dokter Johan mengatakan bahwa Ramona pernah melahirkan tiga orang anak kembar di klinik nya di daerah Sukabumi..! Apakah gadis malang ini adalah salah satu dari saudari kembar Wulandari Putri Leon? " Pria ini semakin berusaha untuk menyelamatkan Marinka dengan kemampuannya sebagai seorang dokter yang berpengalaman di bidangnya.
" Percuma, Andre..! Dia sudah meninggal dunia karena luka di tubuhnya begitu berat..! " Kata pria yang lain dengan suaranya bergetar sedih.
"Dia tak boleh meninggal dunia di tempat kotor seperti ini..! Dia seorang putri dari keluarga hebat seperti keluarga Leon..! " Kata Andre pria ini yang mengerahkan kemampuannya untuk menyelamatkan Marinka.
Tetapi, usahanya tak membuahkan hasil yang di harapkan nya. Ia dengan terpaksa harus melihat gadis malang ini terbujur kaku di lantai rumah gubuk di pinggir kota Bogor.
" Andre..! "
" Yudi, apakah kamu menyimpan bukti -bukti dari sampel DNA gadis itu yang sesuai dengan hasil sampel DNA Wulandari Putri Leon dan Tuan Leon serta Ramona untuk kita bisa simpan dengan baik sampai kita menemukan Wulandari Putri Leon ? " Tanya Andre dengan sikap serius kepada Yudi temannya.
" Ya, aku simpan di file ku bahkan aku juga ada berkas kejahatan Edmundo kepada Marinka untuk kita berikan kepada Wulandari Putri Leon agar Wulandari Putri Leon yang akan memberi hukuman kepada pria kejam itu. " Jawab Yudi begitu penuh percaya diri untuk menjebloskan Edmundo ke penjara.
" Kita juga harus bisa temukan kembaran lain dari Wulandari Putri Leon yang hilang dari bayi di klinik Dokter Johan sesudah Ramona pergi dari klinik dengan membawa Marinka." Kata Andre kepada Yudi sebelum memakamkan Marinka di belakang rumah gubuk di pinggir kota Bogor.
" Dimanakah kembarannya Wulandari Putri Leon yang lain berada? " Tanya Yudi sambil melihat ke makamnya Marinka Florentina.
Di sebuah rumah yang sederhana namun sangat ramai itu ada seorang gadis cantik membawa bungkusan kantong plastik dengan senyuman ceria mendatangi seorang wanita tua yang sedang menjahit pakaian di rumah itu.
" Nenekk...! Lorenza pulang bawa martabak telor kesukaan Nenek..! " Seru Lorenza gadis cantik yang mirip dengan Wulandari Putri Leon dan Marinka Florentina.
Bersambung!
__ADS_1