
Gadis yang menjadi teman Rosie dan Jelly yang berdiri di pintu masuk rumah sewa mereka telah memberikan uang tunai sebesar lima juta rupiah untuk biaya bayar sewa rumah itu bersama -sama dengan mereka.
" Wah, ternyata kamu memiliki pengertian juga ya sebagai orang baru di rumah sewa kami yang kini ada tulisannya 'Aku cinta Uang Daripada cinta Wanita dan Pria '. " Kata Gino dengan nada tajam kepada Bella atau Isabella gadis manis di depannya.
" Iya, apakah kalian sudah bisa memberikan izin kepada ku untuk tinggal di rumah ini bersama -sama dengan kalian dan kedua teman ku yang cantik -cantik ini ?" Tanya Isabella menatap Luis dan kedua teman Luis.
" Oke, asalkan kau mau berbagi tugas untuk urusan rumah ini dari makanan sampai tugas membersihkan rumah ini dengan kami dan juga mereka berdua secara adil. " Jawab Luis yang meminta Gino mengeluarkan surat perjanjian untuk berbagi tugas mengurus rumah dari saku celana nya dan di bagikan fotokopi nya kepada Isabella untuk gadis itu membaca tugas -tugas mengurus rumah dengan benar.
" Iya, tenang sajalah aku juga tahu untuk urusan yang satu ini dengan baik daripada kamu. " Kata Isabella tersenyum ramah kepada Luis yang sangat menarik baginya.
******
Wulandari duduk di ruang santai di dalam rumah mewahnya sambil memeluk boneka hello kitty favoritnya yang merupakan hadiah ulang tahun nya ke tujuh belas tahun dari Edmundo kekasih hatinya itu.
" Wulan, aku akan pulang ke Indonesia tepat di hari ulang tahun mu ke dua puluh tahun dan aku akan menyatakan diriku mencintaimu dan ingin menjadi kekasih mu di hadapan Papa mu, Tuan Besar Leon. Jadi, ku minta kau bisa sabar untuk menunggu aku pulang ke Indonesia, ya Sayang?" Ucap Edmundo sebelum pria itu pergi kerja ke Perancis kepada Wulandari.
Dan, ingatan itu selalu membekas di hati Wulan yang sejak hari itu begitu merindukan Edmundo kekasihnya sejak Ia Sma dan kuliah di Singapura dan kini Ia mengharapkan kehadiran Edmundo di hari ulang tahunnya yang tak lama lagi akan di selenggarakan dengan pesta besar dan mewah oleh Papa nya untuknya.
Foto -foto kenangan indah di galeri hpnya dan medsos selalu di lihat olehnya untuk mengusir rasa rindu yang bergejolak di kalbunya terhadap kekasihnya itu.
" Ed, aku tak bisa sabar untuk bertemu dengan mu lagi di hari ulang tahunku nanti dan kau bisa bicara tentang hubungan kita dengan Papaku yang sudah aku tekankan untuk hadir pesta ulang tahun ku sesudah Ia batal untuk habiskan satu hari penuh di hari ulang tahun untuk temani aku jalan -jalan atau liburan bersamanya. " Kata Wulandari yang berulang kali menyentuh foto -fotonya bersama dengan kekasihnya di HPnya.
__ADS_1
******
Di sebuah kafetaria yang buka sampai tengah malam hari tampaklah Marinka yang sedang sibuk melayani para pelanggan di kafetaria yang jadi tempat kerja gadis manis itu.
" Rin, kemarilah..! " Panggil rekan kerjanya di bagian minuman.
"Iya, Coki ada apa kamu memanggilku?" Tanya Marinka cepat mendatangi temannya.
" Ini tolong kamu bawakan minuman gelas Wine ini ke tamu di meja nomor sembilan di ruangan VVIP gih, " Jawab Coki teman kerjanya kepada Marinka sambil menyodorkan gelas kaca di atas nampan di meja bartender.
" Oke, Coki. " Kata Marinka segera membawakan minuman itu kepada tamu pria usia tiga puluh tahun yang menempati ruangan VVIP kafetaria tempat kerjanya Marinka.
" Em, makasih Sayang atas kerja keras mu yang sudah membantu ku untuk dapatkan surat ini dari Wulandari yang mengambilnya dari Papa nya secara diam-diam untuk aku bisa tunjukkan kemampuan kerja ku kepada Tuan Besar Leon agar aku bisa masuk kerja di perusahaan Star Leon secepatnya , " Kata Edmundo mencium mesra Linda Christanty tanpa melihat kehadiran Marinka Florentina gadis manis yang wajahnya persis seperti Wulandari bagaikan pinang di belah dua.
Marinka menaruh minuman Wine di meja tamu di ruangan VVIP kafetaria itu dengan sopan lalu menyelinap pergi dengan cepat untuk tangani urusan pekerjaannya yang lain sebagai pelayan kafetaria.
"Rin, kemarilah. " Panggil Bos Kafetaria kepada Marinka dari ruang kerja.
" Iya, Pak Bos. Ada apa ?Apakah ada yang Saya bantu untuk Anda?" Tanya Marinka cepat temui Bos nya.
" Ini uang gajian mu untuk bulan ini. " Jawab Bos nya memberikan amplop coklat berisi uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah kepada Marinka.
__ADS_1
" Ah, Bos. Kok gajian ku cuma segini sih? Aku 'kan sudah kerja nonstop selama sebulan tanpa libur. " Kata Marinka yang merasa uang gajian nya tidak cukup untuk biaya bulanan hidupnya.
"Karena kamu telah merusak gelas dan piring ku sebanyak lima kali dalam dua minggu sekali kau kerja di kafetaria ku ini.Maka, uang gajian mu itu aku potong untuk biaya ganti kerugianku karena cara kerja mu yang kasar. " Jawab Bosnya tak berperasaan kepadanya.
" Aahh, itu di sebabkan ada tamu di kafetaria ini yang berperilaku tak sopan kepada ku ya aku membela diriku yang akan di lecehkan oleh tamu di sini beberapa waktu lalu. " Kata marinka yang memberikan penjelasan atas sikap kerjanya itu kepada Bos nya.
" Aish, kau 'kan sudah terbiasa dengan tepukan di bokong mu ini dari cowok-cowok hidung belang di tempat kerjamu yang lain, Marinka?" Bosnya malah meremas bokongnya dengan sikap tak senonoh kepadanya.
" Enak saja kau katakan aku sebagai seorang cewek gak benar? Nih, ku kasih kau perhitungan dariku. "Kata Marinka dengan nada galak kepada Bosnya seraya melakukan tinju dan tendangan keras di bagian tengah Bosnya sampai Bosnya menjerit kesakitan.
" Keterlaluan kamu ya Marinka ! Dasar kau ya gadis liar! Aku pecat kau sekarang juga! " Teriak Bosnya dengan marah kepadanya.
" Puh.. Dengar ya Gue amat senang di pecat oleh Elo dari kafetaria kotor Elo ini dibandingkan Gue harus, kerja di sini dengan hinaan dan cacian dari para tamu mu dan juga kau yang tak ada bedanya dengan tukang jagal kelamin!" Balas Marinka kepada Bosnya sebelum pergi dari tempat kerjanya dengan wajah merah sekali.
Tetapi di tengah jalan untuk menuju ke rumah kontrakannya, Ia menangis sedih karena nasib nya yang buruk dengan menengadahkan kepala nya ke langit malam Ibukota Jakarta.
"Aku sungguh bernasib buruk seharian ini. " Kata Marinka kepada dirinya sendiri di tengah jalan.
Tangisan Marinka di tengah jalan di tengah malam hari di Ibukota Jakarta ternyata di tempat lain membuat Wulandari menangis tanpa sebab di dalam tidurnya di kamar mewah di mansion Leon.
Bersambung!
__ADS_1