Kesetiaan Cinta

Kesetiaan Cinta
Sebuah Ikatan Rasa...


__ADS_3

Wulandari membulatkan tekadnya untuk fokus pada rencana pembalasan dendamnya kepada mantan tunangannya dan membahagiakan mama dan adik -adiknya yang baru saja telah di temukannya di dalam kehidupan barunya usai Ia mengalami berbagai penderitaan hidup.


" Wulan, lihat Mama mu baru saja pulang dari berdagang di pasar minggu. " Kata Erwin yang menyenggol sikut tangan kirinya kepada Wulan.


Wulandari menengok ke gang untuk melihat Ramona yang sedang mendorong gerobaknya usai berdagang sup kari ayam di pasar minggu, Gadis ini segera berlari menuju Ramona untuk membantu Ramona mendorong gerobak.


" Hai, Bu. Mari, aku bantu Ibu mendorong gerobak Ibu ke rumah. " Kata Wulandari dengan senyuman manisnya dan sepasang matanya indah berkaca-kaca menahan haru dan rasa ingin memberitahu tentang dirinya kepada ibu kandungnya yang sama sekali tidak mengenali dirinya.


" Wah, Eneng. Makasih banyak ya atas bantuan si Eneng yang manis. " Kata Ramona yang juga tersenyum bahagia di bantu mendorong gerobak oleh gadis manis yang menjadi anak kostan nya itu.


" Sama-sama Bu Ramona. Ayo, kita masuk ke rumah. " Kata Wulandari dengan semangat untuk membahagiakan Mamanya.


Erwin, Andre dan Yudi berbagi kamar tidur di rumahnya Ramona setelah Wulandari bilang kepada Ramona bahwa kedua pria yang baru berkumpul dengan Wulandari dan Erwin adalah saudara-saudaranya Erwin.


" Ohya, tapi aku sepertinya pernah mengenal kedua orang pria itu. " Kata Ramona yang sedikit ada perasaan mengenali Dokter Andre dan Yudi.


" Apakah benar Ibu mengenal kami berdua? " Tanya Dokter Andre yang bicara langsung kepada Ramona.

__ADS_1


"Iya, Aku pernah mengenal kalian berdua tetapi aku lupa di mana aku pernah berjumpa dengan kalian berdua. " Jawab Ramona yang keningnya berkerut mengingat-ingat Dokter Andre dan Yudi di hadapannya.


" Ibu, coba ibu ingat -ingat siapa kami agar kami bisa memberikan keterangan mengenai diri kami supaya ibu gak terlalu shock dengan sesuatu yang akan kami ungkapkan kepada ibu nantinya. " Kata Yudi yang tak mau berlama-lama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi nya itu.


Ramona pun termangu di sofa tempatnya duduk sambil mengingat kembali kedua orang muda itu lalu tiba-tiba Ramona tersentak kaget dengan sendirinya.


" Kalian berdua adalah dokter Andre dan Yudi yang pernah menjadi asistennya dokter Johan yang membantu proses melahirkan aku di klinik nya di daerah Sukabumi?! "


" Ya, benar Bu. Kami datang untuk memberitahu kamu tentang putri -putri yang kamu lahirkan dan miliki itu yang dahulu kami ingat jumlahnya adalah tiga orang anak namun usai kami tinjau kembali kami hanya mengetahui dua orang anak saja yaitu satu di bawa pulang ke rumah Tuan Leon oleh Tuan Leon dan istrinya Bu Reinawati yang memberikan nama Wulandari Putri Leon dan yang seorang telah kamu bawa dan di beri nama Marinka Florentina. Kini yang kami ingin tanyakan apakah kamu tahu di mana seorang anak mu yang lainnya? "


Penjelasan dari Yudi mengejutkan Ramona yang segera berdiri dari sofa karena terlalu shock.


" Ya, Bu. Apakah ibu mengambilnya ataukah ada orang yang menculiknya secara diam-diam pada saat bersamaan kamu pergi dari klinik dokter Johan?! " Jawab Andre yang menunjukkan berkas atau surat keterangan yang mereka punya dari dokter Johan kepada Ramona yang semakin deras tangisannya itu.


" Aku tak mengambil bayi yang kedua yang ada tanda lahir di belakang daun telinganya...! Aku hanya mengambil Marinka Florentina yang ada perbedaannya dengan Wulandari Putri Leon yaitu bibir mereka. Karena Wulandari Putri Leon lebih mirip denganku sedangkan Marinka Florentina lebih mirip dengan Tuan Leon, lalu bayi yang kedua mirip dengan aku dan Tuan Leon. " Kata Ramona yang memberitahukan tentang perbedaan antara Wulandari Putri Leon dan Marinka Florentina serta Lorenza kepada Dokter Andre, Yudi, Erwin dan Wulandari Putri Leon sendiri di ruang tamunya.


" Ouh, lalu apakah Ibu tahu tentang kabar yang paling terbaru dari Wulandari Putri Leon yang tinggal bersama dengan Tuan Leon?" Tanya Erwin langsung ke poin utama pembicaraan mereka kepada Ramona.

__ADS_1


" Ya, Aku tahu bahwa Wulandari Putri Leon baru saja merayakan ulang tahunnya ke dua puluh tahun yang dimana di hari itu Tuan Leon ayahnya mengalami kecelakaan pesawat pribadi yang menyebabkan Tuan Leon meninggal dunia di hari itu. " Jawab Ramona yang memiliki perasaan untuk memandangi gadis manis yang menangis terus menerus di sofa kecil di depannya.


" Ya, lalu apakah anda tahu berita lainnya yang mengenai diri Wulandari Putri Leon? " Tanya Erwin lagi dengan napas tertahan kepada Ramona.


" Tidak. " Jawab Ramona yang anehnya terus menerus ingin memandangi gadis manis itu.


" Dia mengalami kesulitan yang besar sampai Ia harus di paksa mengubah dirinya menjadi orang lain karena tunangannya yang membuatnya seperti ini. " Kata Wulandari Putri Leon yang menangis semakin keras di hadapan Ramona.


" Apa yang sudah terjadi pada dirimu, Wulandari Putri Leon? " Tanya Ramona yang ikut menangis juga karena Ia langsung mengenali putrinya yang telah terpisah darinya semenjak di lahirkan oleh nya kepada Wulandari Putri Leon.


" Aku mengalami kecelakaan di helikopter pribadi di pulau Belitung Timur yang di sebabkan oleh tunanganku sendiri yang membuat Aku nyaris kehilangan nyawa ku! Dan, aku akhirnya di ubah wajah ku oleh dokter yang mengalami sakit jiwa menjadi seperti putrinya yang telah lama meninggal dunia..! A.. Aku dapat jumpa kamu dengan bantuan dari Erwin dan mereka berdua. " Jawab Wulandari Putri Leon dengan tangisan yang sangat menyayat hati kepada Ramona yang berjalan untuk mendekatinya.


" Anakku , kau sudah mengalami banyak sekali penderitaan hidup. " Kata Ramona yang kini langsung di peluk Wulandari Putri Leon yang menangis di pelukan Ramona.


" Mama..! Oh, Mama.. Aku merindukan kamu..! " Kata Wulandari Putri Leon yang menangis sambil memanggil mama kepada Ramona.


" Wulandari Putri Leon oh putriku yang malang..! Aku telah membuat kamu menderita seperti ini karena terpisah dari aku yang kupikir hidupmu akan lebih bahagia bersama dengan Papamu yang super kaya itu daripada aku yang miskin dan hanya seorang penjual rahim untuk Papamu bisa memiliki seorang anak yaitu kamu. " Kata Ramona yang membelai wajah manis Wulandari Putri Leon yang menangis di depan sepasang matanya.

__ADS_1


" Gak perlu merasa bersalah kepada ku, Mama. Aku mengerti sekali dan aku dulu hidup bahagia bersama dengan Papa Leon yang selalu sayang dan memanjakan diriku dengan segala sesuatu yang dimilikinya. Jadi, Mama tak perlu merasa bersalah ya? Aku sekarang sudah senang sekali bisa berjumpa dengan Mama..! " Kata Wulandari Putri Leon yang membalas membelai wajah cantik Ramona yang bersimbah airmata.


Bersambung!


__ADS_2