Kesetiaan Cinta

Kesetiaan Cinta
Meniti Harapan...


__ADS_3

Wulandari melihat kalender untuk mengingat hari ulang tahunnya yang akan segera tiba dan Ia semakin tidak sabar untuk berjumpa kembali dengan kekasihnya yang bekerja di luar negeri akan segera pulang untuk merayakan hari ulang tahunnya di Jakarta.


"Edmundo akan segera kembali dari Perancis untuk temui aku yang akan berulang tahun dua minggu lagi. " Kata Wulandari berulang kali lihat kalender di kamarnya sebelum turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi di ruang makan.


"Selamat pagi Nona Wulan. " Sapa Bibi Erna yang tersenyum manis menyambutnya di pintu ruang makan.


" Ya, selamat pagi juga Bibi Erna, " Sapa balik Wulandari memeluk Bibi Erna dengan sikapnya yang manja.


"Ouh, ya Nona ku yang manis. Mari kau sarapan pagi di dekatku. " Kata Bibi Erna menggandeng Wulan untuk mendekat ke kursi meja makan.


" Wah, sarapan pagi kesukaanku..! " Seru Wulan dengan riang gembira menyambut sarapan pagi nya yang berupa telur mata sapi, sosis goreng dan salad serta segelas susu vanilla segar.


" Iya, ya silakan kamu makan dengan nyaman. " Kata Bibi Erna tersenyum sayang kepada Wulan.


******


Di kota Sapporo.


Awan begitu cerah dengan sinar matahari yang menerangi langit biru yang hangat menyentuh kulit seorang wanita yang sedang sibuk bekerja di sebuah rumah bergaya klasik Jepang.


" Ramona, karena kerja mu sangat bagus dan menyenangkan ku. Aku akan mengizinkan mu untuk pulang ke Indonesia dan memberikanmu modal untuk usaha dan membeli rumah di kota Jakarta. " Kata seorang wanita Jepang yang ramah kepada Ramona.


" Iya, Bu Makoto terimakasih banyak karena Ibu sudah baik hati mengerjakan Saya sebagai Art di rumah Ibu selama tujuh tahun di kota Sapporo." Kata Ramona dengan nada sopan kepada Ibu Makoto majikannya di Jepang.


" Ramona, kamu masih muda karenanya kamu harus tetap semangat untuk meraih impianmu di masa depan agar hidup berarti untuk anak mu si cantik Marinka yang sering kamu ceritakan kisah nya kepada ku. " Kata Bu Makoto dengan ramah dan menyenangkan kepada Ramona.


" Iya, Ibu Makoto saya mendengarkan nasihat mu yang sangat baik untuk ku. " Kata Ramona terharu sekali kepada majikannya itu.

__ADS_1


" Nah, sekarang kamu sudah bisa berkemas di kamar mu untuk mempersiapkan dirimu untuk pulang ke putri mu di Jakarta. " Kata Bu Makoto memberikan santunan kepada Ramona.


Ramona berpamitan dengan majikan nya untuk terakhir kalinya sebelum Ia meninggalkan rumah majikannya. Ia sempat tak sengaja melihat Tuan Besar Leon yang sedang berjalan di taman kota Sapporo bersama dengan rombongan pria itu.


" Tuan Besar Leon ada di kota Sapporo?" Tanya Ramona di dalam hatinya.


Tuan Besar Leon yang merasa ada yang melihat nya itu segera menengok ke arah belakangnya namun ia tidak melihat siapa-siapa di kejauhan dari taman kota Sapporo.


" Aneh ? Padahal aku tadi merasa ada yang lihat aku dan memerhatikan ku dari jauh.. " Pikir Tuan Besar Leon yang memakai selendang atau slayer milik Ramona di lehernya.


" Tuan Besar Leon, proyek boneka Ratu Wulan sudah siap di luncurkan hanya menunggu waktu yang tepat untuk memasarkan nya ke seluruh negeri di dunia sebagai produk terbaru anda. " Kata General Manager nya yang bernama Felix Saputra di samping nya.


" Ouh, benarkah proyek boneka Ratu Wulandari sudah siap di luncurkan? " Tanya Tuan besar Leon bersinar-bersinar senang di sepasang matanya kepada Felix.


' Iya, Anda bahkan bisa melihat boneka nya yang hanya di produksi dua buah di dunia untuk saat ini sebelum boneka lainnya di luncurkan ke seluruh dunia sebagai produk hebat Anda. " Jawab Felix Saputra tersenyum sopan kepada Tuan Besar Leon.


" Mari Anda ikuti Saya untuk mengunjungi pabrik nya di kota Sapporo timur. " Kata Felix Saputra segera kepada Tuan besar Leon.


Ramona hanya bisa memerhatikan punggung Tuan besar Leon menjauh dari taman kota Sapporo bersama dengan rombongan pria hebat itu, lalu Ia masuk ke dalam mobil taxi untuk Ia bisa pergi ke bandara.


******


Marinka tersenyum cerah untuk menyambut hari yang baru untuk nya mencari pekerjaan yang cocok untuk nya. Ia melangkahkan sepasang sepatu nya keluar gang rumah kontrakannya dan Ia bertemu dengan Luis yang menyambutnya dengan senyuman merekah di bibir indah pria muda itu.


" Hai, Marinka. Aku senang sekali bertemu kamu lagi di pagi hari yang cerah ini." Kata Luis dengan senyuman manisnya kepada Marinka.


"Iya dan hai juga untuk mu. " Kata Marinka nada singkat saja kepada Luis yang mengikutinya naik dan masuk ke dalam mobil angkutan umum di depan gang.

__ADS_1


" Apakah kamu pergi mencari pekerjaan juga? " Tanya Luis di samping kanan Marinka.


"Iya, " Jawab Marinka pelan kepada Luis.


" Wah, sama dong dengan aku..! Aku juga mau pergi mencari pekerjaan juga. Oh ya, kamu mau pergi mencari pekerjaan di mana ?" Tanya Luis menatap lembut Marinka dengan lirikan mata nya.


" Entahlah. Aku belum tahu." Jawab Marinka nada jujur kepada Luis.


" Aha, kalau begitu gimana kamu dan aku pergi mencari pekerjaan sama ke perusahaan plastik di daerah tanah abang? Apakah kamu mau pergi mencari pekerjaan ke sana bersama dengan ku? Karena mungkin saja kita bisa mendapatkan pekerjaan di sana. " Ajak Luis ramah sekali pada Marinka.


" Iya, boleh. " Jawab Marinka tersenyum manis kepada Luis yang terpesona dengan senyuman yang seindah pelangi.


" Astaga, senyuman mu membuat jantung aku copot, Marinka. " Kata Luis di dalam hatinya.


Mereka berdua benar-benar pergi ke perusahaan yang sama untuk melamar pekerjaan di sana tapi yang di pilih oleh pihak perusahaan cuma satu yaitu antara Luis atau Marinka yang dapat di terima oleh perusahaan itu.


" Kau saja, Luis. " Kata Marinka merasa tak enak hati.


" Enggak, kau sajalah karena kau lebih cocok untuk pekerjaan ini." Kata Luis mengalah untuk Marinka yang menerima pekerjaan tersebut di perusahaan itu.


" Ahh, mana bisa begitu Luis? Aku merasa tak enak hati dengan mu nantinya karena aku telah mengambil kesempatan mu untuk mendapatkan pekerjaan yang kamu butuhkan untuk biaya hidup mu juga. " Kata Marinka yang dengan nada keras menolak pekerjaan itu karena Ia tak mau merebut pekerjaan Luis.


" Ma.. Marinka..! Tunggu bentar..! " Panggil Luis segera mengejarnya keluar dari perusahaan itu dan menemukannya di hadang Pak Bagas dan anak -anak buah Pak Bagas di jalanan.


" Ahhh..! " Pekik Marinka melihat anak -anak buah Pak Bagas yang bongsor-bongsor badan nya itu.


Bersambung!

__ADS_1


__ADS_2