
Di hari yang berkabut dengan curah hujan yang amat lebar dan disertai angin kencang dan petir yang menggelegar di langit yang berawan tebal dan gelap gulita menambah suasana duka yang di alami oleh Wulandari semakin mencekam.
Apalagi di kala peti jenazah milik Tuan Besar Leon di turunkan dari mobil jenazah ke liang tanah pemakaman oleh para petugas dari pihak pemakaman sehingga airmata kesedihan Wulan semakin deras saja.
" Papa..! " Tangisan Wulandari pecah begitu Ia melihat peti jenazah Papa nya di masukan ke tanah liang pemakaman lalu di taburkan bunga -bunga di atasnya sebelum di tutup oleh tanah -tanah lainnya hingga tak dapat terlihat sama sekali oleh Wulandari.
" Nona, tenangkanlah hatimu. " Kata Bibi Erna yang memeluk Wulandari dengan erat.
" Wulandari, kau harus kuat dan tabah agar Papa mu tenang di Surga. " Kata Edmundo membelai rambutnya seraya memayungi dirinya dari hujan.
" Iya, Wulan. Kau tak sendiri di dunia ini karena kau masih memiliki kami sebagai keluarga mu. " Kata Linda Christanty di sisi lainnya.
Wulandari hanya menganggukkan kepalanya menjawab kekasihnya, sahabatnya dan pelayan setianya yang merupakan orang-orang terdekat dan terkasih nya selain Papanya.
Wulandari pulang ke rumahnya dengan di temani oleh Edmundo yang memeluknya di sofa ruang keluarga seraya memberikannya ciuman hangat di pipi nya untuk menghibur dukanya.
"Wulan, kau harus tegar supaya besok pagi kau bisa menghadiri rapat Komisaris utama PT Star Leon sebagai presiden direktur utama PT Star Leon pengganti Papa mu di hadapan para klien dan juga pemegang saham di PT Star Leon. " Kata Edmundo memberikan arahan kepadanya.
" Iya, Ed. Aku tahu hal itu cuma untuk saat ini aku masih ingin mencoba menenangkan hati dan juga pikiran ku yang sedang di rundung dukacita atas meninggalnya Ayah ku. " Kata Wulandari di pelukan Edmundo
" Ya, Sayang. Kau tenangkanlah hatimu dahulu ya ? Jangan khawatir karena aku ada di samping mu. " Kata Edmundo yang merengkuh wajahnya dan mendekatkan bibir untuk menciumnya tapi Ia mendorong Edmundo.
" Maaf, Ed. Aku sedang tak tertarik untuk di cium pada bibir ku olehmu saat ini. " Kata Wulandari yang meninggalkan Edmundo di ruang keluarga menuju ke kamarnya sendiri
__ADS_1
" Hmm.. Aku belum pernah merasakan bibir mu yang manis, Wulandari. " Kata Edmundo nada pelan dan wajahnya kurang senang dengan sikap acuh tak acuh Wulandari.
" Kau rasakan sensasi ciuman ku untuk mu. " Kata Linda Christanty yang membalikkan wajah nya untuk mengarah kepada Linda Christanty yang kemudian menciumnya dengan mesra.
" Hentikan! " Kata Edmundo melepaskan diri dari ciuman Linda Christanty karena khawatir mereka akan di lihat oleh Wulandari dan Bibi Erna atau penghuni lain di rumah kediaman Leon.
" Iya, ya ya aku hentikan sensasi nikmat bibirku dari bibir mu yang tak pernah mengecewakan ku. " Kata Linda Christanty yang tersenyum centil kepada Edmundo yang tangannya meraba tubuh Linda Christanty secara kilat.
" Aku akan membalasnya nanti di rumah kita. " Kata Edmundo nada memikat kepada Linda yang menelan saliva membayangkan bagaimana cara Edmundo membalas kebaikannya tadi di rumah rahasia mereka nanti.
Edmundo menemui Wulandari di kamar tidur Wulan lalu mendekati Wulandari yang sedang duduk di tepi ranjang yang sangat menggiurkan Edmundo untuk merasakan kenikmatan hakiki dari keindahan tubuh Wulandari di dalam benak pria itu.
" Edmundo, aku ada urusan mendadak yang tak pernah bisa aku tunda lagi untuk aku kerjakan sekarang juga. " Kata Wulandari yang malah jalan keluar dari kamar lalu berpamitan kepada Bibi Erna di lorong dekat pintu ruang tamu.
" Iya, Bi. Bibi Erna tenang sajalah karena Wulan adalah seorang gadis yang tangguh. " Jawab Wulan mencium pipi kanan dan kiri Bibi Erna di pintu.
" Wulan..! Kamu mau pergi ke mana? Biar aku yang menyetir mobil mu untuk mu. " Kata Edmundo mengejarnya ke depan mobilnya.
" Tak perlu, Ed. Aku bisa menyetir mobil ku sendiri. Kau dan Linda sebaiknya pulang saja ke rumah kalian masing-masing untuk beristirahat agar stamina kalian untuk esok hari bekerja di perusahaan Star Leon ku dapat terjaga dengan baik sekali. " Kata Wulandari nada halus kepada Edmundo menolak tawaran Edmundo yang ingin membantunya menyetir mobilnya untuk pria ini dapat mengantarkannya ke tempat tujuan nya.
" Wulannnnn! " Seru Edmundo nada kencang.
Namun Wulandari sudah mengendarai mobilnya begitu kencang meninggalkan rumah kediaman Leon tanpa menghiraukan teriakan Edmundo dari teras rumah kediaman Leon.
__ADS_1
"Sudahlah, biarkan saja dia pergi sesuka hatinya dengan mengendarai mobilnya sendiri. " Kata Linda Christanty yang menaruh tangan di bahu Edmundo.
" Ahhh, ya kau benar sekali Linda, mari sebaiknya kita pulang saja ke rumah kita masing-masing. " Kata Edmundo yang menepis tangan Linda pada bahunya lalu masuk ke mobilnya sendiri dan pergi dari rumah kediaman Leon.
Wulandari mengendarai mobilnya menuju ke sebuah pasar rakyat kecil di pinggiran Ibukota Jakarta dan Ia memilih untuk berjalan kaki di sepanjang jalan pasar rakyat kecil dan Ia melihat sebuah warung kopi sederhana di sudut jalan.
" Mbak, silakan mampir ke warung kopi Saya. " Sapa seorang pemuda usia dua puluh tujuh tahun dengan senyuman tampan kepada Wulan.
" Ah, ya.. Aku ingin memesan secangkir kopi susu merek Torabika. " Kata Wulandari yang akhirnya memesan secangkir kopi kepada pria muda itu.
" Ya, tunggu bentar ya Mbak akan Saya siapkan dahulu kopinya. " Jawab pria muda itu dengan senyuman yang mendatangkan kenyamanan di hati Wulandari.
" Edward, Kau cepatlah buatkan Aku semangkuk mie instan rasa soto mie plus telur ceplok dua biji ya..! " Kata pria yang datang ke warung kopi itu dan Wulandari mengenalinya.
"Bukankah kau ini pelayan paruh waktu yang waktu lalu bekerja di restoran tempat aku rayakan pesta ulang tahun?" Tanya Wulandari nada ramah kepada Luis Fernando.
" Ah, Nona Wulandari? " Sapa Luis yang segera mengenalinya juga meskipun Luis tahu bahwa Ia mirip dengan gadis kekasihnya Luis.
" Ya, Aku Wulandari. Apakah kamu masih ingat dengan kesalahpahaman yang pernah kau katakan kepada Ku dengan kamu memanggilku Marinka sayang ?" Tanya Wulandari nada ramah kepada Luis seraya mengingat kembali ucapan salah Luis yang pernah memanggilnya dengan nama Marinka sayang di hotel restoran tempat pesta ulang tahun Wulandari.
" Iya, tentu saja aku masih ingat sekali dengan kesalahan ku itu padamu habisnya kamu mirip sekali dengan kekasih ku yang bernama Marinka Florentina, Nona Wulandari. " Jawab Luis dengan senyuman ramah nya kepada Wulandari.
" Ouh, Aku minta maaf kepada mu karena aku telah salah sangka kepada mu beberapa waktu lalu. " Kata Wulandari nada tulus meminta maaf kepada Luis.
__ADS_1
Bersambung!