
Perempuan dengan baju gamis berbahan kain batiknya yang sedikit lusuh, dan kerudung hitam penutup kepalanya, dan senyumnya yang hangat, perempuan yang telah melahirkan dan membesarkan Mawar selama ini..
Ia membesarkan Mawar seorang diri, saat duduk di kelas 3 sekolah menengah pertama ayah Mawar telah meninggalkan keluarga kecilnya untuk selama lamanya. Sejak saat itu ibu Mawar harus bekerja sangat keras untuk menafkahi Mawar dan adiknya Wahyu yang kini telah duduk di bangku kelas dua SMA..
Mawar sangat menyayangi sekali ibunya, apalagi ia tahu betul bagaimana perjuangan ibunya yang mencari uang demi sekolah dan kehidupan sehari hari mereka, maka dari itu tak berat bagi Mawar sebagian gajinya harus di kirim ke ibunya di tiap bulannya..
Mawar sangat takut mengecewakan sang ibu, karena ibunya menggantung harapan besar pada Mawar agar memperbaiki ekonomi mereka, dan kini setelah Mawar merantau dan bekerja, Mawar menjadi cerita yang di banggakan oleh ibu kepada tetangganya di kampung..
Tak ingin hanya mengingat dan menyiksa diri saja dengan rasa rindu, Mawar segera meraih ponselnya, dan menelepon sang ibu yang ada di kampung..
"Halo ma," sapa Mawar..
"Halo nak, gimana kabarmu sekarang nak? sehat," tanya ibu dengan gembira mendengar suara anaknya Mawar..
"Alhamdulillah sehat ma, mama dan adek gimana sekarang ?"..
"Mama sama adek alhamdulillah sehat, cuma biasa adek mu habis jatuh dari sepeda motornya,"..
"Lohh kok bisa ma, tapi gak apa apa kan ma?" Tanya Mawar dengan sangat khawatir..
"Ya ga apa apa, cuma jadi banyak tidur aja sih sekarang haha," ibu nya Mawar tertawa..
"Ah itu sih dari dulu," Mawar pun ikut tertawa bersama ibunya..
"Eh nak, kamu belum tahu ya kabar yang heboh saat ini di kampung?" suara ibu Mawar pun bersemangat..
"Kabar heboh apa ma?" Mawar jadi penasaran..
"Itu loh anaknya bu endang yang rumahnya di belakang pak Bejo," Jawab ibu..
"Oh si Widi ma, emang kenapa dia?" Mawar bingung..
"Itu dia baru pulang dari tempat rantauannya"..
''Ohh...pasti bawa duit banyak ya ma, pasti senanglah Bude En"..
"Mending kalau duit nak, lah ini bawa perut gede,'' ucap ibu Mawar dengan nada jengkel..
"Maksudnya hamil ma si Wiwid ?" Tanya Mawar..
"Lah iya apalagi kalau perut gede"..
"Yah bagus dong ma, bentar lagi bude bakal dapat cucu dong"..
"Bagus apa, orang nikah belum udah hamil duluan, eh kabarnya yang menghamili suami orang'' Ibu Mawar semakin panas menceritakan tetangganya..
"Masa sih ma, jangan fitnah ga baik ma," Mawar mengingatkan ibunya...
"Ini fakta loh kemarin istri dari laki laki yang menghamili Widi datang marah marah, nyuruh Widi gugurin kandungannya"..
"Kasian si Widi mama, kok tega istri orang itu." Mawar merasa iba atas apa yang menimpa Widi teman masa kecilnya..
"itulah, jadi selama ini Widi kirim uang banyak banyak hasil dari macarin suami orang, Pelakor kata orang sekarang", mama semakin memanasi..
"Ya udah mama jangan ikut campur masalah Wiwid, biar aja mereka urus masalahnya sendiri," Mawar tidak ingin mamanya terus membicarakan orang lain..
"Iya.. mama mohon sama kamu jangan sampai ya kayak begitu, jaga diri kamu baik baik, kalau bisa nikah dulu baru hamil, kan sekarang kamu udah cantik, ya harus dapat yang lumayanlah" pinta mama pada Mawar..
Mawar tertegun mendengar nasihat dari ibunya, seketika ia teringat atas apa yang telah ia lakukan bersama mas Yuda, ia merasa sudah melukai hati ibunya, hanya bedanya Widi sudah ketahuan sedangkan ia tak ada yang tau sama sekali, beruntung ia tak hamil karena keesokan hari setelah ia berhubungan dengan mas Yuda ternyata tamu bulanannya tiba, ia pun legah dan memberi tahu mas Yuda..
"Mawar.. hallo.. Mawar," Ibu memanggil di seberang sana..
"Eh iya ma, maaf.. iya bu Mawar inget pesan mama," jawab Mawar..
"Makasih ya nak Mawar uang bulanannya, ibu bisa beli anting emas akhirnya," ibu gembira atas uang di kirim Mawar..
"Sama sama ma, doakan Mawar ya semakin banyak rezekinya ya ma, biar mama bisa beli kalung emas juga"..
"Iya Mawar, mama doakan rezeki kamu di lancarkan ya"..
"Ya udah ma, udah dulu ya," Mawar mematikan teleponnya..
Mawar tidak bisa menahan air mata yang sudah terbendung di pelupuk mata nya, kini air mata itu mengalir di pipi mulus Mawar, Mawar terharu akan kebahagiaan ibunya, ia sangat begitu bersyukur karena sudah bisa membuat ibunya tersenyum kembali..
Tidak ingin larut dalam kesedihan, Mawar segera memoles bedak tipis di wajah lembabnya dan menambah lip tint pink segar di bibir indahnya..
Lalu ia memandang ke arah jendela, dimana kamar Mawar tepat di bagian depan, yang jendelanya langsung menghadap halaman yang di penuhi daun daun mangga dari pohon mangga tetangganya, Mawar pun terdengar ingin membersihkan daun daun yang berterbaran di teras rumah asramanya..
Karena hari sudah sore, Mawar sudah rapi dengan baju tidur putih motif bunga mawar berwarna pink yang membuat ia terlihat seperti gadis ABG yang masih SMA..
Ia pun mengambil sapu lidi di samping rumahnya, dan perlahan menyapu daun daun kecoklatan yang bertebaran, Mawar memang gadis rajin dan bersih, kebiasaannya yang sering beres beres di bawanya sampai ia di asrama dan tempat ia bekerja..
Daun yang bertumpuk itu, di masukkannya ke dalam kantong plastik yang cukup besar, dan akan di buang di tempat sampah depan rumah, suara mobil berhenti menghampiri Mawar, namun ia tidak peduli mobil siapa yang berhenti hingga suara Eca mengagetkannya..
"Mawar..tumben rajin banget," Eca turun dari mobil menghampiri Mawar..
__ADS_1
Mawar pun menoleh kebelakang, deg...ia sedikit terkejut setelah tahu itu mobil mas Yuda yang baru saja mengantar Eca..
"Makasih ya mas Yuda," Eca melambaikan tangan kepada mas Yuda..
Mawar tersenyum ke mas Yuda, begitupun mas Yuda membalas senyuman Mawar dengan tulus. Hati Mawar merasa cemburu ketika tahu Eca baru saja bersama mas Yuda, namun Mawar menepis kecemburuannya, ia yakin mas Yuda akan memberi alasan kenapa bisa bersama Eca..
Mawar segera masuk ke dalam rumah dan membersihkan kedua tangannya yang sedikit kotor, 'Eca sama mas Yuda habis dari mana ya.' batin sari gundah..
Mawar termenung di sudut kamarnya, ia gundah menunggu kabar dari mas Yuda untuk menjelaskan kebersamaannya dengan Eca tadi, itulah Mawar ia tak pernah ingin memulai menghubungi mas Yuda, karena rasa malunya, namun itulah yang membuat mas Yuda jatuh cinta padanya, mas Yuda menyukai perempuan yang kalem, dan tidak agresif seperti Mawar..
Tiing.. layar ponsel Mawar menyala tanda sebuah pesan masuk..
''Jangan cemburu ya..tadi ga sengaja ketemu Eca di cafe, dia minta nebeng pulang,'' pesan singkat dari mas Yuda..
Mawar tersenyum membawa pesan itu, ia sangat yakin kalu mas Yuda memang cuma mencintai dia, dan menyayangi dia dengan sungguh sungguh..
Kini bayangan akan mas Yuda berputar di kepala Mawar, ia terbayang akan indahnya saat di hotel bersama mas Yuda, tak munafik Mawar menginginkan hal itu lagi, rasanya ia harus bekerja keras menahan rindu yang memenuhi dadanya hingga bisa untuk bertemu mas Yuda minggu depan..
"Elo dari mana Ca?" Riri bertanya ke Eca..
"Habis ketemu mas Yuda," sahut Eca..
"Kok bisa, dimana ?" Riri penasaran..
"Ya bisalah, di cafe nya dia tadi, dia ngajak gue ke cafe," Eca berbohong..
"Aseekk.. elo makin dekat ya sama mas Yuda," Riri melempar bantal yang sejak tadi di tidurinnya..
"Ya iyalah.. seorang Eca harus bisa menaklukan hati pria," ucap Eca sombong..
"Emang loe beneran suka sama mas Yuda?"..
"hmm.. suka buat jadi pacar sih ga juga, cuma gue penasaran aja gimana sih rasanya bisa bobok bareng sama mas Yuda, hahaha.." Eca tertawa lepas..
"Maksud elo Ca?" Riri tak mengerti akan perkataan Eca..
Eca pun menarik Riri dan membisikkan sesuatu ke telinga Riri, tiba tiba Riri terkekeh geli..
"Serius loe Ca?" RIri masih tak percaya akan apa yang Eca katakan..
"Makanya loe coba deh!" Eca bergegas masuk kamar..
Riri hanya terdiam, dan tiba tiba ia teringat akan laki laki yang bermesraan dengannya malam itu, 'apa dia orangnya,' desis Riri nakal..
Sementara Mawar yang menguping pembicaraan mereka di balik tembok kamar, hanya bisa menerka-nerka apa yang sedang di bahas oleh kedua temannya, ia hanya sedikit khawatir saat nama mas Yuda beberapa kali di sebut, namun ia tetap pada pendiriannya percaya akan apa yang kekasihnya katakan tadi..
Hari ini ada pertunjukkan band di mall tempat Mawar bekerja, kini bangunan itu penuh dengan orang orang yang sibuk kesana kemari dalam mall bertingkat lima itu..
karena ada acara, jadi pengunjung ke salon pun jadi lebih ramai..
Terlihat customer keluar masuk dari pintu 'Permata Beauty Salon', ke empat karyawan itu sibuk mengurus kliennya masing masing, Riri yang dengan telaten melakukan treatment kecantikan kuku pada cece mei, Eca sibuk dengan alat catokan yang berusaha merubah rambut kribo kliennya agar terlihat lurus dan lembut, begitupun Gina ia dengan lembut memijat kepala yang sudah di lumuri cream berwarna coklat..
Di kepala ibu ibu yang memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Gina..
Dimana Mawar, oh ternyata Mawar tengah asik di kamar yang di lengkapi alat alat canggih, dia terlihat sedang membelai wajah wanita yang matanya tertutupi kapas, iya ini salah satu treatment yang sangat diminati kaum hawa, apalagi kalau bukan facial yang merilekkan wajah dan membuat aura wajah menjadi bersinar kembali..
"Permisi.." ucap seorang perempuan muda membuka pintu salon..
"iya mari silahkan, ada yang bisa di bantu?" Tanya Vera yang tak lain merupakan pemilik salon, yang sejak tadi berada di meja kasir menggantikan karyawannya yang tengah sibuk...
"Saya mau make up, ada acara keluarga nanti jam tiga, apakah bisa?" Tanya perempuan yang kira kira usianya 18 tahunan..
Dengan senyum yang tulus, Vera segera menjawab "oh tentu, silahkan tunggu sebntar ya," pinta Vera dengan sopan sambil mempersilahkan kliennya duduk di sofa yang nyaman itu..
Karena karyawannya tengah sibuk masing masing, maka Vera yang akan mengerjakannya sendiri, ia memang ahli dalam memoles wajah, terlihat dari tampilannya sehari hari yang selalu stylish dengan make up bold nya yang rapi dan enak di pandang..
Vera meraih ponselnya segera dan ia menghubungi salah satu kontak di ponselnya..
"Hallo.. kamu ke sini ya bantuin mbak !" suara Vera terdengar pelan dan segera mematikan teleponnya, ia tidak ingin kliennya resah karena lama menunggu..
Sambil menyiapkan alat alat yang akan di gunakannya, Vera mengajak kliennya ke suatu ruangan, dimana disana tersedia cermin besar yang disisi sisinya di lengkapi lampu lampu manis yang membuat ruangan makin terang dan cerah..
Tak lama kemudian, seorang laki laki membuka pintu salon, dan menduduki kursi di depan meja kasir, laki laki itu tak lain mas Yuda, yang di suruh mas Yuda menggantikannya sementara..
Kurang lebih satu jam setengah, Vera selesai menyulap wanita yang datang dengan wajah polos kini terlihat bak artis bollywood yang siap datang ke pesta..
"Maskasih ya dek udah mau kesini," Vera menyapa mas Yuda yang duduk disana...
"Aman itu mbak, lagian ga lama juga" sahut mas Yuda..
Vera tersenyum, "hmm.. mereka masih sibuk, kalau kamu tunggu di sini sampai jam lima gimana?" Vera merayu adiknya..
Mas Yuda hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda ia setuju tapi setendah hati, "oke.. bu Vera," goda mas Yuda ke kakaknya..
"Anak manis, sekalian kamu kan bawa anak anak pulang nanti," Vera mencolek dagu mas Yuda dan tersenyum meninggalkannya..
__ADS_1
"Hmmm.. siap bu"..
"Mbak ada urusan, jadi mbak harus pergi sekarang," Vera melambaikan tangan di balik pintu..
Mas Yuda memang adik yang baik, dan nurut akan permintaan kakaknya, karena dia tahu betul smeenjak orang tuanya meninggal, Vera lah yang memenuhi semua kebutuhannya, beruntung Vera bersuamikan laki laki kaya yang baik hati jadi terjamin deh hidupnya dan mas Yuda..
Setelah kurang lebih dua jam bersembunyi di balik ruangan itu, kini sari menampakkan wajahnya, terlihat ia telah selesai dengan wajah kliennya, ia pun mencuci tangan dan meminum segelas air putih yang sejak tadi di inginkannya..
"Kamu kemana saja," suara yang tak asing bagi Mawar menghentikan minumnya..
"Mas Yuda"..
"Sttt.. jangan keras keras nanti yang lain dengar," mas Yuda menempelkan jari telunjuknya ke bibir Mawar..
"Mas kok bisa disini?" Tanya Mawar setengah berbisik...
"Bisa dong, kan aku kangen kamu," goda mas Yuda..
Wajah Mawar langsung merona akan ucapan mas Yuda, ia merasa melayang saat mas Yuda mengatakan rindu padanya, "mas bisa aja," ucap Mawar pelan..
Mas Yuda segera memeluk Mawar dari belakang, ia tak ingin menyia-nyiakan waktu ini walau hanya sebentar, begitu pun Mawar, ia amat pasrah akan pelukan mas Yuda, pelukan yang memang di inginkannya..
"Mawar... klien manggil tuh," suara Riri mengagetkan kedua insan yang tengah berpelukan itu..
Refleks Mawar melepaskan tangan mas Yuda yang melingkar erat di pinggangnya, "mas.. aku fokus kerja dulu ya," pinta Mawar lembut..
Mas Yuda memasang cemberut seperti anak kecil di tinggal ibunya, "Ehem.. tolong bawakan saya air putih ya ke depan!" pinta mas Yuda ke Mawar, saat Riri sudah berada di dekat mereka..
"Baik mas Yud," jawab Mawar pelan..
Ia pun bergegas mengambilkan gelas bersih untuk di isi air permintaan mas Yuda, dan segera mengantarkannya ke meja kasir tempat mas Yuda duduk, Mawar meletakkan gelas itu di depan mas Yuda, dan dengan cepat mas Yuda menyambut gelas itu dan memegang tangan Mawar yang masih menempel pada gelas itu..
'Menjijikkan,' desis Eca sinis yang tak sengaja melihat mereka dari cermin yang ada di hadapannya...
Mawar tak ingin terlena akan hadirnya mas Yuda di ruangan ini, ia harus bersikap profesional saat bekerja, ia segera berlalu meninggalkan mas Yuda tanpa senyum sedikitpun karena ia tak ingin temannya curiga akan hubungan mereka berdua, jadi sebisa mungkin Mawar bersikap layaknya karyawan kepada bosnya..
Waktu pulang pun tiba, mereka bergegas bersiap-siap, karena tak ingin membuat mas Yuda menunggu lama, dan lagi lagi seperti biasa Gina kebagian mengunci pintu salon..
"Mas Yuda..tungguin donk!" Eca meraih tangah mas Yuda yang berjalan lebih dulu..
Mas Yuda hanya diam saat Eca memegang tangannya, ia tak langsung menolak karena tak ingin Eca merasa berkecil hati, sementara Mawar terdiam dan tertunduk melihat tingkah Eca yang berani kepada mas Yuda..
"Mas.. jadi kan yang kemarin mas janji sama aku?" Eca bertanya manja kepada mas Yuda..
"Saya lihat dulu jadwalnya nanti ya," jawab mas Yuda, yang melihat kepada Mawar di belakangnya..
Mawar membuang muka, seolah tak perduli akan siapa yang ada di depannya ini..
Tiba-tiba mas Yuda melepas tangannya yang di genggam Eca sejak tadi "handphone saya bergetar." ucap mas Yuda...
Eca kesal akan mas Yuda, ia langsung melihat ke arah Mawar, ia tak terima mas Yuda seperti risih saat Eca memegangnya dan itu membuat Eca di permalukan di depan Mawar..
"Awww.." rintih Eca yang terjatuh di lantai...
Refleks Mawar, Gina dan Riri membantu Eca, sementara mas Yuda masih sibuk bicara pada telepon selulernya..
"Kakiku sakit kayaknya keseleo," Eca menunjukkan memegang kakinya...
"Jadi gimana kamu bisa jalan ga?" Tanya Riri..
"Coba berdiri pelan pelan Ca!" suruh Gina..
"Aww.. aw.. sakit, aku ga bisa, di bawa jalan sakit" rintih Eca...
Mawar menghampiri mas Yuda, dan meminta mas Yuda menggendong Eca ke mobil, dengan senang hati Eca menyambutnya karena memang itu yang di harapkan akhirnya rencana konyolnya berhasil bikin Mawar makin cemburu sama dia..
'Benar-benar keterlaluan ya Eca, bisa bisanya dia pura pura sakit supaya mas Yuda perhatian dan gendong dia.' batin Mawar kesal, ia tahu betul bagaimana sifat Eca sebenarnya..
Perasaan mas Yuda tak enak saat ini, satu sisi ia tak mungkin tak menghiraukan Eca, di mana jiwa pelindungnya terhadap wanita saat melihat wanita tak berdaya, tapi di satu sisi ia sangat cemas akan kecemburuan Mawar, kekasihnya yang jelas melihat ia saat menolong dan terpaksa menggendong Eca tadi..
Sesampai di rumah, mereka masuk ke dalam kamar masing masing, begitu pun dengan Eca ia bahkan terlihat lancar dan sehat melangkah kan kakinya ke kamar..
"Loh Ca udah ga sakit ?" Tanya Riri heran..
"Lebay loe, di kampung biasanya loe main terjun-terjunan dari pohon," Gina sinis dan tak peduli akan Eca..
"Kaki loe ga sakit Ca?" Mawar ikut bertanya..
"Ya ga lah, kan gue cuma pura pura aja tadi, gue mau lihat mas Yuda tu peduli ga sama gue," Eca menjawab sinis..
"Korban sinetron loe Ca," Riri terkekeh...
"Terkadang kita itu harus bersandiwara untuk memancing lelaki say" seru Eca...
"Ikan kali ah di pancing," Riri makin geli,,
__ADS_1
"Ikannya gue, kucingnya dia terus gue berharap bisa di santap sama dia hahaha," Eca tertawa puas..
Mawar tak ingin semakin panas akan gurauan Eca, ia pun segera masuk ke kamarnya, dan menutup pintu kamar dengan sedikit hempasan..