
"Ma alisnya Mawar jangan terlalu hitam ya," pinta Mawar ke Ibunya..
"Iya ma tau kok, kan mama yang melihat Mawar bagus atau enggaknya di wajah kamu," sahut Ibunya..
"Habis Mawar lihat alis mama sehari hari tebal dan hitam banget," ucap Mawar khawatir..
"Mama kan sudah mak mak jadi harus agak tebal kalau dandan," sahut Ibu Mawar yang nampak mahir memoles wajah anaknya..
"Mawar ga mau tebal-tebal ya ma, malu sama teman-teman Mawar nantinya," Mawar makin ragu akan hasil riasan ibunya..
"Tenang aja, gini gini mama juga tahu riasan anak jaman sekarang," jawab Ibu Mawar meyakinkan..
Akhirnya kurang lebih seperempat jam Ibu memoles wajah Mawar dengan alat make up andalan seadanya, tak di sangka hasil riasan ibunya cukup indah untuk di pandang mata, Mawar terlihat tampak berubah seperti gadis yang sangat cantik walau hanya dengan polesan tipis tipisnya di wajah Mawar, bibirnya yang berwarna pink redup membuat senyuamannya terlihat sangat manis, dan rambutnya yang di sanggul ala pramugari memberikan kesan elegan pada penampilannya hari ini..
Hari ini merupakan hari perpisahan di sekolahnya Mawar, kelulusan yang di tunggu tunggunya akan tiba sebentar lagi, dan yang Mawar tunggu sebenarnya bukan hanya kelulusannya saja, tapi dia sangat menunggu momen dimana dia akan merantau ke kota untuk memulai kehidupan barunya, iya Mawar sudah tidak sabar bisa bekerja di kota dan bisa punya uang sendiri sehingga dia bisa membeli apapun sesuai keinginannya tanpa menyusahkan orang tuanya..
"Hai Mawar," sapa Heny..
Mawar terpesona melihat sahabatnya hari ini, ia tampak begitu cantik..
"Wah kamu cantik banget heny, aku jadi pangling loh lihatnya," puji Mawar ke teman sekolahnya..
"Ah masa sih, makasih Mawar, ini tadi aku dandan di salon langganan mama aku, btw kamu juga sangat cantik banget, beda banget loh Mawar," Heny balik memuji sahabatnya..
Mawar hanya tersenyum menanggapi pujian dari Heny, karena dalam hati kecilnya Mawar merasa kalau riasannya hari ini sangat sederhana di banding semua teman teman sekolahnya yang ada di sini, tapi Mawar tetap bahagia dan sangat bersyukur walaupun dia tidak mampu pergi ke salon setidaknya ibunya sudah mau membantunya tampil lebih baik di hari terakhirnya bersama teman teman SMA nya..
Acara demi acara berlangsung, dari acara hiburan hingga acara perpisahan yang di iringi salam salaman bersama guru guru yang di warnai haru dari para murid dan tak sebagian dari mereka meneteskan air mata..
Begitu pun tampak Mawar dan Heny berpelukan, mereka saling menguatkan satu sama lain, tak di sangka yang setiap harinya di sekolah mereka selalu bersenda gurau, sebentar lagi akan berpisah, dan berjauhan untuk mengejar impian mereka masing-masing..
"Mawar kamu jangan lupain aku ya nanti," rengek Heny memeluk Mawar..
"Kamu juga ya Hen, meskipun kita ga ketemu tiap hari lagi seperti di sekolah sebelumnya, tapi aku mau kita tetap bersahabat," Mawar ikut merengek dan memeluk Heny..
"Ingat ya kalau kamu udah sukses kamu jangan pernah untuk melupakan aku," tak terasa air mata Heny mengalir di sela sela pipinya..
"aku ga akan pernah mungkin melupakan kamu, kamu adalah sahabat terbaikku saat aku di sekolah Heny," Mawar pun ikut terharu dan juga meneteskan air mata..
Rasanya baru kemarin Mawar mendaftarkan diri di SMA ini, tapi sekarang Mawar akan segera meninggalkan bangunan yang menyimpan banyak kenangan ia bersama sahabatnya Heny, tapi di satu sisi ada perasaan lega dan dahaga di hati Mawar karena telah terbebas dari tugas yang wajib baginya di setiap hari ini..
'Akhirnya selesai juga perpisahan hari ini,' gumam Mawar menatap dirinya di depan cermin kesayangannya..
Ya cermin yang sudah tidak mulus lagi tapi cukup bisa menjadi teman bagi dirinya bercerita, "kalau bisa besok aku ikut mba Widya ke kota, aku pasti mau banget, secara apalagi yang ku cari disini, sekolahku sudah tamat, dan laki laki yang ku sukai pun juga sudah pergi ke kota lebih dulu," Mawar mengadu pada cermin bisunya..
Mawar teringat akan kejadian tadi pagi ketika ia ke warung hendak membeli peniti untuk kain kebaya nya, kejadian yang membuat moodnya berantakan, laki laki yang di kaguminya selama ini Aril ternyata sudah punya kekasih di kota..
Tak di sengaja Mawar mendengar percakapan Aril di telepon selulernya pagi tadi, ia terdengar berbicara dengan seseorang wanita di seberang sana, dan suaranya terdengar lembut dan manja tak lupa kata sayang yang di ucapkannya berulang kali di percakapan mereka, meskipun polos tapi cukup paham bagi Mawar kalau wanita di telepon itu kekasihnya Aril, Mawar harus menerima kenyataan kalau cintanya akan bertepuk sebelah tangan..
"Mawar....," Suara Ibu menyadarkan dari lamunan Mawar, ia pun segera memperbaiki mimik wajahnya yang sedikit sedih..
"Iya ma," Mawar segera bergegas keluar kamar mendekati Ibunya..
__ADS_1
"Kamu cepat segera membenahi barang barangmu, siapkan mana yang penting bagimu nanti untuk ke kota, masukkan dalam tas ini !!" Ibu Mawar memberikan tas berukuran sedang, yang pas untuk orang yang akan bepergian beberapa hari..
"Loh memangnya mba Widya udah datang ya ma ke rumah ?" Mawar tidak hanya bertanya tapi juga berharap..
"Iya, besok kamu berangkat ikut dia, di tempat kerjanya sedang butuh karyawan menggantikan temannya yang pulang kampung karena mau menikah, jadi butuh cepat, kesempatan banget buat kamu ini," jawab Ibu menyemangati Mawar..
"Iya ma, tapi kan Mawar belum menerima ijazah ma, gimana dong ?"..
"Itu bisa di atur, nanti mama bisa kirim ijazah ke kota, enggak perlu pakai persyaratan lengkap sudah langsung bisa kerja disana, itulah namanya dunia kerja, istilahnya ada ORANG DALAM," sahut Ibunya Mawar..
Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak kepada Mawar, yang di harapkannya sekarang benar benar terjadi akhirnya besok dia akan pergi ke kota..
"Yeay..good bye kampung halaman ku," sorak Mawar kegirangan di dalam hatinya..
'Hmmm,.. kira kira nanti di kota aku bakal ketemu cowok idaman ku nggak ya, semoga saja nanti aku bisa bertemu sama cinta sejatiku yang bisa mengobati patah hati ku ini gara gara si Aril yang sudah membuat hatiku hancur berkeping keping,' Mawar mencurahkan kesedihannya sambil meremas bantal gulingnya, "Oke malam ini aku harus tidur cepat supaya besok pagi aku bisa bangun lebih awal karena besok aku akan memulai perjalanan yang panjang, ya perjalanan di Bis menuju kota dan perjalanan hidupku mencari cinta sejatiku pun akan di mulai besok, good night kampung halamanku.' gumam Mawar mematikan lampu dan memejamkan matanya yang sudah tidak sabar menunggu esok..
*Perjalanan di Bis..
"Mawar bangun, kita sudah sampai !", Mbak Widya menggoyang goyangkan badan Mawar yang hampir selama perjalanan selalu tertidur..
Ya begitulah Mawar jangankan perjalanan jauh, dari pasar ke rumah saja di angkot dia bisa ketiduran haha..
"Eh iya mba Wid, maaf sudah sampai ya ?" Mawar menyadarkan dirinya dan segera bangkit dari kursi Bisnya yang joknya sudah melengkung karena kelamaan di duduki..
"Iya ayo turun bawa tas mu, kita mau sambung naik kendaraan ke rumah kontrakan mbak Wid ya," suruh mbak Widya dengan lembut ke Mawar..
"Oh iya mbak Wid." Mawar bergegas..
"Makasih ya pak." teriak mbak Widya ke supir mobil itu..
"Ayo Mawar, ini rumah mbak, kamu istirahat dulu ya semalam disini, besok baru mbak antar ke asrama tempat kamu kerja," ajak mbak Widya ke Mawar..
"Oh iya mbak Wid, Makasih ya mbak," Mawar segera bergegas membawa tas ke dalam rumah mbak Widya..
Rumahnya sederhana kamarnya ada dua, bisa di tumpangi Mawar satu, karena mbak Widya dan suami belum punya anak, jadi kamar satu hanya jadi tempat barang barang saja..
"Istirahat dulu Mawar, kalau sudah tidak terlalu capek kamu mandi, habis itu istirahat dulu ya, nanti mbak belikan makan, ini mbak mau keluar dulu sama suami ya Mawar"..
"Ok mbak Wid, maaf merepotkan ya mbak," ucap Mawar dengan segan kepada mbak Widya..
Tiba tiba..
buuukk.. bukk..
"Awww," rintih Mawar kesakitan dan kaget karena seperti ada sesuatu yang jatuh menimpa kepalanya..
"Eh maaf ada orang ya di bawah, aduh maaf ga sengaja, aku pikir ga ada orang tadi," sahutan suara dari atas pohon mengagetkan Mawar..
Mawar terdiam menunggu lelaki itu turun dari pohon dan meminta maaf secara langsung kepada dirinya..
"Maaf mbak saya ga sengaja, tadi mau masukin ke dalam kantong, eh malah jatuh kena mbak nya," lelaki itu pun menyodorkan tangan kanannya ke arah Mawar..
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya Mawar melihat wajah lelaki yang ada di depannya itu ternyata tampan sekali, wajah Mawar langsung pucat karena grogi..
"Eh, iya ga apa apa kok, saya maafin kan ga sengaja kan ya,'' jawab Mawar yang juga menyodorkan tangan kanannya ke depan menerima ajakan salam dari lelaki itu.
'Wah kok ada ya mahluk setampan ini di bumi, kalau gini Aril ga ada apa apanya, aku ralat deh ga jadi ah patah hati karena dia,' Mawar berbicara ke dalam hatinya sendiri..
"Ini buah buat kamu sebagai permintaan maaf aku," lelaki itu memberikan satu plastik kecil ke Mawar..
"Oh makasih banyak ya, wah...mangganya cantik sekali ya,'' Mawar kegirangan..
'Iya sama cantik kaya orang yang menerimanya,'' gombal lelaki itu..
Deg.. deg.. deg..
Muka Mawar pun segera memerah, ia belum pernah di puji lelaki sebelumnya, bahkan ia pun jarang ngobrol dengan lelaki, selama ini ia hanya berani mengagumi dan melihat dari kejauhan saja lelaki yang ia sukai..
Tring.. triing.. triiing..
Alarm Mawar berbunyi nyaring, sehingga mengagetkannya dan membuat tidur indahnya terbangun, hmmm hanya mimpi rupanya, keluh Mawar di dalam hati..
'Tapi katanya kalu mimpi di kasih buah atau bahkan dapat buah atau makan buah itu tandanya bakal dapat keberuntungan, wahh..semoga ini pertanda keberuntunganku,' berharap Mawar dalam hati sangat optimis..
*Salon MISUMI Lash & Beauty..
"Kenalkan ini Mawar, dia bawaannya mbak Widya dia akan di training disini, dan kalau sudah pandai akan saya pindahkan ke cabang yang baru," Bos memperkenalkan Mawar kepada karyawan salonnya yang sudah senior..
"Dan ini ada Eca, Gina, dan Riri juga, mereka juga dari bawaan tetangga saya yang akan di training berbarengan sama Mawar ya, semoga kalian berempat cepat pandai dan kompak ya biar segera ditempatkan di cabang yang baru ya", ujar sang Bos memberi arahan kepada empat karyawan mudanya yang akan ditempatkan di bisnis salonnya yang baru kebetulan di Mall mewah yang sedang Hits, makanya butuh karyawan yang masih muda muda dan masih segar..
Hari ini pun Mawar memulai aktivas barunya, ya belajar tentang dunia perawatan kecantikan di Salon tempatnya bekerja, Mawar tak menyangka kalau ia akan bekerja di Salon, dia sangat antusias sekali karena pada dasarnya Mawar memang senang melihat dirinya di depan cermin, membelai belai rambutnya, dan sekarang dia berada di ruangan dimana kanan dan kiri sisi ruangannya di lengkapi cermin cermin besar nan cantik, dan yang pastinya mulut tidak seperti cermin kesayangan Mawar yang ada di kamar rumah kampungnya, eitss biarpun begitu cermin itu tetap kesayangan Mawar hihi..
Mawar menikmati aktivitas barunya, ia pun dengan cepat membaur bersama teman teman kerja barunya saat ini, padahal dulu sehari hari kalau di kampung dia gadis yang minderan dan kurang pede, tapi sedikit demi sedikit dia belajar untuk percaya diri, Mawar bersama keempat temannya giat belajar jika sedang di training centre, mereka bersaing ingin cepat pandai, karena kalau cepat pandai, cepat juga mereka akan mendapatkan customer, dan yang pasti cepat juga dalam peningkatan gaji mereka..
Tak terasa tiga bulan berlalu, itu pertanda masa training mereka berakhir dan mereka berempat akan segera pindah ke Mall Hits di mana tempat mereka bekerja sebenarnya..
"Wah, akhirnya kita selesai juga ya trainingnya," ucap Eca lega..
"Iya ga terasa ya sudah enam bulan kita di tempat ini.' sahut Riri..
"Semoga kita betah ya di tempat baru kita nanti, dan kita akan selalu kompak dalam pekerjaan,'' Mawar menyemangati..
"Hmmm, tapi kalian bosan ga sih ?, enam bulan ini kita tuh taunya cuma Salon tempat kita training, trus asrama kita, bolak balik itu-itu aja bosen ga sih ?" Ketus Gina mengompori teman temannya..
"Iya, lumayan bosan sih tapi mau gimana lagi kita kan masih baru jadi ya belum tau mau kemana mana," sahut Eca..
"Iya bener, bentar lagi kan kita bakal pindah ke Mall, apalagi Mall nya Hits banget loh, wah pasti banyak cowok cowok ganteng tuh disana," Riri mulai memperlihatkan sisi kecentilannya..
"Sabar aja, kalau kita sudah dapat gaji lebih, baru kita jalan jalan nanti biar ga bosan, kan enam bulan ini kita dapat uang sakunya masih pas pas banget,'' Mawar menenangkan kawan kawannya..
"Bener tuh Riri, dah lama ini ga melihat cowok cowok ganteng biar agak segeran ini, sekalian cuci mata kan," sahut Gina semangat..
Mereka berempat sejauh ini terlihat sangat kompak dan saling mensupport satu sama lain, kalau di lihat-lihat mereka bukan gadis yang jelek, hanya saja mereka berempat masih sangat polos, ups ralat sepertinya bukan berempat tapi bertiga, berbeda dengan Gina sepertinya Gina agak terbiasa dengan alat make up dan dia pun cukup mahir dalam memoles wajahnya agar terlihat sangat menarik dan cantik, sehingga membuat Gina lebih terlihat menonjol ketimbang teman teman kerjanya saat ini..
__ADS_1