
Mereka sudah rapi dan siap untuk mendengar dan menyimak perkataan yang akan di sampaikan Vera kelak..
Ya.. hari ini meeting singkat akan di laksanakan, Vera sudah berada di ruangan untuk memberi tahu tentang promo promo yang akan rilis bulan ini kepada karyawannya, agar salon mereka nanti semakin menjadi lebih menarik untuk di kunjungi para customer..
Satu jam sudah Vera di dalam sana, dan rasanya karyawannya pun sudah paham dan mengerti materi yang telah di berikan oleh Vera, makanya ia akan segera pergi karena pekerjaannya yang lain telah menanti, Vera memang memiliki jadwal yang sangat padat di tiap hari nya..
"Ya ampun, kok bisa sih ponselku ketinggalan di mobil,'' gerutu Vera, yang sejak tadi sibuk merogoh tasnya dan tidak juga menemukan sesuatu yang di carinya itu..
Mawar yang berada di dapur bersama Vera mendengar gerutuan Vera, tapi ia tidak ingin menyahuti apapun, karena memang Mawar tidak terlalu dekat dengan Bosnya itu, berbeda dengan Gina yang sudah menjadi kepercayaan Vera..
"Mawar," panggil Vera..
"Iya bu''..
"Saya pinjam ponsel kamu sebentar"..
"Oh iya, ini bu." Mawar langsung menyerahkan ponselnya kepada Vera, Mawar selalu menyimpan ponsel di saku bajunya..
"Halo,'' Vera menghubungi seseorang melalu ponser Mawar..
Mawar pura pura tidak mendengar apa yang Vera ucapkan di sana, ia masih sibuk membersihkan daput dan juga gelas gelas kecil bekas jamu para customernya..
"Papi, ponsel ku ada di sana kan ?, oh.. oke"..
Terlihat Vera baru saja menghubungi Ruslan, menanyakan kalau ponselnya ada di mobil bersama Ruslan..
"Ini Mawar, makasih ya, ternyata ponsel saya ada sama suami." Ucap Vera berlalu..
"Iya bu,'' Mawar terdiam sejenak dan berpikir, kalau yang baru saja di hubungi oleh Vera adalah Ruslan, berarti nomor panggilan keluar ini adalah nomor ponsel nya Ruslan..
'Jadi ini nomor pak Ruslan,' desis Mawar dalam hatinya, tidak tau kenapa ada perasaan senang yang terlintas di benak hatinya..
"Mawar.. customer langganan kamu sudah datang tuh." Ucap Eca..
"Oke." Mawar mematikan layar ponselnya dan segera menghampiri customer langganan yang sedang menunggu nya sekarang..
Dalam heningnya di kamar yang tidak besar ini, Mawar terus memandangi nomor panggilan yang di hubungi Vera siang tadi, hatinya ingin terus melihat nomor itu seolah menjadi penghibur hati untuknya..
"Aku kenapa sih ?" Mawar bingung sendiri dengan tingkahnya yang sejak tadi tidak behenti untuk melihat nomor itu, daripada hilang akhirnya Mawar menyimpan nomor Ruslan di ponselnya..
Ya walaupun ia tidak mungkin berkomunikasi dengan Ruslan, tapi siapa tahu ia memerlukannya jadi tidak perlu susah susah lagi untuk mencarinya..
Mawar mencoba meyakinkan hatinya untuk tidak mencoba memiliki rasa sedikit pun terhadap Ruslan, dan Mawar juga menentang hati nya agar tidak punya niat sama sekali untuk masuk ke dalam hubungan orang lain, apalagi hubungan yang sudah terikat pernikahan..
"Kumohon Mawar, jangan pernah memiliki rasa apapun sama dia, ingat dia itu sudah punya istri, ingat !" tentang Mawar pada dirinya sendiri..
"Ngapain loe Mawar ?" tiba tiba Riri masuk ke kamar Mawar dan membuat Mawar terkejut..
"Eh Riri, biasalah cewek kan gak bisa jauh jauh dari kaca." Kilah Mawar..
"Itu Teguh minta nomor ponsel loe, boleh di kasih gak ?" tanya Riri..
"Buat apa dia"..
"Mana gue tahu, buat minjem duit kali haha," gurau Riri..
"Serius loe Ri ?''..
"Lagian pake nanya segala, ya buat pendekatan lah sama loe, gimana sih !" cercah Riri..
"Hmm.. ya udah kasih aja lah Ri, buat nambah nambah temen"..
"Kalau lebih dari temen gimana dong ?" goda Riri..
"Lihat nanti aja deh Ri." Mawar tidak merasa tertarik sama sekali akan sosok Teguh..
"Hmm.. loe suka nya cowok gimana sih Mawar, betah amat hidup sendirian.'' Tutur Riri..
"Apaan sih Ri, belum ketemu yang cocok aja sih.'' Ya Riri memang tidak mengetahui kalau Mawar pernah menjalin hubungan dengan mas Yuda, yang tahu akan hal itu hanya Eca seorang..
"Jangan lama lama, keburu di salip si Gina nanti,'' goda Riri..
"Gina sekali nyalip langsung sah kali,'' balas Mawar..
"Gue balik ke kamar dulu lah kalau gitu, bentar lagi sayang aku pasti nelpon deh,'' ucap Riri..
"Iya deh, yang punya sayang." Ledek Mawar sambil menutup pelan pintu kamarnya..
'Andai saja aku dan kamu masih berhubungan seperti dulu, tentulah aku tidak akan merasa kesepian seperti ini mas,'' Mawar kembali teringat mas Yuda..
Sulit bagi Mawar untuk melenyapkan mas Yuda yang memenuhi hampir seluruh hati nya, Mawar tidak memiliki keberanian untuk mencari obatnya agar luka di hatinya segera sembuh dan terobati..
"Oh hati, tolong lupa kan dia, lenyapkan dia dan hapuslah nama serta kenanganku bersamanya, karena dia telah menyakitiku, meninggalkan ku bahkan tidak mengingatkku sama sekali. Tapi kenapa oh hati ku, kamu masih saja merindukannya." Ratap Mawar di kesunyian malam..
Kembali terlelap di tengah kegalauan, di tengah penantian yang tidak akan berlabuh, di tengah kenangan manis yang menyisakan kepahitan, dan di tengah air mata yang tiada arti dan tiada guna, semua tidak akan indah seperti dulu lagi, tinggalah Mawar yang tenggelam dalam penantian yang tidak bertepi..
Tidur inilah yang menjadi penyembuh, yang menjadi obat dan menjadi penghapus kerinduan yang tidak tersampaikan ini, kerinduan yang tidak terbalas, pada sosok yang tidak mungkin akan mencintainya lagi..
Entah sampai kapan Mawar bisa berhenti mengingat mas Yuda, dan benar benar melupakan keberadaan mas Yuda yang telah terukir sangat dalam di dalam hatinya menjadi cinta pertama bagi Mawar..
\*Di sisi lain\*
Malam yang berbeda untuk Vera dan Ruslan dimana saat ini mereka berdua telah sama sama berada di atas ranjang saat ini, biasanya mereka masih saja sibuk dengan aktivitasnya masing masing..
"Tumben kamu gak minta temenin laptop ?" tanya Ruslan pada Vera..
"Lagi males,'' jawab Vera singkat..
__ADS_1
"Biasanya gak pernah ada kata malas untuk pekerjaan kamu"..
"Aku lagi datang bulan, jadi gak mood ngerjain apapun"..
"Hmm.. pantas saja baru jam segini dia sudah disini, rupanya karena sedang datang bulan, jadi aku tidak mungkin meminta jatah padanya, dasar perempuan licik.'' desis Ruslan sedikit kesal..
"Oh.. sedang datang bulan,'' Ruslan meraih ponselnya..
"Aku mau tidur duluan, badanku pegal pegal semua''..
"Tadi kamu telepon aku pakai ponsel siapa ?"..
"Mawar." Vera memejamkan matanya..
'Mawar,' desis Ruslan hati, ia pun langsung mengecek panggilan masuk di ponsel, dan mengingat pukul berapa tadi Vera menghubungi nya, karena sebagai bisnis man, tentu ponsel Ruslan gak pernah sepi dari deringan..
Ruslan langsung menyimpann kontak Mawar di ponselnya, ia menuliskan nama Mawar 'karyawan salon' agar Vera tidak berpikir lain lain jika ia menyimpannya..
Apa ini bisa di bilang kebetulan ya, tanpa perlu meminta kontak Mawar, dia sudah ada sendiri di ponselnya, Ruslan pasti akan menghubungi Mawar suatu hari, tapi untuk Fiqi bukan untuk kepentingan pribadi Ruslan, sejauh ini Ruslan sangat mengontrol kekagumannya pada Mawar agar tidak keluar dari jalur..
Mengingat Mawar, entah mengapa tiba tiba hasrat kelakiannya muncul, ia pandangi tubuh istrinya yang membelakanginya, sungguh sebagai lelaki normal ia sangat ingin di layani oleh istri nya ini, maka Ruslan menghampiri Vera dan memeluknya dari belakang..
Ruslan bercumbu tubuh putih mulus istri nya itu, meskipun kehangatan antara mereka sedang tidak terjalin, namun kelelakian Ruslah tetap bereaksi bila melihat wanita dengan dress tidur yang tipis di sampingnya ini. Apalagi ia memang sudah lama tidak melakukan kewajiabannya sebagai suami karena memang Vera sangat sibuk..
Ruslan terus memeluk tubuh istrinya dan membelai rambut Vera serta mencium pipi dan bagian leher Vera sehingga membuat Vera merasakan sentuhan itu dan membuat matanya terbuka..
"Papi," ucap Vera mendapati suaminya yang sudah sangat erat dengan tubuhnya..
"Aku mau mi,'' ucap Ruslan pelan..
"Aku kan sedang datang bulan pi,'' sanggah Vera..
"Kan bisa dengan cara lain,'' sahut Ruslan..
"Cara lain apa sih pi, jangan mengada-ngada ya," gerutu Vera..
"Sebentar aja mi,'' pinta Ruslan..
"aku capek pi, dan juga bagaimana bisa aku datang bulan melayani kamu"..
"Dengan yang lain saja," pinta Ruslan lagi..
"Kamu ini ya !" Ruslan mulai kesal..
"Papi itu ya, gak pengertian sama sekali." Bantah Vera..
Mendengar ucapan Vera membuat nafsu Ruslan hilang seketika, ia pun menjauh dan beranjak dari tempat tidurnya dan meninggalkan Vera yang lebih memilih memejamkan mata dari pada melayani dirinya..
Lagi dan lagi, Ruslan di buat kecewa oleh Vera, kembali ke ruangan kerjanya sambil membawa sebotol minuman penghilang lara nya, Ruslan menghabiskan malam kekecewaannya ini dengan mabuk di ruang kerja nya..
Sebotol minuman itu bisa habis dalam sekejap bila dirinya sedang kesal, Ruslan tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya ini, apalagi bila hatinya tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau..
"Brengsek, wanita maunya di mengerti saja, tidak bisa menyenangkan hati suami nya sedikit pun, sial !" umpat Ruslan kesal sambil meneguk minuman di gelas terakhirnya, ia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini..
\*Keesokan harinya\*
Pipi merona, lipstik merah marun kesukaannya, alis yang tegas dan juga bulu mata lentik yang mengesankan tatapan matanya semakin tajam. Merapikan blazer merah marun yang menjadi pelengkap outfitnya hari ini, ia memang selalu ingin tampil rapi dan elegan di setiap kesempatan apalagi jika acara yang melibatkan banyak para pengusaha sukses dan tentu penampilan mereka sangat modis modis, oleh karena itu Vera tidak mau salah dalam berpenampilan, sebab ia pasti menjadi perhatian teman temannya kelak..
Well, kayaknya udah oke nih," ucapnya sambil terus merapikan pakaiannya gar tidak ada yang mengganggu sedikit pun..
tidak lupa koleksi sepatu heelsnya yang akan melengkapi penampilannya hari ini, dan juga tak bermerk nya yang baru saja ia beli sepulang dari luar kota kemarin, Vera memang sangat menyukai tas tas bermerk, karena akan melengkapi gengsinya apalagi saat acara seminar orang orang berkelas seperti hari ini..
Dia memang sedang lelah, tapi jika untuk urusan pekerjaan dan karirnya maka Vera akan sangan bersemangat dan tidak akan melewatkan kesempatannya untuk bisa bertemu dengan relasi relasi barunya itu, selain menambah wawasan, saat ada acara seperti inilah Vera bisa menunjukkan dirinya dengan penampilan terbaiknya, sekalian ia bisa mempromosikan usaha salonnya..
"Halo, iya La.. aku sudah siap kok, oh.. jadi pakai mobil kamu ya?, oke aku tunggu ya." Vera bergegas meninggalkan kamarnya, meskipun baru pukul setengah tujuh pagi namun wajahnya sangat fresh tidak memperlihatkan kelelahannya sama sekali, apalagi make up bold andalannya telah menyulap wajahnya menjadi lebih tegas dan fresh..
"Mbok, susu kedelainya sudah siap ?" Vera duduk di meja makan siap untuk menikmati sapan pagi nya. Ia tidak pernah sarapan berat, baginya segelas susu kedelai dan sedikit buah buahan sudah bisa menopang perutnya sampai ke jam makan siang nanti..
"Sudah, ini nyonya." Mbok inem menyiapkan semuanya di hadapan Vera..
Sambil meneguk susu kedelai nya, Vera juga tidak luput untuk melihat ponselnya, karena memang setiap pagi akan begitu banyak notif penting yang akan masuk ke ponselnya, dan ia tidak boleh mengabaikan salah satu nya..
"Fiqi sudah bangun mbok ?"..
"Sepertinya sudah, sedan di mandikan Indah bu,'' jawab mbok Inem..
"Oh..Mbok liat papi Fiqi gak ?" tanya Vera..
"Gak nyonya, bekum ada turun dari atas"..
__ADS_1
"Oh.. saya pikir sedang lari pagi, soalnya sudah gak ada di kamar"..
"Gak ada nyonya, mungkin di ruang kerjanya, biasanya tuan kan sering disana"..
"Oh iya, mungkin disana ya mbok." Vera bahkan tidak mencari tahu kenapa suaminya bisa tidak ada di kamar pagi pagi. Bagi nya jadwal pagi hari nya ini sudah menyita semua perhatiannya jadi tidak ada waktu untuk memperdulikan Ruslan, lagi pula ia tidak akan pergi jauh jauh dan masih dalam rumah ini..
Tit.. tit... suara kalakson memanggil Vera, ia menghabiskan susu kedelai dan juga potongan buah alpukat nya..
"Mbok, nanti bilang ya sama Fiqi dan Ruslan, aku pergi seminat dulu ya !" suruh Vera yang langsung bergegas keluar menuju mobil Lala yang sudah menunggu nya..
"Baik nyonya." Mbok Inem menutup pintu dan membereskan bekas sarapan majika cantik nya, mbok Inem sangat menyukai aroma parfum yang biasa di gunakan Vera bila bepergian..
"Si nyonya, wangi parfumnya bisa tahan seharian di dapur ini,'' mbok Inem menghirup aroma vanilla yang melekat pada kursi dan meja makan itu..
"Mbok inem sudah bekerja di rumah Vera kurang lebih enam tahun, dari sebelum Vera mengandung Fiqi, dan sekarang Fiqi sudah usia lima tahun, oleh karena itu mbok Inem sudah lumayan paham dengan sifat masing masing majikannya itu..
Indah selalu mengurus semua keseharian Fiqi, jika tidak ada Indah entah siapa yang akan selalu ada untuk Fiqi, sebab itu Fiqi sendiri yang tidak lain bos nya itu, sangat tak ada waktu untuk Fiqi sedikit pun..
"Fiqi ayo kita sarapan,'' ajak Indah pada majikan kecilnya yang baru saja selesai mandi..
"Aku mau sarapan bareng mami dan papi,'' pinta Fiqi..
"Iya, sebentar lagi kan mereka juga bakal turun nemenin kamu sarapan." Jawab Indah..
Indah menunggu Fiqi ke meja, yang disana sudah siap segelas susu coklat hangatnya, dan juga roti tawar dengan selai blueberry favorit Fiqi sedari dulu..
"Wah, mbok Inem udah siapin semua, ayo di makan Fiqi,'' suruh Indah lemah lembut..
"Fiqi makanya sebentar lagi, tunggu mami dan papi turun"..
"Oh.. oke, tapi susu nya di minum setengah dulu, biar ga dingin"..
Fiqi menyeruput susu hangat nya, ia sangat ingin makan bersama dengan kedua orang tuanya, makanya ia rela tidak menyentuh rotinya sama sekali agar dapat momen sarapan bersama mami dan papi nya..
"Loh kok Fiqi belum sarapan ?" Tanya mbok inem yang baru saja selesai menjemur pakaian..
"Fiqi mau sarapan bareng mami papi,'' jawab Fiqi..
"Mami Fiqi kan sudah pergi pagi pagi sekali tadi," ujar mbok Inem..
"Pergi, mami pergi kemana ?" tanya Fiqi..
"Pergi seminar, tadi di jemput sama tante Lala..
"Oh.. nyonya Vera sudah pergi ya mbok ? tanya Indah..
"Sudah, ada seminar katanya"..
"Walah, ini den Fiqi lagi nungguin dari tadi rupanya nyonya ga ada toh"..
"Stt.. lihat itu,'' mbok Inem berbisik ke Indah melirik wajah Fiqi yang mulai kecewa..
Cepat cepat Indah mengajak Fiqi bicara, merayu nya agar mau sarapan walaupun tidak di temani oleh mami nya, dan Indah berusaha mengembalikan mood Fiqi yang sudah jelek pagi ini, namun Fiqi masih saja diam dan cemberut..
"Ayo sayang kita sarapan,'' ajak Indah lemah lembut, namun tidak di jawab sama sekali oleh Fiqi..
Indah pantang menyerah, ia masih berusaha agar Fiqi mau membuka mulutnya dan memakan sarapannya, karena kesehatan Fiqi adalah tanggung jawabnya, kalau Fiqi tidak mau makan dan jadi sakit, Indah juga yang akan kena imbas nya...
"Ini enak loh Fiqi, ini kan makanan kesukaan Fiqi, mbok Inem sengaja masak ini buat Fiqi, spesial katanya,'' bujuk Indah mencoba menyuapkan sesendok nasi goreng udang menu favorit Fiqi, lagi lagi Fiqi menutup rapat mulutnya..
"Kalau gak mau makan, Fiqi minum susu aja dulu ya, biar di ambilkan dari kulkas," tawar Indah yang langsung beranjak untuk mengambilnya..
"Mbok, gimana dong, jadi gak mau makan,'' rengek Indah pada mbok inem yang sedang mencuci piring..
"Coba di rayu lagi, mana tau nanti mau." suruh mbok inem..
"Bu Vera sih pagi pagi udah kabur saja''..
"Sttt.. kok jadi nyalahin nyonya, tar kedengeran,'' bisik mbok Inem..
"Iya maaf, aku kan kasihan aja sama Fiqi, kemarin berenang minta temani nyonya, eh nyonya gak mau panas takut hitam katanya, sekarang minta temani sarapan, eh nyonya udah pergi aja." keluh Indah..
"Ya namanya juga orang sibuk, nyonya itu kan pengusaha, wanita karir." Sahut mbok Inem..
"Iya sih"..
"Sana gih, usaha gimana caranya Fiqi mau makan, biar perutnya gak kosong, nanti masuk angin kamu juga yang repot," tutur mbok Inem yang usianya memang jauh di atas Indah..
"Mbok, tukeran yuk, aku yang ngerjain tugas mbok, terus mbok yang nemenin Fiqi," pinta Indah setengah bergurau..
"Mengada-ngada kamu, aku mana ngerti keperluannya den Fiqi, lagi pula mataku udah kelihatan kalau harus ngajarin Fiqi kalau ada PR,'' jawab mbok Inem..
"Ah mbok, gitu deh,'' rengek Indah, kembali menghampiri Fiqi yang masih cemberut..
Indah sudah membawakan segelas susu untuk majikan kecilnya itu, ia pun kembali berusaha merayu Fiqi agar semangat menghapi hari, apalagi hari ini Fiqi ada kegiatan les piano, dan moodnya sangat berpengaruh dalam berlatih memainkan piano nanti..
"Fiqi, ini susu nya di minum ya,'' suruh Indah pelan..
"Aku ga mau kak,'' jawab Fiqi malas..
"Tapi Fiqi harus sarapan sebentar lagi kita akan les piano,'' jawab Indah..
"Aku mau sarapan sama mami, sama pagi juga"..
"Iya, besok kan bisa, nanti mami nya di kasih tahu dulu biar gak pergi cepat cepat".. bujuk Indah..
"Aku maunya hari ini, gak mau besok"...
"Kan hari ini mami sudah pergi kerja, gimana dong?" tanya Indah bingung..
"Aku sebel sama mami, selalu saja pergi diam diam." Fiqi mengungkap kerja kekesalannya..
"Mami bukan pergi diam diam, tapi mami ada pekerjaan penting, jadi harus segera di kerjakan." Indah mencoba memberi pengertian pada Fiqi..
"Pokoknya aku sebel sama mami, selalu saja gak bisa nemenin aku, aku sebel sama mami !" ucap Fiqi sedikit berteriak..
"Sayang, kok gitu ngomongnya"..
"Biarin, aku sebel sama mami !" teriak Fiqi lebih kencang lagi..
Ruslan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya bergegas turun karena mendengar teriakan Fiqi yang terdengar olehnya, ia sangat paham kalau teriakan anaknya itu pertanda kesal akan sesuatu, maka ia ingin memastikan kalau anak semata wayangnya itu baik baik saja..
"Ada apa ini ?, kenapa dengan Fiqi ?" Ruslan, menghampiri Indah dan Fiqi..
Indah terkejut kalau majikannya itu sudah berada di belakang mereka, refleks ia berdiri dan langsung menjelaskan ada dengan Fiqi saat ini, agar Ruslan tidak salah paham..
"Itu pak, den Fiqi ingin sarapan bersama nyonya dan juga tuan, tapi ternyata nyonya Vera sudah pergi pagi pagi sekali tadi," jelas Indah..
"Pergi, pergi kemana dia ?" tanya Ruslan..
"Mbok inem yang tahu tuan"..
"Kemana mami Fiqi mbok ?"..
"Ada seminar katanya tuan, tadi di jemput bu Lala"..
Ruslan menghelas nafas mengisyaratkan kalau ia cukup muak akan tingkah Vera yang sering keluar pagi pagi sekali dan tanpa pamit kepadanya sama sekali..
"Fiqi, sarapan ya, biar papi yang temani,'' pinta Ruslan..
"Mami ?" tanya Fiqi..
"Nanti kita telepon mami, makan barengnya pas makan siang nanti ya,'' bujuk Ruslan..
"Bener papi ?"..
"Iya sayang, makan ya, papi mandi dulu sebentar ya"..
Ruslan terlihat sangat kusut pagi ini, matanya merah karena kurang tidur dan juga efek minuman yang dia teguk semalam, wajahnya curam dan rambutnya acak acakan, di tambah lagi aroma tubuh dan mulutnya yang tidak sedap menyisakan bau minuman keras..
Kekesalnya Ruslan akan sikap Vera semalam belum lah hilang. 'semalam dia bilang sangat lelah lelah, tapi pagi pagi sekali dia sudah pergi menyebalkan !" gerutu Ruslan..
Dan pagi ini tidak hanya Ruslan yang kesal, tapi anak laki laki mereka yang seharusnya cerita di pagi hari, ini sudah di buat bad mood oleh ibu nya itu..
"Apa sih yang ada dalam pikirannya, apa dan Fiqi hanya orang lain bagi nya, atau mungkin pekerjaannya itu begitu menyita semua perhatiannya." Ruslan masih tidak habis pikir..
__ADS_1
Entah kapan Vera bisa menyenangkan sedikit hati Ruslan dan juga Fiqi, selalu saja membuat kesal dan kecewa ia dan Fiqi. Apa harus Ruslan mencari sosok Vera yang baru, agar hidupnya dan Fiqi lebih berwarna lagi..