
Rulan menyalakan mesin mobilnya dan siap untuk melajukan mobil karena hari ini memang sudah sangat larut, Ruslan ingin sampai di rumah tidak lewat dari tengah malam, ia selalu ingin pulang ke rumah di bawah jam dua belas malam, untuk itu jika sedang ada janji di luar ia selalu mengusahakan untuk tiba di rumah dan tidak melewati jam dua belas malam..
Mawar berusaha untuk bersikap santai saja, meskipun sangat sulit bagi nya untuk menyembunyikan ketidak percayaan diri nya itu, Mawar mengancingkan jaket jeans nya agar angin yang keluar dari AC mobil tidak terlalu menusuk badannya, karena Mawar memang tidak tahan dengan suhu yang terlalu dingin..
Kaki Ruslan bersiap siaga di depan pedal gas mobil, perlahan ia menginjak gas itu, mobilnya bergerak mundur keluar dari parkira, setelah keluar dari parkiran Ruslan siap melajukan mobilnya untuk berjalan ke arah pulang, namun saat ia mau menoleh ke sebelah kiri dan melihat Mawar, Ruslan justru menghentikan mobilnya..
"Mawar, seat belt nya tolong di pakai ya, soalnya saya mau lebih cepat malam ini, agar bisa sampai di rumah jam sebelas." Suruh Ruslan kepada Mawar..
"Oh.. baik pak,'' Mawar membenarkan duduknya, ia kini duduk bersandar dan lebih tegak, tangannya mengambil seat belt nya itu untuk di pasangkan segera di badannya. Mawar berusaha keras menarik seat belt itu, namun terasa begitu keras yang membuat Mawar bersusah payah agar ia bisa mengunci seat belt itu, tapi sayangnya meskipun dia sudah berusaha tetap saja seat belt itu belum terkunci olehnya..
'Aduh kok susah banget sih ya !, biasanya gak sesudah kayak gini deh !' keluh Mawar di dalam hati, perasaan malu mulai menyerangnya..
Ruslan memang tidak melihat ke arah Mawar, karena ia sedang fokus ke layar ponselnya, terlihat ada seseorang yang baru saja mengirimkan pesan kepadanya..
Mawar masih berusaha untuk mengunci seat belt itu, namun tetap saja tidak bisa, Ruslan mungkin bersikap cuek dan tidak pedulu apa yang di lakukan oleh Mawar saat ini, namun sebenarnya ia tahu kalau Mawar sedang kesusahan menarik dan memasak seat belt itu, tapi Ruslan menunggu sampai Mawar berhasil menguncinya sendiri, tidak tega pada gadis polos ini, Ruslan kembali menghentikan mobilnya..
Mawar terkejut saat Ruslan menepi dan menghentikan mobilnya, 'kok pada Ruslan berhenti lagi ya, jangan jangan dia kesel ngeliat aku yang gak bisa bisa memasang seat belt dari tadi,' Mawar terus menunduk tidak berani memperlihatkan wajahnya ke arah Ruslan..
"Biar saya saja bantu pasangkan,'' Ruslan mencondongkan badannya ke arah Mawar, dan tangannya langsung menarik seat belt itu, terlihat Ruslan cukup pandai memakai tenaganya, untuk bisa mengunci seat belt nya, ''agak sedikit keras memang ya,'' tidak memakan waktu yang lama Ruslan telah berhasil menguncinya..
'Sialan !!, dari tadi aku gak bisa bisa deh, eh sekarang di pasang sama pak Ruslan sebentar aja, ntar di kira pak Ruslan aku pura pura gak bisa lagi, dengan sengaja mencari perhatian sama dia, kurang asem !' Mawar kesal di dalam hatinya..
''Makasih pak, iya tadi sudah di tarik tarik gak bisa, keras"..
"Iya,'' jawab Ruslan singkat, ia kembali melajukan mobilnya..
'Untung aja nih seat belt nya cepat terpasang sama pak Ruslan, kalau lama.. aduh, bisa bisa nanti copot jantung aku kalau kelamaan deketan sama dia, aroma parfum orang kaya itu memang wangi banget ya, wangi pak Ruslan enak banget, bikin aku makin kesemsem'..
Hening, itulah yang pas untuk menggambarkan suasana di dalam mobil saat ini, baik mawar maupun Ruslan belum punya keinginan untuk memecah keheningan ini, kalau untuk Mawar sendiri jangan pernah di harapkan karena ia tidak akan pernah untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu, karena memang sejatinya Mawar memang lah pribadi yang pemalu dan sedikit pendiam..
Sedangkan Ruslan, sebenarnya dia bukan pribadi yang pendiam, Ruslan cukup pandai berbaur dan pandai berbicara, karena memang sebagai pebisnis sukses, itu semua harus di kuasai nya untuk menunjang karir bisnisnya hanya saja yang di sampingnya saat ini adalah Mawar yang statusnya adalah karyawan istrinya, Ruslan juga bingung harus membuka pembicaraan tentang apa dengan Mawar..
__ADS_1
Perjalanan cukup jauh menghabiskan waktu tiga puluh hingga empat puluh lima menit untuk sampai ke rumah mereka, dan saat ini mereka baru saja memulai perjalanan akan terasa panjang waktu yang harus mereka lalui bila dalam keheningan seperti ini..
"Mawar"..
"Pak Ruslan"..
Tiba tiba saja mereka saling memanggil dalam waktu yang bersamaan. Sehingga membuat mereka jadi sama sama terdiam kembali..
"Kamu saja dulu, mau bicara apa ?, silahkan duluan,'' Ruslan tetap fokus menyetir dengan pandangan lurus ke depan, sebagai seorang lakilaki dewasa, dan juga bos dari Mawar, maka ia harus menjaga wibawanya, dan tetap berlaku bijaksana meskipun saat ini berada di luar jam kerja..
"Itu pak, saya cuma mau nanya kabarnya Fiqi ?"..
"Oh, Fiqi baik dan sehat,'' jawab Ruslan singkat, sembari tangan kirinya memencet tombol yang ada di mobil bagian depan itu, Ruslan memutar nyanyian barat yang mendayu, untuk menemani kesunyian di mobil ini agar kecanggungan di antara mereka tidak terlalu terasa..
"Maaf pak, tadi bapak mau nanya sesuatu ke saya ya, mau tanya apa pak ?", tanya Mawar dengan pelan, pasti ia sangat berhati hati bicara dengan Bos nya ini..
"Itu kalau kamu haus, ada air mineral di belakang ambil saja ucap Ruslan,'' padahal sebenarnya Ruslan mau mengatakan itu, ada suatu hal lain yang ingin di tanyakan kepada Mawar, namun tidak tahu kenapa ia menjadi lupa akan maksud pertanyaan yang tadi, sehingga ia terpaksa untuk mengatakan hal yang lain..
"Oh iya pak"..
"Ini pak, untuk bapak." Mawar memberikan satu botol untuk Ruslan..
"Letakkan disini aja, sebentar lagi saya akan meminumnya." Ruslan masih fokus dengan mengemudi mobilnya..
Mobil pun berhenti di perempatan jalan, karena lampu merah. Namun lampu mereka di perempatan jalan ini tidak terlalu lama hanya lima menit saja, jadi saat ini Ruslan mengambil botol minumannya dan ingin membukanya, lampu merah pun berganti menjadi lampu hijau, dan mobil di belakangnya sudah menyembunyikan klakson dengan tidak sabar ingin di beri jalan, maka Ruslan kembali meletakkan botol air mineral itu dan melajukan kembali mobilnya..
Mawar yang melihat hal itu tentu langsung peka, ia dengan sigapnya langsung mengambil botol itu dan segera membuka segelnya langsung ia berikan kepada Ruslan yang kedua tangannya saat ini sedang berada di atas stir mobil..
"Ini pak, silahkan di minum sudah saya buka kan kok." Mawar menyodorkan botol minuman itu kepada Ruslan..
Ruslan langsung mengambilnya dari tangan Mawar, terlihat Ruslan juga begitu kehausan, atau mungkin karena terlalu lama berada di ruangan yang penuh dengan asap rokok tadi sehingga membuat tenggorokannya terasa begitu kering dan agak sedikit gatal..
__ADS_1
Hal ini lah yang membuat Ruslan mengagumi akan kepribadian Mawar, di matanya saat ini Mawar memiliki sifat yang begitu baik, serta rasa peduli yang begitu tinggi terhadap orang lain, Ruslan tidak bisa memungkiri kalau ia mulai merasakan sesuatu yang lain pada gadis polos di sampingnya ini..
"Lalu Fiqi dengan siapa pak sekarang, apakah mbak Indah sudah pulang dari kampung ?" kali ini Mawar mencoba membuka omongannya..
"Belum, Indah belum ada kabarnya, saya suruh mbok Inem yang nemenin Fiqi di kamar, sampai jam dua belas ini saja, jadi nanti setelah saya pulang saya yang akan menemani dia tidur"..
"Oh begitu ya"..
"Iya sebenarnya Fiqi maunya kamu yang temani dia lagi, tapi saya tidak mungkin kan menyuruh kamu terus untuk menemani Fiqi, kamu kan juga punya kesibukan sendiri, ya seperti malam ini kamu punya acara sendiri"..
"Gak pak, saya gak punya acara, dan kalau malam ini saya gak sibuk kok, ini bukan acara saya tapi tadi Eca yang minta tolong di temani jadi gak enak saya kalau gak nemenin dia,'' jelas Mawar..
"Iya gak masalah kok meskipun kalian bekerja di usaha istri saya, gak ada hak saya untuk ikut campur ataupun ingin tahu tentang urusan pribadi kalian di luar sana, jika di luar jam kerja anggaplah kita mengenal sebagai orang biasa saja bukan sebagai karyawan dan Bos." Ujar Ruslan..
"Iya pak, siap"..
'Iya sama pak Ruslan bisa begitu, sama bu Vera mah di luar jam kerja boro boro menganggap dia bukan Bos, mana mau dia !, dia aja pengen banget semua orang tahu kalau dia itu punya karyawan dan dia seorang Bos.' Desis Mawar di dalam hati nya..
"Memangnya kamu tidak pergi dengan teman laki laki kamu, atau siapa gitu kalau malam minggu begini ?" tidak ada angin apa apa, tiba tiba pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Ruslan..
Pertanyaan Ruslan cukup membuat Mawar terkejut, ia tidak menyangka kalau Bosnya ini akan menanyakan tentang kehidupan pribadinya, Mawar terdiam sejenak seakan tidak percaya kalau memang Ruslan menanyakan hal itu..
"Sorry kalau pertanyaan saya tadi kurang berkenal, saya cuma bertanya secara random saja." Ruslan merasa tidak enak hati, ia pun tidak menduga jika dirinya bisa menanyakan tentang hal itu..
"Oh, nggak, ggak apa apa kok pak, cuma saya malu aja untuk menjawabnya"..
"Malu kenapa Mawar ?, kalau sudah punya ya baguslah, jadi kamu sudah punya orang yang bisa menjaga kamu di perantauan ini"..
"Jujur pak, saya masih belum.. saya gak punya pacar, kalau punya saya pasti udah pergi sama dia,'' Mawar mengatakannya dengan malu malu, namun ada rasa senang di hati Mawar akan pertanyaan Ruslan ini, dan itu menandakan kalau Ruslan begitu peduli akan dirinya..
"Masa kamu sudah lama bekerja di kota ini masih belum punya pacar sih, belum punya sama sekali atau sudah putus ?", mendadak Ruslan menjadi pribadi yang berbeda, apa dia lupa dirinya adalah suami dari Vera yang tidak lain adalah Bosnya Mawar dan ia sedang berbicara dengan karyawannya saat ini..
__ADS_1
Mawar gadis yang tidak bisa berbohong, makan bila ada seseorang menanyakan tentang dirinya, ia akan menjawab dengan terus terang, sungguh kepolosan nya mendarah daging dalam dirinya, ''sudah putus pak" jawab Mawar pelan..
'Tumben banget pak Rulan nanyai tentang pacar ke aku, memangnya ada apa ya ?, apa dia mau ngenalin aku sama temannya, atau dia hanya obrolan basa basi di mobil ini agar tidak berasa hening, tapi kok aku jadi deg deg an gini ya di tanya sama pak Ruslan membuat aku lupa sejenak kalau dia itu adalah Bos aku, aduh.. apaan sih loe Mawar ! jangan menghayal deh !, loe belum tidur, jadi jangan mimpi gini !' sambil mengutuk dirinya sendiri di dalam mobil yang menyimpan hawa dingin ini, padahal ia telah mengenakan jaketnya namun tetap saja Mawar begitu kedinginan, terlihat ia menyilangkan kedua tangannya di dada untuk mengurangi rasa dingin ini dan juga untuk menenangkan perasaan yang tidak menentu di rasakannya saat ini..