Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Percuma Bersembunyi


__ADS_3

Mawar kembali melahap brownies yang memang di pilihnya dari sekian banyak makanan manis di meja itu, ia menunggu laki laki yang bernama Gery tadi kembali masuk bersama temannya, Mawar bukan penasaran dengan temannya, tapi Mawar hanya penasaran aja siapa sih istrinya yang memiliki usaha salon seperti bu Vera, siapa tahu Mawar pun pernah melihat istri lelaki tersebut, atau mungkin memang berteman dengan bu Vera..


Hampir lima belas menit Mawar menunggu Gery kembali duduk di sampingnya, namun tidak juga terlihat batang hidungnya Gery, tiba tiba Mawar merasakan tidak enak di perutnya, ia pun beranjak untuk pergi ke kamar kecil..


'Aduh.. kok jadi sakit perut ya ?, apa gue kebanyakan makan ini kue !' Mawar sedikit merintih memegang perutnya yang rata itu, ia pun segera bergegas pergi ke toilet..


"Permisi mas, toilet di mana ya ?" tanya Mawar kepada salah satu pelayan yang memang sedang lewat di koridor sana..


"Di sana mbak, lurus saja nanti belok kiri di ujung mentok, di sana sebelahnya toilet laki laki dan sebelahnya toilet wanita." Jawab pelayan laki laki itu..


"Oke makasih ya mas." Mawar sedikit berlari menuju toilet, mungkin ia sudah tidak tahan karena sakit perut yang tiba tiba menyerangnya..


Sudah menjadi kebiasaan wanita atau mungkin juga laki laki, setiap habis dari toilet pasti tidak lupa untuk becermin, dan merapikan rambut, riasan wajah, entah itu baju, ada saja yang perlu di rapikan. Seperti Mawar saat ini ia yang tengah merapikan rambutnya dan juga merapikan baju nya..


"


'Sudah jam sepuluh, Eca kok belum balik balik juga ya ke ruangan itu, kemana sih itu anak ?, kalau tahu dia bakalan gak ada di situ, mendingan aku gak usah ikut saja, aku kan gak kenal sama siapa siapa aja di sini, aduh emang deh kalau ngikut si Eca selalu ujung ujungnya pasti ngeselin.' Gerutu Mawar melirik jam tangannya lagi..


Mawar tidak lupa menambahkan lipstik pada bibirnya, akibat habis menyeduh jus jeruk dan juga brownies, perona bibirnya sedikit terhapus, kini ia mengoleskan lagi gincu berwarna pink itu di bibirnya, sambil mengecap bibirnya agar terlihat merata dan natural..


"Dari pada aku lama lama disini, bete juga ya. Aku kesana lagi deh, semoga si Eca sudah datang kembali, jadi aku gak kayak kambing budeg disana, gak kenal siapa siapa di ruangan itu." Harap Mawar, ia pun membuka pintu itu perlahan, untuk segera keluar menuju ruangan VIP yang berada di ujung sana..


Mawar membuka pintu ruangan yang menjadi tempat bersenang senang bagi teman teman Aril malam ini, matanya yang sedikit sipit terlihat membesar ketika melihat ruangan itu sudah penuh dan semakin riuh dengan suara gelak tawa dari orang orang di dalam sana. Mereka semua sedang menikmati musik yang berdendang saat ini, dan lampu ruangan ini sudah berganti tadinya yang remang remang kini menjadi kelap kelip, mengikuti irama dentuman musik disco..


"Waduh.. udah lain aja nih ruangan, perasaan tadi aku tinggalin masih sepi deh dan gak seheboh ini, kok sekarang malah rame banget ya,'' Mawar mencoba berjalan menyelip di antara orang orang yang asik berjoget di ruangan itu, ternyata orang orang yang di undang Aril tidak sesuai dengan ucapan Eca, ia bilang hanya di hadiri beberapa orang saja, tapi ini tidak terlihat cukup rama, membuat ruangan ini terlihat hampir penuh asap rokok sudah bertebaran kesana kemari..


Mawar melihat lihat tempatnya duduk tadi, sofa di sudut ruangan dekat meja yang di atasnya penuh dengan berbagai makanan dan minuman di sana, Mawar merasa senang karena tempat duduknya tadi memanglah masih kosong, tapi ia juga melihat dua orang laki laki yang duduk di sana di temani minuman kaleng di depannya, namun sayangnya Mawar tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, karena mereka menghadap membelakangi Mawar..


'Itu si Gery tadi apa bukan ya, apa orang lain ?' Mawar terus melihat dan berjalan ke arah sana..


Mawar berniat akan duduk kembali di sana, namun ia masih melihat lihat dari kejauhan, dia takut kalau itu bukannya Gery yang mengobrol dengannya tadi, tidak tahu kenapa ia merasa sungkan dan lebih malu kalau bukan Gery yang di sana, sebab Mawar sudah mengenal Gery, Mawar berharap itu memang Gery bersama temannya yang tadi ingin di temuinya..


"Hai cantik, duduk di sini dong, gabung sama kita kita nyanyi bareng !" seorang laki laki tiba tiba memegang tangan Mawar, mengajaknya untuk bergabung di sofa depan layar televisi yang besar itu, yang di sana telah duduk empat orang laki laki dan perempuan berpasang-pasangan, sementara lelaki yang menarik tangan Mawar masih sendiri, makanya ia meminta Mawar menemani nya..


Sebenarnya Mawar tidak menyenangi sikap lelaki ini, yang tiba tiba langsung meraih tangannya. Namun karena ia tahu kalau teman temannya Aril bukanlah orang orang sembarangan, maka Mawar pun berusaha untuk menjaga sikapnya, dan tetap bertutur kata yang baik kepada lelaki ini, padahal sebenarnya Mawar sangat tidak menyukai sikapnya yang lancang terhadap Mawar..


"Iya terima kasih, tapi saya gak biasa nyanyi, maaf ya mas ." Jawab Mawar pelan sambil menunduk menolak ajakan laki laki itu dengan sopan..


"Gak apa apa, temani saya aja, kita dengerin mereka nyanyi sambil minum minum, ayolah !" ajak laki laki itu dengan lembut dan senyum yang lebar..


Dari penampilannya laki laki ini pun pasti pengusaha kaya, namun sayangnya laki laki ini tidak seperti pacarnya Eca yang memiliki wajah tampan dan tubuh yang ideal, laki laki ini sangat terlihat lebih tua dari Mawar, dan juga berkumis, tentu saja Mawar tidak tertarik sama sekali dengannya..


"Oh, maaf mas.. nanti saya kesini lagi ya, tapi saya mau mengambil minyak angin dulu di tas saya, saya tiba tiba sakit perut habis ini mau ke kamar mandi lagi." Mawar memberikan alasan, entah membuat laki laki itu percaya atau tidak, Mawar tidak pedulu, yang penting ia tidak akan menemani lelaki itu kelak..


"Oke deh cantik, nanti habis dari kamar mandi ke sini ya !, temenin aku, tenang aja.. aku bakal kasih bonus yang banyak kok buat kamu nantinya !." lelaki itu melontarkan kata kata yang sangat tidak di sukai oleh Mawar, seolah olah kata katanya itu sangat merendahkan Mawar dan menganggap Mawar wanita bayaran..


Mawar sedikit mengerutkan keningnya ia tidak paham dan tidak mengerti akan ucapan laki laki ini, namun hati nya langsung kesal menatap laki laki yang ada di depannya inji dengan senyum terpaksa, Mawar berlalu meninggalkan laki laki itu, ''saya permisi dulu ya." Ucap Mawar sangat pelan, dan langsung pergi..


Sekitar tiga meter lagi Mawar akan sampai ke sofa yang di dudukinya tadi, Mawar melihat dua laki laki itu sedang mengobrol begitu serius, apakah mereka membicarakan tentang keadaan malam ini, atau mungkin mereka sedang berbicara tentang pekerjaan dan bisnis, hanya mereka berdua yang tahu..


'Si Gery datang kesini sendiri, kenapa dia gak bawa pacarnya ya ?, apa dia salah satu lelaki waras yang tidak punya simpanan ?'..


Tiba tiba Mawar menghentikan langkahnya saat teman Gery menoleh ke belakang, melihat keadaan sekitar ruangan ini, yang begitu riuh dan di penuhi dengan asap rokok, serta musik yang terdengar cukup memekakkan telinga..


"Pak Ruslan !" Mawar sedikit tidak percaya, kalau yang duduk di dekat sofa tempat dia tadi adalah Ruslan. Mawar langsung bingung, bertambah panik, tidak mungkin ia kembali ke sofa itu, dan bertemu dengan Ruslan, ia pasti akan malu karena telah menghadiri pesta semacam ini..


"Ya tuhan, aku harus gimana nih !, gak mungkin dong aku kesana, terus aku ketemu sama pak Ruslan, habis deh aku malu banget !" titah Mawar yang sekarang bingung dan sibuk melirik kesana kemari mencari keberadaan Eca karena ia ingin memberitahu adanya Ruslan di tempat ini..


'Aku gak boleh ke sana, aku gak mau ketemu pak Ruslan, bisa bisa dia bakal bilang sama bu Vera, kalau aku kesini dan bu Vera bisa berpikir negatif sama aku, aduh.. aku harus segera pergi dari ruangan ini, biar dia gak ngeliat aku disini." Mawar langsung bergegas membalikkan badannya untuk kembali ke arah pintu keluar dari ruangan itu..


Mawar menatap koridor yang panjang ini, ia berharap ada Eca muncul bersama Aril, tapi nyatanya sepuluh menit, ia masih menunggu namun masih tidak juga terlihat batang hidungnya Eca ataupun Aril. Mawar jadi agak kesal, dan akhirnya tidak ada tempat pelarian lain baginya, ia pun kembali mendatangi toilket lagi untuk kedua kalinya malam ini..

__ADS_1


"Lebih baik aku ke toilet lagi ah, siapa tahu nanti kalau aku keluar dari toilet pak Ruslan sudah gak ada, kan dia tadi cuma mau ketemu sebentar aja sama Gery, semoga aja deh" Mawar berlari kecil ke arah toilet, terlihat dari wajahnya kalau Mawar sedikit panit dan juga kesal..


Untungnya toilet ini memang tidak terlalu besar, hanya ada dua bilik di dalam nya, seandainya toilet ini menyediakan banyak bilik, jelas saja Mawar akan merasa takut berada di sini malam malam, Mawar membuka tas nya, ia mencari ponselnya hendak menghubungi Eca dan menanyakan di mana keberadaannya saat ini..


"aduh gimana sih nih anak, gak di angkat angkat lagi telepon aku !" Mawar kesal karena sambungan teleponnya tidak juga di jawab oleh Eca..


"Udah jam sudah pukul setengah sebelas, sebenarnya acaranya gimana sih, katanya ulang tahun tapi aku lihat ada kue ulang tahun di sana, kapan tiup lilinnya, kapan potong kuenya, gak jelas banget acaranya !" Mawar semakin dongkol, ia sungguh menyesal kembali ikut acara Eca malam ini..


Mawar kembali mencoba menekan kontak Eca di ponselnya, ia berharap kali ini Eca menjawab teleponnya, dan sejak tadi pun Mawar sudah mengirimkan beberapa pesan kepada Eca untuk menemuinya di toilet, namun sudah hampir sepuluh menit, tidak juga ada balasan dari Eca. Malam ini ia tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi begini, dan ia juga tidak menyangka kalau ia akan bertemu Ruslan di tempat seperti ini..


'Sialan !!, si Eca lagi ngapain sih ini sama om om nya itu !, sampai telepon aku gak di jawab, pesan aku gak di bales, sibuk banget apa sih ya dia ?' Mawar mengacak rambutnya yang lurus itu, ia terlihat frustasi..


"Oke deh, aku tunggu sampai pukul sebelas, aku harap pak Ruslan sudah pulang, baru lah aku berani masuk lagi di ruangan itu, aku tungguin sampai pukul dua belas, kalau Eca gak nelpon aku juga, aku cabut pulang sendiri naik taksi online, bodo amatlah sama acara itu !" umpat Mawar, ia pun bertekad untuk keluar dari kamar mandi ini, karena itu sudah merasa suntuk dan pengap berada di ruangan kecil ini..


Cukup bosan berdiri di depan cermin depan kamar mandi ini, dan sudah melihat beberapa orang berlalu lalang keluar masuk dari toilet ini, Mawar kembali melirik jam tangannya dan tepat pukul sebelas malam, waktunya Mawar untuk keluar dari toilet ini, karena dia sudah tidak tahan dengan hawa toilet yang lumayan panas, walaupun penampakannya bersih, bagaimana pun juga yang namanya toilet tidak sesegar ruangan lain..


'Semoga pak Ruslan udah gak ada di ruangan itu, semoga dia udah pulang ya, jadi aku gak akan ketemu sama dia lagi, ya semoga.' harap Mawar sambil mengepalkan kedua tangannya memberikan semangat kepada dirinya sendiri..


Mawar menutup knop pintu kamar mandi itu, ia menoleh ke kanan dan kiri, melihat lihat siapa yang ada di sana, ternyata sepi tidak ada siapa pun, maka Mawar pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi itu sambil merapikan rambutnya yang sudah jadi kebiasaannya..


Kring.. kring.. ponsel dari di dalam tas berdering, sepertinya itu Eca deh, Mawar segera menjawab telepon itu dan ternyata benar itu panggilan dari Eca, dengan semangat Mawar menjawabnya..


"Loe dimana Ca ?, gak balik balik sih ke ruangan tadi !" tanya Mawar dengan nada kesal..


"Tadi gue udah kesana, cuma gue cari cari loe gak ada, loe dimana sih ?, tadi itu acara pengucapan ulang tahun buat pacar gue, tapi sekarang udah balik lagi ke ruangan pribadi," sahut Eca di seberang sana..


"Jadi loe sekarang udah gak di ruangan itu lagi ?" tanya Mawar..


"Iya, maklum om gue pengen berduaan sama gue di malam ulang tahunnya ini, ya gue harus ngerti lah.. kalau gak loe kesini deh, gak apa apa cuma sebentar kok, biar ketemu gue gimana ?" tawar Eca..


"Ruangan pribadi kalian dimana ?"..


"Ya udah deh nanti gue tanya, gue kesana, gue mau ketemu sama loe, dan gua mau bicara penting !" tegas mawar..


"Iya.. iya di tunggu ya, bye." Eca mematikan teleponnya..


'Sialan !, giliran gue tungguin dia gak dateng, eh giliran gue sembunyi di kamar mandi, dia malah datang ke ruangan itu, gimana sih !' gerutu Mawar kesal, sambil ia menunduk menyimpan kembali ponsel ke dalam tas nya..


Karena tidak memperhatikan jalan, dan Mawar merasa jalanan memang sepi, tidak sengaja ia pun menabrak seseorang yang juga baru keluar dari kamar mandi pria..


"Aduh !" terika Mawar spontan, saat bahunya bertabrakan dengan bahu orang itu, Mawar merintih dan matanya sedikit terpejam, ia menggosok gosok bahunya yang baru saja tertabrak dengan orang tersebut..


"Aduh.. sakit banget sih !" rintih Mawar terus menggosok gosok bahunya dan ia belum melihat siapa sosok yang menabrak nya baru saja..


"Maaf mbak, saya gak sengaja." Ujar lelaki yang baru saja menabrak Mawar..


"Aww, iya gak apa apa, saya juga minta maaf karena tidak memperhatikan di depan saya," sahut Mawar masih menunduk melihat bahunya, dan betapa terkejutnya Mawar ketika tahu siapa yang ada di depannya ini, matanya langsung melotot setelah tahu siapa sosok yang baru saja menabraknya..


'Pak Ruslan, ya ampun !, sudah susah payah buat aku ngehindarin dia jadi sia sia, malah aku harus ketemu dia lagi disini,' wajah Mawar terlihat panik dan merah ketika tahu kalau itu adalah Ruslan..


Ruslan mengerutkan alisnya saat gadis yang baru di tabrak nya mengangak kepalanya dan menatap ke arah dengan tatapan yang cukup terkejut. Ruslan kembali melihat wajah gadis itu, untuk memastikan kalau memang gadis yang di depannya ini ia kenal..


"Mawar," panggil Ruslan sambil sedikit membungkuk untuk meastikan kalau di depannya ini memang Mawar, sebab penerangan di depan kamar mandi ini tidak terlalu jelas..


"Iya pak Ruslan," sahut Mawar dengan ekspresi yang sedikit malu, melihat Ruslan yang sedang mengamati wajahnya saat ini..


"Kamu di sini juga, ada acara ?" Ruslan bertanya lagi..


"Oh enggak, gak ada acara kok pak,'' kilah Mawar cepat, ia tidak mau Ruslan tahu kalau dirinya sedang menghadiri acara ulang tahun pacarnya Eca..


"Terus ngapain kamu disini, sama siapa ?" tanya Ruslan lagi, yang berdiri tegap dengan kedua tangan di dalam saku celana nya..

__ADS_1


"Oh itu tadi, lagi nemenin temen, katanya dia mau ketemu temannya, dan kebetulan janjinya di sini, tapi ini saya sudah mau pulang kok, karena teman saya sudah ketemu sama temannya,'' jawab Mawar dengan terbata bata..


"Jadi kamu sekarang sama siapa ?" Aril sedikit bingung dengan penjelasan Mawar yang seidkit berbelok itu..


"Saya sendiri, ini saya mau pulang, soalnya teman saya ada acara sama temannya, tapi saya mau minta pulang duluan aja, soalnya malam,'' Mawar kembali tergagap menjawab pertanyaan Ruslan..


"Oh, mau pulang, saya pikirkamu lagi sama seseorang, atau mungkin sedang ada acara di tempat ini karena ini kan teman hiburan,'' ucap Ruslan lagi..


"ini tempat apa ya pak ?, karena tadi saya gak tahu kalau teman saya mengajak saya ke sini, dan setelah bertemu saya langsung ke toilet, sekalian pamit untuk pulang duluan,'' jelas Mawar, ia tidak mau Ruslan berprasangka kalau ia sama seperti wanita wanita yang hobi dengan tempat hiburan malam seperti ini..


"Ini kan tempat karaoke, tempatnya orang bersenang senang bersama kekasih, mungkin bersama teman temannya, dan juga biasanya para laki laki biasa melepaskan kepenatan nya dengan minuman, dan bersenang senang dengan wanita muda yang di sediakan di tempat ini." Jelas Ruslan kepada Mawar..


"Oh begitu ya pak, lalu bapak.. " Mawar menggantung kalimatnya, ia tidak pantas menanyakan keperluan Ruslan di sini, karena itu memang bukan urusan Mawar..


"Saya kesini tadi gak sengaja juga, karena saya ada perlu bertemu teman, yang kebetulan teman saya lagi menghadiri ulang tahun temannya, di tempat ini. Nah itu disana di ruangan." Ruslan menunjuk ke arah belakang di mana pintu ruangan yang di sewa oleh Aril lah yang di maksud Ruslan..


"Oh, jadi ini tempat hiburan malam ya pak, ?" ya pak jawab Mawar singkat..


"Iya, di sana ramai sekali, tidak enak menolak ajakan teman saya untuk duduk dan minum jus sebentar, jadi saya tadi ngobrol sejenak dengannya, tapi kepala saya mendadak pusing karena musiknya terlalu kencang, jadi saya mau pulang sekarang." Jelas Ruslan..


"Ternyata pak Ruslan juga tidak menyukai suasana seperti itu, beruntung sekali bu Vera, punya suami yang tidak menyukai hiburan malam seperti ini, gumam Mawar dalam hati, mengagumi sosok suami Bos di depannya ini..


"Mawar," panggil Ruslan yang terheran melihat Mawar tiba tiba termenung..


"Ya pak," sahut Mawr yang merasa sedikit malu..


"Kamu mau pulang juga, naik apa ?, apa bawa kendaraan ?, tanya Ruslan kepada Mawar berbasa basi, padahal ia tahu Mawar memang tidak memiliki kendaraan..


"Iya pak, oh.. itu, saya.. saya pesan taksi online pak, saya akan pulang naik taksi online langganan jadi aman." Jawab Mawar dengan yakin..


Ruslan mengangguk-anggukan kepalanya, kamu sudah pesan belum taksi nya ?"..


"Oh belum pak, ini.. ini saya udah mau pesan kok, saya pesan sekarang Mawar segera merogoh tasnya mencari ponselnya di dalam sana"..


"Kalau baru mau di pesan lebih baik kamu bareng saya aja ya, sekalian tawar Ruslan kepada Mawar"..


Mawar menghentikan gerakan tangannya, ia langsung melihat ke arah Ruslan, mendengar tawaran Ruslan, ''oh, gak usah pak, nanti saya merepotkan." Ucap Mawar menolah halus tawaran Ruslan..


"Tidak merepotkan kok, ayo !, lebih baik kamu bareng saya karena sudah malam sekali dan satu arah juga aja." Ruslan menawarkan lagi, namun dengan nada yang biasa saja agar Mawar tidak beprasangka lain..


Oh iya pak baik," meskipun ini bukan perintah pekerjaan, namun Mawar tidak sanggup menolak jika Ruslan telah menawarkan nya dua kali, ia takut Ruslan berpikir kalau ia sombong, atau mungkin tengah berpikir kalau Mawar gadis pembangkang. Maka Mawar pun menerima tawaran Ruslan, dan memang sebenarnya ia lebih aman naik mobil Ruslan, dari pada taksi online, karena belum ada taksi online menjadi langganannya, yang tadi itu hanya alasan saja..


"Ayo nanti semakin larut loh, ini sudah jam sebelas lewat sedikit," Ruslan berjalan lebih dulu dan di iringi oleh Mawar di belakangnya..


"Iya pak,'' Mawar melangkahkan kakinya mengiringi langkah lelaki yang ada ini, ia tidak menyangka ternyata malam ini dia memang harus bertemu dengan Ruslan, dan bahkan sekarang ia berjalan beriringan dengan Ruslan, dan akan pulang bersamanya juga malam ini..


Tidak bisa di pungkiri hati Mawar merasa senang bisa berjalan dan satu mobil dengan Ruslan, namun di satu sisi Mawar merasa malu karena bertemu Ruslan di tempat seperti ini, untung saja tadi Mawar cepat mencari alasan, dan seolah ia tidak tahu ini tempat apa, supaya Ruslan tidak berprasangka aneh aneh kepadanya..


"Lebih baik jaketnya kamu pakai, ini sudah malam udara nya dingin,'' Ruslan berjalan lebih dulu menoleh ke Mawar yang ada di belakang, ia melirik sedikit penampilan Mawar saat ini yang memang hanya menggunakan crop top dan memperlihatkan sedikit perut ramping nya, mungkin Ruslan risih melihat itu makanya ia menyuruh Mawar untuk segera memakai jaketnya..


"Iya pak, tadi di toilet panas, ini saya mau pakai kok, Mawar pun mengambil jaket yang memang di letakkan di bahunya sejak tadi ia merasa malu kepada Ruslan..


'Malu banget sih aku, lagi pakai baju kecil ketemu si Bos, pasti pak Ruslan geli deh ngeliat aku malam ini, Mawar bicara dalam hati sambil mengenakan jaketnya..


"Kamu setiap malam mingguy memang biasa keluar ya ?" Ruslan yang hening, tiba tiba mengeluarkan pertanyaan itu lagi..


"Nggak, gak kok pak, kebetulan saja malam ini si Eca minta temenin sama aku." Kilah Mawar..


Ruslan diam saja, ia tidak menyahuti jawaban Mawar, Ruslan mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya dan ia menekan alarm mobilnya itu, sehingga Mawar tahu di mana keberadaan mobil yang tidak jauh, mereka pun bergegas menghampiri mobil itu, dan segera masuk ke dalam mobil..


Ada perasaan lain di hati Mawar saat menaiki mobil Ruslan malam ini, biasanya selalu ada anak kecil yang duduk di pangkuannya ketika ia berada di mobil ini, berbeda dengan malam ini hanya ia sendiri yang duduk di jok sebelah Ruslan ini, Mawar merasa canggung karena baru kali ini dirinya hanya berdua saja di dalam mobil bersama suami Bos nya ini, hati Mawar semakin berdegup lebih kencang, karena menahan kegrogian saat ini bersama Ruslan..

__ADS_1


__ADS_2